"Apa yang kau lakukan di kamarku?!" Pertanyaan itu meluncur begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Kepalanya yang pusing bertambah sakit tatkala ia membuka mulut, namun rasa sakit itu berusaha ia abaikan. Ia bisa mengurus hal itu nanti. Seperti yang baru ia pertanyakan tadi kenapa Felix ada di kamarnya bahkan dengan tenang duduk manis di ranjang yang sama dengannya. Astaga, apa yang terjadi.
Hazel memutar memorinya mencoba mengingat apa sebenarnya yang terjadi. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia berada di bar dan pria bernama Josh memberikan mininuman. Wajah Hazel panik seketika mengingat bagaimana ia meneguk alkohol malam itu. Musibah!
Mati aku! Apakah aku mengalami hal-hal bodoh yang biasanya sering terjadi di komik -komik, Hazel membatin.
Di tengah rasa sakit kepala yang masih berdentum, Hazel masih sempat-sempatnya memikirkan adegan cerita di komik yang sering ia baca. Si tokoh wanita selalu dijebak dengan alkohol yang berakhir di atas ranjang sang tokoh pria tampan yang dingin, arrogant namun kaya raya.
Hazel menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran konyolnya. Adegan seperti itu hanya ada di komik.
Pakaian, akh! Aku harus memeriksa pakaianku. Hazel pun mengintip ke balik selimut dan maniknya membola seketika. Melihat bajunya yang sudah berganti, jantungnya berdegup tidak karuan. Kepanikan mulai menyerangnya. Apa yang terjadi? Siapa yang mengganti bajunya? Pertanyaan itu menyerang Hazel silih berganti.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa memakai piyama dan-" Kalimatnya terputus, Hazel merotasi matanya ke segala sudut ruangan dan baru menyadari bahwa ia sedang tidak berada di kamarnya.
Ranjang tempat ia berada sekarang bukan ranjang miliknya. Tempat tidur dengan ukuran yang sangat besar dengan seprei sutra halus yang sangat lembut seperti mentega. Tidak salah lagi, ini bukan kamarnya. Selain ranjangnya yang tidak berukuran besar, ia juga tidak melihat seprei bermotif bunga miliknya. Lalu di mana ia sekarang?
Hazel merotasi pandangannya, di tengah rasa panik yang melandanya, harus ia akui bahwa kamar tempatnya berada sekarang sangat indah. Kamar yang ditata dengan warna-warna pasir padang gurun, maskulin. Tidak banyak perabotan di kamar itu, hanya ada sebuah sofa besar yang diyakini Hazel tidak kalah empuk dengan ranjang yang ia tempati saat ini. Tidak ada lemari pakaian, tapi Hazel melihat ada pintu penghubung yang merupakan ruangan walk in closet. Nakas di sisi kiri dan kanan ranjang. Sedangkan di lantai kamar tersebut terbentang karpet dengan bulu-bulu yang cukup tebal.
Hazel mengalihkan tatapannya dari karpet yang mengundangnya untuk menginjakkan kakinya di sana, membuktikan apakah bulu-bulu itu sehalus dan selembut dugaannya. Kini tatapannya tertuju di pintu penghubung lainnya yang dibiarkan terbuka.
Sebuah kamar mandi yang cukup luas dan indah. Dengan jendela yang sengaja diposisikan dengan bak mandi yang cukup besar. Lagi dan lagi Hazel menduga-duga. Posisi tersebut agar seseorang yang mandi di sana bisa menikmati pemandangan kota.
"Aku suka berlama-lama saat mandi." Suara Felix menyadarkan keterpukauan Hazel. Untuk sesaat ia melupakan kenapa mereka bisa berada di kamar yang sama. Dan pernyataan Felix tadi membuat Hazel tahu bahwa saat ini ia sedang berada di kamar pria itu. Pertanyaan kembali, kenapa bisa? Hazel kembali memutar otaknya dan tidak mengingatnya sama sekali.
"Aku suka melihat pemandangan di luar sambil berendam di dalam bathup. Dari sana pemandangan matahari saat terbenam sangat bagus, pertukaran senja ke malam membuat langit terlihat sangat indah." Hazel terhipnotis mendengar suara Felix yang lembut mendayu disertai dengan tatapan hangat yang begitu memabukkan. Hazel tidak yakin apakah ia bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dikatakan oleh Felix. Hazel baru menyadari bahwa Felix pria yang sangat menawan. Wajah pria itu bahkan tidak berpori, mulus seperti jalan tol. Hidungnya mancung dan tulang pipinya sangat tegas. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar wajahnya justru membuatnya tampak jantan. Maniknya berwarna biru, sebiru lautan yang mampu menenggelamkan siapa saja. Hazel merasa dirinya pasti masih di bawah pengaruh alkohol. Bagaimana bisa ia memuji kecakapan pria itu.
"Pada malam hari pemandangannya juga tidak kalah mengagumkan. Saat bulan sedang purnama dan ribuan bintang bertaburan di langit gelap, kau akan dibuat terpana." Seulas senyuman terukir di wajahnya. Bahkan sebelum melihat bintang dan bulan yang digambarkannya, kini Hazel sudah dibuat terpana dengan senyum tipis yang terlihat samar.
Tubuh Hazel mendadak kaku, darahnya seakan berhenti mengalir, dan jantungnya juga seakan tidak berfungsi, berhenti memompa melakukan tugasnya, yang menyebabkan paru-parunya tidak bekerja bagaimana selayaknya. Untuk sekedar mengerjapkan mata, Hazel juga tidak mampu. Tidak mampu atau ia yang enggan untuk mengerjap. Khawatir tidak bisa melihat senyum tipis menawan milik Felix.
Hazel benar-benar seperti sedang terhipnotis dan sebelum ia benar-benar terhanyut dalam sihir hipnotis seorang Felix, dengan buru-buru Hazel menyadarkan dirinya. Begitu terpesonanya ia dengan senyum tipis dan tatapan lembut mendayu itu. Felix benar-benar membiusnya dengan suara tenangnya.
Hazel bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah lagi mendekati alkohol apapun keadaannya. Kewarasannya mulai ia ragukan.
Apa yang sedang ada di pikiranku? Hazel menggeleng kuat.
"Ada apa, Hazel? Kau masih pusing?"
Hazel tidak merespon, ia mengambil gelas yang sejak tadi ada di dalam genggaman Felix. Meneguknya hingga menyisakannya setengah. Tenggorokan dan bibirnya yang basah sedikit terpuaskan.
"Jadi ini rumahmu, Mr. Grissham?" Hazel sekuat tenaga membuat agar suaranya terdengar tenang. Untuk memastikan apa yang terjadi dengan mereka tadi malam, Hazel harus bersikap santai, tidak menunjukkan kepanikannya sebelum pria yang berstatus dosennya itu mengelabui dan mempermainkannya. Untuk saat ini, ia harus waspada pada kaum yang bernama pria.
"Ya, dan panggil Felix."
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi, Mr- maksudku, Felix. Kenapa kita- hmm, maksudku kenapa aku bisa bersamamu, berada di kamar milikmu."
"Aku yang membawamu."
"Membawaku? Bagaimana bisa? Aku berada di bar tadi malam dan.."
"Dan kau mabuk, memuntahkan isi perutmu di atas bajuku. Baunya sangat menyengat, percayalah."
Hazel membeliak, ia meragu apakah yang dikatakan Felix benar atau karangan belaka.
"Kau memelukku, bersandar di dadaku.."
"Aku memelukmu? Kau yakin? Jangan mengarang lelucon yang tidak lucu sama sekali."
Felix terkekeh, tidak membantah sama sekali. Dan astaga, kenapa kekehan pria itu terdengar sangat renyah dan menggelitik.
Oke, fix! Aku masih berada di bawah pengaruh alkohol! Hazel bermonolog di dalam hatinya.
Tok. Tok
"Hazel, buka pintunya."
Hazel terlonjak kaget. Ia mendengar suara orang tuanya.
"Daddy?"
Bugh..bugh..
Ketukan berubah menjadi gedoran. Hazel semakin panik. Petaka sesungguhnya sedang menantinya. Bagaimana bisa ia tertangkap basah di kamar seorang pria. Hazel tidak yakin dirinya bisa selamat dari amukan keluarganya. Selama ini ia menjadi anak emas, anak kesayangan semuanya dan mungkin sebentar lagi gelar itu tidak akan menjadi miliknya lagi.
"Felix Grissham, buka pintunya atau aku akan mendobraknya!"