John Lew sangat kesal jika sudah membahas hal ini kepada temannya. Dia juga berharap temannya bisa menjadi penyalur keluh kesahnya tapi malah membuah suasana hatinya makin di penuhi emosi. Beberapa menit setelah mereka berdua diam-diaman membuang muka, Nurfa kembali dengan wajah segar sehabis sholat memeluk mukenah di dadanya dan menenteng tas kresek belanjaan. Saat melihat apakah ada progress dari obrolan yang di awali oleh Rifa. Ternyata keduanya justru tak melakukan komunikasi apapun dan sibuk bermain game di ponsel mereka masing-masing. Pasti obrolan sebelumnya gagal total.
“Rifa ini pesenan kamu” Nurfa memberikan pesanan Rifa lalu berbisik, “Gimana?”
Rifa menghelah napas berat lalu memalingkan muka sambil menyantap ciloknya. Nurfa menghelah nafas berat. Dia menaruh mukenahnya di dalam tas dan mengeluarkan kotak bekal pemberian Uminya.
“Oh iya, Umi-ku eksperimen bikin puff pastry isi curry” ujar Nurfa menunjukan isi bekalnya.
Saat Rifa menoleh, “Itu pastel namanya” ujar Rifa.
“Ini bukan pastel, tahu! Lihat berlayer kan.. Umi-ku cuma bisa bentuk model ini soalnya!” Nurfa menjelaskan dengan membuka isi puff pastrynya.
“Yah, wortel sama kentang, kan.. Isinya pastel banget” komentar Rifa masih tak terlihat kagum sama sekali.
“Oke, ini pastel.. Tolong ambil satu. Bantuin aku buat habisin ini” ujar Nurfa menyerah tapi bibirnya bergertar. Wajah sebal gadis ini begitu imut.
“Hehehe.. Oke, makasiih” ucap Rifa saat mengambil kue dari kotak makan Nurfa.
“Sama-sama.. Ketua juga ambil satu” Nurfa pun menawarkannya kepada John Lew.
“Aku lagi nggak napsu makan, Nurfa. Maaf, ya” ujar John Lew.
“Ketua nggak laper?” tanya Nurfa penuh perhatian.
Sebenarnya perut John Lew sedang melilit karena dia hanya sarapan dua sendok makan. Karena sedang bad mood dia menghindari komunikasi dengan teman-temannya.
“Kalau disuapin mau?” Nurfa menawarkan diri.
“Mau” mendadak John Lew bersemangat.
Rifa yang ada di belakang jadi berang, “Woi!”
Nurfa mencuilkan potongan kecil, “Ayo, aaaaa..” dia tak memedulikan Rifa yang tengah protes.
“Aaaaaa..” John Lew membuka mulutnya sambil memejamkan matanya. Dia melihat Nurfa mencuil kue begitu kecil.
“Ah, kalau cuilannya semungil itu jari-jarinya bisa kegigit nanti..Gimana rasanya, ya..Jari-jarinya Nurfa?” John Lew mulai berfantasi liar.
Tapi bukannya cuilan dan jari-jari kecil yang masuk kemulutnya. Melainkan sesuatu yang membuat mulutnya terasa sangat penuh. Saat membuka mata ternyata Rifa yang sedang menyuapinya dengan sebiji kue utuh dengan cara yang brutal dan memaksa.
“Gimana? Enak, kan, disuapin gue?” tanya Rifa.
“Seret” jawab John Lew sambil mengunyah.
“Ini tadi aku beli es teh botol” Nurfa menawarkan barang belanjaannya.
Rifa mengambil es teh itu, “Sini gue suapin juga..”
“Nggak usah..” John Lew langsung merebut minuman itu dan meneguknya.
Nurfa jadi terkekeh dengan tingkah dua sahabatnya ini. Saat tertawa gadis ini begitu amat manis dan mempesona.
“Alhamdulillah kalian bisa akur lagi.. Aku juga sedih kalau kalian ada cekcok. Kata Umi ku pertengkaran suami istri itu biasanya hanya salah paham aja satu sama lain..”
“Aduh mulai lagi, nih, Fujo” geram Rifa dan John Lew.
Nurfa kembali tertawa, “Oke, deh.. Jadi ada masalah apa?” tanya Nurfa kemereka berdua.
Pada akhirnya Nurfa pun mendengarkan cerita mereka berdua dari dua sisi, “Begitu, ya..” gadis ini pun mulai memahami apa yang membuat mereka bertengkar, “Kalian ini kekanak-kanakan banget, ya” dan itulah komentar gadis ini dengan wajah polos tanpa dosa. Apakah mereka bertiga ini akan saling bermusuhan?!
“Hehehe.. Maaf, aku nggak bermaksud nyindir. Toh aku juga kadang sekekanak-kanakan itu beberapa waktu yang lalu. Karena depresi aku juga berpikir nggak mau sekolah. Sampai akhirnya nenekku datang dan bilang kalau aku nggak mau sekolah mending kawin aja” ujar Nurfa membuat teman-temannya tertawa.
“Kok Nurfa nggak mau kawin? Kan enak..” ujar John Lew menggoda gadis ini.
“Iya, nenek lo baik hati banget, loh” ujar Rifa.
Wajah Nurfa merah merona, “Aku nggak mau.. Aku nggak pernah masukin apapun kelubang 'itu' karena tahu bakal sakit. Kalau kawin aku nggak punya pilihan lain…”
“Tolong jangan di jelasin di depan kita juga, dong” wajah Rifa dan John Lew jadi ikut merah merona karena ikut membayangkannya.
“Ya seiring berjalannya waktu meskipun aku jalani setengah hati pada awalnya aku mulai bisa menemukan jalan hidupku lagi. Kalau buat Nurfa saat sedang down kamu harus ingat lagi tujuan awal kamu itu apa dan sekarang kamu sudah berjalan sampai sejauh mana. Hal itu yang membuat perasaan kita nggak lagi terasa hampa. Ketua sendiri harus ingat lagi mengapa ketua mau melakukan semua ini dan mau bercapek-capek meluangkan waktu untuk hal itu. Kemudian di renungkan kembali apakah Ketua masih akan lanjut dengan arus ini atau menghimpun keberanian untuk memilih jalan hidup yang ketua inginkan dan mulai mempersiapkan bekal buat bicara dengan kedua orang tua Ketua. Nurfa, sih, yakin sama satu hal bayaran dari kesabaran Nurfa selama ini pasti akan terbayar di akhir nanti asalkan kita tetap istiqomah..”
John Lew begitu meresapi kata-kata itu. Dia kembali memikirkan apa yang membuatnya bisa bertahan selama ini. Banyak hal yang membuatnya bertahan di OSIS, pertama karena dia ingin memiliki pengalaman untuk memanajemen banyak orang agar besok kelak dia memanajemen orang-orang di sekotarnya termasuk ibunya. Dan yang berikutnya John Lew menginginkan kehidupan mandiri tanpa bergantung pada orang tuanya. Dia memang belum bisa menemukan jalan yang tepat bagaimana agar dia tidak jatuh sengsara karena dia memang tidak memiliki modal untuk hidup mandiri. Tapi kali ini dia mulai termotivasi lagi. Walaupun sekarang dia belum menemukan dia bisa menemukan hal itu seiring berjalannya waktu.
Raut wajah John Lew yang amat tertekan itu seketika berubah. Dia terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
“Makasih, ya, Nurfa” ucap John Lew.
“Sama-sama” ujar Nurfa.
“Ajaibnya lo nggak pernah gagal motivasi orang, ya” ujar Rifa.
“Biasa aja, kok..” Nurfa jadi tersipu malu karena ge’er, “jadi orang tua Ketua sedisiplin itu?” tanya Nurfa lagi.
“Cuma mama aja, sih” jawab John Lew, “Yah, sering gagal aja kalau nyoba komunikasi sama mamaku. Karena orangnya emang gitu..” John Lew tak bisa menjabarkan lebih jauh lagi agar dia tidak mengumpat.
“Ketua, memang kalau ngobrolin masalah ini di kelas agak sungkan, ya. Udah gitu bentar lagi mau bel” ujar Nurfa.
“Iya, lebih enak ngobrolin ini di tempat yang lebih rileks.. Yang hawanya adem..”
“Iya” Nurfa menyetujui.
“Terus nggak terlalu bising, sepi..”
“Iya”
“Ada kasur buat rebahan juga..”
“Iya.. Kira-kira dimana, ya?” pertanyaan Nurfa membuat John Lew ingin segera menjawabnya.
“Ruang OSIS, lah.. Terus dimana, lagi..” Rifa menyahut tiba-tiba padahal John Lew baru mau buka suara. Mata Rifa melotot pada temannya seraya berkata, “Gue pites lu kalo niat godain dia lagi!”
“Hmm.. Itu artinya kita lanjut ngobrol pas pulang sekolah, kan? Sorry, hari ini aku ada janji nanti siang. Jadi sehabis Sholat Dhuhur aku langsung pergi” jelas Nurfa.
“Yah elah.. Emang nggak bisa pas sore aja gitu” Rifa mencoba merayu Nurfa agar bisa meluangkan waktunya.
“Aduh nggak bisa, Rifa.. Sorry, ya..”
Nurfa lebih memprioritaskan janjinya dengan orang ini di bandingkan teman-temannya. Apakah kedua cowok ini akan kecewa pada gadis ini?
“Kamu janjian sama siapa, Nurfa? Kayanya urgent banget” tanya John Lew.
Nurfa tersenyum girang sebelum menjawabnya, “Jadi hari ini setelah sekian lama aku bakal reunian sama temen-temen dari sekolahku dulu!” ujar Nurfa begitu Bahagia.
“Ohh..” entah kenapa Rifa dan John Lew tak bisa ikut bahagia mendengarnya.
“Jadi pada akhirnya lo bisa ketemu sama temen-temen lo yang pas elo di keluarin dari sekolah sekalipun nggak pernah ngehubungi elo dan nanyain keadaan lo” justru Rifa menimpali dengan sinis.
“Rifaa.. kamu ini kebiasaan buruk, deh! Su’udzon terus! Kamu harusnya ngerti dong, kalau salah satu teman mereka punya masalah kaya aku apa orang tua mereka bakal ngijinin untuk ngontak aku? Meskipun mereka ingin sekalipun mereka juga nggak bisa berbuat apa-apa” ujar Nurfa.
“Tapi, kan..” saat Rifa hendak bicara John Lew membekap mulut Rifa.
“Udah nggak usah dengerin dia. Selamat bersenang-senang!” ujar John Lew tersenyum.
“Makasih, Ketua!” Nurfa begitu senang mendapatkan dukungan dari John Lew.
Rifa begitu kesal John Lew seenaknya menghalanginya berkomentar. Tapi John Lew tak menyesal dengan perbuatannya. Dia tak ingin Rifa bisa berselisih lagi dengan Nurfa karena hal ini. Sayangnya justru tindakannya ini membuat Rifa kesal padanya.
Saat usai Sholat Dhuhur Nurfa bergegas membereskan barang-barangnya dan pamit pada kedua temannya itu. Saat gadis hijaber itu pergi Rifa mulai angkat suara.
“Hei, John Lew!” seru Rifa saat John Lew hendak pergi.
John Lew diam di tempat sembari memakai jaketnya, “Apa?” jawabnya.
“Heh, bisa nggak, sih, lo udahin drama lo itu!?” ujar Rifa naik pitam.
“Drama apaan maksud lo?” heran John Lew.
“Lo sengaja bikin Nurfa lebih care sama elo? Ada hati juga lo sama dia?” pertanyaan Rifa membuat John Lew ikut naik pitam.
“Hah? Ya ampuun.. gue nggak ada urursan kali! Lo kalo cemburu kira-kira napa” geram John Lew, “Kalo lo ngerasa gagal ngejalin komunikasi yang baik sama tuh cewek kenapa loe nyalahin gue? Salahin diri lo sendiri yang emang nggak bisa ngatur ego lu..”
“Ya emang gue akui itu salah gue! Tapi disaat itu seharusnya lo nggak usah ikut campur sama urusan kita! Lo malah jadi penengah yang pada dasarnya lo itu nggak nengahin kita! Lo justru lebih condong kedia sehingga persepsi dia ke gue jadi jelek! Dan mungkin hal itu yang bikin dia.. lebih care sama elo..” Rifa begitu berat mengatakan hal yang terakhir.
John Lew terhenyak dengan perkataan Rifa ini. Dia tidak ada maksud untuk melakukan hal tersebut agar Nurfa menaruh hati padanya. Dia hanya tidak ingin Nurfa maupun Rifa jadi salah paham dan saling berseteru.
“Lo kira Nurfa suka sama gue? Oh, maann.. yang bener aja. Dia justru lebih tertarik sama hubungan kita berdua. Kan lu tahu kalau dia itu Fujoshi” John Lew berusaha meyakinkan Rifa.
“Ya, gue juga paham” Rifa kembali sangat serius, “Tapi bagi elo Nurfa itu apa? Dia itu juga perempuan cantik dan menarik di mata lo, kan?” ujar Rifa menghelah napas berat.
John Lew hanya bisa terdiam karena bingung harus menyangkal apa.
“Kalau lo memang bener suka sama dia, silahkan.. Gue juga nggak keberatan bersaing sama loe.. Memang, sih, gue nggak seunggul elo yang dari keluarga kaya, punya badan tinggi, muka ganteng. Semua yang elo miliki memang bikin gue iri sama lo. Tapi gue nggak akan nyerah, lagi pula apa juga yang bisa di banggain sama laki-laki yang nggak punya pendirian kaya elo” ujar Rifa dengan nada meremehkan.
John Lew yang awalnya peduli padanya menjadi murka. Kulit putih wajahnya jadi merah padam. Dia ingin sekali melemparkan tinju kewajah sahabat lamanya ini. Rifa yang sudah berhasil memprovokasi John Lew pergi setelah puas menampar John Lew dengan kata-katanya.
“Hei!” John Lew berseru memanggil Rifa yang sudah berjalan di koridor kelas, “Oke, siapa takut! Gue buktiin kalau lo itu salah!”
Rifa mencamkan hal itu dengan serius. Dan mulai saat ini persahabatan mereka berdua hancur. Mereka menjadi musuh mulai detik itu. Sedangkan gadis hijber yang menjadi sumber permasalahan mereka tersenyum gembira melihat teman-teman dari sekolahnya yang lama berada di depan gerbang sekolah menjemputnya.
Di sekolah Nurfa yang lama, Nurfa memiliki tiga sahabat yang memang dekat dengannya. Yang pertama gadis hijaber dengan tubuh sehat berisi berpipi chubby yang jago sekali Qiro’ah yang bernama Aisyah, lalu gadis hijaber tomboy yang berkulit gelap yang jago Kick Boxing dan Karate bernama Priska, dan gadis hijaber imut baby face yang bernama Zunaira atau lebih akrab di panggil Zuna.
Sudah beberapa minggu ini mereka tak pernah menjalin kontak dengan Nurfa. Mereka meneteskan air mata saat melihat Nurfa melambaikan tangan kearah mereka dengan senyum gembira. Saat Nurfa mendekat mereka memeluk gadis itu sambil tersedu sehingga menarik perhatian banyak orang. Nurfa pun rindu dengan kehangatan teman-temannya ini. Saat masuk kedalam mobil mereka saling berbagi kabar.
“Udah lama rasanya aku pengen kabur dari rumah buat nengokin kamu, Nur!” ujar Aisyah.
“Kamu baik-baik aja, kan, Nak?! Aku juga nggak bisa apa-apa waktu kamu di skors kemarin.. Orang tuaku juga nyita hape ku pas tahu kamu di skorsing..”
“Ternyata Bu Is juga hubungi orang tua kita dan minta agar ngejauhin kita dari kamu, Nur. Heran banget, punya dendam apa tuh guru sama kamu!” ujar Zuna dengan rasa kesal.
“Nggak papa, aku senang kalian baik-baik aja..” ujar Nurfa.
Para gadis ini saling berbagi cerita tentang kabar mereka satu sama lain. Tapi yang paling ingin di dengar tentunya kabar dari Nurfa. Teman-temannya ini masih sangat khawatir dengan kondisi Nurfa pasca di keluarkannya dia dari sekolah. Tapi gadis ini bisa tersenyum cerah dan malah bercerita tentang segala keseruannya di sekolahnya yang baru. Dan yang tak lepas dari cerita Nurfa tentunya dua cogan yang menjadi temannya di sekolah baru. Teman-temannya begitu antusias mendengar cerita gadis ini hingga waktu mereka berlalu dan mereka kembali ke rumah mereka masing-masing. Nurfa pulang dengan senyum mengembang di bibirnya.
Ibunya yang sedang menyiapkan makan malam begitu lega putrinya pulang dengan wajah seceria itu. Artinya hari yang putrinya lalui berjalan dengan lancar.
“Gimana reuninya, Sayang?” tanya si ibu dengan senyum mengembang.
Nurfa mengacungkan jempolnya dengan begitu bersemangat. Lalu berlari memeluk ibundanya, “Umii! Makasih, ya.. berkat usaha Umi meyakinkan orang tua mereka akhirnya Nurfa bisa ketemu sama teman-teman Nurfa!”
“Iya sama-sama, Nak.. semua usaha Umi nggak sia-sia kalau Umi sudah lihat senyum di bibirmu itu” ujar ibunya.
Nurfa memang begitu Bahagia selepas reuninya dengan teman-temannya ini. Di kamar mereka lanjut mengobrol sambil saling video call. Sudah lama mereka tidak melakukan aktifitas ini saat Nurfa di keluarkan dari sekolah. Di dalam kamar Nurfa tertawa cekakak-cekikik di hadapan ponselnya. Si Dina yang menjadi roommate Nurfa selama ini jadi hafal sekali dengan situasi ini. Dia pun memakai headsheet agar suara kakaknya tidak mengganggu ketenangannya menyaksikan drama korea.
Di tengah keseruan mereka sedang mengobrol. Nurfa mendapatkan chat dari Rifa. Sebenarnya Nurfa agak malas untuk membacanya atau pun membalasnya. Tapi mendiamkan Rifa seperti ini juga membuatnya tak enak hati. Teman-temannya yang sedang video call tentu familiar dengan wajah gusar sahabatnya ini.
“Kenapa, sayang? Kok tiba-tiba aja muka kamu cemberut begitu” Aisyah yang mengawali untuk bertanya.
“Nggak papa, kok, Syah.. Cuma chat dari temen sekelasku aja” ujar Nurfa.
“Cie yang udah punya temen baru..” Zuna menyoraki.
“Nggak kamu bales, Nur?” tanya Priska.
Nurfa menggeleng, “Nggak seberapa penting juga, sih.. Sebenernya..” ujar Nurfa.
“Kenapa? Kamu lagi berantem sama temen kamu itu?” tanya Priska langsung peka dengan keadaannya.
“Nggak juga, sih.. Tapi pas terakhir kita ngobrol suasananya memang tegang, begitu..” ujar Nurfa yang agak ragu untuk menjelaskannya.
“Oh, memang kalian ngomongin soal apa, sih, Nak? Kok jadi tegang begitu?” tanya Aisyah dengan nada keibuan ciri khas gadis ini.
“Ya, sebenernya aku ngerti, kok, selama ini dia itu temen yang baik. Dia itu care banget sama aku. Tapi sifat care-nya itu kadang nggak ada batasnya. Dia suka banget curiga berlebihan sama orang lain dan aku nggak suka sama sikapnya itu” jelas Nurfa.
“Ohh.. Begitu rupanya” ujar teman-temannya mengerti dengan keadaan ini.
“Kira-kira dia cewek apa cowok?” tanya Zuna iseng.
“Co-cowok.. Emang kenapa, sih, Zun?” Nurfa tampak malu-malu karena yakin Zuna akan tercawa cekikikan meledeknya lagi.
“Ya, kan sebelumnya dia udah bilang kalau teman deket dia di sekolah yang baru itu cowok. Iya, kan, Nur? Dua lagi” Priska kembali memberi bumbu pada sensasi obrolan mereka.
Aisyah mencoba untuk menetralkan obrolan dengan dehamannya agar Nurfa ini tidak baper, “Jadi apa dua-duanya begitu?” tanya Aisyah.
“Nggak, sih, salah satunya” ujar Nurfa, “Yang satunya justru dia orangnya lebih kalem dan lebih menghargai pendapat aku. Meskipun aku kadang suka nggak tenang, sih, kalau ngobrol sama dia karena dia itu intimidatif banget. Aku justru lebih nyaman ngobrol sama yang satunya. Cuma sikapnya yang suka curigaan itu yang nggak aku suka.”
“Jadi keduanya ada plus dan minusnya, ya” ujar Aisyah, “Jadi gini kita kasih nama aja cowok pertama yang kamu certain itu Mr.J..”
“Kok Mr. J, sih, Syah?” heran Nurfa.
“Ya mungkin karena dia jutek?” jawaban Aisyah membuat Nurfa dan teman-teman yang lainnya tertawa.
“Iya, bisa juga.. Cocok kok itu!” ujar Nurfa setuju.
“Nah, Si Mr. J ini sebenernya nggak ada niat untuk menyakiti perasaan kamu, sih, Nur. Dia memang sangat care sama kamu, cuma memang dia kurang lihai aja dalam mengkomunikasikan rasa perhatiannya itu. Nah, beda sama Mr. S..”
“Hah, siapa Mr.S?” tanya Priska memotong omongan.
“Cowok nomor dua” ujar Aisyah agak kesal juga karena sering di sela.
“Kok kamu namain Mr. S?” tanya Zuna.
“Ya, karena karakternya aku kasih Namanya Mr. S karena dia smooth..” jawab Aisyah sambil bergoyang dan membuat temannya ngakak. Dia berdeham dan melanjutkan penjelasannya lagi.
“Si Mr. S ini memang kelihatannya care sama kamu, Nur. Dia bisa saja bersikap seperti itu agar meminimalisir konflik sama kamu. Bisa aja si Mr. S ini memang bener-benar percaya sama kamu atau dia memang nggak peduli sama sekali dengan urusan kamu dari pada kalian berantem. Tapi bukan berarti si Mr. S ini jahat loh, ya.. dia sengaja berbuat seperti itu alasannya karena juga tidak ingin merusak pertemanan kalian. Nah, menurut pendapatku, memang keberadaan kedua cowok ini bisa saja membuat godaan emosi buat kamu sehingga kamu jadi condong kesalah satunya karena saat kamu sedang emosi kamu jadi nggak bisa berpikir bijak, kan? Tapi itu nggak masalah, Sayang. Kamu cukup tenangin dirimu dan instropeksi lagi. Kira-kira itu apa kamu lakukan dengan nyuekin Si Mr.J itu adil apa enggak? Dan apa kamu kepingin menciptakan konflik baru di tengah-tengah mereka? Pasti bakal awkward banget kan kalau akhirnya kalian bertiga yang awalnya temenan karena salah paham ini jadi musuh-musuhan..” jelas Aisyah membuat Nurfa mengangguk sepakat.
“Jadi, lebih baik kamu lurusin, deh, masalah ini. Kamu akan setahun bersama-sama dengan mereka, Nur. Kalau aja aku bisa pindah sekolah tanpa resiko di usir orang tua aku juga kepingin nemenin kamu, Sayang.. Tapi..” Aisyah tak bisa berkata-kata saking sedihnya.
“Iya, kamu harus berjuang, Nur.. Kita di sini akan terus support kamu, kok!” ujar Priska.
“Semangat, Nuuurr!!” seru Zuna menyemangati Nurfa.
“Iya, terima kasih banget sarannya, Aisyah.. Terima kasih juga semangatnya, Priska, Zunaa!” ujar Nurfa penuh syukur, “Oke, aku akan berjuang selama di sekolah baru ini. Kalian jangan bosen-bosen nelpon aku, loh, ya!”
Mereka pun saling melempar kasih sayang dan mengakhiri panggilan telepon tersebut. Nurfa membuka chat Rifa dengan seksama. Rifa tampaknya ragu-ragu untuk menulis chat.
Nurfa..
Lo msh mrah y?
Blh g gw nelp lo?
Gw mnt maaf y ats prktaan gw td siang
Gw g ada mksd bt su’dzn sm tmn2 lo
Pliz donk blez chat gw!!
Sorry!
Nurfa juga tidak tega membiarkan Rifa terus menerus seperti ini. Tapi sudah berkali-kali Rifa berbuat seperti ini kepadanya. Nurfa kembali menarik napasnya dan berpikir bijak. Akhirnya dia membalas.
Iya.. aku maafin
Selang sedetik Nurfa langsung dapat panggilan telpon dari Rifa. Nurfa yang sebenarnya enggan akhirnya mengangkat telpon itu.
“Assalamu’alaikum” Nurfa memberi salam duluan.
“Wa’alaikum salam.. Nurfa, gue bener-bener minta maaf. Gue sebenernya khawatir sama elo. Gue nggak ada niatan untuk membuat lo benci sama temen-temen lo. Karena gue pikir selama ini teman lo bahkan nggak care sama sekali tentang kondisi elo setelah elo di keluarkan. Tapi gue sadar gue salah! Gue nggak seharusnya menghakimi mereka” Rifa meminta maaf dengan begitu tulus.
Nurfa jadi terenyuh dan ikut merasa bersalah sudah mengabaikannya, “Iyaa.. aku maafiiin” ujar Nurfa tersenyum, “Tapi maaf juga ya, Rifa. Seharusnya aku harus lebih sabar lagi sebagai teman.”
“Nggak, semua itu salah gue kok yang ngomong nggak di pikir dulu!” ujar Rifa tetap menyalahkan dirinya.
“Ya, tapi aku juga salah karena sudah menghakimi kamu secara sepihak. Aku harusnya bisa lebih berpikir bijak dan sabar. Nggak terkendali sama emosi..” ujar Nurfa lagi.
“Nggak, justru gue yang harusnya minta maaf tentang hal itu sama elo atau mungkin sama temen-temen lama lo itu..” ujar Rifa.
Suasana obrolan mereka menjadi begitu canggung. Mereka sampai sungkan untuk lanjut mengobrol hingga akhirnya cengengesan di jaringan telepon.
“Ngomong-ngomong gimana reuninya? Seru?” tanya Rifa mencari topik lain.
“Seru banget, aku banyak cerita tentang kamu dan Ketua kemereka dan mereka banyak banget yang iri. Selama ini mereka nggak ada bedanya sama aku. Jarang banget mereka interaksi sama cowok sewaktu mereka di sekolah. Padahal mereka juga kepingin punya temen lawan jenis. Tapi karena kondisi sekolah tentu saja nggak mungkin” ujar Nurfa, “Oh, iya, aku juga kepingin banget ngenalin mereka ke kalian berdua. Pasti seru. Mereka juga suka manga, game dan anime, loh..” ujar Nurfa lagi.
“Apa fujoshi juga?” tanya Rifa.
“Iya” jawab Nurfa tanpa pikir panjang. Begitu sadar Nurfa menepuk-nepuk mulutnya.
“Ya, sudah pasti. Lebih baik nggak usah gue tanya juga, sih.. hahaha” ujar Rifa tertawa puas.
“Rifa, iiiihhh.. Sebel!” geram Nurfa. Rifa masih tertawa terbahak-bahak kerena reaksi Nurfa ini.
“Oh iya..? Kamu udah baikan belum sama John Lew?” tanya Nurfa membuat Rifa yang sudah dalam mood yang bagus kembali dalam mood yang tidak bagus lagi.
Rifa menjawab dengan helaan napas panjang, “Gue males banget bahasnya” ujar Rifa.
“Nih, kalau aku tinggal jadi berantem begini, deh. Aku yakin kalian berantem pasti karena aku tadi, kan! Maaf, ya, Rifa.. aku nggak bermaksud untuk merusak rumah tangga kalian berdua. Aku memang kurang bijak sebagai sahabat kalian. Aku janji, deh, bakal bikin kalian rujuk lagi” ujar Nurfa membuat Rifa jadi makin dongkol.
“Kita seharusnya nggak usah ganggu dia. John Lew itu dia punya kehidupan yang tertata dan nyaman. Dia cukup melewatinya aja dan nggak usah bikin masalah. Nggak seharusnya kita ada di tengah-tengah dia. Karena kita nggak pantas” ujar Rifa.
“Jangan gitu, dong, Rif.. Kasihan dia.. Kamu kalau aja tahu apa yang John Lew rasain tadi pagi. Sebenernya dia memang lagi bingung. Dia juga nggak tahu harus bisa berbagi masalahnya kesiapa. Sebenernya dia nggak ingin memulai konflik sama kamu, kok. Karena bagi dia kamu itu nggak sekedar teman aja. Tapi kamu itu berarti benget buat dia” ujar Nurfa, “Jadi nggak beda sama masalah kita berdua tadi. Kita ini saling salah paham aja. Aku juga nggak suka kalau kita kepecah-pecah karena salah paham. Selagi ada waktu aku ingin kita lurusin ini semua.”
“Sepertinya saking ruwetnya masalah kita berdua, gue nggak yakin kalau gue bisa berteman lagi sama John Lew..”
Rifa tak bersuara begitu lama. Dia agak ragu menanyakan hal ini kepada Nurfa. Tapi pada akhirnya dia pun bertanya untuk meyakinkan hatinya.
“Nurfa, jujur.. Elo suka sama John Lew, kan?” meskipun debaran jantung Rifa tak kunjung berhenti saat mengatakannya. Dia bahkan hamper membanting ponselnya. Tapi dia berusaha sekuat tenaga mendengar jawaban Nurfa meskipun dia terlihat seperti cacing kepanasan di atas kasur.
“Kayanya aku sudah pernah jawab pertanyaan dengan tema serupa, deh.. Iya, sih, aku suka sama dia.. Sebagai fans.. Karena aku ngeship hubungan kalian berdua dan..”
“Bukan dari sudut pandang fujoshi maksud gue.. Tapi dari sudut pandang cewek kepada cowok. Maksud gue lo suka dia sebagai seorang cowok, kan? Dia ganteng, kaya, tinggi dan juga lebih nyaman diajak komunikasi.. dari pada gue..” ujar Rifa membuat Nurfa diam membisu.
“Sebenarnya kalian ada masalah apa, sih?” tanya Nurfa dengan nada suara yang pelan.
“Ah, udah lah, Nurfaa! Gue sepertinya bukan teman yang cocok buat John Lew. Dia lahir di keluarga yang jauh lebih kaya dari gue. Dia juga punya visual yang lebih bagus dari gue. Dia jauh lebih unggul dari segi apapun di bandingkan bayangan kaya gue. John Lew pasti jauh lebih baik tanpa gue” ujar Rifa akhirnya mengatakan semua uneg-uneg yang mengganjal hatinya.
Jika Nurfa berada di sana dia ingin mengusap punggung Rifa. Gadis ini hanya bisa terdiam di telepon dan menghelah napas berat.
“Gue cuma sampah yang hanya bisa iri sama apa yang dia punya. Sebaiknya kita nggak uasah saling kenal satu sama lain” ujar Rifa lagi.
Nurfa bersandar di tempok tempat tidurnya sambil menyandarkan pipinya ke dengkul rampingnya. Mengetahui apa yang Rifa rasakan membuat Nurfa berpikir keras bagaimana caranya meluruskan kesalah pahaman ini.
“Sebenarnya..” Nurfa mulai bersuara, “John Lew itu memang cowok yang berbeda banget. Keberadaannya kaya cowok-cowok tokoh utama yang ada dalam komik. Dikasih kesempatan untuk berteman sama dia memang kaya mimpi. Tapi jujur aja dia bukan tipeku..” ujar Nurfa membuat Rifa cukup terkejut.
“Terus tipe cowok lo seperti apa?” tanya Rifa penasaran.
“Yang ahli agama, tipe cowok sholih” ujar Nurfa membuat Rifa langsung ciut percaya dirinya.
“Keluargaku termasuk kalangan yang sangat religius. Jadi kalau masalah pasangan pasti agama yang lebih utama. Jadi bertolak belakang banget sama John Lew. Dia meskipun ganteng tapi kan berbeda keyakinan. Jadi nggak mungkin masuk kriteria. Udah gitu dia cowok intimidatif yang sering usil” setelah sadar apa yang dia katakana Nurfa membuka mulutnya, “Astagfirullah hal adzim.. jadi gibahin orang, deh.. Astagfirullaaah!”
Rifa jadi tertawa terbahak-bahak akan kepolosan Nurfa. Dia merasa memang rasa kesalah pahamannya pada John Lew juga salah. Sayangnya karena apa yang sudah dia katakan dia masih pesimis untuk meminta maaf kepada sahabatnya sejak kecil ini.
“Gue sebenernya menyesal sama perkataan gue tadi ke dia. Kita bener-bener berantem saat itu, Nurfa. Berbeda sama berantem kita yang biasanya. Ya, kayanya hari ini John Lew bener-bener marah, deh.. Gue jadi bingung gimana mulai untuk minta maaf kedia juga” ujar Rifa.
“Begitu, ya..” sebenarnya Nurfa ingin sekali membantu mereka. Hanya saja Nurfa bingung dan belum mengerti dengan jelas apa yang mereka ributkan. Dan seandainya jika gadis ini tahu bisa jadi pertemanan mereka akan benar-benar bubar.
“Nggak papa.. pelan-pelan aja. Yang penting kamu harus nenangin diri kamu dulu. Nanti kalau kamu siap aku akan dukung kamu untuk segera baikan lagi sama suami kamu” ujar Nurfa.
“Apa nggak ada hal penting di hidup lo itu selain ngeship kita berdua, hah?” ujar Rifa kesal.
“Kalau ada couple lain yang lebih hot mungkin” ujar Nurfa membuat Rifa tertawa.
“Dasar Fujoshi” Rifa tertawa meskipun sedang mengutarakn kekesalan di hatinya.
Gadis ini memang mampu menenangkan hatinya. Semakin hari dia mengenal Nurfa, semakin bertambah rasa suka yang dia miliki kepada gadis itu. Memang dia harus berhati-hati agar tidak terlihat obsesif jika tidak ingin gadis ini manjauh.
“Cowok yang sholih, ya.. Gue aja sholat jarang.. Gimana dia bisa ngelirik gue..” gumam Rifa dalam hati, “Gimana kalau mulai besok gue mulai sholat, ya..” batin Rifa berkata demikian.