Part 11: Jadi John Lew itu Capek!

4994 Kata
Pagi hari sebelum matahari begitu tinggi, John Lew sudah terbangun dari tidurnya. Dia melakukan pemanasan sejenak untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku. Setelah itu membasuh wajahnya. Saat keluar dari kamarnya dia berharap ibunya masih tertidur pulas. Tapi ternyata mereka berjumpa di ruang tamu saat John Lew mencari sepatu olah raganya. Mama John Lew atau biasanya akrab di sebut Mrs. Lewwith atau biasa tetangga memanggilnya Ibu Wit memang punya perangai yang judes dan juga mulut yang sangat sengak. Tapi dia hanya menunjukan hal itu di depan ketiga anaknya dan suaminya. Di depan orang lain wanita blasteran Tionghoa Inggris ini begitu ramah dan sopan layaknya ibu-ibu sosialita kaya yang beretika. Pagi ini si Mama tampak santai, masih menggunakan gaun tidur menyeruput kopi sambil duduk di sofa menyilangkan kaki dengan amat sexy. Putranya tak ingin bertatapan dengan ibunya karena artinya akan ada perintah dari Si Mama yang harus di turuti olehnya. Dia beraharap Si Mama tidak menyadari keberadaannya. Tapi ternyata tidak begitu.. “Pagi, Kak” sapa Si Mama. John Lew menoleh ke mamanya, “Pagi, Ma” dia menjawab sapaan itu dengan senyuman. Dalam hati dia mengumpat amat keras. “Kakak mau lari pagi 'kan? Mama titip belikan garam, ya” ujar Mama John Lew lalu menaruh uang selembar lima ribu di dekat rak sepatu, “Jangan lama-lama, loh” Mamanya langsung memberi peringatan keras. “Iya, Mama cantiiik” jawab John Lew menahan rasa kesalnya mati-matian. “Dasar anak jaman sekarang nggak ada sopan sopannya sama orang tua..” Ledakan emosi John Lew hanya bisa dia tampakan dengan senyum simpulnya. John Lew memasang sepatunya setelah itu dia hanya bisa lari pagi satu lap setelah itu mampir ke warung dekat rumahnya untuk membeli garam. John Lew tak punya pilihan lain jika mamanya memberi perintah. Padahal dia masih ingin menikmati segaranya udara di pagi hari sambil berolahraga di luar. Setelah kembali dari olahraga singkatnya yang hanya makan waktu sepuluh menit itu dia kembali kerumah. Mamanya tampak sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Saat John Lew ada di sisinya, Si Mama mengambil garam itu. “Lama banget, sih, kak” ujarnya. “Kan mama bilang titip..” saat John Lew akan menjawab omongan dia menatap tatapan tajam Mamanya, Pemuda ini langsung berhenti bicara. Mamanya mengambil pisau dan talenan dan memberikan kepadanya, “Potong, nih, Bombay!” dan tidak lupa dua siung bawang Bombay besar, “Potong dadu loh, ya!” Keluar John Lew sebenarnya cukup kaya untuk menyewa PRT untuk membantu pekerjaan rumah. Tapi ternyata Si Mama merasa bisa menghandle semuanya sendiri. Dia tak ingin menghabiskan uang suaminya untuk hal-hal yang menurutnya tidak berfaedah. Tapi John Lew tahu bukan itu alasannya kenapa Mamanya tidak ingin menyewa pembantu. Si Mama ini sulit untuk percaya pada orang lain. Selain itu Si Mama juga tidak ingin jadi gunjingan tetangga karen sifat judes yang dia miliki ini. Dia juga merasa anak-anaknya bisa membantu pekerjaannya dengan suka rela meskipun.. “Marry!! Allen!! Ayo bangun!! Sudah Pagi!!” seru Si Mama mencari bala bantua lainnya. Marry Louisa Lewwith, Si Anak Kedua berusia 13 tahun Kelas 2 SMP putri satu-satunya keluarga Lewwith sebenarnya sudah bangun sedari tadi. Tapi dia sibuk menonton preview dari episode drakor yang baru saja keluar dari channel youtube official drama itu. Dan si bungsu Allen Lawson Lewwith berusia 11 Tahun Kelas 6 SD dia merasa pening mendengar seruan dari mamanya pagi-pagi. Keduanya terbangun dengan rasa terpaksa yang amat sangat. Dengan langkah gontai mereka kedapur. Wajah mereka tampak ogah-ogahan tapi mereka berdiri melaksanakan tugas karena tidak ingin mendengar omelan mamanya. Marry membantu mamanya mencuci sayuran dan menggoreng lauk pauk. Sedangkan Allen di suruh menyapu rumah. Seusai John Lew mengiris bawang bombay, dia di suruh untuk menyirami taman dan juga memberi makan doggy dan ikan koi mereka. Setelah itu John Lew memanaskan mesin motornya. Dan buru-buru mengambil cuciannya. Saat dia hendak ketempat setrika adik-adiknya sudah mengantri menyetrika baju seragam mereka. Si Bungsu Allen yang tercepat menyelesaikan pekerjaan rumah sehingga dia mendapat giliran nyetrika terlebih dahulu. Sedangkan kakak-kakaknya harus antri menunggunya selesai. “Cepetan, Allen!” seru Marry mendesak adiknya. “Sabar, Bos” ujar Allen yang tampaknya masih belum puas dengan tingkat kelicinan kain seragamnya. “Itu udah! Ngapain loe gosok lagi!” protes Marry. “Bawel banget, sih! Nonton drakor dulu sana!” geram si bungsu pada kakak perempuannya. Perdebatan selalu terjadi tiap pagi hari. John Lew heran sekali. Keluarganya sebenarnya orang yang mampu tapi hanya punya satu setrika di rumah. Keluarga mereka bahkan mampu mencuci semua pakaian lewat jasa binatu. Tapi untuk seragam sekolah yang bahannya sangat mudah lecek mereka hanya menyediakan setrika satu biji dan di gunakan berebut. John Lew tak habis pikir ide apa yang membuat Si Mama bisa setega itu dengan anak-anaknya. Saat Allen selesai menyetrika, Marry tampak menghayati drakor yang dia tonton di ponselnya. John Lew mengambil ancang-ancang untuk menyela antrian. Tapi Marry menepuk bahu kakaknya. “Tidak semudah itu, Ferguso!” Marry pun tak mengijinkannya dan dia menyetrika bajunya. “Marry, mandi dulu aja, gih.. Biar kakak yang pake setrikanya bentar ya..” ujar John Lew merayu Marry. “Sorry, meski nggak mandi juga, ketek gue nggak sebusuk elo, kak.. Jadi mending kakak aja yang mandi” ujar Marry mengucapkan kata-kata nyelekit itu dengan nada yang manis imut-imut. “Haahh.. Dasar nasib punya adik blangsat..” ujar John Lew tak di gubris oleh Marry. Dia menaruh cucian di bak dekat tempat setrika. Menyeka ketiaknya dan menyerjunkan tangan bekas nyasar keselempitannya ke hidung mancung Marry. John Lew tak peduli meskipun wajah adiknya sudah seperti kucing kepanasan saking kesalnya. Dia mandi dengan santainya. Di tengah-tengah mandi, terdengar suara gedoran di pintu. “Kak, udah tuh, nyetrikanya!” seru Marry, “cepetan mandinya! Aku juga mau mandi!” seru Marry. “Ngapain mandi, Marry nggak mandi juga keteknya masih wangi, kan.. sewangi pup-nya doggy!” ujar John Lew. Si Adik makin naik pitam dan memaki tiada henti. John Lew begitu puas menggoda Marry tiap paginya. Sedangkan Allen Si bungsu hanya menggeleng-gelengkan kepala, tak berdaya meskipun dia risih dengan tingkah kekanak-kanakan kakak-kakaknya. Karena pertengkaran rutin mereka di pagi hari, John Lew dan Marry datang untuk sarapan pagi paling terakhir. Dan Si Mama tentunya menegur. “Kalian ini sampe kapan lelet kaya begitu terus! Udah jam 6.15 baru turun!” ceramah si Mama. “Biasa, Ma.. Kak John kalau mandi seabad..” geram Marry. “Kalau nggak mau nungguin mandi bareng aja kan beres” ujar John Lew meneguk s**u hangat di meja. “Ihhh! Najis! Dasar m***m!” kemarahan Marry makin menjadi-jadi. “Tuh, mulai! Mulai! Ribut terus kerjaan kalian!” si Mama pun mencela mereka. Marry terbungkam tak bisa menuangkan kekesalannya. Sedangkan John Lew merasa puas usai mengganggu adiknya ini. Selama ini beginilah cara John Lew melampiaskan emosi, yaitu dengan menjahili Marry. Dan Si Marry tampaknya tak pernah sadar akan hal itu. Dia hanya tahu kakaknya selalu menyebalkan seperti biasa. Papa mereka terkekeh seperti biasanya, “Udah lah, Ma. Nggak lengkap pagi-pagi kalau nggak lihat yang rame-rame kaya begini.” Si Papa atau Mr. Lewwith ini orangnya berbanding terbalik dengan Si Istri. Dia selalu dalam suasana hati riang, suka bercanda dengan anak-anaknya, dan tertawa. Meskipun candaannya garing dia pun tertawa. Orang ini sangat ramah tak hanya dari luarnya. Sayangnya kurang peka membaca suasana hati istrinya jadi kerap kena omelan si Mama. “Papa ini nggak sungkan apa anak-anaknya suka ribut suaranya sampai gangguin tetangga” omel si Mama. “Ya maklum lah, Ma. Kalau tinggal di g**g yang rumahnya dempet-dempetan gini pasti lah ada yang rame-rame kedengeran. Terus gimana? Mama mau papa belikan rumah yang nggak dempet-dempetan biar kalau rame-rame nggak kedengeran tetangga? Hmm?” si Papa menawar sembari merayu si Mama. Dan rayuan si Papa ini selalu berhasil. “Ah, Papa bisa-bisanya ngegombal pagi-pagi” ujar si Mama tersipu malu. Anak-anak yang menonton merasa enek melihatnya setiap hari. Mereka mulai melahap nasi dari piring mereka sambil memalingkan muka. “Oh iya! Kakak, Allen.. gimana? Sekolah kalian udah mulai ngadakan bimbel untuk persiapan ujian belum?” tanya si Mama pada kedua putranya yang sudah mencapai di tingkat akhir sekolah mereka. “Kalau sekolah Allen mungkin dua bulan lagi pas pertengahan semester satu” ujar Allen. “Sekolah kakak juga sama, Ma” ujar John Lew. “Tuh, kan! Mama udah hilang kesabaran sama sekolah kalian! Pokoknya mulai besok kalian sudah harus daftar bimbel di luar!” si Mama memutuskan bak hakim pengadilan. “Yah, Maa!” John Lew dan Allen menggerutu. “Kakak masih repot di OSIS, loh, jadi nggak mungkin bisa!” John Lew berdalih. “Allen juga repot buat pertandingan futsal mewakili sekolah Allen!” Allen pun berdalih. “Eits! Jadi itu penyebabnya! Kenapa, sih, sama sekolah kalian itu?! Kok nggak mikirin masa depan kalian sama sekali?! Yang OSIS lah yang lomba lah! Udah bayar sekolah mahal-mahal di sekolah favorit! Tapi nggak mutu! Kalian malah nggak bisa fokus belajar! Mama nggak mau tahu! Pokoknya kalian berdua harus bisa masuk Negeri! Kakak harus bisa masuk Universitas A dan Allen juga harus masuk SMPN SS! Nggak ada lagi ceritanya masuk sekolah atau universitas swasta! Sebel rasanya nggak bermutu!” omelan Panjang pun terlontar. “Kakak jangan niru-niru kak Jenny harus lanjut di Universitas swasta karena nggak lolos SBMPTN. Kakak harus bimbel SBMPTN mulai minggu ini! dan Allen juga! Harus masuk SMP Negeri SS!” “Ma, ngapain masuk SMPN SS, sih! Kan ada SMPN R yang deket rumah! Paling Allen bakal keterima kalau daftar di sana lewat jalur zonasi! Udah gitu Rizal juga bakal sekolah di sana” Allen kembali menuai protes. “Apa? Kamu masuk jalur zonasi!? Ya ampun, Alleen! Nggak akan mama ijinin! Kamu itu pinter sering rangking 1 di kelas! Masa masuk sekolah negeri ecek-ecek begitu! SMPN SS itu kan sekolah bagus! Sebelum ada zonasi-zonasian itu sekolah favorit, loh! Mama yakin kalau kamu rajin bimbel kamu pasti bisa masuk sekolah itu dengan danem kamu yang tinggi!” ujar si Mama tetap kekeh dengan pendiriannya. Baik Allen maupun John Lew hanya bisa menghelah napas Panjang. Seprotes-protesnya mereka jawaban yang di dapat tetaplah sama. Jika si Mama sudah mengambil keputusan mereka memang harus mengikutinya. Tapi lain ceritanya jika mereka masih kekeh.. “Nah, terus futsal Allen gimana?” “OSIS Kakak juga gimana?” Wajah si Mama langsung merah padam mendengar ucapan itu dari kedua putranya, “apa mama harus kesekolah kalian dan ngomong ke kepala sekolah kalian?!” Kedua anak laki-laki ini pun merinding ketakutan, “Enggak, ma.. besok kita bakal daftar bimbel, kok!” mereka pun tak punya jalan lain. “Nah, gitu dong! Di bilangin kok susah banget, sih!” gerutu si Mama. Terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah mereka. Dari bunyi riting, Rifa dan Rizal datang untuk mengajak mereka berengkat sekolah Bersama. Kakak beradik itu masuk kerumah mereka dan menyapa sambil salim ke Bapak dan Ibu Wit terlebih dahulu. “Pagi, Om.. Tante..” sapa Rifa. “Pagi, Nak Rifaa! Sudah sarapan, nak? Mau Tante siapin sarapan?” “Nggak usah, Tante.. kita sudah sarapan!” Ekspresi si Mama sangat berbeda saat bertemu dengan Rifa. Si Mama menjadi begitu ramah dan murah senyum. Wajahnya berbinar-binar cerah di hadapan anak ini. Sejak putra sulungnya sekolah di TK, si Mama tahu hanya Rifa yang layak menjadi teman dekat John Lew. Karena alasannya satu, si Mama ingin anaknya ketularan pintar seperti Rifa. Dan perlakuan ini hanya berlaku bagi Rifa tidak untuk yang lain. Termasuk adiknya Rifa sekalipun. Adik Rifa yaitu Rizal pada dasarnya memang anak biasa-biasa saja dan tidak sepintar kakaknya. Awalnya si Mama juga mengira si Rizal ini sepintar kakaknya. Dia pun mendekatkan Rizal dengan Allen putra bungsunya yang memang mereka berdua ini seumuran. Eh, tapi ternyata Allen ini jauh lebih pintar di bandingkan Rizal. Jadi si Mama agak menjaga jarak pada pergaulan anaknya ini agar si Allen tidak ketularan Rizal. “Ayo buruan!” ujar Rifa pada John Lew tanpa suara. John Lew segera menghabiskan sarapan paginya. Dan Si Mama mengapit lengan Rifa dan mengelus lengan anak ini. “Rifa udah punya rencana buat masuk universitas?” tanya si Mama. “Sudah tante. Rencananya Rifa bakal ke Surabaya. Masuk ke PTN yang sama kaya kak Risa” jelas Rifa. “Wah, bagus itu. PTN kak Risa kan PTN unggulan, loh! Hebat kamu!” ujar si Mama sambil menepuk- nepuk bahu Rifa, “apa nggak yang di bandung aja, Rifa? Kayanya kamu bisa deh masuk kesana dengan prestasi kamu itu..” “Ummmhh??” Rifa tak bisa menjawab banyak dia juga bingung kenapa sih orang ini ikut campur urusannya. Tapi dia tersenyum, “Yah, doa’in aja ya tante” ujar Rifa. “Oh, pasti tante doa’in yang terbaik buat kamu. Ajak teman kamu juga, dong, belajar bareng.. biar makin pinter dan bisa masuk PTN” ujar si Mama lagi. “Loh John Lew nggak di sekolahin di Australia aja, Te, biar sekolah sama kangguru?” tanya Rifa. “Nggak usah jauh-jauh dia mah..universitas deket sini aja.. nanti sakit mag lagi karena di sana nggak ada yang jual nasi pecel.. yah!” “Ehehe.. iya, te” ujar Rifa nyengir-nyengir. “Ayo, Rif, berangkat” ujar John Lew telah siap mengenakan jaketnya. Adik-adiknya juga sudah siap membopong tas mereka. Mereka salim dan pamit kepada orang tua mereka. Lalu pergi berangkat sekolah bersama-sama. Allen yang sebenarnya sudah cukup besar dia menghelah napas karena harus duduk di depan John Lew. Marry tidak ingin duduk di himpit di tengah oleh kedua cowok. Jadi dengan terpaksa Allen duduk di depan sambil menggerutu. “Kapan gue punya motor sendiri?” gumamnya. “Salah, Len.. harusnya lu bilang kapan emak gue sadar dari sifat pelitnya?” sahut John Lew membuat adiknya menghelah napas Panjang. “Susah itu, kak!” sahut Allen membuat kakaknya tertawa. SD tempat Allen dan Rizal bersekolah cukup dekat dan mereka tak perlu memakai helm karena sekolah mereka tidak melawati jalan raya yang bisa di cegat polisi. Sekolah Marry searah dengan sekolah John Lew, jadi gadis ini selalu memakai helm. Setelah sampai di sekolah Marry, John Lew segera menurunkan adiknya dan dia segera berangkat kesekolah. Sudah menjadi kebiasaan tiga bersaudara ini berangkat sekolah Bersama. Hanya saja saat pulang sekolah mereka tidak pulang Bersama. Allen biasanya jalan kaki untuk pulang kerumah begitu juga Marry. Dan saat hari menjelang sore John Lew baru sampai di rumah. Saat John Lew dan Rifa berada di dekat dengan sekolah. Mereka berpapasan dengan sahabat mereka si gadis hijaber di dekat lampu merah. Dia sedang di bonceng seorang anak laki-laki tampan yang tak lain adik kandung gadis itu sendiri yang sekolahnya tepan berada di depan SMA mereka. Gadis itu menyapa dengan melambaikan tangan sementara teman-temannya membalas dengan senyuman. Saat lampu berubah hijau tangan gadis itu melingkar kembali kepinggang si adik yang melaju di depan gerbang sekolah mereka. Saat membuka helm si gadis hijaber ini melambaikan tangan keteman-temannya dengan senyuman yang cerah merekah. Teman-temannya malah merinding dengan kejadian ini. “Hai, Nurfa” sapa John Lew dan Rifa berbarengan. “Hai,Rifa! Hai, Ketua! Selamat Pagi!” sapa Nurfa. “Hai, Dila” sapa John Lew dan Rifa pada adik Nurfa yang tampan ini. sedari tadi banyak gadis yang sudah curi pandang menatap wajah anak SMP ini sambil memekik histeris. “Pagi, kak Rifa, Kak John Lew” dan Dila ini menyapa mereka juga dengan sopan. “Loe nggak di anterin bokap?” tanya Rifa. “Hari ini abi buru-buru kekantor jadi nggak bisa bareng” jelas Nurfa, “Biasanya juga aku sering bareng Dila kesekolah..” “Hei, Dila. Kamu jangan sembarang lewat sana, dong. Kalau ada polisi gimana? Kamu kan belum punya SIM” ujar Rifa menegur Dila. “Kalau ada polisi biasanya Dila belok kiri keperempatan sebelumnya terus masuk g**g” ujar Dila. “Wah, dia udah ngerti siasat kita dulu waktu masih kelas satu, Rif” ujar John Lew tertawa. “Tapi hati-hati loh, ya.. gue enek banget sama polisi sini kalau udah tilang menilang” ujar Rifa. “Tenang aja, Dila udah biasa sama jalan di sekitar sini. Dia juga nggak pernah ngebut dan hati-hati waktu berkendara” ujar Nurfa menenangkan teman-temannya. “Seharunya kamu itu yang care sama adik kamu, dong, Nurfa” ujar John Lew, “kalau kamu ngurus SIM dia nggak akan serepot itu” jelas John Lew. “Gimana caranya ngurus SIM..” Nurfa tampak malu-malu, “aku kan nggak bisa naik sepeda motor” ujar Nurfa. “Astagfirullah..” ujar Rifa dan John Lew bersamaan. Mereka berdua menepuk bahu adik Nurfa yang pendiam ini, “yang sabar ya, Dila..” “I.. iya..” Dila yang polos tak mengerti apa sebenarnya maksud mereka. Begitupun kakak perempuan. Keduanya saling pandang tanpa tahu maksud yang sebenarnya. Dia memasang helm kembali lalu pamit karena dia akan menyebrang kedepan kearah MTs nya. “Loe nggak pernah belajar buat sepeda motoran?” tanya Rifa pada Nurfa saat mereka berjalan kekelas Bersama. Nurfa menggeleng kepala. “Memang apa sebabnya?” tanya Rifa lagi. “Waktu aku masih di sekolah yang dulu, aku nggak boleh pake sepeda motor buat berangkat kesekolah. Haram..” ujar Nurfa membuat teman-temannya shock. “Sejak kapan yang kaya gitu haram, woi!?” geram Rifa. “Jadi alasannya gini kalau cewek naik sepeda motor rok nya yang Panjang kan jadi agak kesingkap. Jadi membuka aurat. Haram, deh.. Cuma di sekolah ini aja aku baru lihat kalau anak-anak cewek juga kesekolah bawa sepeda motor sendiri” jelas Nurfa. “Ya, memang nggak boleh kalau berangkat misalnya pakai celana Panjang dulu. Atau pakai daleman rok yang agak Panjang kaya celana training, mungkin.. nggak kelihatan kakinya juga, kan?” ujar John Lew lagi. “Tapi celana panjang itu haram juga buat anak-anak cewek di sekolahku yang dulu” ujar Nurfa. “Serius?” John Lew dan Rifa juga heran dengan hal ini. “Iya karena pakaiannya menyerupai pakaian laki-laki. Jadi haram” ujar Nurfa. “Lah kalau lagi pelajaran olahraga gimana? Masa pake rok juga?” tanya Rifa. “Ya pake celana juga, sih.. Kalau olahraga biasa di ruangan tertutup buat cewek dan gurunya juga perempuan. Jadi nggak nyampur kaya di sekolah ini. Karena..” “Aurat, kan?” John Lew dan Rifa menyahut bersamaan. Nurfa mengangguk, “berhubung aku ini nggak pernah ngobrol sama laki-laki memang kaum laki-laki itu seliar itu, ya. Masa lihat rok kesingkap dikit bisa memancing b****i? Kalian gitu juga, nggak?” tanya Nurfa. “Kalau kesingkapnya sampe diatas pinggang, sih.. mungkin..” ujar John Lew terkekeh. “Itu bukan kesingkap lagi Namanya. Emang cari hawa dingin” gurau Rifa. “Ya, normalnya cowok nggak seberlebihan itu, sih. Kecuali kalau dia ada kondisi tertentu” jelas John Lew. “Kondisi tertentu? Misalnya..?” Nurfa masih ingin tahu lebih banyak. “Ya, mungkin dia nymposeksual atau memang punya fetish sama bagian kaki” ujar John Lew, “tapi yang kaya begitu jarang banget. Mungkin sekolah kamu nggak mau ngambil resiko kali..” “Ohh.. begitu rupanya..” Nurfa tampak begitu paham. “Jadi nymposeksual sama fetish itu apa artinya Nurfa?” Rifa tiba-tiba memberi kuis. “Ohh..” wajah Nurfa memerah seketika, gadis itu menangkupkan tangan di dekat mulutnya, “jangan bikin aku ngejelasin hal kaya begitu juga, dong!” Cowok-cowok itu tertawa dengan reaksi Nurfa. Gadis ini meskipun terlihat polos pengetahuannya sudah sangat banyak berkat bacaan yang dia konsumsi sehari-hari. “Sebenernya aku juga kepingin bisa kemana-mana bawa kendaraan sendiri” ujar Nurfa, “aku kepingin bisa mengendarai mobil. Kalau lagi belanja bisa angkut banyak belanjaan. Terus kalau ketemu teman yang capek jalan kaki bisa ngasih tumpangan” jelas Nurfa. “Oh, jadi kepingin langsung mobil, ya? Boleh juga, tuh!” ujar John Lew. “Tapi haram, nggak?” tanya Rifa. “Kalau di Indonesia Insya Allah enggak haram” jelas Nurfa. “Ternyata di tempat lain bisa jadi haram, toh” heran John Lew. “Nah, kalau begitu di saat jalan bebas hambatan kendaraan roda empat harus menganbil jalur yang sebelah mana?” Rifa memberikan kuis lagi. “Hah?” Nurfa panik, “jadi harus ngerti itu juga, ya?” “Iya, dong.. kan juga harus belajar aturan jalan dan rambu-rambu lalu lintas supaya dapat SIM” ujar Rifa. “Aaaahh..” Nurfa mengeluh putus asa. Teman-temannya justru mentertawainya, “ya udah lah. Nggak papa kan masih ada abi sama Dila yang bisa nganterin Nurfa kemana-mana” Nurfa pun menyerah untuk menjadi pengendara begitu saja. “Kamu nggak kasihan sama adik kamu, Nurfa” ujar John Lew, “suatu saat dia pasti juga punya urusan lain yang mungkin itu lebih penting tapi justru dia harus mengesampingkan hal itu karena punya kewajiban untuk nganterin kamu atau ngejagain kamu alasannya karena dia anak cowok.” “Iya, berhubung elo nggak lagi di sekolah yang membatasi loe, harusnya loe nggak sebergantung itu sama saudara laki-laki loe dan berubah jadi lebih mandiri” ujar Rifa, “yah, minimal loe bisa pakai kendaraan sendiri supaya bisa berangkat dan pulang sekolah sendiri. Berhubung MTs adek loe deket banget nggak masalah jadinya. Coba besok kalau elo udah masuk perguruan tinggi atau bekerja, kan nggak mungkin loe masih bergantung sama ayah ataupun adek loe” ujar Rifa. “Benar juga, ya” ujar Nurfa menyadari hal itu. “Yah, kalau punya uang nggak usah serepot itu juga, sih. Bayar supir juga beres, kan” ujar John Lew membuat Nurfa sebal dan memukulkan tasnya ke punggung John Lew. “Iihh! Ketuaaa! Mesti begitu, dehh..” geram Nurfa membuat John Lew tertawa terbahak-bahak. Saat Nurfa menyampirkan tasnya kembali kebahunya, gadis itu agak terkejut tas hitamnya muncul bekas berwarna pink. “Eh, Tulisan di jaket Ketua luntur di tas ku, nih!” ujar Nurfa protes. “Tulisan? Nggak ada tulisan di jaketku, kok” ujar John Lew. “Biasanya ada, kok. Tulisan warna pink. Hari ini tulisannya t*i, kemarin tulisannya @n**ng” jelas Nurfa membuat John Lew terkesiap. John Lew buru-buru membuka jaketnya dan melihat bagian punggungnya. Ternyata benar ada tulisan nista itu di jaketnya. Saat dia mencolek pewarna pink itu dia pun merasa familiar dengan warnanya.. “s****n, ini gincu adek gue” geram John Lew, “jadi sepanjang jalan ada tulisan ini di punggung gue?” John Lew memandang kedua temannya dengan wajah penuh emosi yang tak bisa di bendungnya lagi. Rifa dan Nurfa mengangguk bersamaan dengan tampang tak berdosa. “Gue heran kulit punggung loe apa semati rasa itu pas di coret-coret adek loe? Masa loe nggak geli?” ujar Rifa. “Aku malah ngira ketua memang punya jaket kulit seperti itu dengan sablonan yang berbeda tiap harinya” ujar Nurfa mengacungkan jempolnya. “Nurfa, kalau ini sablonan aku juga nggak sebodoh itu milih yang tulisannya kata-k********r begini” ujar John Lew kesal membuat Nurfa tertawa cekikikan. John Lew yang menunjukan emosi sesungguhnya adalah hal yang langka. Tapi baik Rifa atau pun Nurfa paham hal ini terjadi jika John Lew sedang berada di puncak stress nya. Dan John Lew bukan tipe orang yang dengan mudah membagi bebannya. Melihat John Lew yang terlihat kewalahan seperti itu membuat Nurfa merasa iba. Gadis itu menyenggol lengan Rifa dan berbisik kepada Rifa saat John Lew berjalan membelakangi mereka. “Ketua kenapa?” tanya Nurfa. “Mau mens kali..” jawab Rifa cuek. “Ih, kamu itu.. kalian kan temen deket masa kamu nggak paham sama situasi temen kamu. Seharusnya kamu tanyain dia punya masalah apa” ujar Nurfa menyeramahi Rifa. Rifa justru kesal Nurfa lebih condong ke John Lew saat ini. Alasannya karena dia kembali cemburu dengan temannya ini. Apa, sih, yang membuat gadis hijaber ini menjadi sangat peduli pada John Lew? Memikirkannya membuat Rifa geram. “Kalau elu kepo kenapa nggak loe tanyain sendiri ke orangnya? Kenapa gue harus repot?” ujar Rifa dengan nada jutek. Nurfa justru kesal jika Rifa bersikap seperti ini. Gadis itu tak menyahut apapun. Dia justru diam saja memendam sakit hatinya. Rifa yang dengan mudah menangkap kekesalan Nurfa akhirnya mengalah. “Ya udah.. nanti setelah jam istirahat pertama gue tanyain” ujar Rifa. “Nggak usah, nanti kamu repot..” Nurfa ternyata masih menyimpan kesal. Konflik seperti ini sering sekali terjadi antara Nurfa dan Rifa. Setelah berteman beberapa minggu ini bukan sekali mereka menghadapi situasi ini. Meskipun Nurfa ini gadis yang baik dan penyabar dia ternyata menjadi sangat keras kepala saat sedang sakit hati. Lalu Rifa yang pada dasarnya dia ini anak yang cuek. Karena memiliki perasaan khusus pada Nurfa dia justru kehilangan sifat cueknya pada gadis ini dan justru lebih memilih untuk mengalah. Rifa meraih lengan Nurfa menahan gadis ini berjalan jauh darinya. Lalu dia berkata, “nanti gue yang akan tanya ke dia” ujar Rifa menatap mata Nurfa dengan serius, “Maafin gue, Nurfa..” Nurfa pun pada akhirnya menyingkirkan keras hatinya jika Rifa meminta maaf padanya. Justru jantung gadis ini kembali berdegub kencang menatap tatapan serius Rifa. Sambil mengatur nafasnya gadis itu menggangguk, “iya aku maafin.” Rifa tersenyum lega lalu berjalan mendahului Nurfa. Gadis itu mengikuti dibelakangnya dengan jantung masih berdegub kencang. Apa dia benar-benar memiliki perasaan pada lawan jenis untuk pertama kalinya? Gadis itu pun menghenah nafas berat. “Mungkin aku harus mengurangi kontak fisik dengan Rifa lagi..” batin Nurfa berkata demikian. Saat di kelas John Lew memang memperhatikan pelajaran di kelas. Tapi tangannya yang biasanya bergerak mencatat diam tak bergerak. Dia tampak melamun memandangi papan tulis. Sambil tangan satunya memijat keningnya dengan wajah serius. John Lew merasa sangat lelah dengan kehidupan yang di laluinya. Dia menghabiskan waktunya sehari-hari dengan bersekolah, sibuk di kegiatan OSIS dan juga menjadi pesuruh mamanya di rumah membuatnya merasa hari-harinya terbuang percuma. Tak ada hal bermakna yang benar-benar bisa dia lakukan membuatnya begitu jenuh. Tapi sebagai remaja yang masih bergantung dengan uang orang tuanya dia merasa tak berdaya. Dia ingin kehidupannya sebagai bujang yang ngenes berakhir. Dia ingin mengambil keputusan yang besar bagi hidupnya. Tapi dia juga berat memikirkan harus hidup sengsara tanpa sokongan uang dari orang tuanya. Pikiran rumit itu membuat John Lew tenggelam dalam lamunannya sendiri dan akhirnya di tak menyerap apapun yang di ajarkan oleh guru di depan. “Nah, ibu harap kalian sudah mengerti bab ini, karena bab ini biasa keluar di soal UN dan SBMPTN” ujar guru matematika seketika membuat roh John Lew kembali ke dunia nyata. Dia menoleh kebelakang kearah Rifa yang sedang menyelesaikan catatannya. “Hei, bro.. nanti ajarin gue bab tadi, ya! Gue masih nggak mudeng!” bisik John lew membuat Rifa menghelah napas Panjang. “Kebiasaan lu!” Rifa hanya bisa mengeluh demikian. Saat jam istirahat pertama, Nurfa seperti biasa dia sholat Dhuha terlebih dahulu. Gadis ini biasanya akan mampir kekantin untuk membeli minuman. Dan juga membelikan beberapa titipan teman-temannya. “Rifa titip milk tea yang kaya kemarin, kan?” tanya Nurfa memastikan pesanannya. “Iya, sama cilok lima ribuan aja” ujar Rifa memberikan uang pada Nurfa. “Duh, cilok terus.. makan yang ada gizinya dong lain kali” omel Nurfa pada Rifa. “Ah, napa sih loe hobi bawel begini pas gue pesen cilok?” Rifa meskipun ketus hatinya berbunga-bunga gadis ini merasa khawatir akan kesehatannya. “Ketua mau titip es kopi yang biasanya?” Nurfa menanyakan pada John Lew yang masih melamun. John Lew tak menjawab apapun. “Ketua!?” seru Nurfa membuat John Lew terlonjak. “Eh, kenapa, Nurfa?” “Nggak mau titip minuman? Aku mau kekantin setelah sholat Dhuha” jelas Nurfa. “Oh, hari ini nggak usah dulu, Nurfa.. lagi nggak napsu makan” ujar John Lew membuat Nurfa merasa iba. “Oke, deh kalau begitu..” ujar Nurfa tak banyak bertanya meskipun dia khawatir. Gadis ini menyerahkan hal ini pada Rifa untuk memulai pembicaraan. Saat keluar dari kelas Nurfa segera mengirim chat pada Rifa agar segera menanyakan hal itu. Rifa yang masih merasa berbunga-bunga mendadak kehilangan bunga di hatinya. Berbeda dengan Nurfa yang dengan mudah bertanya dengan nada kalem penuh perhatian Rifa yang sudah lama mengenal John Lew ini justru bertanya tanpa basa-basi. “Loe habis debat apa lagi sama nyokap, bro?” tanya Rifa yang tampaknya sudah sangat familiar sekali dengan permasalahan yang dialami John Lew. “Gue nggak lagi debat, kok. Yah.. Cuma nyokap gue kepingin gue sama Allen mulai daftar bimbel besok. Kalau enggak dia bakal ngamuk di sekolah, bro” cerita John Lew membuat Rifa tak banyak berekspresi karena ikut merasa prihatin. “Memang loe nggak mau ikut bimbel?” tanya Rifa. “Yaahh bukannya nggak mau.. tapi loe ngerti lah.. gue masih sibuk banget beberapa hari ini. Di OSIS kerjaan juga sering kita bagi dua karena Aldi sama Vita belum bisa ikut bantuin kerjaan OSIS. Untung ada Nurfa yang mau jadi bala bantuan sukarela. Meskipun begitu.. bisa nggak, sih.. bimbelnya pas udah regenerasi anggota inti..” John Lew terlihat begitu putus asa. “Terus loe nggak omongin itu ke nyokap?” tanya Rifa. “Kalau gue omongin emangnya di notice?!” ujar John Lew membuat Rifa makin prihatin, “jujur gue capek bangeeet.. gue sampe kepingin berhenti di depan rel kereta api pas ada ketera mau lewat..” “Ya, bisa modar, dong, begoo!” ujar Rifa. “Habis gue capek banget. Gue nggak bisa melakukan apa yang bener-bener kepingin gue lakukan..” John Lew rasanya ingin sekali menangis. Anak yang biasanya berusaha kuat di depan orang lain justru saat ini menunjukan emosinya yang sesungguhnya saat dia sedang amat stress. “Nah, terus apa yang bener-bener kepingin elo lakukan?” tanya Rifa. John Lew terdiam begitu lama, “Kira-kira apa, ya?” dia justru tak punya tujuan lain. “Tuh kan” Rifa tampaknya sudah menduganya. “Ehehehe..” “Nggak usah cengengesan lu!” Mereka berdua berpandangan dengan serius lalu menghelah napas berat. “Lu mau dengan komentar gue sekarang, nggak, kira-kira?” tanya Rifa. “Nggak! Makasih banyak!” John Lew langsung menolak tawaran tersebut. “Sebel banget gue sama orang manja kaya lu. Hidup loe udah kurang enak apa, sih. Orang tua juga bisa bayarin elo bimbel. Nah, gue? Jangankan bimbel.. biaya buat bayar uang sekolah gue aja orang tua gue nggak mampu” omel Rifa Panjang lebar. “Perasaan gue nolak dengerin komentar elu.. kenapa masih komentar?” gerutu John Lew. “Nggak usah banyak bacot” sinis Rifa. “Oke setuju.. Berantem aja, yuk!” mendadak John Lew kembali ke mode sarkastiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN