Nana membuka pintu begitu dia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintunya. Sosok laki-laki tampan yang sedang menyunggingkan senyum manis tertangkap oleh manik mata hitam milik Nana. Ditangannya menenteng beberapa plastik hitam yang Nana yakini di dalamnya ada barang-barang titipannya. Sudah menjadi kebiasaannya jika Aldo akan mengunjunginya pasti dia akan memesan banyak barang kebutuhan. Karena dia merasa malas jika harus keluar rumah, karena memang Nana belum mengetahui seluk beluk kota yang saat ini dia tempati ini. Aldo sering mengunjungi Nana yang masih setia tinggal di Surakarta. Setidaknya dia mengunjungi Nana tiga kali dalam seminggu. Bukan bermaksud apa-apa, namun dia merasa kasihan dengan Nana. Karena Nana tinggal sendiri di sini. Dia tahu jika Nana merasa kesepihan namun ego

