Pagi ini, begitu alarm-ku berbunyi, aku langsung mematikannya. Aku bahkan sudan siap sebelum pengingatku itu berdering untuk membangunkanku. Ini hari besar buatku karena Melani menjanjikan pagi ini kami akan bertemu dan berbincang. Memang, semalam sudah terlalu larut, dan anaknya, anakku, anak kami, menangis karena takut didekati orang asing macem Yuri yang sok akrab itu. Yuri masih tidur, sedangkan aku tak bisa tidur sama sekali, dari kami pulang ke apartment sampai malam menyapa subuh, pikiranku mengelana kemana-mana, membayangkan apa yang akan kami bicarakan, dan mencari semua peluang yang memungkinkan kami bersama. Begitu keluar kamar, aku melihat Mutia sedang memasak di dapur, ia menyapaku dan menyuruhku sarapan, tapi aku menolak, kubilang kalau

