Mereka berdua yang sedang duduk nyaman di taman perpustakaan kampus tidak menyadari jika duo sahabat kepo Belia secara tidak sengaja melihat mereka.
Awalnya Dinda dan Nani berniat untuk mencari keberadaan sahabatnya itu karena sudah agak lama ke luar ruang kelasnya.
Tapi akhirnya mereka mengurungkan niatnya itu karena tidak mau mengganggu kebersamaan Rama dan Belia.
Dinda dan Nani kemudian kembali menuju ruang kelas mereka sambil tersenyum berbisik-bisik mengomentari sepasang kekasih baru itu.
"Akhirnya sohib kita dapat pacar juga ya, Din," bisik Nani.
"Syukurlah mereka akhirnya punya kesempatan untuk jadi kekasih. Aku sih udah nebak-nebak dari dulu. Cuma, mereka kaya ragu-ragu gitu sih," sahut Dinda.
"Ah mereka mah malu-malu kucing hi ... hi ... hi .... ," Nani terkikik geli.
"Lah emangnya kamu enggak kaya gitu juga gitu ?" tanya Dinda mencemooh
"Itu sih lain urusannya dong, Mbak," jawab Nani tidak mau kalah.
"Iya deh iya ha ... ha ... ha ... ," sahut Dinda sambil tertawa renyah.
"Malah ngetawain sih," kata Nani manyun pura-pura kesal.
"Waduh Mpok aku marah nih ha ... ha ... ha ... ," kembali Dinda tertawa.
"Udah ah, kamu mah kebiasaan kalo udah ketawain aku tuh susah berhentinya, bikin aku lapar aja," kata Nani asal.
"Ya udah kita ke kantin aja beli mie ayam pedas, udah lama nih kita enggak makan yang pedes-pedes," ajak Dinda.
" Ayo gaskeuuunnn !" seru Nani semangat.
Mereka berdua langsung menuju ke arah kantin kampus untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai terasa lapar.
Di sisi lain, tempat di mana Belia dan Rama yang sedang asyik bercengkrama sedang menerima telepon dari seseorang.
"Jadi sekarang kalian udah jadian nih ?" sahut orang di sebrang telepon.
'Iya, alhamdulilah. Berkat doa kamu juga," sahut Rama sambil melirik Belia yang kini telah menjadi kekasihnya itu.
"Ya udah aku tutup dulu ya, semoga lancar terus ya. Assalamu'alaykum," ucap seseorang di sebrang telepon.
"Aamiin, makasih, Bro doanya. Wa'alaykum salam," jawab Rama.