Suasana ruang tamu di kediaman Ratno nampak hening. Tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara. Namun dari raut wajah beberapa orang terlihat begitu tegang. Satu objek yang menjadi pusat perhatian semua orang berusaha duduk dengan tenang. Namun sebenarnya hatinya berdebar karena akan jujur tentang semua yang terjadi di dalam rumah tangganya. Dia takut dengan reaksi semua anggota keluarga dan mertuanya. Bagas menatap satu per satu semua orang yang ada di ruangan ini. Dia menatap Santi dengan lekat, namun wajah Santi menampilkan wajah yang dingin. Emosi masih tercetak jelas diwajah perempuan yang berusia lebih dari setengah abad itu. Tangannya mengepal erat seakan-akan ingin melayangkan tinju ke wajah menantunya yang sudah jauh dari kata tampan itu. “Kamu mau jujur soal apa, Gas?” tanya

