PoV Belia
"Cieeeee yang udah jadian sampai lupa waktu, sampai enggak makan siang nih!" bisik Nani di telingaku ketika aku sudah ada di ruang kelas.
"Iya nih, kapan traktirannya?" Dinda ikutan nimbrung.
"Apaan sih kalian?" tanyaku heran sambil menatap kedua temanku bergantian.
"Yah doi pura-pura enggak ngerti ha... ha ... ha ... !" sahut mereka berdua dengan kompak sambil tertawa.
"Kalian!" geramku pura-pura marah.
"Lah marah dia ha ... ha ... ha ...!" Nani semakin semangat mengejekku.
"Udah ih, Mpok. Malah jadi enggak karuan!" tegur Dinda mengingatkan Nani.
"Eh iya sorry-sorry. Saking senengnya aku, Bel." katanya.
"Seneng kenapa, Mpok?" tanyaku.
"Seneng karena sohibku ini udah jadian sama gebetannya itu," jelas Nani yang membuatku heran bingung.
"Enggak usah bingung gitu kali. Kamu pasti heran kan kenapa kita bisa tau?" jawab Dinda.
"Itu karena tadi secara enggak sengaja kita lihat kalian berdua di taman perpustakaan. Lagi apa ya ?" tanya Nani pura-pura berpikir sambil memandang ke kanan kiri.
"Oh yang itu. Yang waktu aku sama Bang Rama kan?" tanyaku memastikan.
"Iye-iye, kalian jadian kan?" tanya Nani lagi penasaran.
"He ... he, iya. Doain ya," pintaku setelah mengiyakan.
"Akhirnya jodoh juga," kata Dinda ikut senang.
"Kalo jodoh mah enggak ke mana, ya?" timpal Nani.
"Berarti tinggal Mpok Nani nih yang masih menunggu some one, hi ... hi ... hi," ledek Dinda.
"Iya-iya deh yang udah punya yayang bebeb, seneng banget ya," seru Nani pura-pura kesal.
"Wait, jgn jadi angry bird dulu lah. entar aku cariin cowok yang sesuai dengan tipe kesukaan Mpok deh," Dinda merayu.
"Betul ya jangan bohong lagi kaya kemarin-kemarin itu," ancam Nani lagi.
"Beres. Percaya deh sama aku," jawab Dinda.
"Biro jodoh rupanya ha ... ha ... !" aku jadi tidak bisa menahan tawaku.
"Bukan, lebih tepatnya sebagai penyelamat bumi dari kejombloan ha ... ha ... ha .... ," sahut Dinda.
"Idih segitunya dirimu padaku, mbak," Nani pura-pura memelas sedih.
"Cup-cup anak manis jangan nangis ya, nanti aku beliin ice cream," rayu Dinda.
"Begitulah keseharian kami bertiga kalo sudah berkumpul. Selalu bahagia penuh canda dan tawa.
"Bel, masih lama pulangnya enggak?" tanya seseorang mengagetkan kami bertiga, ternyata seseorang itu adalah Rama yang sudah ada di depan kami tanpa kami sadari.
"Waduh, si Abang bikin kita kaget aja. Tau-tau udah ada aja di sini," celetuk Nani sambil mengusap d**a saking kagetnya dengan kedatangan Rama.
"Iya nih, untungnya aku enggak punya riwayat penyakit jantung nih," timpal Dinda pura-pura kesal.
"Sorry-sorry, abisnya kalian terlalu asyik ngobrol. Jadinya enggak denger panggilan aku, padahal aku tuh udah dari tadi manggil kalian," sanggah Rama.
"Jangan bikin kaget lagi kaya tadi, ya Bang!" aku ikut mengomel pada kekasihku itu.
"Ok tuan putri," sahut Rama sambil tersenyum manis.