Bagas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Nafasnya tidak teratur. Rasa sakit akibat pukulan dan tamparan dari mertuanya tidak sebanding dengan sakit hati karena ditinggal oleh istrinya. Penyeselan selalu datang diakhir. Kalau sudah terjadi hanya bisa mengenang kebersamaan dan berharap semua akan kembali ke sedia kala. Tapi manusia hanya menjalani takdir yang ditulis oleh Sang Pencipta, dia tidak bisa mengeluh atau pun meminta keringanan. "Dimana kamu, Sa?" tanya Bagas sambil menatap layar handphone yang menampilkan foto istrinya. Bagas kembali meneteskan air matanya. Tidak apa kalau dia dibilang laki-laki cengeng. Suami mana yang sanggup menerima kenyataan kalau istrinya menghilang. Bagas mencari nomor Nana. Dia menekan tombol panggil pada nomor istrinya itu. Namun lagi

