Turun dari motor Kak Fajar, aku mendongak sebentar guna mencari ujung dari gedung yang kami datangi sekarang, dan ... benar-benar tinggi. Aku tersenyum, lalu melirik Kak Fajar yang malah menampilkan ekspresi cemas. Ia tampak keberatan meninggalkanku sore ini, sampai setidaknya pukul sepuluh malam nanti. "Terus, gimana pulangnya, Nissa? Kakak baru balik besok pagi," keluh Kak Fajar. "Nggak usah kerja di sini, ya?" Ini menyalahi kesepakatan kami kemarin, jadi aku menggeleng tegas. "Nggak. Aku kerja di sini!" Lalu melirik lagi sebentar ke arah pintu kaca yang harus aku masuki sekarang. "Mereka udah mau repot-repot ngubah sedikit jadwal mereka supaya aku bisa kerja di sini, dan ... masa berhenti secara mendadak? Aku nggak profesional-profesional amat, tapi aku tetap harus jaga perasaan mere

