PoV Rama
Dan di sinilah kami, di halaman samping perpustakaan kampus. Jam kosong ini sengaja kami jadikan kesempatan untuk membahas segala kegalauan hati yang sudah aku kumpulkan berbulan-bulan lamanya. Sebuah taman yang cukup asri dan nyaman untuk kami saling mengungkapkan isi hati. Bukan hanya kami ternyata yang ada di sini. Ada beberapa pasangan lain yang juga sedang memanfaatkan tempat ini
"Diminum dulu, Bel. Ini aku bawakan jus mangga. Mudah-mudahan kamu suka," tawarku sambil menyodorkan segelas jus mangga, aku pun sudah menyeruput jus mangga yang satunya.
"Abang kapan belinya, setau aku enggak ada yang jualan jus sekitar sini ?' tanya Belia sambil memulai minum.
"Aku tadi pesan di gofood, supaya acara ngobrol kita enggak bikin haus he ... he ... he," jawabku santai.
"Oh ya, Bel. dua teman kamu mana, tumben enggak ngawal kamu terus ?" tanyaku iseng.
"Lah, kan ini acara kita. Jadi mereka enggak perlu tau dulu dong," jelasnya.
"Memangnya kamu sudah punya jawaban yang semalam untuk aku ?" tanyaku lagi mulai tegang sekaligus penasaran.
"Udah sih," katanya santai.
"Terus apa keputusan kamu ?" tanyaku deg-degan. Tak lupa dalam hati aku panjatkan doa, semoga saja dia ....
"Lho Abang malah ngelamun sih, katanya mau tau jawaban aku ?" omelnya.
"Bukan ngelamun, aku hanya lagi deg-degan aja," Sahutku.
"Tapi aku mau tanya dulu ke Abang. Kira-kira bagaimana sikap Abang seandainya aku menerima niat Abang atau sebaliknya, apa yang akan Abang lakukan ?" Belia malah memberiku pertanyaan.
"Kalo kamu menerima aku, insyaallah aku akan segera menghalalkan kamu. Tapi kalo kamu menolak, aku akan semakin berusaha untuk mengejar dan meyakinkan kamu, Bel," jawabku tegas.
Belia terbengong-bengong mendengar penjelasan yang kuberikan.
"Bagaimana, Bel ?" aku balik menantangnya dengan pertanyaan.
"Ah itu mah sama aja satu jawaban," sahutnya.
"Ya enggak dong. Beda konteksnya, Bel," kilahku.
"Iya sih. Abang benar," akhirnya dia menyerah.
"Lalu jawabannya ?" aku semakin tidak sabar bertanya lagi.
"Yakin Abang enggak akan nyesel ?" Belia semakin menguji kesabaranku.
"Iya Belia, lama bener mau jawab juga, hadeuh .... ," jawabku gemes.
"Aku ... mau, Bang," jawabnya lirih hampir tidak terdengar olehku.
"Apa, Bel. kurang jelas aku dengernya ?" tanyaku sambil fokus menatap matanya.
"Aku mau," jawabnya lebih jelas dari pada tadi.
"Mau apa maksudnya ?" tanyaku sambil tersenyum miring.
"Maksudnya aku mau nerima niat Abang," jawabnya yang seketika dia langsung menundukkan Kepalanya.
Berasa mimpi aku mendengar ucapannya tadi. Segera aku pindah tempat duduk ke sampingnya, jadi sebangku dengannya.
"Aku tidak sedang bermimpi atau salah dengar kan, Bel ?" tanyaku memastikan pendengaran ku.
"Enggak koq, Bang. beneran aku juga suka sama Abang," jawabnya lagi.
Segera kuraih kedua telapak tangannya. Kukatakan isi hatiku dengan perasaan yang membuncah saking bahagianya.
"Aku mulai suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu, Bel. Tapi aku belum berani mengatakannya karena aku takut kamu menganggap aku laki-laki yang aneh. Tapi ternyata rasa ini tidak hilang, malah semakin bergelora tak tertahankan. Makasih kamu sudah mau menerimaku, aku sungguh sangat sayang kamu," ucapanku semakin berani.
"Iya, Bang. Aku pun sangat bersyukur ada cowok yang mau sama aku yang bukan apa-apa ini," jawabnya.
"Kamu spesial di mataku, Bel," Sahutku membesarkan hatinya.
Dia mengangkat wajahnya, menghadap ke arahku. Kami saling memandang dan sambil melemparkan senyum yang termanis menurutku.
Benar-benar berasa mimpi, tapi ini mimpi yang teramat indah.
To be Continues