Usai berkeliling dengan adiknya untuk mencari tempat les, John Lew begitu amat penat. Dia langsung merubuhkan tubuhnya kekasur sampai Si Mama cantiknya datang sambil menyandarkan lengan di kusen pintu kamarnya.
“Kak, sepatunyaa..” tegur Si Mama.
“Sorry” John Lew langsung duduk di tepi kasur dan melepas sepatunya.
“Cepet ganti baju, cuci kaki.. Ada yang mau Mama sama Papa omongin” ujar si mama lalu beranjak pergi.
John Lew menghelah napas berat. Apa lagi yang harus dia hadapi kali ini? Dia segera mengganti pakaiannya dan mencuci kakinya. Papa dan Mamanya sedang berdiskusi dan menunggunggunya di meja makan. John Lew menghampiri mereka dengan pasrah. Dia yakin jika dia akan di ceramahi lagi seharian ini meskipun kondisi mental dia sekarang sedang down.
“Ayo duduk sini, kak” Si Mama meminta putra sulungnya ini duduk di sisinya.
John Lew duduk dengan ekspresi wajah yang tampak lelah dan pasrah. Si Mama bangkit dari kursinya dan berjalan lalu berdiri dibelakang John Lew, lalu memijat bahu putranya. John Lew cukup heran kenapa mamanya mendadak memanjakannya begini.
“Aduh, makin besar aja anak Mama ini.. lihat nih, Pa.. Bahunya kakak udah selebar ini kaya bahunya Papa dulu masih muda” ujar Si Mama.
“Enggak lah, Ma! Anak papa ini jauh lebih ganteng dari pada papa dulu” ujar si papa sambil terkekeh bangga.
John Lew merasa aneh. Situasi seperti ini baru kali ini dia temui. Jika orang tuanya mengajakanya bicara dia tak pernah sekalipun dapat sanjungan seperti ini. Pasti omelan berjam-jam yang membuatnya lelah meskipun dia hanya diam mendengarkan.
“Jadi.. Ada apa, Ma, Pa?” tanya John Lew heran.
“Emmhh?” Mama dan Papanya justru memasang wajah penuh tanya.
“Maksud Papa sama Mama manggil kakak buat ngobrol. Kira-kira ada perlu apa, ya?” tanya John Lew menjelaskan.
“Ooohh, Papa sebenernya kepingin ngobrol santuy aja sama Kakak. Apa nggak boleh? Apa Kakak repot karena ada tugas sekolah?” ujar Si Papa.
“Nggak kok.. Cuma capek aja habis keliling sama Allen nyari tempat les” ujar John Lew.
“Jadi, besok kalian udah fix ikut les untuk persiapan UN, kan?” tanya Si Mama memastikan kinerja anak-anaknya.
“Allen memang daftar les untuk UN, Ma” ujar John Lew.
“Kalau kakak gimana?” tanya si Mama.
“Kakak ikut les SBM-PTN” jawab John Lew.
“Oh, bagus..” Si Papa dan Si Mama menyanjung putranya lagi.
“Gini, Kak.. sebenernya apa Kakak ini punya plan setelah lulus nanti yang mungkin kepingin Kakak omongin ke Papa sama Mama?” tanya Si Papa.
“Sebenernya…” John Lew agak ragu-ragu, “Belum ada rencana sampai kesitu, sih, Pa.. Tapi Kakak kepingin kuliah agak jauh aja..” ujar John Lew.
Si Mama berhenti memijat dan kembali duduk di kursinya mendengar putranya berbicara.
“Kira-kira kemana? Ke Australia?” tanya Si Papa.
“Ya, nggak sebegitunya juga, sih..” ujar John Lew mengusap tengkuk lehernya.
“Jadi, maksud Kakak apa?” tanya Si Mama menegaskan omongan John Lew yang mengambang ini, “Mama tadi pagi kepikiran terus sama omongannya Rifa. Kayanya kamu itu memang punya rencana untuk sekolah di luar negeri. Meskipun Rifa itu ngomongnya cuma bercanda..”
“Memang dia bercanda, Ma” ujar John Lew membuat mamanya menatapnya serius.
Mamanya menghelah napas berat. Si Papa mengusap lengan istriya agar bisa lebih mengendalikan emosinya.
“Kakak nggak perlu risau begitu. Nggak papa kalau kakak mau cerita. Sebenarnya apa yang mau kakak rencanakan untuk masa depan kakak. Kalau kakak mau cerita dan diskusi ke kita Papa akan support rencana kakak ini” ujar si Papa memberikan motivasi, “Dulu pas kamu ikut olimpiade biologi, papa masih inget kalau kamu sebenernya ingin belajar lebih dalam tentang itu.”
John Lew terdiam. Dia bahkan lupa dia pernah berkata apa. Dia berusaha mengingat-ingat. Dulu memang saat masih kelas satu dia begitu semangat sekali untuk belajar. Terutama pelajaran biologi ini. Dia begitu suka belajar hingga sekarang motivasi belajarnya berkurang drastis saat dia di kelas tiga.
“Dulu memang Kakak kepingin belajar hal itu. Tapi nilai Kakak sekarang agak turun jadi agak nggak yakin juga, sih, Pa..” ujar John Lew dengan nyengir seadanya.
“Terus Kakak maunya apa sekarang?” Si Mama kembali menegaskan.
“Ya, nggak kepingin apa-apa, sih.. Yang penting lulus sekolah aja” ujar John Lew.
“Nah, nanti kalau kamu kuliah… Masa Kakak nggak ada bayangan untuk ambil jurusan apa?” tanya Si Papa.
“Ya, lihat aja nanti Si Pa.. Kira-kira jurusan mana yang bisa nampung dengan nilai Kakak yang seperti itu..” ujar John Lew.
“Kakak!” Si Mama pun naik darah.
“Maa..” Si Papa mencoba menenangkan istrinya.
Si Mama memijat kepalanya, “Mama nggak habis pikir! Sebenernya apa sih yang kamu kejar? Kamu itu sudah besar! Harusnya tahu apa yang kamu prioritaskan! Nggak hidup setengah-setengah begini! Mlengca mlengce nggak ada pendirian! Memang apa sekarang yang kamu jadiin prioritas, hah? Kegiatan OSIS kamu itu? Kamu dapet apa ngutamaain kegiatan kamu itu?!”
John lew terdiam dengan mata tertuju kebawah. Tangannya bergetar menahan emosi sekuat tenaga. Dia sangat ingin mengatakan apa yang dia rasakan selama ini. Tapi dia juga takut untuk mengambil resiko tersebut.
“Kenapa malah diem aja?! Jawab, Kak! Jawab yang tegas kamu itu sebenernya maunya apa?!” desak Si Mama.
“Ma, udah Ma.. nggak bisa kalau begini cara komunikasinya!” tegur Si Papa.
“Terus Mama maunya apa?” John Lew tiba-tiba menyeletuk seperti itu.
“Hah, kok malah Mama?” Si Mama tampaknya tak mau di persalahkan.
John Lew yang selama ini menahan dirinya agar tetap menjadi anak yang bebas dari konflik dari orang tuanya kini pun menarik dalam napasnya. Dia pun hilang akal sehat karena kelelahan dan kondisi mentalnya yang down.
“Iya! Sebenernya mau Mama itu apa?!” seru John Lew sampai urat lehernya menonjol, “Kakak dari dulu memang suka belajar Biologi. Tapi karena nilai Matematika Kakak jeblok, Mama justru memaksa kakak untuk lebih fokus belajar Matematika dari pada Biologi! Kakak selama ini berusaha kok, Ma! Kakak udah berusaha belajar dengan giat, tapi memang nilai yang kakak dapat nggak bisa sebagus nilai yang di dapat Rifa! Mama selalu mengira kakak nggak pernah belajar! Mama selalu bilang kalau kakak nggak berusaha mati-matian seperti Rifa! Padahal Rifa juga nggak selalu belajar terus kalau dia punya waktu luang! Iya, dia memang pinter! Dia memang jago di banyak mata pelajaran! Dan kakak juga sudah berusaha, Ma! Meskipun begitu susah kalau mama jadikan Rifa sebagai orang yang harus kakak tandingi! Kakak sudah belajar jauh lebih rajin dari Rifa tapi nyatanya nggak bisa menandingi dia! Sekarang mama kepingin kakak belajar Biologi setelah kakak lulus?! Dengan nilai Biologi kakak yang udah terjun payung itu?! Kakak juga nggak tahu apa ada universitas yang akan nerima Kakak! Tapi nggak papa, Ma! Kakak juga akan berusaha! Meskipun Mama nggak akan pernah bisa menghargai kerja keras Kakak selama ini!”
John Lew pun akhirnya meluapkan semua emosi yang dia pendam. Si Mama terngaga dengan perkatakaan putranya ini. John Lew akhirnya tak bisa mengendalikan diri. Dia berlari mengambil kunci sepeda motornya lalu pergi meninggalkan rumah. Dia mendengar kedua orang tuanya memanggilnya dari jauh. Tapi dia menghiraukannya. Air mata merembes begitu deras sehingga mengaburkan pandangannya. Dia melajukan sepeda motornya begitu jauh. Tanpa arah yang jelas. Hingga dia rasa dia sudah pergi begitu jauh dia sadar bensin di sepeda motornya sudah menipis. Dia tidak membawa dompet maupun ponsel. Dia juga masih gengsi untuk pulang kerumah. Akhirnya dia memarkirkan sepedanya di taman bermain anak-anak. Dia duduk di sebuah ayunan menonton anak-anak di sana sedang main badminton di malam hari.
John Lew melamun kembali mengingat apa yang dia katakan kepada mamanya. Lalu memukul kepalanya sendiri.
“Dasar b**o!” geramnya pada dirinya sendiri.
John Lew tak kuasa menahannya lagi. Air mata terus merembes mangaliri pipinya. Dia terus mengusapnya hingga matanya lecet. Dia ingin sekali berhenti menangis. Tapi dia tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Dia sedang berada di puncak stressnya. Meskipun dia sendiri malu jika orang lain melihatnya. Tapi semakin dia tahan dadanya semakin sesak.
Dia merasa ada seseorang yang menepuk-nepuk lengannya. Saat dia membuka mata dia melihat ada sepasang anak kecil kira-kira berusia lima tahunan. Mereka anak kembar laki-laki perempuan dengan mata bulat lebar memandangnya dengan tatapan iba. John Lew kembali kealam rasionalnya. Dia mengusap air matanya mengeringkan wajahnya.
“Mister, good evening!” Si Anak Laki-laki mengajak John Lew bicara, “My name is Fa’iz and this is my sister Fa’izah! Nice to meet you, Mister” mereka berdua mengenalkan diri dengan sopan.
John Lew tidak heran, jika orang lain belum mengenalnya pasti akan mengajaknya bicara bahasa Inggris. Karena anak-anak ini sangat sopan dan lucu John Lew jadi terhibur dengan kepolosan mereka.
“Nice to meet you too” jawab John Lew.
“Mister what is your name?” tanya si anak perempuan Fa’izah.
“Oh, My name is John Lew” John Lew memperkenalkan diri kepada mereka.
“Ohh..” si anak kembar begitu bersemangat untuk bertanya lagi.
“What are you crying, Mister?” tanya Fa’iz.
“Heh, kok pakai what? Salah, Iz! Harusnya pakai why!” ujar anak perempuan menegur.
“Salah Izah! Pakai what! Bu guru ngajarinnya begitu!” Si Fa’iz bersi keras.
“Nggak! Pakai why!”
Kedua anak kembar ini pun bertengkar dengan ekspresi yang begitu imut dan lucu. John Lew jadi tertawa dibuatnya.
“Yang bener pakai why” ujar John Lew pada mereka berdua.
“Tuh, kan!” Fa’izah begitu senang karena dia benar. Tapi mereka juga heran ternyata Mister yang mereka ajak bicara ini bisa pakai Bahasa Indonesia.
“Heehh! Ternyata mister bule bohongan, ya!” Fa’iz merasa tertipu.
“Hush, astagfirullah! Nggak sopan memfitnah orang!” Fa’izah menegur saudaranya, “Maaf, ya Mister..” si Fa’izah menghaturkan maaf dengan sopan.
“Iya, Mister maaf” Fa’iz merasa bersalah juga ikut minta maaf.
“Nggak papa, kalian mau main ayunan, ya? Maaf, ya. Kalian boleh pakai main, kok” ujar John Lew menawarkan ayunan yang dia duduki.
“Nggak, kok.. Kita cuma kasihan karena tadi Mister nangis. Jadi mau kita temenin” jelas Fa’izah.
“Iya biar kita bisa nangis bareng-bareng karena kita di tinggal sama Mbak pas beli kue” ujar Fa’iz.
“Oh begitu rupanya.. Eh?” John Lew baru sadar, “Eh, anak ilang rupanya..”
Kedua anak kembar ini jadi ingin menangis karena mengingat mereka terpisah dari kakak perempuan mereka. John Lew jadi panik. Dia merangkul anak-anak itu.
“Udah nggak usah sedih. Kita main bareng di sini, ya.. Bentar lagi nanti Mbaknya bakal dateng nyariin” ujar John Lew.
Mereka bertiga pun akhirnya bermain. Mereka main beberapa permainan yang ada di taman tersebut. Saking serunya mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak dan melupakan masalah mereka. Sampai akhirnya mereka mendengar sayup-sayup suara perempuan yang sedang menyerukan nama kedua anak yang John Lew asuh ini.
“Fa’iz! Izah! Kalian dimana?!”
Kedua anak kembar ini begitu bersemangat. Mereka segera keluar dari taman bermain dan akhirnya bertemu dengan mbak yang sudah meninggalkan mereka.
“Mbak Fiaaa!!” seru anak-anak ini berlari kepangkuan mbak mereka.
“Astagfirullah hal adzim! Kalian ini kemana aja, sih!? Mbak lengah dikit nyari dompet udah hilang! Nanti nggak mbak ajak beli kue lagi loh ya kalau nakal begini” omel Si Mbak.
“Maaf!” Si Kembar menyadari kesalahannya dan minta maaf.
John Lew tampak begitu familiar dengan suara dan penampilan Si Mbak ini. Hingga Si Mbak ini menampakan wajahnya dan bersitatap dengannya.
“Eh, Nurfa?”
“Ketua?!”
Mereka berdua pun bertemu tanpa di sangka-sangka. Si Kembar menjelaskan jika saat mereka kesasar John Lew sudah menjaga mereka berdua. Nurfa sangat berterima kasih kepada John Lew. Mereka pun kembali ketaman untuk mengobrol dan menjaga Si Kembar bermain sambil menyantap kue yang barusan Nurfa beli.
“Jadi, kamu ini empat bersaudara?” tanya John Lew.
“Lima bersaudara. Aku masih punya adik perempuan yang sekarang kelas 1 SMP” ujar Nurfa.
“Wah” John Lew takjub, “Orang tua kamu rajin produksi juga, ya.”
“Hush, enak aja kamu ngomong” pipi Nurfa jadi merah merona karena malu, “Sebenernya aku itu bisa aja cuma tiga bersaudara. Tapi pas aku kelas dua SMP kebetulan aja mamaku hamil lagi. Dapet kembar lagi..”
“Ya, nggak kebayang juga, sih. Aku aja tiga bersaudara udah rame banget. Apa lagi lima?” ujar John Lew.
“Oh iya, ngomong-ngomong rumah kamu di sekitar sini?” tanya Nurfa, “Kok kita jarang banget papasan, ya..”
“Rumahku nggak di sekitar sini, kok..” ujar John Lew. Dia baru sadar kalau dia habis melarikan diri dari rumah.
“Terus kamu ngapain disini?” tanya Nurfa.
“Ya, main aja. Emang nggak boleh?” tanya John Lew.
“Boleh, sih” ujar Nurfa.
Mereka pun jadi diam tak ada bahasan lagi. Hingga akhirnya adik-adik kembar Nurfa yang menengahi kesunyian diantara mereka.
“Mister! Ayo main enjot-enjotan lagi!!” seru Fa’iz dan Fa’izah menunggu di sisi permainan tersebut. Kedua bocil ini tampak antusias untuk bermain sehingga mereka mengawali untuk naik terlebih dahulu.
“Eh, tunggu dulu! Jangan buru-buru naik! Bahaya!” seru John Lew berlari menghampiri mereka. Dan benar saja. Karena terburu-buru tangan Fa’izah terjepit. Gadis kecil itu menangis begitu kencang.
Nurfa yang awalnya duduk hendak melahap kue putu yang dia beli jadi berlari ketempat prahara tersebut. John Lew memeluk Fa’izah dan meniup jari kecil gadis itu yang barusan terjepit. Faiz diam menyaksikan dengan wajah amat merasa bersalah.
“Fa’iz! Kenapa lagi ini?” ujar Nurfa membuat adik kecilnya tersentak.
“Aku nggak ngapa-ngapain.. Tadi tadi.. Tangan Izah dibawah.. Aku ngga lihaatt.. Huwaa” si Fa’iz pun ikut menangis.
Kedua remaja ini hanya bisa menghelah napas panjang. Lalu menghibur kedua bocah ini agar bisa reda dari kesedihan mereka.
“Udah, cup cup cup.. Nggak papa” ujar Nurfa menenangkan Fa’iz yang ada di pelukannya.
“Mbak Fia tangan Izah sakit, loh!” ujar Fa’izah mengadu ke kakaknya.
“Iya, cup cup.. Nggak papa” ujar Nurfa meniupi jemari adik perempuannya, “Fa’iz lain kali kamu harus hati-hati, ya, kalau main. Dengerin orang lain ngomong dulu. Kalau di bilang tunggu ya harus sabar” ujar Nurfa menasehati Fa’iz.
“Iya” ujar Fa’iz masih mengisak.
“Nah, sekarang minta maaf sama Izah” ujar Nurfa.
Kedua saudara kembar itu pun bermaafan dengan sangat imut. Mereka berdua saling mencium punggung tangan saudaranya secara bergantian. Menggemaskan sekali sehingga membuat yang melihat luluh hatinya.
“Fa’iz lain kali kalau ada masalah jangan langsung nangis, ya. Sebegai laki-laki kamu akan jadi calon imam, jadi harus bisa lebih tegar..” ujar Nurfa menegur adiknya.
“Tadi Mister nangis juga, kok! Mister kan juga laki-laki, kan!” ujar Fa’iz membuat John Lew tercekat.
“Nggak, aku tadi cuma kelilipan debu aja habis main ayunan” ujar John Lew menyangkal.
“Iya, tadi Mister nangis sendirian di ayunan lama banget” tambah si Fa’izah.
“Heehh, di bilangin nggak percaya!” John Lew jadi malu bocah-bocah ini mengadukan hal ini kekakaknya.
Nurfa memperhatikan John Lew dengan seksama, “Oh, pantes mata ketua kelihatan agak bengkak” ujar Nurfa.
“Di bilangin karena kelilipan, kok” ujar John Lew meyakinkan Nurfa yang memandangnya curiga.
Nurfa tersenyum lalu menghelah napas panjang, “Ketua kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa, kok. Aku juga nggak akan tanya” ujar Nurfa.
Nurfa sendiri sudah tahu jika John Lew bukan cowok yang mudah menyampaikan keluh kesahnya meskipun dia sedang dalam kesulitan. Jadi Nurfa memutuskan untuk tidak mengganggu privasi temannya ini.
“Sebenernya..” karena mendadak John Lew mau bercerita, Nurfa jadi bersemangat, “Pas aku sepeda motoran tiba-tiba aku kesasar kesini. Pas sadar ternyata bensinku udah mau habis. Terus aku lupa bawa dompet sama HP. Jadi sekarang aku mau kekantor polisi melaporkan diri sebagai anak hilang” cerita John Lew membuat Nurfa tidak jadi shock.
“Ketua nggak bercanda, nih?”
“Ini serius” ujar John Lew.
Nurfa mengeluarkan dompet di sakunya, “Ya, nggak usah gitu juga, Nurfa. Nanti kalau udah puas cari angin aku pulang, kok!”
“Apa aku minta tolong Dila aja untuk nganterin pulang?” tawar Nurfa.
“Nggak usah, Nurfa.. aku masih belum mau pulang..” ujar John Lew pada akhirnya membuat Nurfa mengerti. Nurfa yakin karena ada masalah di rumah John Lew butuh ruang untuk menyendiri saat ini. Nurfa memilih untuk tidak ingin menguliknya lebih dalam agar temannya ini bisa menenangkan diri dari kekalutan hatinya.
“Kalau begitu ayo kita pulang. Udah malem, nanti umi nyariin” ujar Nurfa ke adik-adiknya, “Ayo Fa’iz, Fa’izah.. pamit dulu.”
“Kita pamit dulu Mister Ketua” ujar Fa’iz.
“Eh, Fa’iz nama Mister itu bukan Ketua tapi John Lew!” Fa’izah lagi-lagi membenarkan saudaranya.
“Tapi kok Mbak Fia manggilnya Ketua?” tanya si Fa’iz.
“Karena Si Mister ini teman sekelas Mbak di sekolah dan di sekolah dia jadi Ketua OSIS. Artinya dia ini jadi imam untuk siswa-siswa yang ada di sekolah Mbak” jelas Nurfa.
“Wow” adik-adiknya tampak sangat kagum.
“Fa’iz kalau sudah besar mau jadi Ketua OSIS!” ujar Fa’iz membuat Nurfa dan John Lew tertawa.
“Hehehe.. Kalau begitu semangat Fa’iz” ujar John Lew mengusap kepala bocah kecil itu, “Nurfa, aku anterin kerumah, ya?” ujar John Lew.
“Maksudnya kamu bonceng kita bertiga kerumah gitu?” Nurfa tentu hendak menolaknya.
“Ya enggak, aku ajak adek-adek kamu naik sepeda motor terus kamu ngikutin gitu di samping jalan kaki” jelas John Lew membuat Nurfa cemberut, “Kan nggak boleh bersentuhan sama yang bukan mahrom. Ya kan?”