Suasana di Sekolah
Pengagum Rahasia
Waktu saat ini menunjukkan pukul 11:30 Am. Suasana yang cerah dan berangin di Daerah Istimewa Yogyakarta yang membuat setiap insan yang pernah tinggal sejenak ingin kembali lagi. Ya begitulah yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Tapi tidak sama dengan yang di alami oleh gadis bernama Clara. Usianya yang tidak lagi muda membuatnya sering merasa kesepian karena belum juga menemukan pasangan hidupnya di usia yang sudah menginjak 30 tahun.
" Ra, kamu kenapa sih harus resign, padahal aku sudah cocok nih kerja sama kamu, dan aku sebenarnya sudah merekomendasikan kamu ke Pak David untuk naik jabatan," ucap si Dona kepada Clara yang notabene Dona adalah leader Clara di departement marketing.
"Iya Don, maaf ya kalau aku ga bisa kerja bareng kamu lagi, keputusan ini sudah aku pikirin sejak beberapa bulan lalu, dan aku rasa ini sudah waktunya buat aku merubah masa depan aku Don. Aku juga makasih banget sama kamu sudah mengajarkan banyak hal tentang kerjaan ke aku. Cuma aku sudah ga bisa ngulur waktu lagi, aku ingin merubah masa depan hehhe," jawab Clara kepada Dona leadernya dengan rasa sungkan.
Sejenak Clara teringat akan keputusannya untuk berhenti dari tempat kerjanya 6 bulan yang lalu. Kini Clara sedang menempuh pendidikan bahasa Jepang di Yogyakarta yang sudah berjalan sekitar 6 bulan. Hari - hari pun dia lalui dengan penuh semangat untuk mengejar cita citanya di negri Sakura itu. Walau dia harus berjuang dengan rasa insecure tentang dirinya yang akhirnya membuatnya sulit untuk bergaul. Di kelasnya Clara adalah murid tertua jika dibandingkan dengan teman temannya yang masih muda dan fresh graduate. Tak jarang dia sering mendapat candaan dari guru bahasa Jepangnya. Tapi lain dengan teman - temannya yang beberapa menghargai dan beberapa lainnya menjauhinya. Clara pun bisa cukup mengerti dan memahami keadaan tersebut karena bagi dia yang terpenting adalah lulus dan bisa segera bekerja di Jepang.
"Mba Ra, kamu kenapa si kok melamun saja dari tadi," ucap si Dini teman satu angkatan Clara dengan penuh penasaran.
"Kita kapan sih selesai dihukum, sudah hampir 3 minggu lontang lantung di luar kelas hm.. sudah gosong nih kulit wkwkwk," jawab Clara kepada Dini sambil tertawa.
"Gak tahu nih mba aku juga sudah bete, makanya mba kamu nikah aja sana wkwkwk," ucap Dini kepada Clara sambil meledeknya.
"Hm.. nikah ya, kalau sudah ada calonnya sih aku sudah nikah dari dulu Din," jawab Clara dengan wajah masam.
"Sabar mba, tar juga ketemu jodohnya.. hehehe," ucap Dini seraya menghibur Clara.
Saat itu Clara sedang menjalani proses hukuman yang harus diterimanya karena ketahuan memiliki HP ganda ketika pemeriksaan koper menjelang libur pendidikan. Karena ada peraturan untuk tidak diperbolehkan memakai HP selama pendidikan. Hanya saja saat itu Clara terpaksa karena ingin bisa menghubungi kedua orang tuanya.Karena hal tersebut, Clara dan beberapa temannya dihukum untuk tidak diperbolehkan masuk kelas dan hanya boleh belajar di luar kelas selama 3 minggu. Hari - hari yang Clara dan teman temannya jalani adalah mereka datang ke sekolah seperti biasa kemudian saat tiba waktunya jam belajar mereka belajar masing - masing di luar kelas, beberapa ada yang di kebun belakang, sebagian ada di depan kantor guru, kemudian di lapangan, di halaman belakang dan di samping kelas. Hal tersebut mereka jalani hingga sore waktu pulang, yaitu pukul 16:30 Pm. Untuk masa hukuman tiap murid pun berbeda tergantung dari berat setiap pelanggaran yang di perbuat.
"Ngomongin soal jodoh Din, menurut kamu jodoh itu kita yang tentuin atau Tuhan yang tentuin?" tanya Clara kepada Dini dengan nada serius.
"Menurut aku sih ya mba, jodoh itu sudah ditentukan sama yang Di atas, cuma kita juga harus usaha mbakayune," jawab Dini dengan logat ngapaknya.
"Oh jadi menurut kamu begitu to..kalo menurut aku nih ya, jodoh itu kita yang cari dan kita yang milih, tetapi Tuhan yang tentuin. Misal, kita sudah menemukan yang cocok, nyambung dan sesuai sama kriteria kita, tapi sebelum kita lanjut ke nikah, kita tanya Tuhan ni, ini bener ga jodoh buat kita, nah dari situ kita akan dapat jawaban dari Tuhan Din, iya atau tidak untuk lanjut ke nikah. Kan kamu ga mau salah pilih orang untuk jadi imam kamu kan Din?" jawab Clara sambil menasihati Dini.
"Iya juga ya mbake, sama saja maksudnya," ucap Dini.
"Hei hei, kalian sedang apa !! Berdua di situ, kan sudah dibagi wilayahnya, malah pada ngobrol bukannya belajar, benkyou (belajar) benkyou!" ucap salah seorang guru di sekolah tersebut menegur Clara dan Dini yang kepergok sedang mengobrol.
"Hai, sensei. Doumo sumimasendeshita (iya guru, mohon maaf),” jawab Clara dan Dini serempak.
"Sudah buruan kamu balik ke tempatmu Din," ucap Clara.
"Iya mbake, tar sambung lagi,” jawab Dini.
”Duh, ketahuan lagi hehe," gumam Clara dalam hati sambil tersenyum malu.
Kemudian mereka langsung berpencar lagi ke tempat masing - masing mereka yang telah ditentukan oleh guru.
"Yah bengong lagi deh, ngantuk ni gada temen ngobrol, mana jam 12 lama banget, sudah laper, panas," ucap Clara mengeluh dalam hati.
"Tuhan, kapan aku dapat job ya, pelatihan sudah selesai, sekarang waktunya libur, tapi aku belum juga dapat kabar di mana nanti aku bekerja, aku ingin segera berangkat ke Jepang, terus pulang nikah. Kira - kira siapa ya Tuhan jodoh aku, di mana kita akan bertemu. Pulang dari Jepang umur aku sudah 35," ucap Clara dalam hati dengan perasaan sedih.
Hati Clara terus saja bimbang, jika ia teringat akan masa depannya. Tentang job yang belum ia terima, tentang keinginan orang tuanya untuk menikah, tentang kesulitannya untuk bersosialisasi, yang membuatnya sulit bergaul. Juga hubungan dengan mantan - mantannya yang selalu kandas. Walau begitu, ia terus menyemangati diri dengan membuat dirinya semakin lebih baik dalam hal karir, mungkin jodoh akan mengikuti setelahnya. Dini adalah seorang gadis berusia 20 tahun, teman satu angkatan Clara. Mereka sangat akur seperti kakak beradik dan berharap bisa sama - sama sampai Jepang nanti. Begitu juga Dini sangat senang ketika mengobrol dengan Clara karena sering mendapat nasihat yang membuatnya terus semangat. Bahkan ketika keduanya pernah terancam akan dikeluarkan dari sekolah karena fisik mereka yang lemah sehingga sampai beberapa bulan tidak bisa mencapai target berlari di kelas mereka. Karena terus berjuang dan berlatih, akhirnya mereka bisa melalui ujian lari tersebut sesuai dengan target.
"Tetettetetet,tetetettet, .....!!!!! Terdengar suara bel menunjukkkan pukul 12:00 waktunya untuk istirahat makan siang.
"Yesss, yatto !! Akhirnya makan," ucap Clara dengan sangat senangnya.
Jam makan siang pun telah berlalu selama 15 menit. Biasanya setelah makan, murid - murid ada yang beribadah, tidur, mengobrol ataupun bercanda. Ada yang tidur bersama di depan teras kelas yang ada di belakang halaman sekolah, ada juga yang berkelompok mengobrol dengan gebetannya, ada juga yang berkelompok mengobrol dengan teman lainnya. Tapi tidak dengan Clara, dia selalu menyendiri. Duduk di bawah pohon ataupun di lapangan. Itu adalah hal yang biasa bagi Clara. Walau dalam hatinya merasa begitu kesepian. Sampai suatu ketika...
Halo teman - teman novelers !!! Kira - kira apa ya yang terjadi sama Clara selanjutnya? Let’s see on the next chapter !!