Nunung membuka matanya pelan-pelan setelah beberapa menit yang lalu dia tak sadarkan diri saking tidak percayanya kalau seorang Askara Bumi mau mengajaknya makan siang bersama. Ibarat pribahasa, pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa perlu tebar pesona, sang dosen mau meliriknya. Padahal selama ini setiap kali dia dan Aska bertemu, Aska sama sekali tidak berminat untuk mengajaknya bicara. Jangankan bicara, untuk melihatnya saja seperti tak sudi. Tapi, hari ini… Aska justru malah melontarkan rayuan maut yang membuatnya ketar-ketir. “Buk Nunung nggak apa-apa? Mau saya seret nggak? Soalnya kalau gendong saya nggak kuat. Berat, Buk, seperti rindu saya ke Buk Nunung.” Bukannya bangun, Nunung malah kembali tak sadarkan diri sewaktu dilihatnya kalau yang bicara barusan padanya adalah Aska. “Yaaah,

