Sean menggeliat dalam tidurnya. Posisinya yang sangat tidak nyaman membuat badannya sakit serasa remuk semua. Sofa kecil milik Keira tidak mampu menampung kakinya yang panjang sehingga menggantung begitu saja. Sean membuka kelopak matanya secara perlahan, pusing melandanya. "s**t! Kepalaku serasa mau pecah!" Sean duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Setelah yakin kesadarannya sudah ia dapatkan, ia berdiri sembari memijat lehernya yang kaku. Tega sekali Keira tidak memberikannya bantal. Sean menuju toilet untuk membasuh wajahnya, ia juga butuh air untuk membasahi kerongkongannya yang terasa panas dan kering. Kini ia merasa lebih segar meski kepalanya masih berdentum sakit. Sean kembali ke ruang utama, memindai ruangan itu dengan seksama lalu tatapannya berhenti di pintu yang berad

