Selama ini Imelda sudah sering sekali memperhatikan Nurfa. Bahkan kemarin seusai kegiatan ekskul cheerleader, ketika dia akan menyerahkan laporan kegiatan ekskulnya diruang OSIS. Dia mendengar suara jeritan Gadis Hijaber itu. Karena rasa curiga dia pun menguping segalanya hingga tuntas. Masih banyak keheranan yang ada dikepalanya denga informasi yang dia dengar. Pada akhirnya dia pun mencari semua penjelasan itu melalui internet dan merasa tercengang.
“Siapa yang nyangka meskipun wujudnya gadis sholehah tapi teryata dia cewek m***m yang suka sama hal-hal berbau LGBT” batinnya, “Hari ini gue hancurin elo sehancur-hancurnya!” Imelda pun telah bertekad kuat.
“Oh, iya.. sekarang giliran anak cewek yang ganti di kamar mandi, loh!” ujar Rifa memperingatkan teman-temannya.
“Yaaaahh!” keluh anak-anak cewek.
“Kalian ini gimana, sih! Kita udah bahas berkali-kali kalau kamar mandi cowok lagi di renovasi. Kalau kalian mau ganti baju disini nggak papa, sih. Tapi inget CCTV nyala loh ya. Karena gue udah terlanjur ijin kalau hari ini yang ganti di kelas anak cowok” ujar Rifa membuat anak-anak perempuan mengeluh.
“Oke, deh..” anak-anak perempuan pun menurut meskipun terlihat setengah hati. Mereka membawa pakaian olahraga mereka dan keluar kelas.
“Oh, iya.. barusan Nurfa keluar kelas, kan?” gumam Rifa, “Dia musti dibilangin, nih..”
“Anak-anak cewek tunggu sebentar!” dia menghampiri teman-teman sekelas perempuan yang akan ganti baju, “Tolong gue, dong, salah satu dari kalian ada yang nyusul Nurfa dan ajak dia ganti baju bareng kalian” ujar Rifa.
“Haduh, harus keruang guru, dong! Males, ah!” timpal salah satu anak perempuan di sahuti yang lainnya.
“Dasar, kalian ini..” Rifa jadi geram dibuatnya.
“Udah, biar gue aja” ujar Imelda menepuk bahu Rifa, “Gue bakal bilangin ke dia. Tenang aja..”
“Oke, deh.. makasih banget, ya” ujar Rifa kemudian dia kembali kemejanya untuk berganti baju.
Imelda terseyum lebar. Dia mendapatkan kesempatan besar untuk menjebak gadis itu. Dengan santai dia melenggang mengikuti anak perempuan lainnya untuk berganti baju di kamar mandi. Sementara Nurfa yang sedang membantu membawa buku PR tak tahu menahu soal ini.
“Ada apa, sih?” Tanya John Lew pada Rifa, “Tadi gue lihat loe sempet ribut sama anak-anak cewek.”
“Nggak sampe ribut juga, sih. Tapi gue sering kepikiran aja kalau Nurfa itu kayanya nggak terlalu disukai anak-anak cewek dikelas” ujar Rifa.
“Gue juga sepemikiran, sih. Toh, dia masih baru. Yang kaya gitu masih proses, lah. Nggak segampang itu anak baru bisa dapet teman. Kalau misalnya gue nggak di paksa sama si botak ngajak tur keliling sekolah atau kalau aja elu nggak ngajak dia ngegame pas istirahat kayanya dia juga nggak akan akrab sama kita kaya sekarang” jelas John Lew.
“Lu bener juga, ya..”
Sedangkan Nurfa yang sehabis mengupulkan tugas dia berjalan kekelasnya juga sempat memikirkan hal itu.
“Anak perempuan barusan kalau nyuruh agak ketus juga, ya. Jadi kepikiran kata-kata Rifa, nih.. tadi pagi juga Imelda kayanya jutek banget ke aku.. huh, Astagfirullah! Positif thinking! Please otak..” batin Nurfa.
Dia menghelah napas panjang. Dia merasa rindu dengan teman-teman sekelasnya dulu yang sangat lucu dan ceria. Gadis ini pun kembali merasa sedih. Dia sendiri tahu akan berat baginya untuk bisa bergaul dengan yang lainnya. Karena kebanyak anak-anak sudah berkelompok sendiri-sendiri. Bisa akrab dengan John Lew maupun Rifa adalah hal yang benar-benar suatu kebetulan baginya. Meskipun begitu Nurfa tetap merasa tidak puas. Dia membutuhkan teman perempuan juga. Karena banyak hal juga yang membuatnya tidak nyaman saat bergaul dengan anak laki-laki.
“Kira-kira gimana kabar yang lainnya, ya? Kangen, deh.. Setelah aku pindah aku belum berhubungan lagi sama mereka..” gumam Nurfa sembari membayagkan teman-temannya dulu.
Air mata gadis itu menetes saat dia mengedipkan matanya. Saat dia berada di depan kelasnya dia buru-buru menghapus air matanya dan membuka pintu kelas itu lebar-lebar. Matanya yang masih buram karena air mata mendadak tegang karena melihat banyak laki-laki setengah b***l di kelasnya. Dia terdiam sementara banyak anak cowok yang memandanginya tak kalah terhenyaknya.
"Dia ngapain di sini?" batin Rifa.
Baru saja Rifa selesai bicara, kejadian buruk sudah terjadi. Sekarang sudah terlanjur kejadian. Nurfa amat caggung. Dia pun menutup pintu kelasnya perlahan hingga John Lew berbicara padanya.
“Anak-anak perempuan semuanya ganti di kamar mandi, Nurfa” ujar John Lew.
“I-iya, tapi baju olahragaku masih disana..” ujar Nurfa menunjuk mejanya dengan gugup.
“Wah, nggak papa, Neng. Masuk aja!” sahut Mizar di sahuti beberapa anak cowok lain. Kebayakan anak cowok memang tidak sungkan ganti baju di depan anak perempuan. Mereka tidak keberatan meskipun Nurfa masuk sebentar hanya untuk mengambil pakaiannya.
Tapi mereka tidak sadar jika saat ini Nurfa lah yang merasa tidak nyaman. Gadis itu berjalan cepat ke mejanya kemudian mengambil pakaiannya. Wajahnya memerah seperti tomat. Dia pun kembali berjalan sambil menutup wajahnya dengan baju. Karena tak membuka mataya kakinya pun tersandung kaki meja, dia pun jatuh tersungkur.
“Nurfa!” anak-anak laki-laki disekitarnya berusaha menolongnya.
Gadis itu berusaha berdiri dengan tenaganya sendiri meskipun kakinya gemetar kesakitan, “Udah.. Aku nggak papa, kok” ujarya melambai-lambaikan tangannya.
“Wah, hidung kamu mimisan, loh” salah satu anak cowok memergokinya.
Selain benturan keras di lantai tadi Nurfa bisa juga mimisan karena keberadaan mereka para cowok yang membuatya pusing. Gadis itu menutup hidungnya.
“Aku nggak papa, kok!” serunya lalu berusaha keluar dari banyak laki-laki setengah t*******g yang mengerumuninya.
Tapi karena terburu-buru, lagi-lagi kakinya tersandung meja dan membuatnya tersungkur kedua kalinya. Tapi kali ini dia tidak bergerak. Tapi keluar darah menggenang membasahi lantai sehigga membuat semua orang yang melihatnya panik.
John Lew dan Rifa menghampirinya. Rifa menggoncang bahu gadis itu begitu kencang, “Nurfa!!” dia berseru memanggil nama gadis itu. Dibaliknya Nurfa dan melihat kondisi Nurfa yang sudah terbujur lemah dengan darah mengalir lewat hidungnya.
“Dia pingsan” ujar Rifa setelah mengecek kondisinya.
“Haduh, gimana nih?” seisi ruangan panik.
John Lew segera mengangkat tubuh Nurfa, “Gue bawa, nih anak ke UKS. Loe ambil barang-barang anak ini” ujar John Lew pada Rifa.
“Loe nggak butuh bantuan, nih, John!” ujar teman sekelas yang lain saat John Lew mengangkat tubuh Nurfa dengan kedua tangannya.
“Nggak papa. Biar gue sama Rifa aja. Kalian bilang ke pak Juri, gue sama Rifa ijin dulu karena ada anak yang pingsan” ujar John Lew.
“John! Ayo buruan!” Rifa sudah siap dengan barang-baran Nurfa yang dia bawa.
John Lew dan Rifa bergegas keluar dari kelas mereka membopong Nurfa yang masih banjir darah dari hidungnya. Saking banyaknya darah yang keluar darah gadis itu sampai menetes di lantai. John Lew dan Rifa yang berlarian di koridor sekolah pun mencuri perhatian banyak siswa yang sedang belajar. Para cewek di kelas mereka yang selesai ganti pun tak sengaja berpapasan dengan mereka.
“Hei, kenapa tuh Uhkti, John! Rif!?” seru seorang gadis.
“Pingsan!” jawab kedua cowok itu kompak.
“Kita anterin ke UKS dulu” ujar John Lew.
“Serius nih? Gimana kejadiannya?” heran seorang anak cewek.
“Hei, mana si Imelda?” tanya Rifa pada anak cewek lainnya dengan tatapan tajam.
“Kayanya dia udah selesai ganti dari tadi terus kabur gitu aja” ujar seorang anak cewek.
“Bilang ke cewek sengklek itu kalau gue mau ngomong sama dia habis ini” ujar Rifa dingin.
“Udah, Rif! Buruan!” John Lew menengahi agar mereka segera bergegas pergi.
“Jangan lupa lu sampein kedia!” seru Rifa lalu berlari pergi Bersama John Lew.
Para cewek yang sempat tegang dengan perkataan Rifa tadi menghelah napas panjang.
“Tuh, buat masalah lagi Si Ganjen itu. Nggak kapok apa dia pernah nangis di semprot sama Rifa karena dia ngejambakin anak kelas satu yang ngasih hadiah buket permen ke John Lew” ujar anak cewek lain.
“Sekarang Si Ukhti anak baru yang jadi korban. Habis dari kemarin kan tuh Ukhti ama John Lew terus, kan?”
“Iya, suka sih suka tapi nggak usah sebegitunya kali..”
“Lagian tuh Ukhti juga aneh. Anak baru kok tiba-tiba masuk kelas aja kudu di jemput ama John Lew. Apa tuh Ukhti sama aja kaya Si Ganjen Imelda?”
“Sama apanya?”
“Sama-sama kege-eran nya!!”
“Hahahaha..”
“Ihh.. pantesan. Gue juga udah feeling!”
“Alim tapi kelakuan b***t!”
Gerombolan cewek pun bergunjing tanpa henti.
Nurfa perlahan mulai terkumpul kesadarannya. Dia merasa tubuhnya berguncang tapi dia sedang posisi bersandar dalam rengkuhan seseorang. Dia merasakan kulit yang basah karena keringat. Saat dia membuka mata dia melihat sepasang d**a bidang berotot dilapisi kulit putih bak marmer ada di hadapannya. Tubuhnya di rengkuh lengan yang kuat. Sayup-sayup dia mendengar suara anak laki-laki memanggil Namanya.
“Nurfa! Nurfa!” dia menoleh keatas. Dia melihat wajah John Lew begitu dekat dengannya. Dia bisa melihat bayang wajahnya di mata biru jernih itu begitu jelas. Bibir John Lew menyebut namanya. Seketika dia sadar John Lew menggendongnya bak menggendong istri di waktu honeymoon. Belum lagi tubuh John Lew yang setengah b***l. Membuat Nurfa terkesiap, hilang kesadaran dan memutar Kembali matanya keatas dan jatuh pingsan.
“Yaah, tewas lagi tuh anak” ujar Rifa.
John Lew jadi ingat percakapannya dengan Nurfa kemarin malam. Yang Nurfa ketahui tentang hubungan laki-laki perempuan memang hanya sebatas kejadian yang ada dikomik yang dia baca. Gadis polos ini tentunya sedang salah paham dan menariknya John Lew malah jadi sekuat tenaga menahan rasa ingin tertawa di situasi panik ini.
Saat sampai di UKS, guru UKS juga bingung dengan keadaan Nurfa. Dia menanyakan mengapa kejadian ini bisa terjadi. Memang tidak masuk akal tersandung kecil bisa menyebabkan darah yang keluar dari hidung bisa sebanyak ini. Guru itu berusaha menolong semampunya. Dia ingin Rifa maupun John Lew segera menghubungi keluarga Nurfa.
Rifa membawa tas Nurfa dan menemukan ponsel Nurfa. Saat mencari panggilan darurat kontak keluarga yang tersedia justru bukan kontak kedua orang tua Nurfa. Tapi satu kontak bernama ‘Dek Dila’. Rifa pun menelpon nomor tersebut dan terhubunglah dengan suara anak laki-laki.
“Assalamualaikum, mbak Fia. Ada apa?” sahut suara itu.
“Waalaikum salam. Ini dek Dila ya. Adiknya Nurfa.. aduh nama Panjang anak itu siapa, sih..” Rifa justu bertanya pada John Lew saat sedang menelpon.
“Oh iya, Saya Nur Fadillah Rosyda adiknya Nur Faj’rinah Alfia” dek Dila ini justru bantu menjelaskan, “Ngomong-ngomong saya bicara dengan siapa, ya?”
“Saya Rifandra ketua kelasnya kakak kamu. Ini sekarang dia sedang pingsan. Dia mimisa parah. Apa kamu bisa menghubungi orang tua kamu supaya bisa menjemput kakak kamu?”
“Innalillahi wa ina ilaihi rojiun.. Maaf, kak. Orang tua saya jam segini pasti sulit di hubungi karena sibuk bekerja. Biar saya saja yang menjemput kakak saya” ujar Dila.
“Waduh, kamu jemput pakai apa, dek?” tanya Rifa.
“Pakai sepeda motor” ujar Dila.
Sepengetahuan Rifa baru saja Nurfa bercerita kalau adiknya ini baru kelas tiga SMP. Rifa agak khawatir karena dekat jalan utama pasti banyak polantas yang masih lalu lalang bisa menilang anak ini.
“Kamu kesini naik ojol aja! Inget! Naik ojol!” ujar Rifa.
“Oh, iya kak. Siap..”
“Ya sudah.. kita tunggu, ya” ujar Rifa, “tahu alamat sekolah kakakmu yang baru, kan?”
“Iya tahu” ujar Dila, “iya saya berangkat, kak. Assalamualaikum”
“Waalaikum salam..”
“Gimana?” tanya John Lew.
“Adeknya bakal nyusul kesini” ujar Rifa.
“Loh kok adeknya?” heran John Lew.
“Soalnya orang tuanya sibuk jadi sulit di hubungi” ujar Rifa, “Itu juga dia mau kesini naik sepeda motor. Akhirnya gue suruh dia kesini naik ojol. Kasihan kalo ketilang..”
“Hah, ya sudah, lah..”
Tak lama guru UKS datang untuk bertanya, “Gimana, John? Rifa? Sudah di hubungi orang tua temenmu?”
“Tadi yang ngangkat adiknya, Bu..” dan Rifa pun bercerita lebih detilnya.
“Haduuh, kasihan nih anak. Ibu takut dia mimisan sebanyak ini kenapa-napa. Takutnya ada pembuluh darah besar yang kepotong pas dia jatuh..”
“Emang bisa, Bu?” tanya Rifa dan John Lew bersamaan.
“Takutnyaaa” ujar guru UKS, “Udah kalian tunggu dulu disini Ibu mau keluar bentar..” guru itu pun langsung pergi terburu-buru.
Kedua cowok ini sih sudah tahu karena si Nurfa ini Fujoshi dan juga nggak pernah berbaur dengan laki-laki ya jadi seperti ini akibatnya. Rifa memberikan kaos olahraga pada John Lew yang masih bertelanjang d**a.
“Pake, nih.. nanti dia lihat pingsan lagi” ujar Rifa.
John Lew terkekeh sambil memakai pakaiannya, “Ada ada aja..”
“Yah lumayan bisa bolos, kan” ujar Rifa.
“Emang ada urusan apa sama Si Imelda?” tanya John Lew.
“Soalnya dia yang janji bakal ngasih tahu Nurfa kalau yang ganti baju di kelas anak cowok” ujar Rifa lagi, “s**l, ada aja masalah tuh anak. Nggak habis pikir gue”ujar John Lew.
“Hah, masalah apa?” heran John Lew.
Rifa membuang muka sambil mencibir, “Haduuh, ini gue nemu lagi.. Nggak habis-habis mahluk nggak peka lahir di dunia.. ada apa, sih, dunia ini?”
John Lew bertanya-tanya, “Emang kenapa sih bro?” tanya John Lew, “Tuh cewek nyelakain Nurfa dengan sengaja?”
“Ya iya lah.. Jelas..” ujar Rifa.
“Yakin loe? Terus tujuannya apa? Apa salahnya Nurfa?” ujar John Lew.
“Yah..” Rifa tertawa, “Gue juga mana tahu otaknya orang bucin itu begimana!” ujar Rifa mengangkat bahunya.
“Hah, bucin? Sama siapa?” heran John Lew.
Rifa menghelah napas panjang lalu memberi kode dengan dagunya. John Lew mulai mengerti dan merasa heran juga.
“Sama Gue??” dia bertanya lagi.
Rifa mengangguk.
“Oh, ya? Masa, sih? Dia ngobrol sama gue juga nggak pernah” ujar John Lew, “Nyapa gue juga enggak!”
“Yaah elu! Kira-kira kalau elu lagi kagum nih ya sama orang.. misalnya Si Kobe Bryan tiba-tiba lewat ngopi di warkop tempat loe nongkrong loe langsung Say Hi? pasti ada acara nerves dulu lah. Ngerapihin baju dulu lah.. Ya 'kan?” ujar Rifa membuat John Lew mengerti.
“Gitu, ya? Terus kenapa Nurfa dijadikan korban padahal dia salah apa ke cewek itu?” heran John Lew lagi.
“Tuh cewek takut kali kalau loe di gondol Si Ukhti” ujar Rifa, “Loe nggak inget dia sempet bentrok sama anak kelas satu yang dulu nembak elo..”
John Lew menghelah napas panjang, “Kok nggak habis-habisnya, sih.. Dulu juga ada kan kakak kelas yang sempet kaya begitu. Saking hebohnya mereka ribut nyokap gue kesekolah dan bikin masalah tambah runyam” ujar John Lew, “Duh, amit-amit jabang bayi..”
“Yee.. repot emang kalo punya muka ganteng.. Coba aja muka loe singkron sama kelakuan loe. Pada kabur kayanya tuh cewek-cewek” ujar Rifa, “Sekali-kali gue mau dong di omelin nyokap karena di rebutin cewek-cewek di sekolah.. Aahh.. Apaan, sih nyolek-nyolek gue!”
“Udah dong jangan di terusin.. Gue malu tahu..”ujar John Lew wajah memerah suaranya mendadak manja.
“Eh, najis! Jangan cubitin gue..”
Saat teman-teman cowoknya cubit-cubitan Nurfa yang mengintip dari selambu UKS mendadak tangannya bergetar sehingga cicin besi untuk menggantung kain berdenting keras. Dia bahagia dan ingin menjerit. Rifa dan John Lew yang agak peka dengan suara gemerincing menoleh tiba-tiba kearah Nurfa sehingga membuat Nurfa kaget dan terjungkal ke belakang.
“Kamu udah sadar, Nurfa?” tanya John Lew.
“I..iya..” ujar Nurfa menutupi wajahnya karena malu.
Rifa dan John Lew tertawa, “udah sini gabung ngobrol” ujar Rifa.
“Nggak ada yang lagi b***l, kok!” sahut Rifa lagi.
Gadis itu menampakan wajahnya malu-malu dari pinggir selambu. Hidung, bibir dan dagunya begitupun jilbab dan seluruh bajunya berbekas merah darah.
“Gimana rasanya, kak, pertama kali ngelihat surga harem?” goda Rifa membuat Nurfa menutup setengah wajahnya dengan selambu karena malu.
“Rifaaaa..” geram Nurfa. Di sambut cuara cekikikan Rifa.
“Kapan kamu sadar?” tanya John Lew.
Nurfa menghelah napas panjang, “udah agak lama, sih” ujar Nurfa, “Yaa.. asal kalian tahu aja, sih.. Suara rame waktu aku pingsan.. Meskipun aku lemes nggak bisa gerak tapi entah kenapa aku denger suara semua orang” ujar Nurfa.
“Jadi loe dengar semua obrolan kita?” tanya Rifa.
Nurfa mengangguk, “Aku juga denger sayup-sayup anak cewek temen sekelas kita ngomong jelek tentang aku dan Imelda” ujar Nurfa.
“Jadi telinga loe lebih tajem dari kita, dong” ujar Rifa.
“Iya.. gara-gara dulu juga sih. Peristiwa waktu aku di keluarin itu.. Entah kenapa aku bisa begitu jelas dengan suara kasak-kusuk orang ngomongin aku meskipun aku nggak mau denger sekalipun…”
“Jadi loe udah ngerti masalah sebenernya, kan?” tanya Rifa.
“Iya, tapi itukan cuma prasangkanya Rifa. Aku nggak mau su’udzon dulu” ujar Nurfa.
“Su.. su’uzon itu apa?” heran John Lew.
“Prasangka buruk. Aku nggak mau berprasangka buruk dulu sama Imelda sebelum aku klarifikasi langsung keorangnya” ujar Nurfa.
“Yakin?!” tanya Rifa.
Nurfa mengangguk, “nanti pas homeroom aku bakal tanya kedia langsung..”
Dan Nurfa pun datang dihadapan Imelda saat homeroom berlangsung. Mereka pun keluar kelas dan membicarakan permasalahan mereka di sekat kamar mandi wanita. John Lew dan Rifa mengamati dari belakang bak mata-mata.
Nurfa berpenampilan unik. Dia memakai mukenah berenda putih sebagai ganti hijabnya yang penuh darah. Wajah mungilnya yang tampak bundar menatap Imelda dengan serius. Imelda dengan wajah meremehkan Nurfa dengan penampilan lucunya sambil mengibas-ngipas lehernya yang berkeringat. Mereka saling bertatapan agak lama.
“Siapa dulu nih yang mulai?” tanya Imelda.
“Aku dulu” ujar Nurfa mengangkat tangannya.
“Oke..” Imelda mempersilahkan.
“Jadi apa bener kamu bilang ke Rifa kamu bakal ngasih tahu ke aku kalau kelas kita bakal di pakai tempat ganti anak cowok?” tanya Nurfa.
“Ooohh, iya ya.. Sorry! Gue lupa” jawab gadis itu dengan santainya.
“Masa, sih? Kamu lupa?” tanya Nurfa menyilangkan tangannya tapi tak kelihatan karena tertutup mukenah yang dia pakai.
“Ya, terus gue sengaja? Loe punya bukti?!” tanya Imelda.
“Ngaku aja, deh.. dari pada aku nunjukin rekaman CCTV pas kejadian..” ujar Nurfa.
“Hah? Ngarang lu?”
“Aku di kasih tahu Rifa kalau pas anak-anak cowok ganti CCTV itu nggak di matikan. Dia juga ngelihat kamu celingukan di sekitar kelas dari balik jendela kelas dan kejadian aku jatuh itu” ujar Nurfa lalu mengeluarkan ponselnya.
Dia menunjukan video Imelda sedang celingukan di luar kelas dan saat Nurfa terjatuh dia tertawa terpingkal-pingkal lalu kabur saat Rifa dan John Lew keluar kelas untuk mengantar Nurfa yang pingsan.
“Kayanya dari bukti ini kamu sengaja, deh!” ujar Nurfa.
Imelda gemetaran karena kesal. Wajahnya merah padam karena murka, “Heh! Buntelan kain kafan!” sentaknya pada Nurfa, “Loe aja yang keganjenan. Ngelihat cowok setengah b***l aja semaput! Loe sengaja kan pengen di pegang-pegang cowok secara di sekolah loe yang dulu yang kaya gini nggak bakal kejadian! Loe kegatelan emang!”
“Astagfirullah hal adziiimm” ujar Nurfa, “Ya, emang, sih.. Makasih ya kesempatannya” ujar Nurfa dengan senyum di paksakan. Sebenarnya John Lew yang mengajarkan dialog ini agar dia bisa tenang. Tapi nyatanya gadis ini tetap gugup.
Dan Imelda pun meledak marah, gadis itu bersiap menarik Nurfa. Buru-buru Si Gadis Hijaber mundur, “Ketua.. maksudku John Lew.. kamu mau dia ngelihat rekaman ini dan akhirnya ngebenci kamu?!” seru Nurfa.
“Ehh.. mulai ngancem gue lu ya! Apa urusannya dia sama urusan kita?!” seru Imelda.
“Terus kenapa kamu begitu keaku?! Kamu benci aku, kan!? Kamu benci karena aku deket sama Ket.. John Lew, kan!?” ujar Nurfa.
“Siapa yang ngasih tahu? Si Bocil Rifa?! Loe percaya aja ya sama mulut Si Kunyuk satu itu!”
“Terus apa sebabnya kamu benci sama aku?!”
“Loe itu kegatelan! Sok alim dan sok akrab sama semua orang! Padahal loe di keluarin dari sekolah loe yang lama karena loe itu b***t! Loe suka napsu liat cowok homoan, kan?!”
Ucapan Imelda ini membuat Nurfa terperangah. Bagaimana gadis ini bisa tahu semuanya, “Imelda kamu.. Nguping pembicaraanku di ruang OSIS sama Ketua dan Rifa?!”
“Ehh.. enak aja loe nuduh! Emang apa urusan gue?!”
“Habisnya aku cuma bahas hal itu pas momen itu aja! Nggak mungkin dong kalau kamu nggak nguping. Mau aku cari lagi bukti CCTV nya?!” ancam Nurfa.
“k*****t gue hajar loe..” Imelda hendak menyerang. Tapi saat kedua tangan gadis itu hendak mencengkrang kepala Nurfa. Nurfa menarik tangan gadis itu, memutar badannya kearan kiri. Imelda yang kurang persiapan tersungkur hingga kepalanya terbentur kedinding.
“Astagfirullah.. maaf! Refleks!”
Kepala Imelda begitu pening. Nurfa memanfaatkan sekempatan itu dengan mengeluarkan tali yang sudah dia siapkan dan mengikat kedua tangan Imelda.
“Apa-apaan ini!!” geram Imelda.
“Aku bakal lepas kamu kamu sudah tenang, ya. Aku tungguin kamu tenang dulu..” Nurfa bersandar di dinding mengatur napasnya. Dia berdzikir untuk menenangkan pikirannya lalu memandang Imelda yang diam menahan diri untuk menangis.
“Iya, aku akui aku ini fujoshi. Aku suka ngelihat cowok 2D homoan” ujar Nurfa, “Tapi entah John Lew atau Rifa yang tahu hal itu mereka nggak ragu berteman sama aku meskipun tahu hobiku ini” ujar Nurfa.
“Kamu tahu nggak aku juga suka sama John Lew.. aku suka dia perhatian sama Rifa. Aku suka dia manja-manjaan sama Rifa. Aku berharap dia sama Rifa punya hubungan spesial. Aku udah ngeship mereka dari awal…”
“Lu udah s***p, ya!” heran Imelda pada akhirnya mengerti selama ini kecurigaannya hanya salah paham semata.
“Aku cuma nggak mau kamu salah paham. Aku akui aku b***t. Meskipun aku mencoba familiar dengan kata-kata itu belakangan ini. Tapi jujur aku juga sedih kalau kamu ngerasain hal yang sama. Di gunjing orang kegatelan lah.. Biadab lah.. Padahal kamu nggak salah apa-apa. Kamu cuma suka sama cowok yang kamu suka. Begitu juga aku, aku juga suka sama hal yang aku suka. Aku nggak ngerasa perbuatanku salah. Tapi dengan gampangnya orang ngomongin aku sejelek itu..” Nurfa menghelah napas berat dan akhirnya dia menitikan air mata yang sudah ia bendung.
Imelda pun mengisak. Mereka mengisak Bersama-sama di dalam toilet itu. Mereka berdua tidak sadar sudah banyak yang menonton apa yang mereka lakukan di toilet. Mereka menunggu kapan bisa memakai toilet itu. Kapan kedua gadis ini selesai berseteru. Eh, mereka malah mewek. Padahal banyak yang sudah kebelet pup atau pipis. Karena kerumunan orang mereka pun tak bisa menyerobot masuk kekamar mandi dan apa yang mereka tahan pun keluar membuat kehebohan yang lebih membahana lagi. Kedua gadis ini tidak tahu. Mereka mulai berpikir jernih. Mereka mulai saling mengerti. Mereka ternyata bernasib sama.
“Bisa nggak loe lepasin ikatan gue. Gue janji nggak akan nyerang elo, kok” ujar Imelda.
Nurfa melepas ikatan tangan tersebut lalu menggenggam tangan Imelda dan mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan banyak orang menatap mereka. Apa mereka damai? Apa mereka selesai berseteru. Mereka berdua ternyata berbelok ke UKS. Nurfa meminta tolong guru UKS untuk mengobati benjol di kepala Imelda akibat perbuatannya.
Nurfa meminta Imelda beristirahat sejenak. Untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tak lama pak kepala sekolah datang masuk keruang UKS dengan tergesa-gesa.
“Eh, Nak Nurfa?! Apa yang terjadi?! Saya dengar ada kecelakaan. Apa perlu saya panggil ambulance. Di rontgen, CT Scan??” Kepala Sekolah tampak khawatir berlebihan.
“Nggak papa kok pak, Nurfa sudah baikan.. justru temen Nurfa..”
“Aduh, maafkan Bapak! Bapak barusan ada acara di Dinas Pendidikan tiba-tiba dapat kabar Nak Nurfa kecelakaan Bapak langsung tancap gas kesini! Ternyata adiknya Nak Nurfa sudah nungguin dari tadi di depan kantor Bapak!” jelas kepala sekolah. Tak lama adik Nurfa, Dila muncul masuk keruang UKS.
“Dila? Kamu nggak di sekolah..” Nurfa lupa kalau sebelumnya Rifa berusaha menghubungi keluarga Nurfa yang yang di hubungi adalah Dila.
Dila datang dengan tampak terburu-buru. Dia bahkan masih pakai jaket dan helm. Sejenak orang yang menadang cukup heran. Nurfa dan adiknya bagai pinang di belah dua. Ketika anak laki-laki ini membuka helmnya dia berwajah rupawan seperti gadis belia, berkulit putih bening dan berbibir merah ranum. Dia membenarkan kopiah hitam yang sempat tak beraturan karena dia buru-buru memakai helm. Dia menata rambut halusnya yang kecoklatan dan memasangkan kopiah hitamnya. Semua orang terpana dengan penampakan bocah kelas 3 SMP ini bak melihat artis korea sedang sanjang kesekolah mereka.
“Mbak Fia nggak kenapa-napa?!” tanya Dila.
“Mbak nggak kenapa-napa, kok! Harusnya kamu nggak usah kesini.. Aduh, Mbak lupa ngasih tahu temen Mbak kalau kamu nggak usah kesini..” ujar Nurfa mengelus lengan adiknya.
John Lew dan Rifa menyerobot masuk, “Nah, mumpung ada adik kamu disini kamu bisa ijin pulang dulu, Nurfa” ujar John Lew.
“Iya, ijin pulang aja..” timpal Rifa.
“Ihh.. kalian ini nyuruh aku bolos, ya! Aku udah mendingan!” seru Nurfa mengembungkan pipinya.
“Beneran, Mbak Fia nggak papa?” tanya Dila.
“Nggak papa, Dek..” ujar Nurfa menenangkan kegelisahan adiknya.
“Dila udah firasat bakal begini. Nih, tadi Dila pulang dulu bawa seragam lama mbak Fia” ujar Dila mengeluarkan kresek hitam dari tas sekolahnya.
“Alhamdulillah.. makasih ya, Dek!”
John Lew dan Rifa menyenggol kepala sekolah agar membujuk Nurfa. Kedua cowok ini tampak memaksa agar kakak beradik ini segera beranjak dan tidak memancing kerumunan. Sudah banyak cewek yang histeris karena melihat wajah mempesona adiknya Nurfa. Kedua cowok ini tak ingin lagi ada keributan serupa.
“Nak Nurfa.. silahkan pulang saja! Sepertinya kondisi Nak Nurfa memang kurang baik. Biar Bapak antar Nak Nurfa dan adik sama mobil Bapak..eits..”
Pak Kepala Sekolah berhenti bicara saat semua mata memandang sinis kepala sekolah, “Maksudnya, Bapak pesankan taxi online” ujar pak kepala sekolah.
“Ta.. tapi..” Nurfa tak terima. Adiknya menggenggam tangan kakaknya.
“Terima kasih, pak.. tapi bapak nggak perlu mengantar kami. Sekolah saya dekat dengan sekolah kak Nurfa sekarang, tetanggaan lagi..”
Baru disadari kalau SMA Nurfa yang baru hanya bersebrangan dengan MTs adiknya.
“Terus kenapa adek pakai helm..?” tanya Nurfa.
“Justru tadi Dila pulang kerumah dulu ngambil bajunya Mbak Fia. Sepeda motor Dila masih Dila parkir di sekolah Dila” ujar adiknya, “Mbak Fia ganti baju dulu lah.. Dila tunggu ya..”
“Iya.. iya.. tunggu dulu, Mbak ganti dulu.”
Di desak adiknya akhirnya Nurfa menurut dan ganti pakaian. Pak kepala Sekolah yang masih terpaku terpesona dengan wajah bening adiknya Nurfa ini di senggol lagi perut buncintnya oleh John Lew dan Rifa.
“Adik mau Kakak.. maksudnya Bapak belikan minuman? Atau makanan?” tanya pak kepala sekolah.
“Maaf Pak.. Saya lagi puasa Nabi Daud” ujar Dila halus.
“Aduhh.. Sudah ganteng, sholeh.. Bapak adopsi gimana.. Eh..” John Lew dan Rifa menyenggol perut Kepala Sekolah lagi dan memintanya pergi dengan isyarat tangan.
“Anu.. mumpung semua aman terkendali, Dek Dila jangan bilang Ayah aneh-aneh ya.. bilang Pak Kepala Sekolah baik, ramah, ganteng, ya! Bapak permisi dulu..” Pak Kepala Sekolah pun pergi dengan paksaan John Lew dan Rifa.
Tak lama guru-guru juga mengusir kerumunan siswa. Tinggal Guru UKS, Dila, Imelda, John Lew dan Rifa yang ada di dalam UKS.
“Kalian nggak Kembali ke kelas?” tanya Guru UKS pada John Lew dan Rifa.
Kedua cowok ini mentap Imelda dengan dingin. Tapi entah kenapa tatapan mereka tak berubah saat menatap Guru UKS. Akhirnya Ibu itu pergi karena merasa tidak enak.
Nurfa Kembali dengan seragam kesekolahnya yang lama. Dia melihat Imelda sedang merasa terintimidasi di pandang dingin oleh John Lew maupun Rifa yang siap menghujatnya kapan saja. Perasaan iba Nurfa muncul. Dia pun berbicara lagi pada Imelda.
“Imelda, aku berharap kita bisa berteman baik.. aku juga mau tahu gaya make up cewek gal itu gimana?” ujar Nurfa membuat orang-orang heran.
“Otak ni cewek nggak kenapa-napa, kan?” heran Imelda nyeletuk begitu aja.
“Nggak papa kok. Kalau sengklek begini berarti dia dalam kondisi normal” ujar Rifa.
“Makanya dia bisa berteman sama kita” ujar John Lew.
Imelda tertawa terbahak-bahak, “Oke, deh.. oke..” Imelda mengkat tangannya, “Nurfa” dia menatap Nurfa dengan tatapan sayu yang tulus, “Sorry, gue yang selama ini salah. Gue berpikir berlebihan tentang elo. Gue juga ngerasa tersentuh bisa mengerti perasaan gue selama ini. maafin gue udah salah sangka..”
Nurfa tersenyum dia memeluk Imelda erat dan mengusap punggung gadis itu, “Aku tahu kok kita cuma miskom. Aku nggak pernah nyalahin kamu..”
Dila yang sedari tadi asik dengan ponselnya berdeham kencang.
“Iya, ya..” sahut Nurfa pada adiknya.
“Aku pulang dulu ya teman-teman” Nurfa pun pamit, “Oh iya.. Rifa nanti kabarin aku kalau ada PR ya!” ujar Nurfa pada Rifa.
“Iya, nanti gue WA” ujar Rifa.
“John Lew, besok-besok kalau aku pingsan dalam suasana begitu diemin aja.. tolong.. meskipun nggak ada yang nolong. Pliss” ujar Nurfa memohon.
“Iya, kalau nggak darurat, ya, Mbaak” ujar John Lew tertawa.
“Jangan deket-deket aku kalau nggak pakai baju” pesan Nurfa lagi dengan wajah memerah.
John Lew tertawa, “Kenapa? Bukan mahrom?” tanya John Lew.
“Anggap aja begitu” ujar Nurfa, “Ayo pulang, Dek!” dia berkata pada adiknya, “Assalamualaikuumm!” ucap kedua saudara itu saat pamit pulang.
“Waalaikum salam..”
Mereka berdua pun akhirnya pergi. John Lew, Rifa dan Imelda pun beranjak pergi. Saat mereka di mulai dekat dengan kelas John Lew menghentikan langkahnya.
“Rif, loe duluan gue mau ngomong bentar sama Imelda” ujar John Lew pada Rifa.
Rifa menghelah napas Panjang sembari menatap Imelda dari sudut matanya, dia berjalan mendahului John Lew sambil menepuk bahu temannya.
“Good Luck, bro” bisik Rifa lalu masuk kedalam kelas.
John Lew dan Imelda pun berjalan menjauh dari kelas agar mereka bisa berbicara. Tak lama pelajaran Kembali di mulai. Imelda Kembali terlebih dahulu dengan mata sembab. Tak lama John Lew Kembali kekelas dan duduk di sebelah Rifa dengan menghelah napas panjang. Jawabannya sudah jelas dari situasi tersebut. Rifa tak bertanya apapun pada sahabatnya. Dia hanya menepuk bahu John Lew untuk memberi support sahabatnya ini lalu mereka Kembali mengikuti pelajaran bersama.