Part 8: Usaha si Gadis Gal 1

2493 Kata
Saat jam olahraga di mulai tragedi itu pun terjadi. Gadis polos ini tak sengaja lepas kendali dan sempat tak sadarkan diri. Saat melihat bercak-bercak darahnya yang ada di sepanjang lantai koridor membuat gadis itu teringat kembali. badannya menjadi bergetar. Dia mempercepat langkahnya menuju kelasnya. Matanya menatap tajam seorang gadis yang tampak sedang asik memoles bibirnya dengan lipthint. Nurfa menghampiri gadis itu. “Imelda” bibirnya memanggil nama gadis itu. Si Gadis Gal ini nampaknya tengah menyadari apa maksud kedatangan Nurfa. Dia terlihat tenang lalu menatap Nurfa sambil menyilangkan kakinya. “Ada apa?” dia tampak acuh. “Ayo kita berbicara diluar..” “Oke, ada banyak hal juga yang mau aku tanyakan” ujar Imelda. Keduanya pergi ke toilet wanita. Mereka mencari tempat yang sepi agar tidak memancing kerumunan. Kedua gadis itu tak lagi segan untuk mengutarakan apa yang selama ini mengusik perasaan mereka. Meskipun mereka harus babak belur nantinya keduanya telah mempersiapkan diri masing-masing. Lalu apakah yang menjadi penyebab keributan ini? Benih-benih permasalahan ini sudah muncul semenjak hari Senin. Yaitu ketika John Lew datang bersama dengan si gadis hijaber. Begitu juga rentetan kejadian lain yang selama ini membuat Imelda tak bisa melepaskan padangannya dari Nurfa. Dia selalu mengamati Nurfa di kelas. Dia melihat jika gadis hijaber itu selalu curi-curi pandang memandang gebetannya yang sedang minta diajari cara mengajarkan soal matematika oleh Rifa. Gadis itu juga menghabiskan waktu istirahat kedua bersama dengan John Lew. Sepanjang perjalanan dia tersenyum-senyum mencurigakan. Lalu ketika kegiatan ekskul. Saat Imelda sedang mengikuti latihan rutin dengan teman-teman tim cheerleadernya, John Lew datang menengoknya. Gadis gal itu begitu bahagia. Dia merapikan rambutnya dan membersihkan wajahnya yang basah karena keringat. Saat dia mendekat dan hendak menyapa laki-laki idamannya itu dia melihat di gadis hijaber tepat berada dibelakang John Lew. Gadis itu menengok-nengok sekitar dengan wajah ragu. “Nah, ini ekskul cheerleader..” ujar John Lew. “Hebat! Disekolahku dulu nggak ada ekskul seperti ini, loh!” ujar Nurfa bersemangat. Rasa antusias gadis itu membuat Imelda makin kesal padanya. “Tapi loe nggak mungkin gabung ke ekskul kaya begini, 'kan” ujar Rifa. “Iya juga, ya. Hehehe..” ujar Nurfa sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk. “Kalau begitu kita lihat ekskul yang lain, yuk” dan mereka pun pergi begitu saja tanpa. Melihat John Lew muncul untuk menengok saat kegiatan klub adalah hal yang langka bagi Imelda. Tapi baru sebentar saja muncul, laki-laki itu langsung pergi tanpa menyadari keberadaannya. Lalu belum lagi saat dia hendak membeli minuman dia melihat John Lew berjongkok menghibur Si Gadis Hijaber yang sedang menangis. “Apa-apaan ini!! Sampai kapan mereka berdua terus menerus jalan bareng begitu!!” geram Imelda. Hingga kegiatan ekskulnya selesai dia pulang dengan api menyelubungi hati dan pikirannya. Dia terus berkomat-kamit mengutuk Nurfa sepanjang perjalanannya kerumah. Hari itu dia benar-benar dibuat kesal dengan gadis hijaber itu. “Kenapa?! Apa sih cantiknya gadis itu?! bajunya aja bikin gerah ngelihatnya! Emang, sih, dia cantik! Iya, sih cantik.. cantik..” Imelda yang berseru penuh amarah jadi terdiam dikamarnya dengan wajah melongo. Dia menatap cermin lemari pakaiannya. Menatap sosoknya dari atas hingga bawah. “Apa yang John Lew lihat dari dia, sih? Memang dia punya wajah yang cantik. Tapi hanya itu yang terlihat dari dia. Gadis itu bahkan nggak memperlihatkan rambutnya, kulitnya dan dadanya. Tapi kenapa..? padahal selama ini aku udah berusaha agar bisa terlihat.. Kenapa dia?!” Si Gadis Gal tak kuasa menahan air matanya, “Bahkan saat menangis aku juga mau John Lew menatap wajahku dan mengusap kepalaku.. Tapi sampai kapan aku harus berusaha..” Imelda begitu frustasi. Sejak dulu dia sering melihat banyak gadis yang terpesona oleh ketampanan pemuda ini. Dia juga sering melihat laki-laki idamannya mendapatkan pernyataan cinta dari gadis lain. Dia juga melihat banyak gadis yang patah hati karena cintanya di tolak oleh pemuda berambut pirang itu. Tapi gadis baru ini dia mendapatkan respon yang berbeda dari pemuda itu. Dia melihat John Lew begitu banyak tersenyum ketika ada di dekat gadis itu. Hal itu membuatnya kesal. Harusnya dia yang berada disana. Dia yang lebih pantas mendapatkan senyuman yang menawan hati itu. Dan rasa kecemburuannya yang membuncah itu membuat gadis itu memupuk kebenciannya pada Si Gadis Hijaber. “Lihat aja besok, Nurfa! Kalau sampai elo kegenitan lagi ke gebetan gue..!! Hehehehe..” dia pun merencanakan skenario buruk untuk hari esok. Paginya Imelda berangkat kesekolah sangat pagi seperti biasanya. Sejak dia Kelas X dia selalu melancarkan usahanya ini. Dia berangkat pagi sekali saat siswa lain belum datang lalu memarkirkan sepeda motornya di tempat yang paling pojok. Saat siswa yang lain datang dia berusaha agar tak ada yang memarkir sepeda motor di dekat sepedanya. Bak juru parkir dia mengatur parkiran sekolah menjadi begitu rapi. Hingga ada satu sela untuk Si Pujaan Hati untuk menyelipkan sepeda motornya disana. Hari ini pun dia sudah sangat bersemangat dan penuh percaya diri. Dia memilih b*a dengan renda yang bagus, dia juga memakai hodie merah yang imut, wajahnya yang sudah segar karena masker sari mentimun dia poles sedemikian rupa agar tampak begitu menggoda. Tak lupa dengan lipthin warna pink velvet yang membuat bibirnya merah merona. Dia berdandan dengan penuh semangat juga pagi ini. “John Lew itu juga laki-laki normal. Walaupun ada gadis cantik sekalipun dia juga bisa takhluk dengan keindahan tubuh wanita. Lihat aja Nurfa. Akan gue buktiin!” begitulah tekadnya dalam hati. Setelah setengah jam berada ditempat parkir matahari mulai terik. Keringat mulai membasahi wajahnya. Saat itu dia beristirahat sebenar diatas sepeda motornya dan membenahi make upnya lewat sambil mengaca di kaca spion sepeda motornya. Ketika dia sedang serius membenahi wajahnya tiba-tiba saja lampu sein sepeda motor terpantul dikaca spionnya dan membuat matanya silau. “b******k!” umpatnya pada orang itu. “Yah, Eneng yang ngejaga parkiran, toh!” ternyata pelakunya tak lain adalah Mizar Rif’an Si Juru Kompor di kelasnya, “Galak amat pagi-pagi kaya kucing garong” celetuknya membuat Imelda mengerut sampai make up basenya rontok berguguran. “Mau apa loe!?” seru Imelda. “Ya, mau markirin sepeda, lah!” “Disono, noh! Masih kosong!” Imelda menunjuk parkiran yang berada lebih ujung. “Ah, Eneng! Jauh amat, dah! Mendingan disini aje rada deketan..” “Kagak! Pegi sana! Tempat ini punya gue!” Imelda berkacang pinggang dan mulai siaga bertarung untuk menjaga teritorinya bak Raja Singa di Afrika. Laki-laki gondrong dihadapannya jadi gentar. Dia pun tak punya pilihan selain menuruti kemauan gadis itu. Dengan wajah cemberut dia menjalankan sepeda motornya ketempat yang sangat jauh. Dia pun juga berjalan agak jauh untuk keluar di tempat parkir. Dan berjalan menyamping agar bisa keluar dari tempat parkir yang sudah sesak karena sudah banyak sepeda motor yang menghalangi jalan. Lima menit kemudian Imelda mulai merasakan keberadaan seseorang yang amat dinanti-nantinya. Dia buru-buru merapikan dandanannya setelah itu dia membuka empat kancing seragamnya hingga dadanya mencuat keluar dari seragam itu menampakan b*a imut berendanya. Mizar yang berusaha keluar secepat mungkin karena ketakutan. Orang yang dia tunggu-tunggu pun masuk ketempat parkiran. Sambil melajukan sepeda motornya kedalam tempat parkir dia pun berhenti memarkirkan sepeda motornya tepat di sebelah Imelda. Hati kecil Imelda bersorak kegiragan. John Lew melepas helmnya. Waktu terasa berjalan perlahan bagi Imelda. Dia melihat rambut pirang John Lew basah berkeringat. Saat laki-laki itu ngangkat kepalanya rambutnya yang terkibas seperti memancarkan cahaya dari air keringat yang terlepas disekitar rambutnya. Dia membuka risleting jaket kulitnya. Mengambil sapu tangan dari saku bajunya kemudian mengelap keringat di sekitar wajah dan kepalanya. “Indahnya.. selalu indah seperti biasanya..” batin Imelda serasa menari-nari. Gadis itu mulai melancarkan aksinya kali ini dia duduk mengapit jok sepeda motornya dan agak menaikan pantatnya shingga rok abu-abunya agak tersingkap sedikit memamerkan paha mulusnya. Satu tangannya bersandar di spedo meter sehingga membuatnya agak membungkuk agar dadanya bisa mendapatkan posisi yang lebih terekspos. Lalu satu tangannya lagi mengipas ngipas lehernya. “Duh, pagi ini panas banget, ya..” tak lupa kata-kata memprovokasi. John Lew memang sempat menoleh tapi bukan menoleh juga. Bola mata birunya bergerak kearah gadis itu tak sampai sedetik. Setelah itu dia membuka jok sepedanya dan mengambil tasnya kemudian pergi tanpa kata apapun. “Dan dia juga pergi dengan cueknya seperti biasanya. Ah! Akhirnya dia ngelirik gue! Dia pasti pura-pura cuek! Gue yakin! Yakin kalau dia girang banget! Hohoho..” batin Imelda berkata demikian. Imelda pun begitu puas kali ini. dia pun menenteng tasnya dan mengikuti John Lew dari belakang. Wajah gadis itu amat berbinar-binar. Dia berjalan seperti mengawang. Matanya terus menatap pungung Si Lelaki Pujaan. “Aduuhh, dari belakang pun John Lew benar-benar Indah..” batinnya. Si Gadis Gal begitu bahagia dengan punggung tegap itu seperti biasanya. Hingga dia mendengar laki-laki idamannya bersuara menyapa seseorang. “Pagi, Nurfa!” Senyumnya surut bak air yang masuk kedalam lubang. Gadis Hijaber itu tepat berada dihadapannya dengan dandanan biasa seperti kemarin. “Pagi, Ketua” sapa Gadis Hijaber itu dengan suara lembut melankolinya. Api cemburunya kembali menyala. Imelda menatap gadis itu hingga tak sadar jika matanya melotot hingga urat-urat matanya membesar. Nurfa yang sedang tersenyum sembari mengobrol dengan John Lew tanpa sengaja melihat Si Gadis Gal. Gadis hijaber itu tampak begitu kaget. Wajahnya merah merona. Dia tampak panik kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia mengambil selambu yang dia pakai untuk menutupinya saat berwudhu. Lalu buru-buru menyelimutkannya pada Imelda hingga d**a gadis itu tertutup. Apa yang Gadis Hijaber itu tiba-tiba lakukan membuat John Lew terheran juga. Dia menadang Nurfa dan Imelda bergantian. “Kenapa, Nurfa?” Tanya John Lew. Nurfa buru-buru merepet pada Imelda, “Nggak papa, kok. Kebetulan aja ketemu Imelda terus kepingin ngobrol sama dia” ujar gadis itu. “Ah, kalau begitu aku kekelas duluan, ya” “Iya, da daah!” John Lew pun meninggalkan kedua gadis itu. Nurfa berbisik pada Imelda, “Kancingmu lepas, loh! Untung aja Ketua nggak sempet lihat!” “Oh..” Imelda tak bisa berkata apa-apa karena shock. Tanpa Nurfa sadari kesabaran Imelda yang tinggal sehelai benang itu putus dan tidak akan tersambung lagi. "Lihat si Imelda, lagi-lagi melotot ngelihatin John Lew, tuh” “Aahh, tuh anak nggak berubah dari dulu, hahaha!” “Menurut gue kayanya dia nggak ngelihatin John Lew, tapi melototin ukhti-ukhti Si anak baru itu..” “Wah, bener, tuh..” Gadis A, B, C dan D tampaknya asik menggunjingkan Imelda yang memang sedari dulu maniak John Lew. Meskipun dari penampilan Imelda tampak seperti gadis populer tapi nyatanya dia tak pernah punya teman. Karena obsesi besar gadis ini yang tak lain membuat banyak orang risih dengannya. Dia selalu memusuhi semua perempuan yang berusaha PDKT dengan John Lew. Tidak hanya PDKT, hanya sekedar menyapa saja sudah membuatnya melotot kearah gadis yang menyapa hingga gadis itu lemas ketakutan. Meskipun sebegitu sukanya Imelda dengan John Lew, nyatanya gadis ini tak pernah mengungkapkan perasaannya barang sekalipun. Dia begitu gugup saat berhadapan dengan pujaan sampai lidahnya pun kelu. Kesempatannya pun selalu berakhir dengan kegagalan. Namun efekya pun berimbas seterusnya, dia terus memusuhi gadis yang mencoba dekat dengan John Lew, dan karena hal itu juga si cogan bule ini tak pernah punya pacar. Lalu apa John Lew sediri sadar akan hal ini? Sepertiya dia terlihat sangat cuek entah dia tidak tahu ataupun tahu sekalipun tak akan membawa banyak perubahan. Tapi yang jelas dia sadar jika gadis itu mengamati Nurfa dengan cara yang tidak biasa. Dia tak akan diam saja jika gadis ini macam-macam. “Hei, John Lew! Loe lagi ngelamunin apa, sih?” ujar Rifa menepuk bahunya. “Iya, Ketua dari tadi kita panggil nggak nyahut sama sekali, loh” tambah Nurfa. “Sorry, kayanya mata masih ngantuk aja pagi ini..” ujar John Lew tertawa. “Ah, mulai, nih. Loe habis ngelembur nonton pertandingan NBA lagi, kan?” ujar Rifa. “Sok tahu, loe.. gue habis ngelembur ngerjain LPJ kegiatan ektrakurikuler bulan ini. Gue kelabakan ngerjain sendiri karena wakil gue nggak masuk berhari-hari gara-gara oprasi usus buntu” ujar John Lew. “Kasihan banget Ketua ini. sebenernya Nurfa ini sering juga ngerjain LPJ kegiatan ekskul. Soalnya aku pernah jadi sekertaris OSIS di sekolahku yang dulu, loh! Kalau ketua bener-bener repot aku juga mau batuin, kok, soalnya aku juga nggak ada kerjaan” wajah Nurfa mendadak suram, “Gabut banget rasanya nggak ada kerjaan..” “Boleh juga, nih.. kalau begitu mau di tempatku atau di tempatmu?” tanya John Lew. “Tolong kasih tahu tugasya lewat WA aja, ya! Nanti bakal aku kirim via WA juga. Nggak usah kerja bareng segala!” ujar Nurfa tegas. “Emang kenapa? Orang tua loe bakal curiga kalau elo ngerjain tugas bareng cowok?” Tanya Rifa. “Nggak gitu juga, sih.. Habis waktu tenangku di depan laptop itu waktu yang sakral banget. Kalau misalnya aku harus berjilbab di depan laptop lama-lama rasanya kepalaku bakal meledak” penjelasan Nurfa ini memang agak ribet banget. “Ya, namanya juga cewek hijaber, ya. lebih nyaman kalau kerja sambil b***l dari pada kerja ada cowok yang ngeharusin berjilbab seharian penuh, 'kan” ujar Rifa. “Ya begitulah, tapi aku nggak sampe b***l juga, loh!!” seru Nurfa mengembungkan pipinya. “Hahaha, jadi inget Mbak Risa kakak perempuannya Rifa, deh. Meskipun berhijab tapi kalau di rumah langsung pamer d**a sama paha, gitu. Dia bahkan nggak sungkan berpenampilan begitu meskipun ada aku lagi main disana” ujar John Lew. “Haahh, yang satu itu emang nggak habis pikir, sih. Udah bosen ngasih taunya juga” ujar Rifa. “Hahahaha, kalau begitu Ketua seneng banget, dong, tiap kali kesana” ujar Nurfa. “Hmm? Gimana, ya? Susah juga ngejelasinnya. Toh dari kecil juga udah sering main sama Rifa jadi biasa aja rasanya” ujar John Lew ragu. “Kayanya udah seperti kakak sendiri, ya” ujar Nurfa disahuti dengan anggukan kepala oleh John Lew. “Iya, juga, sih.. Kadang aku juga sering berkeliaran dirumah tanpa jilbab padahal temen-temen adik laki-lakiku lagi main. Padahal mereka juga udah kelas tiga SMP..” “Tolong, dong, yang kaya begitu jangan diterusin. Adek loe pasti malu baget, loh” ujar Rifa membuat Nurfa dan John Lew tertawa. Tak lama bel berbunyi dan menghentikan obrolan mereka. Nurfa pun kembali kemejanya dengan senyum merekah. Suasana gadis ini sedang baik-baiknya. Hingga dia melihat Imelda menatapnya serius. “Pagi Imelda” dia kembali menyapa Imelda dengan seyum. Meskipun gadis itu tidak membalas sapaannya dan hanya memalingkan wajah gadis itu duduk dan tetap tersenyum. Guru mata pelajaran pertama datang setelah mereka berdoa bersama pelajaran pun dimulai. Selama tiga jam pelajaran berlangsung guru itu meminta petugas piket untuk mengumpulkan buku PR. Seorang gadis datang menghampiri Nurfa sedang mempersiapkan pakaian olahraga karena jam pelajaran kedua ada materi olahraga. “Nurfa, sebelumnya Rifa udah ngabarin kamu kalau kamu ikut jadwal piket hari ini, kan?” Tanya gadis itu. “Iya, Rifa udah kirim lewat WA, kok” ujar Nurfa. “Kalau begitu kamu, ya, yang bantuin bu Anne bawain buku PR-nya anak-anak ke ruang guru” ujar gadis itu. “Oke” ujar Nurfa menyanggupinya. Dia menaruh kembali baju olahraganya di tas dan menghampiri guru mapel yang menunggu petugas piket untuk membantunya. Setelah Nurfa pergi dari kelas Imelda terus mengamatinya. “Hmm.. kayanya gue punya ide, nih..” dia pun berpikir licik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN