---
Di luar kamar, Santi berdiri.
Pintu tidak tertutup rapat. Ada celah kecil—mungkin selebar dua jari—cukup untuk melihat ke dalam. Santi tahu ia seharusnya pergi. Seharusnya ia berjalan ke kamarnya, menutup telinga, tidak melihat. Tapi kakinya tidak bergerak. Ada sesuatu yang menahannya di sana. Sesuatu yang gelap, yang memalukan, yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia melihat melalui celah itu.
Arkan dan Dara berciuman. Perlahan. Lembut. Tidak terburu-buru. Bibir mereka bertemu dan berpisah, lidah mereka saling mencari, menari dalam ritme yang hanya mereka berdua yang tahu. Tangan Arkan menyusuri rambut Dara yang hitam dan kusut, jari-jarinya menelusuri setiap helai, lalu turun ke lehernya, ke bahunya. Dara mendesah pelan ke dalam mulut Arkan—desahan yang dalam, panjang, seperti melepaskan beban bertahun-tahun.
Arkan menarik kaus Dara ke atas perlahan memperlihatkan kulit pucat di bawahnya. Kaus itu terlepas, jatuh ke lantai. Dara duduk di hadapannya dengan d**a telanjang. Payudaranya yang cukup besar—terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus—terlihat jelas di bawah cahaya lampu meja yang redup. Bentuknya bulat, menggantung sedikit karena beratnya, dengan p****g merah muda yang sudah mengeras. Bekas suntikan di lengannya, tulang rusuk yang menonjol di bawah kulit, semua terlihat jelas. Peta dari kehancuran yang ia alami.
Saat itu, Santi menunduk, melihat payudaranya sendiri. Merasa tidak kalah. Punyaku juga besar. Lalu melihat ke dalam kamar lagi.
Melihat Arkan yang tidak berpaling. Ia menatap Dara—benar-benar menatapnya. Matanya menyusuri setiap inci tubuh itu. Bukan dengan nafsu rakus. Bukan dengan rasa kasihan. Tapi dengan penerimaan. Penerimaan penuh.
"Dara..." bisiknya. Suaranya serak, berat oleh hasrat yang ditahan.
Air mata Dara jatuh. "Lanjutkan, Revan. Aku mau ini. Setubuhi aku.."
Arkan menyeka air mata Dara dengan ibu jarinya. Lalu ia menunduk. Mencium leher Dara. Perlahan. Bibirnya menyentuh kulit di bawah telinga, lalu turun ke lekuk leher, ke tulang selangka. Dara mendesah lagi, kali ini lebih keras. Tangannya meraih kepala Arkan, jari-jarinya menelusuri rambut hitamnya.
Arkan terus turun. Ke p******a Dara.
Ia menatapnya sejenak. Dara mengangguk, bibirnya terbuka sedikit, napasnya memburu. Arkan mencium puncak p******a kanannya. Lembut pada awalnya. Lalu lidahnya keluar, menjilat p****g yang sudah mengeras itu. Dara mengerang.
"Ya... Revan..."
Sementara di luar, Santi tanpa sadar, tangannya terangkat. Menyentuh dadanya sendiri melalui kaus tipisnya. Ia membayangkan itu tangan Arkan—tangan yang sama yang baru saja meremas p******a Dara. Jari-jarinya menemukan putingnya sendiri di balik kain, mengeras, sensitif. Ia memainkannya, memutar, mencubit pelan. Desahan kecil keluar dari bibirnya. Sambil terus menyaksikan.
Menyaksikan Arkan yang mulai menghisap p****g Dara perlahan. Mulutnya menutup seluruh areola, lidahnya memainkan p****g itu, menekan, melingkar, menghisap lebih dalam. Tangannya yang satu meraih p******a kiri Dara, meremasnya lembut, jari-jarinya memainkan putingnya, memutar, mencubit pelan. Dara melengkungkan punggungnya, mendorong payudaranya lebih dalam ke mulut Arkan.
"Ya... ya... seperti itu..."
Mereka berbaring di kasur. Gerakan mereka lambat, penuh kerentanan. Arkan melepas celana Dara—perlahan, menikmati setiap inci kulit yang terbuka. Paha Dara yang kurus, bekas-bekas luka di sana, dan akhirnya... celana dalamnya. Putih, sederhana, dengan noda basah di bagian tengahnya. Dara basah. Sangat basah.
Arkan menarik celana dalam itu ke samping. Memperlihatkan v****a Dara yang merah muda, basah, mengilap oleh cairannya sendiri. Bibirnya merekah, mengundang. Arkan menunduk. Menjilatnya.
"Ah—!"
Dara menjerit kecil. Tangannya langsung mencengkeram sprei. Pinggulnya mendorong ke depan secara refleks, menekan vaginanya lebih dalam ke mulut Arkan.
Diluar, Santi menurunkan satu tangannya, kini dengan sadar. Tangan itu turun. Melewati perutnya yang rata. Masuk ke dalam celana pendeknya. Menemukan celana dalamnya. Ia menyentuh dirinya sendiri di atas kain itu. Menggosok perlahan. Lingkaran-lingkaran kecil yang membuat lututnya lemas.
Mas Revan... aku juga mau. Aku juga mau, Mas. Sentuh aku seperti kau menyentuh Dara.
Ia mendorong celana dalamnya ke samping. Jari-jarinya langsung menyentuh vaginanya yang basah dan bengkak. Ia mengerang pelan. Matanya masih menatap ke dalam kamar, menyaksikan.
Melihat Arkan yang terus menjilat milik Dara. Perlahan. Dari bawah ke atas. Lidahnya menelusuri setiap lipatan, merasakan teksturnya, merasakan cairan Dara yang asin dan hangat. Ia menemukan klitorisnya dan memainkannya dengan ujung lidah. Dara mengerang keras.
"Ya! Ya! Di situ!"
Arkan menurut. Ia fokus di sana, menjilat, menghisap, memainkan k******s itu dengan ritme yang stabil. Satu tangannya naik, meremas p******a Dara. Tangannya yang lain turun, memasukkan satu jari ke dalam v****a Dara. Basah. Hangat. Sempit. Dara menjerit lagi.
"Revan... Masuk... Mulailah..."
Arkan melepas celananya. Penisnya sudah sepenuhnya ereksi. Dara menatapnya, matanya melebar. "Itu... besar."
Arkan memposisikan dirinya di antara paha Dara. Menyentuh pintu masuknya dengan ujung penisnya. Dara basah sehingga ujung penisnya langsung terlapisi cairan hangat itu. "Masuk," bisik Dara. "Sekarang."
Arkan masuk perlahan.
Keduanya mendesis bersamaan.
Diluar, Santi yang mengerang karena sentuhannya sendiri melihat itu. Melihat v****a Dara meregang, menyesuaikan diri dengan ukuran Arkan. Hangat. Sempit. Basah.
Dara merasakan setiap sentimeter p***s itu masuk ke dalam dirinya. Penuh. Sangat penuh. "Ah... Revan..." Dara mengerang. Matanya terpejam. "Kau... penuhi aku..."
Arkan mulai bergerak. Perlahan pada awalnya. Memberi Dara waktu untuk menyesuaikan diri. Lalu semakin cepat. Suara tubuh mereka bertumbukan mulai memenuhi kamar. Dara mengerang, tangannya mencengkeram punggung Arkan yang penuh luka.
"Ya... ya... lebih keras..."
Arkan menurut. Dorongannya semakin dalam. Semakin keras. Dara menjerit—jeritan kenikmatan yang murni. "Ya! Seperti itu! Terus!"
Santi diluar mendengar itu. Mendengar jeritan Dara. Membuat jarinya bergerak semakin. Jari-jarinya menemukan klitorisnya sendiri. Ia memainkannya, membayangkan itu lidah Arkan. Seperti yang baru saja dilakukan Arkan pada Dara. Matanya mulai sayu, tapi terus melihat.
Melihat Arkan yang seperti merasakan Dara mulai berdenyut di sekitarnya. v****a-nya semakin erat, semakin basah. Dara sudah dekat. Arkan mempercepat gerakannya. Satu tangannya turun, menemukan k******s Dara, memainkannya dengan ibu jari.
Itu cukup.
Dara menjerit. Orgasmenya datang seperti ledakan. v****a-nya berdenyut-denyut hebat di sekitar p***s Arkan, seolah memerahnya. Cairannya menyembur—membasahi p***s Arkan, pangkal pahanya, seprai di bawah mereka.
"REVAN!"
Arkan tidak tahan lagi. Merasakan Dara hancur di sekitarnya, ia juga melepaskan. Ia mendorong dalam-dalam, dan air maninya menyembur panas di dalam Dara. Membanjiri vaginanya.
Arkan mengeram pelan—suara yang keluar dari dasar tenggorokannya—saat ia mengosongkan dirinya sepenuhnya.
Dara merasakan setiap semburan. Panas. Penuh. Hidup.
Di luar, Santi menyaksikan semuanya.
Air matanya mengalir. Jatuh ke pipinya, ke lehernya, ke dadanya yang naik-turun karena napasnya yang memburu. Ia tidak membenci Dara. Ia tidak marah pada Arkan. Ia hanya... sedih. Sedih karena ia juga menginginkan itu. Sentuhan. Kehangatan. Dicintai.
Dan gerakannya semakin cepat. Jari-jarinya menekan klitorisnya lebih keras, menciptakan gesekan yang mengirimkan gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Napasnya memburu. Dadanya naik-turun. Keringat mulai mengalir di pelipisnya. Air matanya terus mengalir, membasahi wajahnya, menetes ke lehernya.
Dan akhirnya, tbuhnya gemetar hebat. v****a-nya berdenyut-denyut di sekitar jari-jarinya sendiri. Cairannya menyembur, membasahi tangannya, membasahi celana dalamnya, menetes ke pahanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang satunya, menahan jeritan yang ingin keluar. Air matanya masih mengalir, dari sepasang mata yang melihat Arkan ambruk di samping Dara.
Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku tidak bisa membencinya? Kenapa aku hanya bisa... menginginkan hal yang sama?
Ia bersandar ke dinding, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya tertahan, hanya getaran di bahunya yang menunjukkan bahwa ia menangis.
Di dalam kamar, Arkan dan Dara masih berbaring berdampingan, tidak tahu apa-apa.
Santi akhirnya mendorong tubuhnya untuk berdiri. Kakinya gemetar. Ia menatap celah pintu sekali lagi—melihat Dara yang berbaring di d**a Arkan, tangan mereka saling menggenggam. Lalu ia berbalik. Melangkah pergi dengan langkah yang berat. Setelah memastikan pakaiannya sudah rapi.
Suatu hari nanti, bisiknya pada diri sendiri. Suatu hari nanti, aku akan berani mengatakan apa yang kurasakan. Tapi tidak malam ini.
---