Seusai Bel pulang sekolah, John Lew, Rifa dan Nurfa sudah siap untuk berangkat. Mereka menunggu Pak Anton di ruang guru. Setelah guru itu siap mereka bertiga mengikuti Pak Anton dan naik mobil bersama.
“Bapak kira kamu cuma ngajak Rifa, John” kata pak Anton.
“Biar nggak sepi aja, Pak..” ujar John Lew.
“Maaf, Pak.. Saya juga sebenarnya nggak bermaksud buat ikut..” Nurfa tentunya merasa sungkan.
“Nggak papa, kok, Nak.. Ngomong-ngomong kamu murid baru pindahan dari Madrasah itu, ya?” tanya Pak Anton pada Nurfa.
“Iya, Pak.. nama saya Nurfa. Salam kenal, Pak” ujar Nurfa.
“Iya salam kenal juga.. Saya Anton Wali Kelas X-MIA 1, Guru Olahraga dan Pembina OSIS” Pak Anton juga memperkenalkan diri.
“Pak Anton ini suaminya Bu Wirda, Wali Kelas kita yang lagi cuti hamil” ujar Rifa menjelaskan.
“Oh, begitu rupanya..” Nurfa jadi tidak heran lagi mengapa John Lew dan Rifa bisa akrab juga dengan bapak ini.
“Ngomong-ngomong kondisi Bu Wirda gimana, Pak? Udah lahiran belum?” tanya John Lew.
“Belum, baru aja masuk sembilan bulan.. Paling dua minggu lagi” ujar Pak Anton, “Kenapa? Udah kangen, ya ama bu Wirda? Cie dasar anak bandel, istri orang di lirik-lirik..eaaa..”
“Cie guru gabut! Anak SMA di cemburuin” sahut Rifa di sahut 'eeaa' juga oleh pak Anton dan John Lew. Nurfa jadi ikut tertawa karena candaan mereka.
“Ngomong-ngomong temen kalian yang satunya lagi itu gimana kondisinya? Bapak denger udah selesai oprasi, kan?” tanya pak Anton.
“Maksud Bapak Si Aldi. Iya, dia bilang lewat chat memang udah selesai oprasi tapi belum sembuh total” ujar John Lew.
“Kalian nggak jenguk?” tanya Pak Anton.
“Kalau sekarang berhubung kita masih repot jadi nggak sempet, Pak. Tapi anak itu juga bilang nggak mau di tengokin” ujar John Lew.
“Beneran nggak mau di tengokin?” heran Pak Anton.
“Ya kira-kira begitu, sih jawaban chatnya dia” jelas John Lew.
“Wah, rajin juga ya elu chat-chat tan sama Si Aldi padahal lu bilang lu lagi repot” ujar Rifa.
“Ya serepot-repotnya masa tuh anak di kacangin, sih. Toh, temen kita juga..” ujar John Lew.
“Haahh..” mendadak Rifa menghelah napas berat, “Mudah-mudahan aja tuh anak masih lama sakitnya” justru Rifa mendo’akan hal jelek ketemannya itu.
“Astagfirullah, Rifa!” Nurfa mengelus d**a karena hal ini, “masa temennya di do’ain jelek-jelek” tegur si Nurfa.
Rifa jadi terkekeh, “Lo kan nggak ngerti anak yang kita bahas ini wataknya kaya gimana, kan? Tuh, anak bawel banget soalnya” jelas Rifa.
“Ya, itu soalnya Rifa emang nggak cocok aja sama orang yang suka nyerewetin dia” tambah John Lew.
“Tapi bukannya enak kalau temannya cepat sembuh? Kan bisa bantuin tugas kalian” ujar Nurfa.
“Dari pada kerja sama orang kaya begitu mendingan gue kerja sendiri aja” ujar Rifa, “John Lew kali yang butuh dia..”
John Lew tertawa, “Iya jelas laahh, gue udah kangen juga nontonin pergelutan kalian setiap hari..”
“Haahh, Dasar Psikopat..” celetuk Rifa membuat semua orang tertawa.
Melihat tawa Nurfa yang begitu ceria, Rifa jadi tidak tega untuk merusaknya. Karena pertengkarannya dengan John Lew yang belum usai, Rifa juga sangat malas untuk bisa bercanda seperti ini dengan John Lew. Hati Rifa memang masih panas. Meskipun dia tahu jika mereka hanya miskom. Rifa juga tidak mengupayakan inisiatif untuk berbaikan. Dia masih tidak rela jika mereka akur begitu saja.
Di sisi lain, John Lew mulai ke mode awas. Di mode ini dia memperhatikan tiap gerik lawannya dan juga melihat situasi yang ada. Dia tahu jika Rifa sedang mati-matian menekan emosinya. Inisiatif jahatnya entah kenapa muncul. Dia ingin membuat Rifa makin panas karena cemburu.
“Eh, hampir aja lupa. Aku mau ngembaliin uang yang aku pinjem kemarin” ujar John Lew lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dia menyodorkan uang lima puluh ribu kepada Nurfa.
“Nggak usah, Ketua! Aku ikhlas, kok..” ujar Nurfa menolak.
“Hee.. banyak juga, ya, uang kamu. Sampe lima puluh ribu aja ikhlas” ujar John Lew menggoda Nurfa.
“Ih, Ketua, nih yaaa!” Nurfa jadi kesal sampai memukul kursi mobil yang di duduki John Lew.
Dan saat John Lew mengawasi keadaan ternyata apa yang dia rencanakan berhasil. Rifa kembali memasang wajah serius mengamati mereka berdua.
“Nah, terus gimana aku bisa gantiin uang kamu yang aku pakai buat beli bensin tadi malem? Apa nanti mau aku anter pulang aja?” ujar John Lew.
“Nggak usah, makasih..” ujar Nurfa pura-pura dingin lalu mereka ketawa-ketiwi lagi.
“Ehh, cieee..” entah kenapa Si Pak Anton juga ikut-ikutan merasakan keuwuan anak muda di mobilnya, “John Lew, John Lew.. ada cewek baru di sekolah udah di apelin aja.. eeaaa” goda pak Anton yang entah kenapa membuat suasana jadi awkward. Nurfa jadi sadar dan malu jika kelakuan yang dia lakukan sudah kelewat batas. Sedangkan Rifa dia sudah menyimpan kemurkaan dan John Lew tampak begitu puas.
John Lew tidak akan berhenti, dia ingin membuat temannya meledak marah dan mempermalukan dirinya sendiri. Dia ingin membuktikan jika kecemburuan yang dia miliki saat ini akan benar-benar merugikannya. John Lew ingin Rifa sadar dan menyesal sudah menuduh dia tanpa dasar.
Rifa memang tampak kesal. Tapi dia pura-pura acuh. Meskipun banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Apa John Lew kemarin ke rumah Nurfa? Bagaimana dia bisa tahu alamat rumah gadis ini? Rifa gatal ingin bertanya. Dia menahan kecurigaannya sekuat tenaga agar Nurfa tidak merasa gusar.
Sesampainya di tempat tujuan John Lew ijin kekamar mandi terlebih dahulu. Rifa juga mengikutinya. Nurfa dan Pak Anton pun di tinggal sendirian.
"Mereka gimana, sih? Kok aku ditinggal?!" geram Nurfa dalam hati.
Sebenarnya Nurfa masih memiliki feeling tidak enak untuk membiarkan kedua temannya ini berdua saja. Dia tahu jika keduanya ini sebenarnya masih dalam hubungan yang tidak baik. Meskipun tadi mereka sempat mengobrol dengan luwes seperti biasa.
"Nak Nurfa mau pipis juga?" tanya pak Anton membuat Nurfa kaget dari lamunannya.
"Ehh.. enggak pak. Saya nggak beseran, kok" ujar Nurfa merasa canggung.
"Kasihan, ya jadi cewek. Dulu waktu bapak masih pacaran, pacar bapak pasti nggak suka di ajak jalan-jalan seharian. Tahu nggak yang di ributin itu dehidrasi. Padahal bapak nggak ngelarang pacar bapak minum pas jalan-jalan. Tapi dia bilang cewek itu ribet masalah toilet. Makanya kalau lagi di luar rumah mereka milih nggak makan dan nggak minum supaya nggak bolak-balik ketoilet" si pak Guru mengajak Nurfa bercerita agar gadis ini tidak bosan.
"Iya, tapi nggak papa, Pak. Nurfa udah biasa, kok. Soalnya udah sering latihan waktu puasa di bulan Romadhon" ujar Nurfa agak canggung.
"Iya juga ya.. hahahaha.." meskipun obrolan sudah cari tetapi suasana tetap canggung.
"Bapak udah kenal sama John Lew dan Rifa berapa lama?" sekarang Nurfa yang mengajak ngobrol.
"Ya, sudah lama juga. Mereka jadi anggota OSIS dari kelas satu" jawab Pak Anton.
"Terus selama itu mereka pernah berantem nggak, Pak?" tanya Nurfa.
"Aduh kalau berantem ya kaya tadi itu, Nak Nurfa, cuma debat biasa tapi kedengarannya malah kaya bercanda. Mereka memang gitu, suka nyindir-nyindir nimpal kata-kata sinis tapi habis itu ketawa bareng lagi" jelas Pak Anton, "Emang ada apa, sih? Bapak jadi kepo, deh? Apa mereka sebenernya lagi berantem, nih?" Pak Anton justru sangat kepo.
"Sebenernya berantemnya kemarin. Tapi sekarang di depan Nurfa kaya nggak ada apa-apa. Akur-aku aja. Cuma Nurfa masih khawatir karena kayanya berantem mereka kali ini serius, Pak. Nggak kaya biasanya cuma bercanda. Nurfa jadi kerasa di prank Pak sama mereka hari ini. Sebenernya mereka berantem nggak, sih?" jelas Nurfa.
"Ooohh" Pak Anton tampak serius mendengarkan, "Kok berantemnya kaya suami istri yang tinggal di rumah mertua, ya? Adem di luar panas di dalem.. Eeaaa" dan si pak Anton berkelakar lagi dan membuat Nurfa tertawa cekakakan.
"Emang berentemnya suami istri kaya begitu, Pak? Curhat, nih, Pak?" sahut Nurfa membuat suasana tawa riuh lagi.
"Aduh anak muda.. Ada aja yang di berantemin" ujar Pak Anton, "Kamu maklum lah Nurfa. Anak cowok itu memang sering silang pendapat sama temen cowoknya. Kadang anak cowok itu nggak ada sungkannya ngomong hal jelek tentang temannya di depan muka temannya sendiri. Makanya mereka suka berantem. Tapi tenang.. setelah itu bakal temenan lagi, kok. Bahkan makin akrab. Itu karena mereka masih muda. Kalau udah tua ngomongnya di belakang, Nurfa" ujar Pak Anton membuat Nurfa kembali tertawa.
"Emang biasanya anak cowok itu berantem seputar apa, sih, Pak?" tanya Nurfa.
"Biasanya ya.. rebutan cewek" ujar Pak Anton menaik turunkan kedua alisnya.
"Hah..?" Nurfa berusaha mencernanya, "Kayanya nggak make sense, Pak, sama kasus ini.." ujar Nurfa.
"Ah, masa.. Emang mereka cerita apa loh ke Nak Nurfa tentang penyebab masalah mereka berantem?" tanya Nurfa.
"Nggak ngejelasin, sih Pak.. Tapi mereka bilang kalau mereka cemburu sama keunggulan satu sama lain dan akhirnya toxic relation ship. Tapi pemicunya pasti ada itu pak sampai akhirnya mereka bisa berantem" ujar Nurfa.
"Uhh... justru make sense itu, Nurfa. Cowok itu ya mulai insecure kalau ada masalah sama cinta" ujar pak Anton.
"Hah, masa?"heran Nurfa.
"Kalau Nak Nurfa kepingin tahu lebih jelas seputar ini bapak kenal sama alumni sekolah kita yang sekarang kuliah disini jurusan Psikologi. Nanti kamu bisa curhat soal temen kamu ke mbak itu. Dia kebetulan ngurus acara workshop hari ini, loh. Orangnya itu cantik banget. Bapak kenalin sekarang mau?" yang terakhir tampaknya pak Anton sangat bersemangat.
"Oohh.. boleh pak kayanya. Dari pada gabut nungguin mereka pipis lama banget" ujar Nurfa.
Nurfa dan pak Anton pun memutuskan untuk keluar dari mobil. Pak Anton mengabari pada kedua cowok itu kalau mereka akan ketempat sosialisasi duluan.
Di toilet John Lew yang ingin mencuci tangan setelah pipis mendapatkan tatapan tajam dari Rifa. Seperti biasa dengan sikap tenangnya John Lew menanggapi dengan senyum sarkastiknya.
"Lu mau marah kegue karena gue caper lagi ke Nurfa? Aduh, nggak capek hidup lo cemburu begitu terus.." sindir John Lew.
"Kayanya gue masih inget deh kalau lo kepingin buktinya bahwa pendapat gue itu salah. Tapi kenapa makin kesini elu makin jadi kelakuannya? Lo emang sengaja mancing emosi gue demi kepuasan lu kan. Dasar sinting!" Rifa begitu naik pitam saat ini.
"Oh, lo nggak terima? Gue perasaan juga inget kalau lo nantangin gue buat bersaing sama elo" ujar John Lew menatap Rifa dengan tatapan tajam, "Sadar diri, dong, b*****t! Elu yang nyalain kompor duluan.."
"Hah? s****n! Jadi elu beneran ada rasa sama si Nurfa?" geram Rifa.
"Gue ada rasa atau enggak sama tuh cewek itu juga bukan urusan elo" ujar John Lew lalu beranjak pergi.
Rifa punya firasat buruk soal ini. Sepertinya John Lew punya tujuan jahat untuk mendekati Nurfa. John Lew mungkin tidak memiliki perasaan kepada Nurfa tetapi dia berusaha mendekati Nurfa demi kesenangan pribadi karena senang melihat Rifa marah karena terbakar cemburu. Sebenarnya Rifa tidak peduli dengan tujuan John Lew itu. Tapi dia takut jika pada akhirnya Nurfa benar-benar menaruh hati kepada John Lew. Gadis ini pasti akan sangat terluka jika tahu pemuda yang selama ini merayunya ternyata tidak menaruh perasaan kepadanya.
Rifa memang menyesal. Kenapa dari sekian banyak orang di bumi ini dia harus berurusan dengan orang seperti John Lew. Rifa tidak ingin karena kesalahannya gadis yang dia sukai bisa patah hati gara-gara orang seperti John Lew. Sosok aneh yang sangat girang melihat orang lain bersitegang.
Saat John Lew hendak menyingkir, Rifa menarik lengannya. Saat John Lew hendak menampik tangan Rifa dia justru melihat wajah yang jarang sekali Rifa perlihatkan kepadanya. Ekspresi memohon dengan sungguh-sungguh, matanya bahkan agak berkaca-kaca. John Lew jadi merasa seperti cowok kejam yang meninggalkan kekasihnya begitu saja setelah berselisih.
"Gu..gue.. gue minta ma.." Rifa berhenti bicara dengan mulut ternganga.
John Lew sendiri juga menatapnya dengan wajah keheranan. Apa kali ini Rifa akan melunakan egonya? Hanya karena dia tidak ingin gebetannya di sakiti oleh John Lew!
Rifa menghelah napas dan akhirnya kembali kewajah juteknya. Dia menampel tangan John Lew begitu kencang. Nampaknya akal sehat Rifa telah kembali. Dia begitu kesal untuk apa dia harus memohon kepada cowok b******k seperti John Lew. Dia seharusnya menyelesaikan permasalah ini seperti cowok sejati. Karena dia juga yang awalnya menantang John Lew dia juga akan membuktikan jika dia bisa mendapatkan hati gadis itu.
John Lew cukup bingung. Tapi dia tahu jelas. Setelah begitu lama mereka saling mengenal dia tahu Rifa tak akan pernah punya inisiatif untuk minta maaf duluan. Dia hanya tertawa mencibir Rifa. Mereka pun pergi dari toilet dengan suasana permusuhan yang makin menjadi-jadi.
Setelah melihat chat dari Pak Anton mereka segera ke aula tempat sosialisasi di selenggarakan. Di sana mereka langsung menemukan Nurfa dan Pak Anton yang sedang mengobrol asik dengan mbak-mbak mahasiswa yang menyelenggarakan acara.
"Hai guys! Pa Kabar?!" sapa seorang Mbak Mahasiswa yang ikut mengobrol.
"Hai Jen!" sapa John Lew dan Rifa bersamaan.
"Gimana udah lega? Lama benget cuma pipis doang" ujar Pak Anton menegur mereka.
Nurfa mengamati kedua sahabatnya dengan serius. Keduanya mulai membuat jarak. Sepertinya benar dugaan Nurfa kalau mereka berdua masih bertengkar dan mereka kembali bertengkar saat di toilet. Sebelumnya Nurfa sudah berkonsultasi dengan mbak-mbak mahasiswa tentang permasalahan sahabatnya. Karena cerita Nurfa ini menarik banyak sekali yang mendengar dan akhirnya saat John Lew dan Rifa datang mereka dapat banyak sorotan dan tawa samar-samar dari para mbak-mbak yang ada di sana.
Rifa dan John Lew juga merasakan mereka sepertinya di lirik berbeda. Penyebabnya jelas pasti dari gadis hijaber ini. Setelah sampai di aula tempat diadakan sosialisasi, Pak Antom mengenalkan Nurfa kepada mbak-mbak yang berbadan paling bahenol disana. Nurfa sampai merasa kagum, meskipun punya badan berisi, mbak-mbak ini bisa mengimbanginya dengan pakaian yang cantik dan sopan, dia memakai make up natural yang memperlihatkan keindahan kulit tanningnya. Dan saat berkenalan Nurfa cukup terkejut karena nama mbak ini adalah Jennifer Lewwith. Nama keluarga mbak-mbak ini persis dengan nama seseorang, ya..
"Nurfa, udah kenal belum? Ini Jenny kakak sepupuku" ujar John Lew mengenalkan si mbak-mbak yang sedari tadi Nurfa ajak mengobrol.
"Udah tahu, Mbak Jenny udah cerita juga tadi" ujar Nurfa, "Kalian saudaraan tapi mukanya beda?" heran Nurfa.
"Ya beda lah, Beb. Mamanya John itu orang Cindo, Mamanya Jenny Ambon manisee.. Walaupun bokap kita mukanya rada sebelas dua belas, ya.." jelas Jenny dapat anggukan dari John Lew.
"Eh, Rifaaa.. ya ampun pangling gue ama lu. Kayanya lo tambah tinggi, deh! Sumpil" ujar Jenny menegur Rifa.
"Eeee.. lu cari ribut ternyata. Emang mau lu jadiin candaan apa tuh tinggi badan gue? Lu mau nyahut dulu kan elu setinggi kuping gue! Eh, sekarang sebahu gue.. iiihh.. udah tahu gue! Emang gue rambut lo!" celetuk Rifa membuat semua tergelak.
"Lu masih kocak ya, Ne. Jadi percaya kalau lu sodaraan sama si ratu banyolan, Kak Risa. Kak Risa gimana kabarnya?" tanya Jenny.
"Baik, alhamdulillah. Udah nulis sibuk nyari judul skripsi katanya" ujar Rifa.
"Duh cepet banget! Padahal doi kan baru tahun ke tiga, ya.. Bisa-bisa lulus tiga setengah tahun, tuh. Ya Tuhaan mudah-mudahan gue bisa juga!" harap Jenny.
"Amiiinn.."
Dan banyak orang yang mengamini doanya. Jenny kembali menepuk paha Nurfa.
"Oh iya.. aku inget dulu punya temen yang pernah sekolah di sekolah kamu dulu, Say. Dia rada-rada flawless kaya kamu gini. Dulu doi aktif banget di media sosial. Yang dulu sempet terkenal di MA Fatih Assalam itu, loh. Namanya Zahra Atafunisa" ujar Jenny.
"Mbak Zahra! Yang sekarang kuliah di UIN?" tanya Nurfa mendapat jawaban anggukan dari Jenny, "Sebenernya aku juga masih saudara sama Mbak Zahra" ujar Nurfa.
"Oh yeah! Ya ampun.. dunia itu sempit banget, ya.." heran Jenny.
Siapa yang menyangka Nurfa bisa dengan mudah akrab dengan orang lain selain John Lew dan Rifa. Meski sudah bersekolah selama beberapa minggu Nurfa tak pernah sekalipun bisa dekat dengan siapapun terutama perempuan. Tapi memang pada dasarnya Jenny ini sangat periang dan ceriwis sekali Nurfa bisa nyaman dan bisa menyambung obrolan dengan begitu akrab.
Nurfa berharap sekali kalau suatu saat di sekolah barunya ada teman perempuan seperti ini. Sementara ini dia harus puas berteman dengan cowok jutek ceplas-ceplos dan cowok aneh super intimidatif.
Setelah asik mengobrol ria sosialisasi pun di mulai saat nara sumber sudah datang. Nurfa baru tahu ternyata yang dia datangi adalah sosialisasi tentang keselamatan lalu lintas. Dan usai sosialisasi tiap sekolah yang menjadi partisipan akan di adakan acara kepengurusan SIM dari pihak kepolisian lalu lintas.
Baik John Lew maupun Rifa cukup heran melihat Nurfa yang sangat serius sekali menulis dan mencatat materi. Dan setelah sosialisasi berakhir mereka jajan dulu sebelum kembali kesekolah.
Nurfa tampak melamun dan bahkan lama sekali mengunyah seblak. Matanya masih menerawang jauh. Dan akhirnya dia bertanya keteman-temannya.
"Kayanya enak ya punya SIM.. belajar sepeda motoran itu susah apa enggak?Aku kasihan sama adekku harus nganterin aku tanpa SIM. Lagi pula Dila juga belum cukup umur buat ngurusnya. Kalau aku punya SIM kan enak aku bisa ngeboncengin pas berangkat sekolah bareng dengan aman.."
"Kalau kita sih bisa bilang gampang. Nah, berhubung yang nanya itu kamu aku jadi susah ngukurnya.." ujar John Lew.
"Ketua ngeremehin aku, nih!" Nurfa jadi kesal menggembungkan pipinya.
"Ya dari pada haram ngebuka aurat, kan lo sendiri yang bilang begitu" ujar Rifa
"Iya ya.. duh, gimana ini?" Nurfa jadi bingung.
"Sebenernya belajar sepeda motor itu gampang kok, Nak Nurfa.. Dan menurut ilmu agama bapak yang cetek ini biar nggak ngebuka aurat kan bisa sepeda motoran pake celana di dalam rok.." sahut pak Anton.
"Nggak boleh, pak! Perempuan berpakaian seperti laki-laki!" ujar John Lew, Rifa dan Nurfa bersamaan.
"Aduh Buyung" pak Anton jadi menepok keningnya, "Ya repot ini urusannya.."
"Sebenernya ini lebih kemasalah kamu secara personal, Nurfa. Nggak seharusnya kamu berpatok kesatu pendapat aja. Lebih baik kamu share deh masalah kamu itu keorang lain yang bisa mengerti dan membuat pikiran kamu lebih terbuka. Ini cuma sekedar saran dari aku aja, sih.. yang nggak ngerti apa-apa seputar hukum Islam" ujar John Lew mengeluarkan opininya.
"Nah, bagus tuh saran John Lew! Pantes Ketua OSIS! Ternyata pinter juga!" ujar pak Anton.
"Kalau menurut gue, sih, kalau lo nggak bisa juga nggak papa" ujar Rifa, "Emang elu juga perlu buat apa, sih. Palingan cuma buat berangkat sama pulang sekolah. Kalau elo ngerasa care sama masalah Dila yang nggak punya SIM, lo harusnya ngomongin masalah ini ke orang tua lo supaya mereka nggak ngebiarin hal ini."
"Iya.. bener juga, nih.. Si Rifa.." ujar Pak Anton mengiyakan.
Pendapat Rifa jauh lebih relevan bagi Nurfa dan begitu mudah untuk Nurfa terima. Tapi ada hal yang membuat Nurfa tampak kecewa. Bak mendengar pendapat dari orang-orang di keluarganya. Selalu melarang kesempatan Nurfa untuk melakukan hal baru. Nurfa memang tidak pernah mencoba mengeksplor lagi tentang ilmu yang dia terima. Jika dia mendengar seperti itu memang itu yang harus dia lakukan. Dan dia tahu menjalani semua itu membuat pertentangan dalam hatinya. Apalagi dengan kondisi lingkungan sekolah yang seperti sekarang. Nurfa seakan-akan di beri kesempatan untuk mempelajari banyak hal yang tak pernah dia tahu. Dan dari dua pendapat sahabatnya itu dia pun tak bisa memihak salah satu dan akhirnya menerima semua saran itu.
"Oke.. kayanya aku akan pakai saran kalian semua, deh" ujar Nurfa lalu menyendok makanannya lagi.
Bagi Rifa dan John Lew hal ini merupakan kemajuan. Baru kali ini tidak ada silang pendapat antara Nurfa dan Rifa. Kali ini Rifa mulai berhati-hati memilih kata-kata untuk tidak menjadi pemancing keributan. Karena dia sedang bersaing dan tidak ingin lengah dari musuhnya. Sedangkan John Lew dia merasa hal ini masih belum seberapa. Dia akan melakukan hal yang mengubek-ubek emosi Rifa di lain kesempatan.