MEH-BAB 7

1079 Kata
"Sepertinya kau mabuk," Jack memperhatikan Amber yang terlihat sedang menahan mualnya. "Sudah kukatakan minuman haram ini tidak tidak seharusnya kau konsumsi. Ini menyesatkan. Di mana ponselmu, aku akan menghubungi seseorang untuk menjemputmu." Walau terlihat nakal, ternyata Jack mempunyai rasa empati yang tinggi. Ia tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Walau bertubuh sedikit pendek, Hazel termasuk dalam kategori wanita yang cukup menarik. Rambutnya berwarna cokelat kemerahan, lurus dan tidak terlalu tebal. Bulu matanya panjang dan lentik bernetra abu-abu. Hidungnya kecil tapi mancung. Hazel mengibaskan sebelah tangannya. Selain merasa tenggorokannya terbakar, kepalanya pusing, kini ia merasakan perutnya melilit sakit. Ia mual dan sungguh ia tidak tahan untuk tidak memuntahkannya. "Berikan aku plastik," pintanya dengan mengulurkan sebelah tangannya. Hazel semakin tersiksa mendengar alunan musik DJ yang terdengar sangat memekakkan telinga. Bagaimana bisa manusia-manusia itu terhibur dengan keadaan kacau seperti ini. Sungguh bagi Hazel bar adalah nereka. Ya, memang pada hakikatnya bar adalah liang dosa! Sumber petaka, seperti yang dirasakan Hazel saat ini. "Tidak ada plastik tapi bangunan ini mempunyai toilet yang cukup banyak, Nona." Jack menunjukkan lorong di sebelah kirinya, Hezel menggeleng, menolak untuk ke kamar mandi. Ia tidak sanggup untuk berjalan lagi. "Keira." "Keira?" Jack mengernyit bingung. "Namamu, Keira?" "Panggilkan Keira," perintah Hazel. "Siapa, di mana? Untuk itu berikan ponselmu agar aku bisa menghubungi salah satu kerabatmu, Nona." "Lantai dansa." Jack kembali mengernyit, ia mengarahkan pandangannya ke lantai dansa dan tidak menemukan ada jawabannya di sana. Banyak ratusan manusia di sana yang berbaur satu sama lain. Bagaimana ia bisa tahu siapa diantara mereka yang bernama Keira. Tubuh mereka saling berhimpit, menari sesuai selera masing-masing dan bahkan ada juga yang berdansa. Tidak diketahui apakah mereka sepasang kekasih atau sepasang suami istri dan mungkin bisa saja sepasang selingkuhan. Tapi apapun status mereka, tetap saja mereka adalah orang-orang bodoh yang tersesat. Tidak ada kebaikan yang ditemukan di dalam tempat haram itu. "Siapa Keira dan di mana dia.Hei, tolong jangan mengeluarkan isi perutmu di atas lantai atau di mana pun. Kau bisa kena denda, Nona." Jack memberi peringatan dan peraturan itu memang bedar adanya. "Panggilkan Keira, dia bersama kekasihnya, Moren." Apakah Jack tahu siapa itu Moren? Tentu saja tidak! Pertanyaan siapa Keira belum terjawab dan kini ada Moren yang harus kembali ia cari jawabannya. "Aku tidak tahu siapa yang kau sebut dengan Keira dan Moren. Tidak mungkin bagiku mencarinya ke lantai dansa dan menanyakannya satu persatu. Jika kau tidak bisa berjalan ke toilet, aku bisa mengantarmu." Jack menawarkan diri. Hazel tidak menjawab namun ia segera turun dari kursi dan seketika ia merasakan bumi berputar dan bergoncang. "Ini benar-benar tempat yang menjijikkan!" Hazel berjalan sempoyongan sebelum Jack sempat menyusulnya. "Entah apa yang dicari di tempat ini? Busuk, berisik, bau dan pengap. Ini panas sekali." Hazel terus saja menggerutu sambil berjalan. Bugh! Untung saja Hazel tidak tumbang, tangan seseorang manahannya begitu tubuhnya menabrak sesuatu di hadapannya. "Auch, berhati-hati lah saat berjalan, jangan hanya menggunakan kaki saja, tapi pergunakan matamu, juga." Menepis tangan yang menahan lengannya. "Mabuk? Heh?!" Mendengar suara yang sedikit familiar, Hazel mendongak. Wajah Felix terlihat samar, mabuk berat sudah melanda dirinya. "Oh! Aku seperti mengenalmu." Felix memperhatikan Hazel dari ujung rambut ke ujung kepala. Pakaiannya masih sama saat tetakhir kali mereka bertemu di kampus. Pria itu tidak menyusul saat Hazel meninggalkannya karena mendadak datang panggilan dari perusahaan yang butuh penanganannya. Felix mampir ke bar untuk menghadiri undangan koleganya. Kejutan, ia melihat Hazel berjalan sempoyongan begitu ia hendak ke toilet. Felix merotasi matanya, mencari seseorang yang mungkin mengajak Hazel ke tempat laknat tersebut. Pandangannya berhenti pada sosok Jack si bartender. Jack yang berdiri tidak jauh dari mereka mengangkat sebelah tangannya sebagai sapaan pada Felix. "Dia sedikit mabuk," Jack berteriak memberi tahu. "Ini tidak sedikit mabuk, bodoh!" Hazel sudah bersandar di dadanya, mungkin sudah tidak kuat menahan rasa sakit di kepalanya. Tubuhnya bergerak tidak nyaman akibat mual yang masih ditahan. "Sepertinya dia akan muntah, aku akan menjaga tasnya," Jack mengangkar tas Hazel yang memang ada di tangan pria itu. Jika saja Felix tidak mengenal Jack, mungkin ia sudah menghajar pria itu. "Wuuueeekkkkk!! Wuuekkk!" Benar saja, isi perut Hazle yang menyiksa akhirnya ke luar juga. Bau yang sangat menyengat seketika menyerang penciumannya dan ia tidak kuat menanggungnya, kembali ia muntah. Kotorannya memenuhi pakaian mahal Felix. Melihat hal itu Jack tertawa puas, ia pun berbalik membiarkan Felix mengurus kekacauan itu. "Ini bau sekali," Hazel membersihkan wajah dan mulutnya menggunakan jas Felix yang tidak ternoda atau pun tercemari muntahannya. "Kau harus dihukum!" ________ Hazel melenguh dalam tidurnya, masih enggan untuk membuka mata meski mentari sudah menyapa. Pantulan sinar matahari melalui celah-celah jendela yang menerpa wajah cantiknya tidak lantas membuatnya terusik. Hazel berbalik, memunggungi jendela serta menarik selimutnya kembali. Felix yang berada di sisinya tersenyum. Pria itu sudah mandi namun masih mengenakan pakaian santai. Duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, kaki panjangnya menjulur lurus dengan sebuah laptop yang berada di atas pahanya. Sembari menunggu Hazel bangun, ia bekerja dengan sesekali menikmati wajah Hazel yang menurutnya terlihat semakin cantik saat tidur. Sungguh ia tidak sabar untuk menikahi gadis itu. Sebentar lagi keingannya tersebut akan terwujud. Bibir Felix kembali mengukir senyuman menawan di wajah tampannya. Penantian enam tahunnya akan berakhir begitu Hazel membuka matanya. Sebuah kejutan besar sedang menanti Hazel. Felix memandangi Hazel dengan penuh kerinduan. Sepertinya baru kemarin mereka bertemu. Rentetan kalimat Hazel tentang bunuh diri dan patah hati masih ia ingat dengan jelas. Sudah berlalu enam tahun lamanya, Felix juga tidak melupakan pakaian yang dikenakan Hazel saat itu. Sekarang gadis remaja itu sudah dewasa dan tumbuh dengan sangat cantik. Seperti yang ia katakan pada Amber enam tahun lalu, ia akan meminta orang tuanya melamar Hazel untuk dirinya. Nasib baik berpihak pada Felix. Kedua keluarga mereka saling mengenal. Ke mana saja ia selama ini. Ia dan Amber sudah berteman bertahun lamanya dan ia tidak tahu bahwa Amber memiliki adik yang begitu manis sampai ia dan Hazel dipertemukan dalam situasi yang sedikit memalukan. Tapi lupakan tentang kesilapannya yang tidak mengenal Hazel saat Dave dan Sean benar-benar mengenal baik sosok Hazel. Lamarannya diterima walau dengan cara memaksa dan mengancam. Noah Roudolf-ayahnya Hazel memberi syarat tidak mengusik putri bungsunya sampai Hazel benar-benar dewasa, dan lihat lah selama enam tahun terakhir ini Felix setia menjadi penguntit. "Hmm, haus." Suara serak Hazel membuyarkan ingatan Felix tentang lamaran konyolnya saat itu. Felix mengulurkan tangan, mengambil air minum di atas nakas. "Duduklah." Mendengar suara pria, Hazel sontak membuka matanya. Melihat keberadaan Felix di kamar yang sama dengannya maniknya membulat sempurna. Ia pun segera duduk dan seketika merasakan pusing yang luar biasa. "Pelan-pelan, Hazel." Felix tersenyum sembari mengulurkan air minum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN