Kamu pasti punya banyak teman,
tapi cuma satu yang
paling sering kemana-mana bareng
Yang selalu mengerti
Dan tahu apapun tentang kamu
~Atha
Atha sudah siap berangkat ke sekolah, hari ini dirinya akan berangkat bersama lea, setelah memastikan seragamnya rapi ia langsung mengambil kunci motornya dan bergegas pergi ke rumah lea tak lupa berpamitan dengan mama dan papanya.
Sesampainya dirumah lea ia langsung di sambut dengan pak yayat satpam dirumah ini, pak warli hari ini izin makannya atha yang akan mengantar kekasihnya.
Masuk ke dalam rumah ia sudah melihat lea duduk di meja makan, namun wajah perempuan itu tak secerah biasanya.
"Kamu sakit yang?" tanya atha melihat wajah pucat pacarnya itu.
"Cuma agak pusing aja, nanti juga sembuh" jawab lea.
"Kalau sakit nggak usah berangkat sekolah aja ya" bujuk atha yang tau sifat gadisnya, lea selalu ngomong baik-baik aja padahal ia tahu tubuh gadisnya itu mudah drop.
"Nggakpapa aku berangkat sekolah aja, cuma pusing sedikit" kata lea lagi.
Kalau sudah begini atha tidak dapat memaksa, ia lebih memilih menaruh tasnya di kursi kemudian berjalan ke dapur, lea hanya bingung melihat atha pergi namun tak lama kemudian lelaki itu sudah kembali sambil membawa obat dan segelas air putih ditangannya.
"Minum obat dulu ya" kata atha sambil menyerahkan obat pada lea yang diterima gadis itu "Pakai jaket juga ya".
"Iya, kamu sarapan dulu sini" peritah lea, kemudian perempuan itu mengambil roti yang sudah dipanggang dan ia olesi dengan selai kacang kesukaan atha.
Pukul 06:20 mereka memutuskan untuk berangkat, sedikit paksaan dari atha akhirnya lea mengalah menggunakan mobil cewek itu, karena atha tadi naik motor dan ia tak mau lea bertambah sakit karena terkena udara pagi yang masih dingin.
"Nanti kalau aku turun di perempatan anak sekolah tetep tau dong kalau kamu bawa mobilku" ujar lea.
"Siapa emang yang nyuruh kamu turun di perempatan sekolah"
"Terus gimana?" Tanya lea bingung.
"Ya sampe sekolahan" jawab atha santai.
"Nggak nggak, kamu mau satu sekolahan heboh liat kita berangkat bareng"
"Nanti bilang aja kita mau pergi ngurus sponsor" kata atha.
"Iya deh terserah kamu" Pasrah lea, dirinya malas berdebat dengan atha tiba-tiba saja badannya sedikit lemas.
Mobil yang mereka tumpangi masuk ke halaman sekolah, tak sedikit orang yang melihat karena mungkin asing dengan mobil itu, walaupun beberapa orang tau mobil itu milik lea namun lea jarang memakai ke sekolah ia lebih sering di antar jemput sehingga tak banyak anak sekolahnya yang tahu.
Begitu sampai atha langsung memarkirkan mobilnya, lea yang masih bingung akan turun masih terdiam di mobil.
"Ayo turun" kata atha.
"Aku kok ragu ya" ujarnya membuat atha berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk lea.
Lea yang masih terkejut dengan perlakuan atha hanya diam, ia akhirnya memilih turun sebelum semakin banyak orang yang melihat mereka.
Rasanya lea ingin cepat-cepat sampai di kelas karena sepanjang koridor banyak yang memperhatikan mereka, pengaruh atha memang begitu hebat ia berjalan mendahului atha sedangkan atha dibelakangnya.
"Makasih tumpangannya ya le" ujar atha sedikit berteriak saat sudah sampai di depan kelas lea membuat gadis itu menolehkan kepalanya pada atha.
"Iya sama-sama santai aja tha" jawab lea sesantai mungkin.
Lea langsung masuk ke dalam kelasnya ia kemudian duduk dan menaruh tas di bangkunya, teman kelasnya sudah banyak yang datang.
"Lo tadi bareng atha le?" tanya kara kepo.
"Iya"
"DEMI APA LO BARENG ATHA" teriak kara membuat lea menatapnya tajam, banyak teman sekelasnya yang ikut menatap kara dan lea penasaran.
"Lo bisa nggak sih nggak usah teriak" kesal lea.
"Ya maaf lagian gue kaget aja lo bareng atha"
"Lo taken ya sama atha?" tanya vani yang sudah mendekat ke bangkunya.
"Pjnya di cafe sosialite nih" senang sari membayangkan makan gratis di cafe mahal yang baru buka.
"Nggak usah ngayal deh tadi aku ada urusan sama atha karena mobilnya lagi di bengkel jadi pake mobilku" elak lea.
"Kal . . ."
"Pagi anak-anak" ucapan kara terpotong oleh kedatangan bu sus yang merupakan guru kesenian.
"Pagi bu" jawab anak kelas dua belas ips satu.
**********
Istirahat kedua yang artinya sudah waktu makan siang membuat atha dan teman-temannya pergi ke kantin, mereka memesan seblak yang merupakan menu baru di kantin sekolah karena sebelumnya tidak ada yang menjual.
Kelasnya hari ini jamkos jadi ia bisa istirahat lebih awal, jika bel sudah berbunyi ia tak akan mungkin bisa memakan seblak kantin sekolahnya karena sudah pasti rame.
Saking banyaknya pesanan penjual seblak kantinnya itu memiliki empat orang karyawan yang membantu, setelah memesan dan mendapatkan seblak pesanan mereka akhirnya mereka duduk di salah satu bangku yang merupakan tempat favorit mereka.
"Lea cantiknya nggak ada obat ya" ujar Abdul teman sekelas atha yang melihat lea datang bersama teman-temannya, rambutnya yang panjang dengan sedikit bergelombang dibagian bawah ia gerai membuatnya terlihat menawan.
Andre yang mendengar melirik ke arah atha, temannya itu terlihat menatap tajam abdul yang masih menatap ke arah lea.
"Ekhemm"
"Kenapa lo ndre, keselek?" tanya abdul polos yang mendengar andre berdehem disebelahnya.
"Kagak, seblaknya enak banget ya" alasan andre.
"Iya, harganya juga lebih murah timbang beli di luar" sahut aldo yang disetujui mereka.
Entah kebetulan atau apa namun teman-teman akrab atha berinisial huruf a semua nama panggilannya, ada andre, abdul, aldo, Abas.
"Kalau ntar menang futsal traktir makan seblak aja gue ikhlas kalau seblaknya seenak ini" kata abas.
"Eh iya, timbang cuma suruh push up yang kalah mending traktir seblak ya" setuju andre.
"Boleh juga" sahut atha.
Setelah menghabiskan seblak mereka, pelayan seblak mengahampiri untuk mengambil mangkuk kotor karena saking banyaknya yang beli sehingga mereka kehabisan mangkuk katanya.
"Mbak jadi pelayan tapi kok masih muda banget ya?" jiwa playboy aldo mulai muncul melihat pelayan seblak yang sederhana penampilannya namun tetap terlihat ayu.
"Iya, saya baru saja lulus sma karena kendala biaya jadi kerja dulu sambil ngumpulin buat kuliah" kata perempuan ayu itu yang merupakan pelayan seblak.
"Wah keren banget mbak" sahut aldo lagi.
"Eh mbak kalau mau pesen seblak buat acara gitu bisa nggak?" tanya andre.
"Bisa" jawabnya lagi.
"Emang selain disini ada kios lain mbak?" tanya abdul kepo.
"Nggak, cuma menerima pesanan aja, dulu sih jual gerobakan" jawabnya lagi.
"Gue pesen 30an mangkuk buat besok sore bisa mbak?" kata andre.
"Buat apa?" tanya atha penasaran yang diangguki mereka.
"Besok kan kita ada latihan basket terakhir sebelum tanding, sebagai kapten yang baik gue mau mesenin seblak supaya anak-anak semangat latihannya" andre memang terkenal sebagai anak sultan selain atha maka tak heran ia sering mentraktir makanan kepada temannya.
"Anjir sultan bebas"
"Duit tinggal ngambil"
"Diem lo nyet" kata andre pada abdul dan abas.
"Bisa, boleh minta nama dan nomer hpnya yang bisa dihubungi?" kata mbak pelayan seblak.
"Gajadi deh mbak, belum kenal aja udah minta no hp" kata andre yang langsung mendapat lemparan tissu dari abdul.
"Begonya kuadrat, dia minta nomer hp buat hubungin lo kalau jadi pesen seblak ogeb" kesal abdul yang melihat kepolosan andre.
"b**o sama polos beda tipis" sahut atha.
"Haha atha sekali ngomong ngena banget" tawa aldo.
"Eh gitu ya, ya udah nih nomer saya jangan di sebarin ya mbak saya males fans saya nambah lagi setiap hari diteror terus buat kepala pusing, maklum resiko orang ganteng" kata andre percaya diri.
"Iya, saya permisi dulu" pamit mbaknya.
"Cantik ya, mandiri lagi tipe gue banget" gumam aldo namun masih terdengar keras.
"Lo mah semua cantik dasar buaya" kata abas yang hafal sifat temannya itu.
"Tapi gue setuju kalau dia cantik dan mandiri sih" kata abdul yang disetujui mereka semua.
Andre baru saja akan menyahuti namun keributan dari bangku pojok kantin membuat mereka mengalihkan pandangannya.
"Bangkunya lea" Batin atha.
Andre yang melihat seorang gadis yang sudah tergeletak tak bertanya berniat akan memberitahu atha, namun lelaki itu sudah lebih dulu berdiri dari duduknya sedikit berlari menghampiri gadisnya yang sudah tergeletak di lantai disertai tatapan bingung dari semua temannya tak terkecuali juga orang-orang yang ada di kantin.
"Atha mau ngapain?" ujar abdul.
"Dia mau nolongin lea?" bingung abas.
"Mereka punya hubungan?" tanya aldo.
Seakan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban, namun andre hanya diam ia tak mungkin memberitahu hubungan atha dan lea meskipun pada teman akrab atha sekalipun.