“Kalian berdua, disini aja dulu ya, aku mau bicara sebentar sama papa.” Naira lantas menarik pergelangan tangan papanya, memaksa sang papa untuk mengikutinya ke dapur. “Nai, pelan-pelan sayang.” ucap Hariz, yang berusaha menyamai langkah putrinya. Setelah tibanya di meja makan, Naira meminta papanya untuk duduk diatas, sementara dirinya tetap berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dada.. “Pa, papa semenjak kapan jadian sama dokter Melia?” tanya Naira dengan tatapan yang mengintimidasi. “Ehem!” Hariz berdehem guna membetulkan pita suaranya. Pria paruh baya itu mengelus pelan belakang lehernya dan wajah putihnya juga sudah bersemu merah sampai ke telinga. “Sebenarnya, semua itu terjadi terlalu cepat Nai. malah papa sama dokter Mel.-” “Pa! Papa itu cowok, harus tanggung j

