Setelah kepergian Sean dari rumahnya, Keira merasa tidak tenang. Sudah dua jam berlalu dan ia masih memikirkan Sean, memikirkan luka di tangan pria itu. Bahkan darahnya yang masih tercecer belum Keira bersihkan. Keira melihat jam berulang kali lalu menoleh ke arah pintu berharap pintu itu terbuka menampilkan sosok Sean di sana. Keira berdiri dari kursinya, berjalan hilir mudik di dalam ruangan. Ia menyesali apa yang sudah ia katakan tadi. Ucapan yang memancing amarah Sean. Deringan telepon rumah membuatnya terlonjak kaget. Dengan langkah cepat ia segera menyambar telepon. "Halo, Keira di sini." "Ya, aku tahu. Di mana suamimu?" "Dave?" "Ya, aku. Di mana suamimu, Kei. Ponselnya tidak aktif. Apakah ia masih mabuk?" "Dia tidak ada di sini." Kecemasan Keira semakin menjadi. Tadinya
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


