---
Pagi berikutnya, Arkan sudah duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya masih kaku, gerakannya terbatas. Tapi matanya—matanya sudah tajam seperti biasa. Tidak sabar. Gelisah.
Dara dan Santi duduk di hadapannya. Teh dan camilan tersedia di meja, tidak tersentuh.
"Rumah kosong di pinggir kota." Arkan membuka peta di laptopnya. "Kau bilang itu markas Ricky."
Dara mengerutkan kening. "Itu hanya kemungkinan. Dulu Heri pernah bawa aku ke sana sekali. Tapi aku tidak yakin itu markas utamanya. Bisa jadi cuma tempat singgah."
"Tempat singgah atau markas, aku akan periksa."
"Mas Revan, lukamu belum sembuh total." Suara Santi khawatir. "Tunggu beberapa hari lagi."
"Aku sudah menunggu cukup lama." Arkan menutup laptopnya. "Ricky pasti sedang mencari kita. Semakin lama kita diam, semakin besar kemungkinan dia menemukan kita lebih dulu. Kita harus menyerang sebelum dia siap."
Dara berdiri. "Kalau begitu, aku ikut."
Arkan menatapnya. "Tidak. Terlalu berbahaya."
"Aku yang tahu tempat itu!" Suara Dara naik. "Tanpa aku, kau bisa tersesat. Rumah itu tersembunyi di gang-gang kecil. Tidak ada di peta. Lagipula..." Suaranya mengecil. "...aku tidak mau menunggu di sini seperti orang bodoh sementara kau mati di luar sana."
Arkan menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Dara—tekad yang baru. Bukan lagi wanita yang ingin mati. Wanita yang ingin hidup. Wanita yang ingin melindungi.
"Sekali ini saja." Suara Arkan akhirnya melunak. "Kau ikut. Tapi kau harus ikuti semua perintahku. Tanpa kecuali."
Dara mengangguk. "Aku janji."
Santi memainkan jarinya, berkata dengan suara pelan, "Hati-hati. Kalian berdua."
Arkan menatapnya. "Kami pasti kembali. Maaf, merepotkanmu, Santi."
---
Rumah kosong itu terletak di pinggir kota, tersembunyi di balik gang-gang sempit yang bahkan tidak memiliki nama. Dinding-dindingnya dari bata merah yang sudah lapuk. Atapnya dari seng berkarat. Jendela-jendelanya ditutup tripleks. Tidak ada tanda kehidupan dari luar.
Tapi Arkan tahu—tempat seperti ini tidak pernah benar-benar kosong.
Mereka berdua berjongkok di balik tumpukan kayu di seberang rumah. Malam sudah larut. Bulan bersembunyi di balik awan. Hanya lampu jalan di kejauhan yang memberikan sedikit cahaya.
"Empat orang di dalam," bisik Arkan. Ia bisa melihat melalui celah jendela dengan teropongnya—bayangan-bayangan bergerak, suara tawa kasar, suara botol bir yang dibenturkan. "Mungkin lima. Tidak lebih."
"Itu bukan markas Ricky." Suara Dara bergetar. "Aku ingat sekarang. Ini cuma tempat nongkrong anak buahnya. Tempat mereka minum, main domino. Kadang bawa perempuan. Maafkan aku, percuma kita kesini."
Arkan tidak menjawab. Ia sudah membuat keputusan. "Jangan bilang gitua. Tunggu di sini. Jangan bergerak sampai aku kembali. Aku akan cari info."
"Tapi—"
"Kau janji." Suara Arkan tegas.
Dara mengangguk, meski matanya menunjukkan ketidaksetujuan.
Arkan bergerak.
Ia menyelinap ke samping rumah, mencari celah. Pintu belakang—kayu lapuk, tidak terkunci. Ia masuk. Di dalam, bau alkohol dan rokok langsung menyerang hidungnya. Empat preman duduk di meja kayu, bermain domino, tertawa-tawa. Botol bir kosong berserakan di lantai. Di sudut, dua wanita duduk ketakutan, telanjang.
Arkan tidak memberi peringatan.
Ia menyerang yang terdekat—preman gemuk dengan tato di leher. Tinju menghantam rahangnya. Preman itu terhuyung. Arkan merebut botol bir dari meja, memecahkannya ke kepala preman lain. Darah menyembur. Preman itu jatuh.
Dua lainnya bangkit, mengeluarkan pisau. Arkan menghindar—satu pisau mengenai lengannya yang sudah terluka, merobek perban. Darah segar mengalir. Arkan mendesis, tapi tidak berhenti. Ia menendang meja ke arah mereka, membuat mereka terdorong mundur. Lalu ia mengambil pisau dari preman yang jatuh. Menusuk paha satu, menebas lengan yang lain.
Tiga jatuh. Tinggal satu.
Preman terakhir—yang paling tinggi—menangkap Arkan dari belakang, mencekik lehernya. Arkan meronta. Napasnya tercekik. Luka di lengannya semakin robek, darah mengalir lebih deras.
BRAK!
Suara kayu menghantam tengkorak. Preman itu mengerang, cengkeramannya mengendur. Arkan terjatuh ke lantai, terengah-engah, menoleh.
Dara berdiri di sana. Wajahnya pucat. Matanya liar. Di tangannya, sepotong kayu panjang.
"Dara... aku bilang tunggu." Suara Arkan serak, hampir tidak terdengar.
Preman yang dipukul Dara berbalik. Matanya menatap Dara dengan kemarahan membara. "Wanita kurang ajar!" Ia melangkah mendekat, tangannya yang besar terulur.
Dara mengayunkan kayunya lagi. Preman itu menangkapnya dengan mudah. Merebutnya. Melemparkannya ke samping. Tangannya kini mencengkeram leher Dara. Mengangkatnya sedikit hingga ujung kakinya hampir tidak menyentuh lantai.
"Kau pikir kau bisa melawanku, l***e?" Preman itu menyeringai, giginya yang kuning berkilat dalam cahaya redup. "Aku akan menghabisimu dulu, baru temanmu."
Dara meronta. Tangannya mencakar lengan preman itu, tapi sia-sia. Otot-otot di lengan itu terlalu besar, terlalu kuat. Napasnya tercekik. Matanya mulai berair. Pandangannya mulai mengabur.
Revan...
"Kamu hampir mati." Suara itu datang dari belakang preman. Serak. Rendah. Seperti geraman binatang yang terluka. "Aku nggak mau kamu mati."
Preman itu menoleh.
Dan itu adalah gerakan terakhirnya.
Arkan sudah berdiri. Entah dari mana ia mendapatkan kekuatan. Pisau di tangannya—pisau lipat kecil yang selalu ia bawa—kini bersarang di leher preman itu. Darah menyembur deras, membasahi wajah Dara, membasahi lantai. Preman itu terbelalak. Mulutnya terbuka, ingin berteriak, tapi yang keluar hanya suara gelegak—darah memenuhi tenggorokannya. Ia melepaskan Dara, tangannya meraih lehernya sendiri. Lalu ia roboh. Tubuhnya membentur lantai dengan suara keras. Mati.
Dara jatuh berlutut. Terbatuk-batuk. Menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyentuh lehernya sendiri—bekas cengkeraman preman itu, merah, akan memar. Lalu ia menatap wajahnya sendiri di genangan darah di lantai. Darah preman itu. Darah yang membasahi pipinya, rambutnya, kausnya.
Ia menjerit.
Jeritan itu pendek, tertahan, seperti suara binatang yang ketakutan. Ia merangkak mundur, menjauhi mayat preman itu. Punggungnya membentur dinding. Ia memeluk lututnya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Matanya menatap kosong ke depan.
Dua wanita di sudut ruangan yang tadinya telanjang kini berpakaian meski berantakan. Mereka menjerit histeris melihat pembunuhan itu. Salah satu dari mereka memejamkan mata, lalu ambruk. Pingsan. Yang satu lagi menahan temannya itu membawanya pergi.
Arkan tidak memperhatikan mereka. Matanya masih menatap preman yang ia bunuh. Lalu ia menoleh ke tiga preman lain yang tergeletak di lantai. Mereka masih hidup. Merintih. Satu mencoba bangkit, meraih pisau yang terjatuh di dekatnya.
Arkan berjalan mendekat. Gerakannya lambat, seperti mesin yang kehabisan bahan bakar tapi masih dipaksa bergerak. Preman itu mengayunkan pisaunya—lemah, tidak terarah. Arkan menangkap tangannya. Memutarnya. KREK! Tulang patah. Preman itu menjerit. Arkan menusuk lehernya. Sekali. Mati.
Preman kedua mencoba merangkak menjauh. Arkan menangkap kakinya. Menariknya. Membalikkan tubuhnya. Pisau itu menusuk dadanya. Sekali. Dua kali. Mati.
Preman ketiga—yang paling gemuk, yang pertama kali ia serang—hanya bisa menatap dengan mata penuh ketakutan. "Ampun... ampun, Bos..." Suaranya memohon. Lalu dengan sisa tenaganya merangkak keluar rumah. Kabur.
Arkan berbalik. Menatap Dara yang masih meringkuk di sudut, tubuhnya gemetar hebat. Ia berjalan mendekat. Berlutut di depannya.
"Dara."
Dara tidak menjawab. Matanya masih kosong, menatap ke depan. Darah preman masih menempel di wajahnya, di rambutnya. Arkan meraih dagunya, memaksanya menoleh.
"Dara! Lihat aku!"
Nada suaranya tinggi. Keras. Kasar. Bukan karena marah. Tapi karena takut. Karena khawatir. Karena ia hampir kehilangan seseorang lagi.
Dara tersentak. Matanya akhirnya fokus, menatap Arkan. Air matanya mengalir, membasahi darah di pipinya. Tapi ia tidak bisa bicara. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya.
"Aku bilang tunggu!" Suara Arkan masih keras, tapi mulai bergetar. "Kenapa kau tidak mendengarkanku? Kenapa kau masuk? Kau lihat apa yang terjadi? Kau hampir mati! Kau hampir—" Suaranya tercekat. Ia tidak bisa melanjutkan.
Dara hanya menatapnya. Menangis. Bibirnya bergerak, ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya isakan.
Arkan menatapnya lama. Wajah Dara yang pucat, berlumuran darah. Mata yang ketakutan. Tubuh yang gemetar. Dan ia melihat dirinya sendiri. Tiga tahun lalu. Di lantai gudang Tanjung Perak. Menyaksikan Ayah dan Karina mati. Ketakutan. Sendirian.
Ia menarik Dara ke dalam pelukannya.
Pelukan itu erat. Kuat. Seperti ia takut Dara akan menghilang jika ia melepaskannya. Dara membalas pelukan itu. Tangannya yang gemetar melingkari punggung Arkan. Ia menangis di bahu Arkan. Menangis semua ketakutan, semua kengerian, semua yang baru saja ia saksikan.
Mereka berpelukan di sana, di antara mayat-mayat dan darah. Di tengah rumah kosong yang kini menjadi kuburan.
Lalu Arkan lemas.
Tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga akhirnya menyerah. Ia ambruk di pelukan Dara. Kepalanya jatuh ke bahunya. Matanya terpejam.
"Revan? Revan!" Dara panik. Ia memeriksa napas Arkan—masih ada. Dia pingsan. Kehabisan tenaga. Kehilangan darah.
Dara menatap sekeliling. Mayat-mayat. Darah.
Aku harus membawanya keluar dari sini.
Dengan susah payah, ia menyampirkan lengan Arkan ke bahunya. Menyeretnya berdiri. Tubuh Arkan berat—jauh lebih berat dari yang terlihat. Tapi Dara tidak menyerah. Ia menyeretnya selangkah demi selangkah. Keluar dari rumah kosong itu. Menuju jalanan sepi. Menuju rumah.
Kau selamatkan aku, Revan. Sekarang giliranku menyelamatkanmu.
---
Perjalanan pulang sunyi.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan sepi. Arkan sudah sadar sedikit pincang—luka di betisnya yang belum sembuh total kini terasa lagi. Luka di lengannya kembali berdarah, membasahi perban yang sudah robek. Dara berjalan di sampingnya. Menangis diam-diam.
"Maafkan aku." Suara Dara pecah. "Aku hanya ingin membantu. Aku malah menyusahkanmu."
Arkan berhenti. Menatap Dara.
"Kau tidak salah." Suaranya pelan. "Ini salahku. Aku terlalu memaksa. Seharusnya aku mendengarkanmu. Itu bukan markas Ricky. Aku membuang waktu. Membuang tenaga. Melukai diri sendiri. Dan sialnya, aku tidak dapat info." Ia menyentuh pipi Dara, menyeka air matanya dengan ibu jari. Sentuhan yang lembut. "Aku tidak terbiasa... punya seseorang yang peduli sejauh ini."
Dara menatapnya. Terkejut. Ini pertama kalinya Arkan menunjukkan kerentanannya. Mengakui bahwa ia tidak sempurna. Bahwa ia juga butuh seseorang.
"Revan..."
"Aku minta maaf." Suara Arkan tulus. "Karena membuatmu menyaksikan semuanya."
Dara tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arkan—pria yang penuh luka, penuh rahasia, penuh kegelapan. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lembut. Sesuatu yang ia sembunyikan dari dunia.
Dia peduli padaku. Dengan caranya sendiri.
Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini, Dara tidak menangis.
---
Setelah sampai, Santi membantu mereka masuk ke kamar.
Santi membersihkan luka baru di punggung Arkan dengan gerakan yang pelan dan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Arkan duduk diam di tepi kasur di kamar Dara, membiarkan Santi bekerja. Dara berdiri di sudut, menyaksikan.
"Sudah." Suara Santi pelan. Ia menutup kotak P3K, lalu berdiri. "Aku... aku keluar dulu."
Ia berjalan ke pintu. Berhenti sejenak, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi. Ia keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Keheningan.
Dara dan Arkan ditinggal berdua. Cahaya lampu meja menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding. Mereka saling menatap. Tidak ada yang bicara.
"Revan..." Suara Dara hampir berbisik. "Maafkan aku. Aku tidak mau menyesal. Aku mau ini." Ia melangkah mendekat. Berhenti tepat di depan Arkan. Begitu dekat hingga Arkan bisa mencium aromanya—sabun mandi, sedikit keringat, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat. "Aku mau kau."
Arkan menatapnya. Ada perang di matanya—antara keinginan dan ketakutan. Antara hasrat dan batasan yang ia buat sendiri. Dara bisa melihatnya. Pertarungan itu.
Lalu, perlahan, Arkan mengangkat tangannya. Menyentuh pipi Dara. Ibu jarinya mengusap lembut kulitnya. "Aku tidak bisa."
Dara mengangguk. "Maafkan aku. Aku memaksa."
Dara menarik Arkan mendekat.
Bibir mereka bertemu.
---