Mereka pun pulang kerumah dengan memakai ide John Lew itu. Sepanjang jalan mereka bisa bercanda tertawa riang hingga mereka sampai di rumah. Ayah Nurfa yang sedang bersantai di teras rumah jadi heran anak-anaknya kembali diantar cogan. Dia berdeham begitu keras saat mereka sampai di depan rumah.
“Malam, Om..” sapa John Lew.
“Malam juga” jawab Ayah Nurfa.
“Assalamu’alaikum, Abi” putra dan putri Si Ayah juga mengucapkan salam dan mencium tangan ayahnya saat mereka masuk kedalam rumah.
“Wa’alaikum salam.. anak-anak Abi udah pulang” Si Ayah begitu girang anak-anaknya kembali.
Abi Nurfa ini tampaknya tidak terima jika anak gadisnya berduaan dengan laki-laki bukan mahrom. Setelah mengantarkan anak kembarnya masuk dia kembali muncul di teras. Melihat putrinya yang masih berdua dengan cogan yang pulang bersamanya.
“Nurfa mau ngomong bentaaar aja” ujar Nurfa memohon pada ayahnya.
“Oke, Abi tungguin disini” ujar si abi dengan pura-pura cuek.
Nurfa menghampiri John Lew yang sedang bersandar di jok sepeda motornya. John Lew menaiki sepeda motornya lagi.
“Aku pamit dulu, ya” ujar John Lew.
“Ketua memang habis ini mau kemana?” tanya Nurfa tertawa.
“Paling ketaman yang tadi” ujar John Lew.
Sebenarnya banyak hal yang ingin mereka obrolkan. Hanya saja John Lew sungkan berlama-lama dengan Nurfa karena Si Ayah yang mengawasinya begitu ketat.
“Ketua apa waktu pulang sekolah tadi Ketua sama Rifa berantem lagi?” tanya Nurfa.
John Lew mengendurkan senyuman di bibirnya, “Kenapa? Rifa ngadu ke kamu?”
“Nggak, aku nggak sengaja dengar aja dari dia. Jadi aku nggak ngerti lebih jelasnya hubungan kalian seperti apa. Tapi dari apa yang Rifa rasakan sepertinya dia bisa begitu karena punya rasa iri dengan keadaan ketua yang menurut dia ketua ini jauh lebih beruntung ketimbang dia.”
“Ya, memang begitu keadaannya” John Lew tampak tak heran dengan hal itu, “Dan lucunya aku juga ngerasain hal yang dia rasakan juga. Aku merasa gagal seketika karena aku nggak bisa seperti dia. Seperti yang aku pernah bilang ke kamu. Kita berdua ini sebenernya nggak ada kecocokan. Keberadaan Rifa benar-benar mengintimidasiku dan begitu juga sebaliknya. Tapi herannya kita masih berteman hingga sekian lama. Kalau ada waktu dimana kita bisa berantem seperti ini tentu aja ini pertanda kalau kita harus mengakhiri hubungan pertemanan yang toxic ini selamanya” ujar John lew.
Nurfa tampak begitu sedih, “Yah, padahal aku ngedukung banget hubungan kalian” ujar Nurfa kecewa.
“Sorry, Nurfa” ujar John Lew sambil mengangkat bahunya.
“Tapi kalian kan juga kerja bareng di OSIS, apa nggak aneh kalau kerja bareng tapi masih berantem begitu?” tanya Nurfa.
“Kalau kerja ya kerja aja, Nurfa” ujar John Lew.
“Apa nggak bisa kalian bicara baik-baik dulu sebelum memutuskan mau melanjutkan hubungan rumah tangga apa enggak?” tanya Nurfa.
“Kalau itu kayanya susah, deh.. lagian kenapa jadi hubungan rumah tangga?” heran John Lew membuat Nurfa tertawa.
“Bisa jadi mungkiiinn.. Rifa juga merasa bersalah sama apa yang dia katakan ke kamu” jelas Nurfa.
“Ya, mungkin, sih.. Tapi dia kan gengsi banget. Jadi nggak mungkin minta maaf. Oh iya? Menurut kamu aku itu kelihatan terlalu sering godain kamu, ya?” tanya John Lew.
“Iya, sering” Nurfa menjawab tanpa basa-basi, “Tapi kayanya ketua emang suka begitu, deh, sama anak cewek. Sampe adek perempuannya jengkel nulis kata-kata kotor di jaket kulit ketua.”
“Kalau begitu, maaf, ya Nurfa.. Tapi kamu nggak baper, kan?” tanya John Lew lagi.
“Udah biasa juga, kok.. Jadi nggak baper kaya dulu” ujar Nurfa.
“Jadi dulu kamu sempet baper, ya” John Lew jadi terkekeh.
“Iya, bahkan sampe mau nangis di usilin terus sama Ketua” ujar Nurfa blak-blakan.
“Hahaha..” John Lew jadi tertawa tebahak-bahak, “Ya, pantes aja..” gumam John Lew. Dia merasa pantas saja sahabatnya merasa cemburu karena Nurfa awalnya merespon candaan John Lew seperti itu. Tapi Rifa tidak tahu kalau semakin lama gadis itu juga semakin terbiasa dengan candaan itu dan menurut John Lew bisa saja Nurfa saat ini tidak memiliki ketertarikan kepadanya sebagai lawan jenis.
“Jadi, sebenernya kalian itu ngeributin apa, sih?” tanya Nurfa membuat John Lew tercekat.
John Lew hanya nyengir saja dan tentunya tidak ingin menceritakannya, “Ngomong-ngomong bukannya tadi kamu reunian sama temen kamu di sekolah yang dulu, ya?” dia mengalihkan pembicaraan.
“Iya!” mendadak Nurfa bersemangat untuk membahasnya, “Aku seneng banget, Ketua! Udah lama nggak ketemu mereka! Lain kali aku akan kenalin temen-temenku ke kalian berdua! Mereka itu seru banget” ujar Nurfa mengacungkan kedua jempolnya.
John Lew tertawa karena merasa lega gadis ini dengan mudah sekali di ajak ke pembicaraan lain, “Hmm.. boleh juga, tuh! Boleh, deh, lain kali ajak temen kamu main kesekolah kita” ujar John Lew.
“Oke, lain kali aku akan ajak mereka tur keliling sekolah!” ujar Nurfa.
“Jadi penasaran, deh, kira-kira mereka juga selucu kamu nggak ya pas aku ajak tur keliling?” ujar John Lew membuat Nurfa memanyunkan bibirnya. John Lew tertawa terbahak-bahak dengan reaksi itu. saat mendengar dehaman dari ayah Sang Gadis Hijaber, John Lew langsung terkesiap membekap mulutnya.
“Kayanya ayah kamu nggak kepingin kita ngobrol lama-lama, deh” ujar John Lew.
Nurfa menoleh ke Abinya. Si Abi sudah berisyarat dengan dagunya agar Si Gadis Hijaber segera menamatkan obrolannya. Nurfa memberi isyarat kepada Si Abi agar menunggunya sebentar lagi. Nurfa kembali menatap John Lew.
“Ketua, apa hubungan ketua sama ibunya ketua kurang baik karena ketua sering di banding-bandingin sama Rifa?” tanya Nurfa yang entah kenapa gadis ini bisa bertanya dengan mode polos tanpa filter. John Lew begitu heran, Nurfa selalu menunda apa yang ingin dia tanyakan karena masih memikirkan lawan bicaranya. Baru kali ini dia melihat Nurfa begitu agresif bertanya segela macam hal kepadanya tanpa memperhatikan kenyamanan lawan bicaranya.
John Lew hanya menghelah napas panjang dan memasang senyum lebar. Dia merasa kalah telak di hadapan gadis ini. Dia tak pernah bisa menutupi keresahan hatinya jika sudah berbicara dengan gadis hijaber ini. Padahal John Lew sangat membenci kekalahan ini. John Lew sangat benci jika di pandang lemah oleh siapapun. Tapi saat melihat sinar mata Nurfa, dia melihat tatapan gadis ini berbeda dari yang lainnya. Gadis ini tak memandangnya dengan rasa iba, tapi John Lew melihat kesedihan dari wajah gadis ini seakan-akan dia mengalami sendiri masalah yang John Lew rasakan. John Lew kembali berpikir mengapa Nurfa mengeluarkan reaksi seperti itu, dan John Lew teringat karena gadis ini juga pastinya menghadapi masalah yang pelik dengan keluarganya sebab dia di keluarkan dari sekolah.
Maka dari itu John Lew merasa mungkin Nurfa lah yang bisa menjadi tempat baginya untuk berbagi keluh kesah yang dia rasakan. Meski tidak mampu berkata-kata napas John Lew begitu berat. Dia kembali teringat kekonyolan yang dia lakukan beberapa jam yang lalu saat sedang berbicara dengan orang tuanya. Dia sampai sekarang masih begitu malu pada dirinya sendiri.
Nurfa tak banyak bertanya lagi setelah melihat kesusahan yang terlihat jelas di wajah John Lew, dia mengeluarkan dompetnya. Dan mengambil uang lima puluh ribu. Jari kecilnya menyelipkan uang itu ke saku hoodie John lew.
“Ya Ampun, Nurfa.. Apa-apaan, sih..” Saat John Lew hendak mengembalikan uang itu, Nurfa segera menjauh.
“Itu pinjeman buat beli bensin. Pokoknya Ketua harus pulang. Meskipun sekarang bisa jadi kondisi Ketua belum tenang. Tapi Ketua harus ingat orang tua Ketua pasti khawatir sekarang” Ujar Nurfa, “Bye bye, Ketua!” Nurfa segera menyingkir sejauh-jauhnya dan buru-buru kembali masuk kedalam rumah. Saat John Lew hendak mengejarnya, Ayah Nurfa berdeham keras membuat John Lew mati kutu. Dia pun tak berani melangkah lagi dan akhirnya menerima uang lima puluh ribu itu.
Seperti yang John Lew duga. Nurfa pun tak mengharapkan banyak jawaban dari John Lew, meskipun John Lew tak menceritakan semua permasalahan yang dia alaminya. Gadis itu langsung mengulurkan bantuan sampai membuat John Lew sendiri bingung dengan hal tersebut. John Lew merasa kecemasannya terobati karena kepolosan Gadis Hijaber ini.
Dia pun segera memutuskan untuk kembali kerumahnya. Entah apa yang akan dia hadapi nanti dia membayangkan semuanya saat dalam perjalanan pulang. Dia sedikit-sedikit berguman memikirkan jawaban yang mungkin akan orang tuanya tanyakan saat dia kembali. Dan saat kembali keluar dia merasa rumahnya begitu sepi. Memang hari sudah sangat malam. Dia pun masuk kedalam rumah perlahan agar dia membangunkan Si Tom anjing peliharaannya yang sedang tertidur pulas.
Pemuda ini masuk mengendap-endap dan akhirnya sampai kekamarnya. Dia mengira bisa jadi orang-orang di rumah semuanya sudah tertidur. Tapi karena John Lew belum pulang mereka tidak mengunci pintu rumah. Saat John Lew beristirahat dia mendengar suara langkah kaki mendekat kekamarnya. Dan seperti yang John Lew duga, Si Mama yang datang untuk bicara padanya.
Tatapan Si Mama tampak begitu serius. John Lew kembali merasakan sakit hati yang di pendamnya saat berhadapan dengan mamanya. Tapi dia sudah menyiapkan bekal sebelumnya. Dia duduk di tepi kasurnya dengan sikap siap. Si Mama duduk di sisi putranya. Wajah wanita itu tampak cemas tetapi juga lega karena pada akhirnya anaknya bisa kembali. Dia merangkul putra tertuanya ini. Sembari mengusap lengannya.
“Jadi, sebenernya kakak memang mau belajar Biologi?” Si Mama melanjutkan obrolan yang sempat terputus.
John Lew mengangguk perlahan. Si Mama menghelah napas panjang sambil menyedot cairan hidungnya dengan cepat. Dia kembali mengusap lengan putranya, “Maafin mama, ya, nak. Karena kebodohan mama dalam mendidik anak kamu jadi merasa tersiksa seperti ini” ujar Si Mama dengan suara yang berat.
Meskipun sebegitu bencinya dia dengan perlakuan mamanya. Tapi John Lew juga tidak ingin melihat mamanya bersedih seperti ini. Dia memeluk mamanya. Dan akhirnya tak bisa membendung lagi keresahan yang dia tampung. Dalam pelukan mamanya dia menangis sekali lagi. Hingga akhirnya ibu dan anak ini pun merasa tembok yang membatasi mereka mulai terkikis sedikit demi sedikit.
“Jadi, sebenernya cita-cita kakak itu apa?” tanya Si Mama.
“Sebenernya kakak juga udah nyerah sama cita-cita itu, Ma. Dulu kakak sebenernya kepingin jadi peneliti satwa yang tinggal di alam liar dan juga membantu pelestarian satwa langka juga” ujar John Lew.
“Terus kamu mau lanjut sekolah di Australia?” tanya Si Mama.
“Ya, enggak harus di sana juga, sih. Kakak sebelumnya tertarik aja sama beberapa perguruan tinggi di sana waktu ada pameran LPDP pas kakak ikut olimpiade Biologi dulu” ujar John Lew.
“Sekarang apa kakak masih mau sekolah di sana?” tanya Si Mama.
“Yaaa.. Kakak sekarang udah pasrah aja, Ma.. Besok juga kakak akan nerusin bisnis keluarga. Toh, di awal kelas tiga nilai kakak udah turun drastis. Kakak bingung harus mulai dari mana lagi, Ma..” ujar John Lew.
“Kak, Papa atau Mama nggak pernah minta kakak untuk menjadi penerus bisnis keluarga. Emang enak nerusin bisnis orang tua seperti papamu itu? Ujung-ujungnya Papa dan Mama ini malah di pandang masih bergantung sama orang tua. Nggak enak cari pekerjaan tapi orang tua yang menggaji. Memang hidup kita terjamin, Nak. Karena bebas dari resiko dan minim usaha. Tapi cobaan mental ya harus kita jalani seumur hidup. Entah itu asalnya dari saudara atau orang tua sendiri. Makanya, Papa sama Mama itu kepingin Kakak, Mary Lou, dan Allen juga untuk bisa menentukan hidup kalian masing-masing nantinya. Jangan contoh keputusan bodoh orang tuamu ini, Nak. Meskipun besok perjuangan kamu bisa jadi juga berat. Tapi karena kamu mengejar hal yang kamu sukai beratnya perjuangan itu bisa kamu nikmati” ujar si mama sembari membelai wajah putranya.
“Mama benar-benar bodoh memang. Karena tekanan dari keluarga yang bisa pamer akan kesuksesan anaknya Mama jadi punya rasa cemburu dan memaksa anak-anak mama untuk bisa melampaui anak-anak mereka itu. Kalau saja mama buntu telinga mama dan tutup mata mama ini tentunya mama bisa berpikir untuk kebahagiaan anak mama dengan lebih bijak..” ujar si Mama lalu mengambil tisu untuk membersit hidungnya.
“Kakak maafin, kok, Ma” ujar John Lew di sambut dengan belaian lembut dari ibunya.
“Mama juga ingin sekali ngebantu Kakak untuk memperbaiki nilai-nilai Kakak. Makanya mama kepingin Kakak ikut bimbel. Tapi Kakak justru malah lebih fokus ke OSIS” ujar Si Mama.
“Ma, sebenernya Kakak juga nggak terlalu mikirin OSIS juga, sih. Toh beberapa bulan ini bakal ada regenerasi anggota. Memang sih akhir-akhir ini Kakak kelimpungan karena temen yang biasa bantuin Kakak di OSIS itu yang satunya sakit dan yang satu lagi dia ikut pertukaran pelajar. Sebenernya mereka juga bentar lagi akan balik kekegiatan semula kok, Ma. Jadi kakak berusaha menghandle sementara pekerjaan mereka. Kan kakak nggak mungkin juga lepas dari tanggung jawab, Ma. Kakak janji kok setelah regenerasi anggota kakak akan belajar dengan giat” ujar John lew meyakinkan mamanya.
Jawaban penuh berbobot dari putranya ini membuat Si Mama sangat bangga. Dia mengecup kening putranya dan memeluknya erat, “Oke, sekarang mama kasih kakak kelonggaran untuk hal itu. Tapi inget! Kakak nggak boleh lagi setengah-setengah untuk mengejar mimpi kakak. Baik papa ataupun mama juga ingin kakak bisa sukses di jalan yang kakak pilih. Mama nggak akan lagi minta kakak pinter matematika. Kakak boleh belajar apapun yang kakak mau untuk menunjang cita-cita kakak” ujar Si Mama.
John Lew tersenyum begitu lebar. Dia amat bahagia saat ini. Hingga sesaat dia tersadar dan buru-buru mengambil ponselnya.
“Harusnya tadi Kakak rekam, tuh, kata-katanya Mama” ujar John Lew.
“Ih, ngapain sih, Kak?” Mamanya tidak setuju.
“Ya, siapa tahu setelah bangun tidur Mama berubah lagi kemode yang dulu!” ujar John Lew membuat mamanya gemas mencubit lengan putranya.
“Dasar Anak Bandel!”
Mama dan anak ini pun akhirnya bisa akur dan saling bercanda malam itu. John Lew langsung tertidur begitu lelap malam. Beban dan dia rasakan kali ini lenyap seketika. Dia pun mulai memimpikan rencana masa depannya yang begitu indah. Melihat wajah damai putranya yang tertidur begitu lelap membuat Si Mama amat bahagia. Dia memberikan kecupan lembut di kening putranya lalu menyelimutinya dan kembali kamarnya. Si Papa yang tampak begitu cemas menunggu hasil begitu berharap saat istrinya muncul di hadapannya. Istrinya tak banyak berkata. Dia meninju langit merayakan kesuksesannya kali ini. Si Papa memberi pelukan hangat, dia begitu bangga Si Istri berhasil memperbaiki hubungan dengan anaknya.
Esok paginya Rifa tak lagi kerumah John Lew untuk menjemput. Mereka berdua melakukan aktivitas mengantar adik mereka dan berangkat sekolah sendiri-sendiri. Meskipun sadar apa yang mereka ributkan ini konyol dan alay sekali, mereka sangat gengsi untuk minta maaf bahkan untuk sekedar untuk mengirim chat saja.
Ketika di sekolah Nurfa berpapasan dengan Rifa saat dia masuk kegerbang sekolah. Mereka berdua mengobrol bersama sepanjang jalan. Saat mereka dekat dengan ruang guru mereka berpapasan dengan John Lew yang tampaknya baru saja dari sana. Dia sedang serius membaca brosur yang di dapatkannya. Rifa awalnya cuek pura-pura sedang tidak melihat John Lew. Nurfa sendiri merasa tidak nyaman jika menyapa John Lew saat seperti ini. Gadis itu memperlambat langkahya agar bisa menyapa John Lew tanpa membuat Rifa merasa tersinggung. Tapi tiba-tiba saja John Lew yang angkat bicara terlebih dahulu.
“Rif, loe mau ikut ke kampus DW buat ikut sosialisasi, nggak?” tanya John Lew saat Rifa melintas di depannya.
Rifa yang sudah melangkah maju, mundur lagi, “Mau” jawabnya, “Kapan?”
“Nanti siang setelah pulang sekolah. Nanti berangkat pake mobilnya Pak Anton” ujar John Lew.
Mereka berdua pun akhirnya mengobrol dengan normal tanpa peduli kalau mereka sebenarnya sedang bertengkar. Nurfa merasa lega ternyata kekhawatirannya hanya berbuah sia-sia.
“Hai, Ketua!” Nurfa pun dengan berseri-seri menyapa John Lew yang tadi belum sempat dia sapa.
“Hai, Nurfa” sapa John Lew.
“Oh, iya, Nurfa loe mau ikut sosialisai juga nggak, di kampus DW?” Rifa mengajaknya.
“Bukannya yang ikut cuma OSIS aja?” tanya Nurfa.
“Nggak, bebas kok. Selain OSIS juga boleh ikut. Tiap sekolah maksimal bawa empat perwakilan. Kalau kamu senggang ikut aja nggak papa” ujar John Lew.
“Tapi, kaann..”
“Ayolah, lo nanti nyesel nggak ikut. Di kampus DW itu banyak banget yang jual makanan enak. Kita bisa jajan apa aja yang nggak bisa kita beli di kantin. Kaya seblak ceker, atau ayam buldak, pokoknya enek banget, deh” ujar Rifa.
“Oke, deh! Aku ikut!” Nurfa tiba-tiba saja begitu bersemangat.
John Lew dan Rifa jadi tertawa karena reaksi menggemaskan gadis ini. Baik John Lew atau Rifa sebenarnya mereka juga tidak bisa melupakan pertengkaran mereka. Tapi mereka sama-sama sepakat untuk menurunkan ego mereka agar Nurfa tidak lagi mencemaskan mereka berdua.