“Ji, kok gue nggak percaya ya pak Aska ke sini buat benerin keran air lo? Kalian nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue, kan?” kata Kaila sebelum mereka menghampiri Fuji di ruang makan. Aska mengerjapkan mata. “Nyembunyiin apa? “Ya mana gue tahu. Kayaknya nggak mungkin aja lo mau minta tolong sama dia. Soalnya kan gengsi lo ke dia itu tinggiiii banget. Jadi, mana mungkinlah lo mau ngebanting harga diri lo buat minta bantuannya dia.” “Terpaksa.” Kaila masih tidak percaya, tapi dia juga tidak mau overthinking. Lebih baik sekarang dia temani dosen kesayangannya itu dan mengajaknya ngobrol. Momen-momen seperti itu bisa dibilang langka, karena kapan lagi dia bisa mengobrol banyak hal dengan dosen paling populer di kampus mereka itu? Mana tahu benar kalau cinta bisa datang dari mata dan tu

