MEH-BAB 9

1027 Kata
Hazel tidak tahu apakah ia sedang bermimpi atau tidak. Atau mungkin ia masih di bawah pengaruh alkohol. Sungguh Hazel tidak bisa membedakannya. Semua terjadi begitu cepat dan sulit baginya untuk mempercayai semua. Kini ia bukan seorang gadis lagi. Maksudnya bukan seorang wanita single lagi. Dalam sekejap statusnya berubah menjadi seorang istri. Ya, istri dari seorang Felix. Pria yang baru ia kenal kemarin pagi. Katakan apalagi yang lebih buruk selain menikah dengan orang asing. Hazel menangis dan maraung atas nasibnya yang berubah 180 derajat. Tidak pernah terpikir olehnya untuk menikah dalam waktu dekat. Dan perlu digaris bawahi bahwa ia juga mempunyai mimpi soal pernikahan. Bukan seperti ini konsep pernikahan yang ia inginkan. Pernikahan yang dihadiri keluarga inti dari kedua belah pihak dan beberapa sahabat dari Felix, dan Hazel baru mengetahui bahwa para sahabat pria itu adalah orang-orang yang sangat dekat dengannya. Ada Sean, sahabat Amber. Pria itu sering bermain ke rumah barsama Dave-pria yang duduk di sisi kiri Sean. Hazel sangat mengenal keduanya dengan baik. Sean adalah pria yang sangat tampan dan sangat perhatian. Lembut dalam bertutur kata. Hazel sangat menyukainya. Sedangkan Dave, pria itu sangat humoris. Dia juga tidak kalah menawan dari Sean dan yang paling penting, Dave menyukai kakaknya, Amber. Dan kembali ke topik permasalahan. Tentang statusnya yang sudah sah menjadi istri dari Felix Grissham. Hal ini terjadi disebabkan ia dan Felix ditemukan di kamar yang sama, berduaan sejak tadi malam. Entah dari mana orang tuanya mengetahui hal itu. Mereka terciduk. Hazel sudah mencoba meyakinkan keluarganya untuk menjelaskan bahwa antara dirinya dan Felix tidak terjadi apa-apa. Tidur di atas ranjang yang sama bukan berarti mereka sudah melakukan hal yang tidak pantas seperti tudingan keluarganya. Walau ia sendiri tidak yakin dengan apa yang terjadi malam itu, tetap saja ia mencoba meyakini dirinya bahwa Felix bukan pria kurang ajar yang mau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dan sebagai tambahan ia masih perawan dan ia tidak melihat sedikit pun bercak darah di atas ranjang. Tubuhnya juga baik-baik saja. Tidak ada perubahan yang ia rasakan. Kepalanya hanya pusing. Itu saja. Ia juga meminta bantuan pada Felix untuk menjelaskan dan sama seperti dirinya, keluarga mereka tidak ingin mendengar penjelasan lebih jauh. Mereka hanya ingin Felix menikahi Hazel itu saja. Hazel hanya tidak mengetahui bahwa Felix bersorak kegirangan di dalam hati. Dan semua yang terjadi adalah bentuk rencananya. Tadi malam, begitu Hazel pingsan, Felix menghubungi keluarganya dan juga keluarga Hazel. Mengumumkan ia akan menikahi Hazel esok hari. Awalnya semua menolak, termasuk keluarganya sendiri. Tapi Felix bersikeras dan menjelaskan bahwa Hazel sedang patah hati dan manemukannya di bar. Dan ia juga mengaku tidak tahan untuk menunggu lebih lama lagi. Jika melamar dengan cara baik-baik, belum tentu Hazel mau menerimanya. Apa yang dikatakan Felix masuk akal juga. Endrico- ayahnya Hazel juga tidak bisa mengelak lagi. Enam tahun lalu ia memang sudah menerima lamaran keluarga Felix. Dan selama enam tahun ini Felix juga menepati janjinya untuk tidak mengusik Hazel. "Ayah, apa kau sedang menjualku? Perusahaan kita bangkrut?" Meski sudah sah menjadi sepasang suami istri Hazel tetap merengek, memaksa ayahnya untuk membatalkan pernikahan yang sudah terjadi itu. "Berhenti membaca novel dan menonton drama." Amber menyeletuk dan tersenyum geli melihat adik perempuannya yang memakai gaun putih indah. Ia tidak menyangka Hazel akan mendahuluinya. "Lalu kenapa aku dipaksa menikah, Ayah. Kenapa bukan Amber yang menikah lebih dulu. Ayah, aku tidak mau menikah dengannya. Aku baru mengenalnya kurang dari 48 jam. Bagaimana bisa kau menyerahkanku begitu saja pada orang asing itu, Ayah." "Felix yang kau sebut dengan orang asing itu adalah suamimu sekarang," ucap ayahnya. Hazel menggeleng, merengut kesal dan di detik berikutnya memasang wajah memelas seperti anak kucing yang meminta pertolongan. "Terima kasih sudah memberikan restumu, Dad." Felix tersenyum bahagia, sangat berbanding terbalik dengan wajah Hazel yang terlihat penuh dengan tekanan. Hazel menatap Felix dengan tajam. Apa tadi yang dikatakan pria itu? Daddy? Astaga, Hazel tidak menduga jika Felix bisa semudah itu menerima pernikahan mereka. Felix membalas memandangi Hazel dengan penuh kehangatan membuat Hazel semakin meradang. "Percayalah, Dad, restumu akan menjadi bingkisan terindah dalam hidupku. Aku mungkin bukan yang terbaik untuk putri kesayanganmu ini, tapi aku akan mencintainya tanpa syarat. Aku tidak akan membuatmu menyesal telah menyerahkan putrimu kepadaku. Tidak akan ada celah untuk membuatmu menyesal dengan keputusan besar yang kau berikan ini, hanya kelegaan yang akan kau rasakan karena aku berjanji hanya akan ada senyuman di wajahnya." Felix mengatakannya dengan sepenuh hati, menatap mata ayah mertuanya secara langsung, menunjukkan kesungguhannya bahwa ia memang sangat mencintai Hazel. Untuk sesat Hazel terpana dengan kata demi kata yang terlontar dari mulut Felix, dan bahkan Hazel merasakan darahnya berdesir saat Felix mengatakan bahwa pria itu mencintai dirinya. Bagaimana ceritanya Felix jatuh cinta padanya. Mereka baru bertemu kemarin hari. Pembual! Hazel menggelengkan kepala, mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari di otak cantiknya. Ia lebih mempercayai jika Felix melakukan hal itu untuk menarik simpatik semua orang bahwa ia adalah pria yang bertanggung jawab. Bukankah hal itu lebih masuk akal? "Kau lihat, suamimu sangat mencintaimu. Kau akan hidup bahagia dengannya." Ibunya-Merlina mengusap kepala Hazel. "Ayah dan Ibu juga mertuamu merestui pernikahan ini. Percaya pada Felix bahwa ia akan membahagiakanmu seperti janjinya tadi. Semua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ini bukan tentang kau tidak mematuhi norma dan tidur bersama Felix. Ini juga bukan tentang kau dijual karena kita bangkrut, Sayang." "Ibu.." Rengek Hazel. "Sudah, tidak usah memasang tampang menyedihkan seperti itu," Ayahnya menyentil hidung putrinya. "Kau percaya pada Ayah?" Hazel hanya bisa mengangguk saat Ayahnya bertanya demikian. Memangnya putri mana yang tidak mempercayai ayahnya. Ayah adalah satu-satunya pria yang tidak akan pernah melukai dan mengkhianati anak perempuannya. "Ayah tidak sembarangan memberi restu begitu saja. Felix putra sahabat ayah dan sekarang mereka juga menjadi orang tuamu." Ayahnya menunjuk ke arah Mr. dan Mrs. Grissham. Keduanya tersenyum hangat dan tidak menunjukkan sikap tersinggung sama sekali atas tingkah Hazel yang sepertinya masih kurang menerima pernikahan mereka. Hazel pun akhirnya tersenyum. Sekalipun ia tidak menginginkan pernikahan mereka tapi tetap saja pernikahan itu sudah terjadi. Ia akan mencoba menerimanya dan menghargai pernikahan ini karena baginya menikah hanya sekali seumur hidup. Jadi ia akan berusaha untuk bekerja sama dengan Felix menciptakan keluarga yang bahagia. Masalah perasaan itu urusan belakangan. Ia cukup bersyukur memiliki suami yang lumayan tampan. Setidaknya wajah Felix bisa dibanggakan dan dipamerkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN