Gadis ini begitu pasrah. Dia menunggu pemuda di hadapannya berbicara. Setelah apa yang terjadi tak mungkin si gadis ini berkilah. Apa dia akan di marahi, di hina atau bahkan di pukul sekali pun gadis ini pasrah apa adanya. Dia berusaha menahan rasa sakit hatinya. Kali ini cinta tak terbalas dari orang yang dikasihinya akan tampak jelas. Dia yakin tak akan ada hasil yang manis. Yang ada hari ini dia akan menangis.
“Sepertinya loe udah tahu gue mau ngomong apa ke elo..” sura pemuda itu terdengar di telinganya.
“Maaf, gue sebenarnya senang elo bisa begitu perhatian ke gue. Loe bisa menyayangi gue. Tapi gue nggak bisa menerima semua itu. Meskipun berapa besar rasa suka elo ke gue.. gue mohon lebih baik elo menyerah..”
Perasaan remuk redam menghancurkan hati gadis ini. dia Kembali menitikan air matanya sembari mendengar pemuda itu berbicara.
“Keluarga gue bukan orang yang bisa menerima elo. Mereka nggak akan bisa menerima apapun yang elo lakukan. Jangankan elo, gue juga nggak bisa berbuat apapun. Selama ini hidup gue udah di atur. Gue tinggal ngejalanin aja jika mau hidup nyaman, dapat Pendidikan bagus, pakaian yang mewah dan mungkin juga pasangan gue dimasa depan. Yang bisa gue lalukan Cuma ngejalanin aja agar gue bisa dapat kasih sayang..” pemuda itu menghelah napas Panjang, “.. keluarga gue yang selama ini gue masih berusaha mendapatkannya.. maaf, ya. Gue berharap elo bisa bertemu dengan orang yang tepat yang bisa membahagiakan loe. Bukan sampah seperti gue..”
Gadis itu tak mampu berkata-kata. Air matanya berjatuhan dan tangannya tak berkenti mengusap matanya sampai matanya memerah dan sembab.
“Gue bahkan belum bilang kalau gue suka sama loe” ujar gadis itu di tengah isakannya.
“Gue bahkan nggak akan berubah pikiran meskipun loe ucapkan sekalipun” ujar pemuda itu.
Gadis itu pun pergi dari hadapan pemuda itu dan Kembali kekelasnya tanpa bicara apapun. Dia dia hanya diam memendam kesedihan yang dia rasakan.
Malam hari saat sedang mengerjakan PR di ruang makan ibu Nurfa memberikan jus sayuran kepada putri sulungnya.
“Ini Jus bayam, tomat, wortel, sama jambu merah. Penuh zat besi” kata Umi.
“Terima kasih, Umi!” ujar Nurfa meminum jus lezat buatan umi tercintanya itu.
“Katanya mbak Fia mimisan” ujar Umi.
“Kata siapa?” tanya Nurfa.
“Dila” ujar Umi, “Kamu mimisan sakit apa mimisan karena ‘hal lain’?” sindir Umi.
“Ah.. Umiii” Putrinya menggerutu ingin ibunya tidak membahas hal itu.
“Mbak, mbak.. mbak ini masih perawan udah ngerti kaya gituan. Coba kejadian ini ketahuan sama nenek kakek kamu, langsung di kawinin kamu. Kamu mau kaya Abi sama Umi. Pas sibuk kuliah udah punya bayi. Repot ngurus anak.. heeeh, capek deh!”
“Tapi awet muda kan, Mi” ujar Nurfa menggoda ibunya.
“Ohh, mau cepert-cepet di kawinin nih anak!!” ujar Umi mencubiti pinggang putrinya. Nurfa berusaha menghinda sambal tertawa cekikikan.
“Gimana pengalaman anak umi di sekolah baru. Kemarin Dina cerita kalau Mbak Fia ketawa cekikikan aja di kamar malam-malam. Kamu diem-diem pacaran ya.. sama pengusaha muda. Kaya temanmu itu si Aisyah?” tanya si Umi.
“Enggak kok, Mi. Nurfa alhamdulillah punya teman baru yang seru di sekolah” ujar Nurfa pada ibunya.
“Cewek apa cowok?” tanya Umi.
“Ada deeh.. kepo, ah, Umi” ujar Nurfa, “Jujur sih, Mi. Nurfa nggak pernah bisa ngerasain bergaul bebas sama teman lawan jenis. Ngomong aja di batesin, harus nunduk sampai Nurfa nggak pernah kenal muka laki-laki yang Nurfa ajak omong. Nurfa hanya tahu suara sama sepatunya aja” jelas Nurfa.
“Terus sekarang gimana? Dengan kebebasan yang Mbak rasakan dampaknya ke Mbak sekarang gimana? Apa Mbak Fia jauh lebih senang?” tanya Umi.
“Kalau keterlaluan akibatnya mimisan sih, Mi..” ujar Nurfa tersenyum miring.
“Nurfa, senang sekali, sih, dapat pengalaman baru. Teman Nurfa juga baik. Nurfa juga bisa menilai orang dari ekspresinya. Belajar lebih peka dengan perasaan orang lain..”
“Selama dua hari ini?” tanya Umi.
“Iya selama dua hari ini. Nurfa sadar, sih.. apa yang Nurfa lakukan memang dosa. Sampai sekarang masih bertentangan di batin Nurfa. Nurfa masih ingin tahu lebih banyak. Dan doa’in Nurfa, Mi. Semoga Nurfa masih di beri umur supaya bisa mentaubati dosa-dosa yang Nurfa lakukan sekarang..”
“Oh, sayang!” Umi memeluk erat putrinya yang hampir jatuh air matanya, “ayolah, berfikir lebih jernih, sayang. Kamu memang berkewajiban untuk menetapi hukum agama. Tapi nggak ada yang melarang kamu untuk gagal dan mencoba lagi menjadi yang lebih baik. Kamu jalani hidup kamu perlahan-lahan. Mencoba berhijrah. Hidup dengan pikiran yang lebih positif dan menjalani perintah dan larangan Allah Rasul dengan hati yang lebih ikhlas, lebih istiqomah.. supaya amal yang kamu perbuat bisa sempurna pahalanya karena niatnya tulus dari hati kamu..”
Nurfa Kembali kekamarnya dengan mata sembab sehabis menangis Bersama ibunya. Adiknya Dina sedang menonton film korea di hapenya. Dia menghelah napas saat melihat kakaknya sembab seperti itu.
“Nangis lagi..? mbak Fia nagis mulu” seloroh Dina.
“Kenapa? Sirik? Bilang doong!” ujar Nurfa meniru adegan di t****k menggoda adiknya.
“Hape mbak Fia bunyi terus tuh! Pacarnya udah kangen tuh!” ujar Dina.
“Pacar apaan.. sok tahu..”
Nurfa mendapat missed call dari John Lew maupun Rifa. Tapi dia juga mendapat pesan WA Panjang dari seseorang yang nomornya tidak dia simpan dan dia kenal. Meskipun temannya sangat ingin mengetahui kabar Nurfa, tapi gadis ini mendahulukan waktunya untuk membaca pesan itu.
Hai, ini gue.. Imelda
Gue tahu memang urusan kita sudah selesai
Tapi banyak hal yang membuat gue berkaca lagi
Diri gue ternyata nggak bisa di bandingin dengan elo
Gue berambisi agar bisa mendapatkan hati orang yang gue cintai selama ini
Tapi ternyata dia pun nggak bisa berbuat apa-apa setelah tahu perasaan gue
Dia biang dia lebih memilih keputusan keluarganya..
Tapi gue tahu dia nggak akan pernah menerima gue meskipun keluarganya pun nggak melarang
Hal itu membuat gue sangat sedih..
Gue berkaca lagi dan membandingkan diri gue lagi dengan elo
Anak baru yang tiba-tiba saja bisa dapat perhatian dari dia
Orang yang selama ini gue kagumi dan menjadi tujuan hidup gue
Gue masih iri sama loe!
Gue pun menjadi membenci elo lagi!
Tapi gue nggak suka punya rasa benci ke elo karena loe baik
Loe bisa ngerti penderitaan yang gue rasakan
Loe tahu kejamnya orang-orang yang memandang gue sebelah mata
Selama ini nggak ada orang yang pernah se-care itu sama gue
Tapi nggak ada yang jauh lebih menyakitkan jika tujuan hidup gue selama ini sudah hancur
Gue nggak bisa membungkam mulut mereka lagi
Gue bahkan akan jadi bahan tertawaan semua orang
Entah besok gue masih bisa sekolah apa enggak..
Intinya..
Jangan merasa menjadi teman buat gue..
Oke.. itu aja..
Akhir dari pesan itu membuat air mata Nurfa berderai. Dia mencoba menelpon Imelda tetapi nomor gadis itu telah di blokir oleh Imelda. Nurfa mencoba turun keruang tamu menghubungi dengan telpon rumahnya tetapi nomor tersebut tidak aktif. Nurfa panik dan akhirnya menelpon Rifa.
“Assalamualaikum!” sapa Nurfa segera.
“Wa’alaikum..”
“Rifa!!” Nurfa berseru sebelum Rifa menyelesaikan salamnya, “Tolong!” suara Nurfa yang bergetar ini membuat Rifa panik.
“Kenapa? Ada apa, Nurfa?!” seru Rifa.
Nurfa mengisak lalu dia menceritakan pesan yang baru dia baca dan mengirim screen shootnya ke Rifa. Gadis ini sangat panik jika kondisi Imelda dalam bahaya. Dia ingin segera menolong gadis ini. Tapi perkataan Rifa membuat niat Nurfa terhenti.
“Loe nggak usah panik begitu, Nurfa. Gue yakin besok dia kesekolah” ujar Rifa.
“Kamu nggak baca WA nya?! Dia udah putus asa kaya gitu!” ujar Nurfa panik.
“Ya terus kalau putus asa kenapa dia janjian sama gue buat benerin RAB nya ekskul Cheer Leader besok?” ujar Rifa membuat Nurfa terdiam membeku.
“Beneran?” heran Nurfa.
“Barusan dia WA, tuh” Rifa pun mengiri screen shoot chat nya dengan Imelda.
Kepanikan Nurfa menguap begitu saja, “Astagfirullah hal adzim.. Nyaris jantungan loh aku.. habis nomorku pake di blokir juga.. padahal bales chat juga belum..”
“Ya mungkin dia khawatir juga di kondisinya yang lagi down loe akan nelpon dia dan ngasih kultum siraman rohani gitu..” ujar Rifa seadanya.
“Ihh ngaco!” geram Nurfa.
Rifa tertawa puas, “Kira-kira loe nyangka nggak bakal dapet WA kaya gitu setelah loe baikan dan pelukan sama dia?” tanya Rifa lagi.
“Ya nggak nyangka, sih.. coba aku nggak pulang tadi. Pasti Ketua nggak akan nolak Imelda sekejam itu! Kasihan dia..” ujar Nurfa.
“Kamu nggak bisa gitu, Nurfa. Kalau misalnya kamu di posisi yang sama kamu juga bisa berbuat apa..” tiba-tiba suara Rifa berubah menjadi suara John Lew.
“Ehh?! Ketua!” seru Nurfa terkesiap, “Rifaaa!!” Nurfa pun berhasil di buat geram.
“Nggak sopan loe tiba-tiba nyeletuk aja” timpal Rifa menegur sahabatnya meskipun dia tertawa puas juga.
“Nggak usah bacot. Kan loe juga yang ngeload speaker..” ujar John Lew.
“Ketua berarti dari tadi sama Rifa? Lagi ngapain?” tanya Nurfa.
“Biasalah.. dia kesini nyalin PR gue” ujar Rifa.
“Ketua curang!” seru Nurfa.
“Curang apanya, mbak? Orang udah aku bawain martabak manis sama PS 4 ku sebagai sogokan” ujar John Lew.
“Hmm.. tapi ya nggak usah bawa adek loe juga. Ya sama aja gue cuma bisa nonton bocil-bocil pada main PS..” seloroh Rifa.
“Tenaang, habis selesai nih PR gue usir mereka..” ujar John Lew.
“Alah, Cuma bisa modus loe. Paling juga PR loe selesai bakal loe bawa pulang juga PS nya” ujar Rifa.
“Ehehehe..” tawa John Lew makin membuat temannya dongkol.
Nurfa membayangkan momen menggemaskan mereka berdua dari suara telepon dan membuat gadis ini antusias. Dari kejauhan entah kenapa Rifa merasa merinding. Karena Nurfa tidak bersuara dia yakin gadis ini kegirangan mendengar percakapannya dengan John Lew. Agar gadis ini tak tenggelam terlalu jauh dengan fantasinya dia pun memulai pembicaraan lagi.
“PR loe uda selesai, Nurfa?” tanya Rifa.
“Alhamdulillah, sudah selesai..” ujar Nurfa.
“Yaahh, padahal gue pengen ngajak loe gabung juga kesini.. rajin juga, nih, anak!” ujar Rifa kecewa.
“Maksudnya kamu pengen aku main ke rumah kamu sekarang? Nggak mau, ah.. nanti jadinya aku mengganggu kemesraan kalian berdua..”
“Idiiih, amit amiit!” timpal Rifa membuat Nurfa ketawa cekikikan.
Rifa mulai bertanya dengan serius. Dia tahu bisa jadi gadis ini menyimpan perasaan pada John Lew. Jika ada gadis lain yang menyukai John Lew dia ingin tahu apakah gadis ini baik-baik saja.
“Jadi, menurut loe gimana? Loe setuju kalau misalnya Imelda sama John Lew pacaran?” tanya Rifa.
Nurfa menghelah napas berat, “Aslinya aku juga nggak setuju” ujar Nurfa membuat John Lew yang serius menulis jadi diam sejenak mendengarkan gadis ini.
“Oh ya? Memang apa alasannya?” tanya Rifa lagi.
“Karena aku nggak suka kalau ada orang ketiga yang mengganggu hubungan kalian berdua” jawaban yang sangat tidak disangka-sangka tapi entah kenapa kedua cowok ini merasa tidak heran lagi jika alas an ini akan keluar dari mulut gadis ini.
“Loe bisa serius nggak, sih?!” geram Rifa.
“Aku serius, kok! Aku dari awal udah jadi fans.. maksudku aku dukung banget hubungan kalian berdua secara nggak langsung!” Nurfa begitu bersemangat.
“Loe kira kita karakter fan fiction!!” geram Rifa, “Aahh, Nurfa.. sia-sia banget gue tanya hal ini ke elo! Dasar Fujoshi!” geram Rifa.
John Lew tertawa puas temannya merasakan kepeningan yang dulu dia rasakan saat berkomunikasi dengan gadis fujoshi ini. hal ini membuat Rifa sadar jika ketertarikan Nurfa pada John Lew bukan sebagai sudut pandang gadis pada umumnya. Tapi gadis ini suka sebagai sudut pandang seorang fujoshi. Rifa merasakan angin segar. Dia boleh berharap kembali dan berjuang untuk mengambil hati gadis ini.
Sedangkan John Lew dia bertanya pada gadis ini, “Nurfa sendiri gimana rasanya kalau ada laki-laki yang suka sama Nurfa dan mengungkapkan perasaan sama Nurfa?”
Gadis ini terdiam, “Emm.. aku nggak pernah punya pengalaman seperti itu..” ujar Nurfa yang tampaknya dari suaranya dia sedang tersipu malu.
“Kalau begitu Nurfa banyangin, deh.. kira-kira apa kamu akan langsung menerima perasaan cowok itu?” tanya John Lew.
“Ya enggak begitu juga… karena di keluarga Nurfa sendiri menjalin hubungan seperti itu sangat di larang.. oohh..” Nurfa mengerti apa yang John Lew rasakan, “Maaf, ya, Ketua.. Nurfa langsung bicara tanpa pikir Panjang..” ujar Nurfa meminta maaf.
“Aku maafin, kok” ujar John Lew dengan suara lembutnya, “tapi aku juga merasa bersalah sama kamu. Karena ke nggak pekaanku kamu jadi sasaran kecemburuan orang..”
“Nggak papa, kok..” Nurfa begitu ringan untuk memaafkan, “Seharusnya Nurfa juga harus bergaul dengan yang lainnya dan nggak bergantung sama kalian berdua. Berkat kejadian hari ini Nurfa jadi belajar banyak hal. Dan besok Nurfa juga akan bicara lagi ke Imelda” ujar Nurfa.
“Gue nggak pernah merasa bermasalah kalau loe terus bergantung ke gue, Nurfa” ujar Rifa mendadak berkata seperti itu. Tampaknya dia terbawa suasana dan baper.
John Lew cukup kaget dengan keberanian sahabatnya ini. tapi begitu Rifa sadar, Rifa membeku dengan wajah tersipu malu.
“Anu.. maksudnya.. gue seneng kok berteman sama elo. Jadi loe boleh terus bergantung sama gue.. gitu.. gue nggak keberatan sama sekali..” Rifa mendadak begitu gugup.
Nurfa yang berada jauh di sebrang terdiam. Entah getaran yang Rifa sampaikan bisa sampai padanya. Wajah gadis ini pun memerah tersipu malu.
“Meskipun begitu.. gue juga support elo seratus persen untuk lebih memperluas pergaulan loe di sekolah. Gue juga ingin elo bisa di terima sebagai teman sama banyak orang dengan menjadi diri loe sendiri” ujar Rifa.
“Iya, terima kasih banyak Rifa” ucap Nurfa.
“Sama-sama, Nurfa..”
Mereka berdua tiba-tiba saja diam sambil tersenyum-senyum sendiri. John Lew kembali menyalin PR karena tak ingin mengganggu momen Bahagia sahabatnya ini.
“Tapi aku bener-bener kagum sama kamu Rifa” ujar Nurfa tiba-tiba, “Kok kamu bisa ngerti sama isi hati orang lain, sih? Aku sampai sekarang masih heran!”
“Yah, gimana juga ngejelasinnya ya.. orang lurus kaya elo juga pasti nggak akan ngerti sama hal begituan. Emangnya loe nggak takut dosa su’udzon terus sama orang” ujar Rifa.
“Iya juga, ya.. hehehe..” ujar Nurfa tertawa dengan polosnya.
“Sebenernya bukannya gue suka berpikiran buruk juga, sih. Tapi nggak semua orang itu bisa di percaya” jelas Rifa, “meskipun gitu gue juga nggak selalu bisa peka, kok. Capek juga hidup su’udzon terus sama orang” ujar Rifa.
“Begitu, ya..” Nurfa jadi mengingat apa yang sebelumnya di katakana Imelda. Dia sadar jika Rifa bisa begitu peka karena memang memedulikan Nurfa. Hal ini membuat pipi Nurfa merah merona lagi. Meskipun begitu gadis ini tidak ingin ke ge’er-ran. Dia tak bisa begitu mudah menyimpulkan jika Rifa menaruh hati padanya. Karena Nurfa sendiri menjukan sisi gelapnya sebagai fujoshi di hadapan Rifa. Dan mana ada laki-laki normal yang suka dengan gadis fujoshi. Kebanyakan mereka pasti jijik. Nurfa berpikir Rifa memang baik karena memang Rifa ingin menjadi teman Nurfa dan merasa kasihan dengan Nurfa.
“Hei, Nurfa!” Seru Rifa membuat Nurfa kaget, “Kok elu diem aja? Udah ngantuk, nih?” tanya Rifa.
“Ahahaha.. iya..” Nurfa menjawab dengan sangat canggung.
“Hari ini memang berat banget kayanya buat kamu kamu. Udah kena guncangan emosional juga banyak kurang darah, ya.. kasihan..” ujar John Lew membuat Nurfa cemberut.
“Ketua, plis jangan di bahas lagi, dong..” Nurfa menggerutu kesal dan John Lew tertawa dengan puas.
“Kalau begitu lo istirahat aja dulu. Besok di sekolah kita bisa sambung obrolan lagi” ujar Rifa.
“Oke, siaap! Sampe besok! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam..”
Dan pembicaraan mereka di telpon pun berhenti. Nurfa kembali kekamarnya dan menerjunkan tubuhnya keatas Kasur. dia kembali mengingat janjinya kepada ayahnya jika dia akan serius belajar dan menjalankan akidah-akidah agama selama bersekolah di sekolah yang baru. Tapi nyataya dia justru banyak hal tidak terduga yang menggoyahkan niat awalnya itu. Nurfa kembali memotivasi dirinya lagi. Sifat yang mudah baper pasti juga akan membuat dirinya tidak sukses menyesuaikan diri di sekolah barunya ini. dia kembali menata dirinya ke niat awal. Dan dia akan bersungguh-sungguh menjaganya hingga dia bisa meraih apa yang dia cita-citakan kelak.
Dan esok harinya sepulang dari sekolah dan seusai sholat Dhuhur, Nurfa kembali keruang OSIS tempat dia menitipkan barang-barangnya. Dia sana sudah ada Imelda dan beberapa perwakilan dari ekskul sekolah mereka Bersama-sama membuat RAB (Rencana Anggaran Biaya) untuk ekskul mereka. Rifa dan John Lew begitu sibuk memperbaiki satu persatu RAB yang akan di laporan kepada Wakasek Kesiswaan. Imelda bertatapan dengan Nurfa sejenak lalu dia memalingkan wajahnya dan berkonsultasi lagi dengan Rifa.
“Gimana, Rif? Udah Oke?” tanya Imelda.
“Tenang dulu, Bos.. kayanya masih revisi, nih. Tahun lalu kan ekskul cherleader loe udah nulis anggaran buat speaker baru dan udah di ACC, kan. Jadi nggak mungkin tahun ini loe ngajukan lagi. Jadi dananya harus loe alihkan ke yang lain” ujar Rifa.
“Alihkan, ya... Tapi tahun ini kita nggak terlalu banyak anggota baru. Katua gue bilang kalau misalnya anggaran tahun lalu kelebihan dananya bisa di kasih ke ekskul lain aja” jelas Imelda.
“Oke deh kalau begitu.. gue cukup hapus bagian ini aja” ujar Rifa berkutat dengan laptopnya, “udah gue kirim RAB baru loe lewat WA. Jangan lupa di print buat arsip ekskul” ujar Rifa.
“Thanks, Rif” ujar Imelda.
“Sama-sama” ujar Rifa.
Saat Imelda beranjak dari tempat duduknya, Nurfa menghampirinya dan mengajaknya bicara. Imelda tampak enggan tapi dia mengikuti keinginan Nurfa mereka pun bicara sebentar di luar karena tampaknya banyak juga yang kepo dengan pembicaraan mereka.
“Ada apa?” tanya Imelda.
Nurfa menghelah napas panjang, “aku mau menyakinkan ke kamu kalau kamu nggak seharusnya merasa iri. Kamu juga nggak seharusnya ngeblock nomorku. Aku nggak pernah terima kenapa kamu menolak jadi temanku” ujar Nurfa dengan tatapan amat serius.
“Yah, meski loe nggak terima loe terima aja, napa? Kenapa repot-repot?” Imelda bicara begitu santainya, “Gue masih hancur berkeping-keping. Kalau nggak karena urusan ekskul gue juga nggak mau Nampak di hadapan elu, di hadapan John Lew. Malu rasanya..”
Nurfa memahami hal itu, “Aku juga ngerasain hal yang sama, kok. Sampai sekarang setiap aku lewat masih banyak yang jadiin aku bahan gunjingan. Padahal aku baru aja pindah. Jadi nggak ada bedanya sama yang aku rasain di sekolahku yang dulu. Makasih, loh, ya..” Nurfa pun tanpa sadar memakai cara bicara John Lew karena dia memang merasa amat kesal.
Imelda menghelah napas Panjang, “Oke, deh.. sorry.. emang salah gue!” gadis ini masih tak bisa membendung rasa malunya dan jadi begitu emosional.
“Tapi hak kamu juga, sih, mau berteman sama aku apa enggak. Aku juga nggak maksa. Dan meskipun masalah yang kemarin benar-benar buat aku malu dan kesal tapi aku bersyukur karena aku nggak sendirian ngerasain itu..” ujar Nurfa membuat Imelda heran. Nurfa tersenyum cerah saat menatap wajah heran Imelda.
Perkataan Nurfa membuat Imelda merasa lega. Dia juga tersenyum cerah dan menepuk bahu Nurfa, “Thanks, ya, Nurfa” ujar Imelda. Berkat Nurfa Imelda merasa ringan. Dia tak lagi berpikir jika dia menanggung beban itu sendirian.
Dan sejak saat itu Imelda tidak lagi memblock nomor HP Nurfa. Mereka juga sering saling chatting dan menelpon di saat ada kesempatan. Tapi di sekolah Imelda dan Nurfa bertingkah seolah-olah mereka tidak mengenal satu sama lain. Mereka berdua baru saling menyapa saat Rifa atau John Lew tidak ada di sekitar mereka. Bukan karena alasan lain. Imelda sendiri masih belum bisa move on dari patah hatinya. Baik John Lew maupun Rifa mereka juga mengetahui jika Nurfa mulai akrab dengan Imelda dan mereka berdua juga tidak berusaha mencegahnya. Mereka berdua juga merasa lega jika gadis ini bisa memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Imelda dengan sendirinya tanpa bantuan mereka berdua.