Nana terdiam dalam tidurannya. Matanya memang terpejam namun pikirannya masih terjaga. Rasa bingung menghampirinya, dia tak tahu harus bagaimana. Di saat dia sudah mantap untuk berpisah, malah ada malaikat kecil yang hadir di rahimnya. Tetap memutuskan untuk berpisah masih bisa, hanya saja dia tak ingin membuat anaknya tak mengenal ayahnya nanti, terlebih jika anak ini terlahir perempuan, akan semakin runyam masalahnya karena jika sang anak akan menikah nanti pasti membutuhkan wali nikah. Nana mengelus perutnya dengan lembut, tiba-tiba matanya basah karena air mata. Dia membayangkan bagaimana nasib anaknya kelak. Bisa saja dia menjadi orang tua tunggal namun bagaimana dengan anaknya, apakah bisa menerima hanya mempunyai satu orang tua, lebih lagi jika dia di ejek teman-temannya pasti ment

