Pengagum Rahasia
“ Clara san !!!“ teriak salah seorang dari teman kelas Clara.
Seketika Clara terbangun dengan begitu kagetnya dari tidurnya di waktu istirahat.
“Eh, siapa itu tadi ya?” jawab Clara bingung karena baru saja terbangun.
Tiba - tiba dari arah belakang siswa laki - laki menghampiri Clara.
“Mbak Clara, kamu dipanggil sensei ke kantor sekarang. Buruan katanya,” ucap Jono teman Clara yang tadi memanggilnya.
“Eh kamu yang tadi manggil aku, aku ke kantor sekarang? disuruh apa ya?” jawab Clara bingung.
“Duh, ga tahu e mbak.. tadi aku disuruh panggil kamu suruh ke kantor sekarang. Kayaknya ada yang penting tuh mbak,” ucap Jono dengan serius.
“Oke Jon, aku ke sana sekarang. Arigatou ne (makasih ya),” ucap Clara sambil tergesa – gesa.
Dengan sigap, Clara berlari menuju kantor sekolah. Dalam hatinya sangat penasaran akan apa yang dikatakan guru kepadanya sekaligus takut karena mengingat belum lama tadi ditegur karena ketahuan mengobrol. Tidak sampai 1 menit Clara tiba di depan pintu kantor guru.
“Tok.. tok.. tok, shitsureishimasu (permisi). Sensei, ada apa tadi memanggil saya?” ucap Clara penasaran.
“Clara san, kamu lanjut belajar N4 ya, sekarang fotokopi buku ini, dan catat pr apa saja untuk nanti di rumah. Setelah itu, kemasi barang - barang kamu. Hari ini kamu boleh pulang untuk libur di rumah selama satu minggu, kemudian kembali ke sekolah,” ucap guru kepada Clara.
“Iya sensei, mengerti, saya akan fotokopi dan membereskan koper segera,” jawab Clara kepada guru dengan perasaan senangnya.
“Ada yang belum jelas? Jangan nanti kamu salah kirim tugas pr ya,” tanya guru kepada Clara.
“Sudah jelas sensei, bolehkan saya meminta hp dan kunci asrama?” tanya Clara.
“Oke, kembali lagi ke sekolah 1 jam kemudian untuk pemeriksaan koper ya,” ucap guru kepada Clara.
“Baik sensei, saya permisi dulu,” jawab Clara yang kemudian pergi terburu – buru.
Kemudian Clara keluar dari kantor dan pergi untuk memfoto kopi buku yang akan digunakan untuk melanjutkan pelajaran minggu depan. Setelah itu, kembali ke asrama untuk membereskan barang barangnya. Dalam waktu 45 menit Clara sudah selesai menyiapkan semua barang yang akan dibawa pulang dan kemudian kembali ke sekolah untuk mengembalikan kunci asrama dan berpamitan kepada guru dan teman temannya.
“ Sensei, saya sudah menyiapkan koper saya dan ini buku yang sudah saya foto kopi, diletakkan di mana sensei?” tanya Clara.
“Tolong letakkan di meja ruang kelas, koper kamu sudah siap? Saya akan periksa,” kata guru kepada Clara.
“Sudah siap sensei, bisa diperiksa,” jawab Clara dengan rasa percaya diri.
Setelah proses pengecekan, Clara diijinkan pulang. Hari itu juga Clara pulang ke rumah untuk berlibur selama seminggu. Saat sedang berjalan menuju ke arah gerbang, Clara berpikir.
“Akhirnya, masa hukuman aku selesai juga dan bisa libur. Tapi kenapa aku lanjut N4 ya, apa jangan - jangan aku dapat job perawat ya?” tanya Clara dalam hati sambil mengerutkan dahinya.
Tiba - tiba Dini berlari ke arah Clara dan bertanya..
“Mba, kamu pulang hari ini ya?” tanya Dini penasaran kepada Clara.
“Iya Din, aku tadi disuruh pulang nih, akhirnya hehe. Tapi aku belum tahu kenapa aku disuruh lanjut belajar N4, apa aku dapat job perawat ya Din?” tanya Clara bingung.
“Wah, enak mba kamu pulang juga, aku ingin ikut hehe kapan ya aku selesai masa hukumannya, oya mungkin kamu lanjut N4 untuk job perawat mba,” jawab Dini senang.
“Mungkin ya, soalnya sensei ga ada bahas soal job tadi, aku masih penasaran nih Din,” ucap Clara.
“Pasti perawat mba, ya sudah semangat belajar N4 nya mba,” ucap Dini menyemangati Clara dengan senyum cerianya.
“Oke Din, makasih aku pulang dulu ya,” ucap Clara dengan senangnya.
Masa hukuman Clara pun berakhir. Walaupun demikian, dalam hati Clara, semua yang ia jalani seperti hanya setengah hati. Tak nampak ada semangat dalam hatinya. Padahal dia sudah mendapatkan kesempatan bagus untuk lebih awal bebas dari masa hukuman. Wajar saja jika Clara mendapat julukan hantu di sekolahnya. Karena wajahnya yang datar dan tidak ada semangat. Bagaimana tidak? Clara selalu menyendiri disaat teman - temannya berkumpul, dia tidur di pojokan teras kelas atau di bawah pohon. Hatinya selalu merasa kesepian dan bosan. Pergi ke Jepang adalah salah satu cara dia ingin merubah kehidupannya.
Waktu pun akhirnya berlalu, tak terasa liburan seminggu telah terlewati. Sampai pada waktunya Clara kembali ke asrama dan melakukan aktifitas belajarnya seperti biasa. Tapi, hingga pada suatu malam ada pengalaman yang tidak terlupakan dan itu adalah awal mula kisah cinta Clara yang mengubah kehidupan Clara yang kesepian menjadi berwarna. Semua bermula ketika Clara mampir ke warung angkringan depan sekolah, tempat biasa Clara membeli makan untuk makan malamnya. Ketika itu, Clara bersama Dini pergi ke toko sepatu. Karena Clara berniat ingin membeli sepatu baru, tetapi karena tak menemukan sepatu yang diinginkan, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke asrama. Hari itu adalah malam senin, pukul 18:20. Suasana saat itu sangat sepi, berangin dan sedikit gerimis. Sebelum sampai di asrama, Clara dan Dini mampir ke angkringan yang ada di depan sekolah untuk membeli nasi untuk makan malam mereka. Saat tiba di angkringan, Dini karena sudah sangat lapar ia segera memesan makanan. Clara hanya duduk saja saat itu untuk sebentar mengambil nafas setelah berjalan jauh.
Tak lama kemudian terdengar suara pria yang terdengar sangat lembut dan santun menyapa ibu angkringan. Seketika Clara menoleh ke belakang dan pria itu melewati Clara. Ya, seorang pria berbadan tinggi, putih dan athletis. Pria yang datang hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos. Kacamata dengan bingkai emas yang menutupi mata sipitnya membuat kesan stylish melekat di wajahnya. Pria itulah yang membuat Clara tak berhenti menatap wajahnya.
“Ra, kamu pesen nasi apa? Ra.. Ra..?” tanya ibu angkringan berulang kali karena Clara tak mendengarkan panggilan si ibu.
Tapi Clara hanya diam termangu melihat pria itu yang baru saja melintasi Clara dan duduk membelakangi Clara. Entah kenapa pria itu begitu berkharisma, bentuk wajahnya dengan tulang pipi tajam juga sorot matanya yang begitu tajam membuat hati Clara dag dig dug tak karuan.
“Mba Clara, kamu pesen apa tuh ditanya si ibu,” teriak si Dini yang gemas melihat Clara melamun tidak jelas.
“Eh, iya bu aku pesen nasi orek ya sama es kopi, tolong dibungkus saja ya bu,” jawab Clara gugup.
Nada bicara Clara seketika bergetar, karena saking geroginya melihat pria itu.
“Huh dasar mba nih, kebanyakan bengong aja. Lah, kamu ga makan di sini mba? Kok dibungkus?” tanya Dini dengan wajah polosnya.
“Iya bungkus saja, aku mau makan di asrama saja Din,” jawab Clara dengan cepatnya karena gerogi.
Begitulah Clara, dia tidak suka lama - lama nongkrong ditambah ada pria yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Sambil menunggu pesanan yang sedang dibuat, Clara tak berhenti menatap wajah pria itu dari samping. Dia tak pernah merasakan perasaan yang aneh ini dan tak ingin sebentar saja memalingkan pandangannya dari si pria itu. Kemudian, ada hal yang tak disangka sama sekali oleh Clara saat itu hingga membuatnya menjadi salah tingkah.
Apakah yang dilakukan pria itu kepada Clara sehingga Clara menjadi salah tingkah?
Nantikan kisah selanjutnya di next episode ya novelers !!!!! ;-))