Rivaldi menggenggam tangan Celline dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya. “Kenapa, Kak?” “Rindu sekali dengan Papamu ya?” Celline mengangguk. “Kami sudah dua puluh tahun tidak berjumpa. Aku tidak pernah tahu dia di mana, sedang apa, apa yang dilakukannya dan kini semua itu seperti mimpi. Aku bertemu dengan Papa lagi di tempat yang tidak terduga.” Rivaldi memandang lurus ke jalanan sambil terus menyetir. “Mungkin aku perlu belajar padamu bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah.” “Kak… jangan bicara seperti itu. Om Antony akan baik-baik saja.” Rivaldi mengambil nafasnya dalam-dalam. Membayangkan kehilangan Antony membuat hatinya terasa begitu pedih. Ia tidak siap. Tapi, apalah daya manusia? Kita tidak bisa menghindari kehendak Tuhan. Seketika rasa

