Rencana Pertemuan

1012 Kata
Maya duduk lagi di depan Sarah hari ini. Mungkin karena Morgan dan Maya beradik kakak, ia bisa melihat kesamaan di antar dua bersaudara itu. Salah satu kesamaannya adalah Maya juga mampu membuat suasana tegang menjadi menyenangkan. Padahal mereka baru saja bertemu dua hari, tetapi Sarah sudah merasa akrab dengannya. “Jadi Mama minta Kakak untuk bawa Kak Sarah ke rumah.” Sarah tersedak. Ia memukul dadanya yang terasa perih. Ia menerima uluran air mineral dari Gema dan meneguknya dengan rakus. “Pelan-pelan minumnya.” Pesan Gema sambil mengosok-gosok punggung Sarah. Maya hanya terpana saja menyaksikan pemandangan itu. Ia kemudian meremas-remas jemarinya dan sepanjang hari itu tidak berkata-kata apa-apa lagi. Apa yang disaksikan akan dikatakan pada Morgan nanti. Makanya Maya menunggu waktu pulang dengan tidak sabar. Ia lebih dulu berlari keluar kelas dibanding murid-murid lain yang biasanya semangat. Ia bertekad untuk bisa menemui kakaknya terlebih dahulu sebelum Sarah. Sebenarnya ia sudah mengirinkan pesan tadi. Pesan masuk, tetapi belum dibaca Morgan. “Aku heran, sebenarnya kita benar saudara kandung bukan, sih, Kak?” runggut Maya saat bertemu dengan Morgan di depan gerbang. Kakaknya itu mengernyit sebentar sebelum memalingkan wajah pura-pura tidak kenal. Maya menjadi semakin kesal dengan sengaja ia menendang helm di tangan Morgan hingga terpental ke trotoar. “Astaga, Dik, itu belum lunas,” selorohnya sama sekali tidak merasa kesal. Maya benar-benar iri dengan orang-orang yang terlahir sebagai anak tunggal seperti Sarah. Pastinya hari-hari dipenuhi kedongkolan seperti ini sama sekali tidak akan terjadi pada mereka. Namun, ia juga tidak mau kehilangan kakaknya. Maya benar-benar sudah terbiasa berebut semua hal dengan kakaknya. “Makanya jangan songong!” Maya terkikik geli. “Kak, Gema itu siapanya Kak Sarah, sih?” tanya Maya. Ia tak bisa menanyakan langsung karena takut kakak lelakinya marah. Morgan tentu sangat menyayangi Sarah. “Gema … teman masa kecilnya Sarah.” Morgan berkata hati-hati. Ia menangkap maksud pembicaraan Maya, tetapi tak ingin adiknya tersebut salah sangka. “Kakak sudah pernah ketemu?” tanya Maya lagi. “Sama anjing penjaga itu? Tentu saja, dia terang-terangan kasih lihat kalau tidak suka sama kakakmu ini.” Morgan juga mengangkat bahu, menginsyaratkan kalau dirinya sama tak pedulinya. “Tadi aku lihat ….” Maya tak jadi melanjutkan perkataannya. Tak jauh dari tempat dirinya dan Morgan berdiri ada Sarah dan Gema yang berjalan beriringan. “Nanti aja, deh, bye … Kak.” Ia melambai dan pergi meninggalkan Morgan yang melonggo. Maya berpapasan dengan Sarah saat beberapa langkah kembali masuk ke perkarangan sekolah. Ia melambai sebagai sapaan pada Sarah. “Maya kenapa?” tanya Sarah pada Morgan saat menerima uluran helm. “Tidak tahu, tiba-tiba saja dia datang, mencerocos dan kabur. Kebiasaan memang,” kata Morgan sama sekali tidak basa-basi mengejek adik kandungnya yang lumayan manis. “Enak, ya, punya saudara.” Sarah sudah selesai memakai helm dan masih menoleh ke arah Maya pergi. Tak lama ia melihat orang yang sama keluarga dengan menggunakan motor bebek dan menyapanya kembali dengan klakson. “Saudara seperti Maya maksudmu?” tanya Morgan. “Untuk kamu tidak punya yang seperti maya,” keluh Morgan sambil memejamkan mata. Namun, ia juga tak bisa membayangkan kalau bukan Maya yang jadi adiknya. “Semua orang memang seperti itu. Nanti kalau Maya sudah tidak ada saja, baru rindu,” cibir Sarah. Morgan menjepit hidung Sarah diantara jari telunjuk dan tengahnya. Gadis tersebut menepis tangan Morgan dan mengosok hidungnya yang sedikit memerah. Ia melotot tidak terima pada Morgan. Walau sebenarnya Sarah suka interaksi sederhana yang terjalin antara dirinya dan Morgan. “Aduh ….” Keluh Morgan tiba-tiba sambil memegang dadanya. Sarah mengernyit. Ia sama sekali tidak melayangkan pukulan pada Morgan, tidak mungkin kekasihnya itu merasakan sakit. “Kenapa?” “Aku selalu saja jatuh hati melihamu, Sarah. Setiap saat ketika ekspresimu berubah, sekali lagi kamu membuatku semakin suka.” Andai saja saat ini Sarah tidak suka pada Morgan. Maka gombalan yang sedikit memuakan ini hanya akan membuatnya kesal saja. Namun, sekarang ia malah ingin bersembunyi saking malunya. “Pu-pulang! Antar aku pulang morgan,” sahutnya dengan suara falsetto yang parah dengan wajah merah. Morgan tertawa dan mengangkat tangan segera. Ia berjalan gontai sambil mengenggam tangan Sarah dan naik lebih dulu ke jok motor. “Tapi singgah sebentar ya … makan siang?” ajak Morgan. “Ada yang mau aku omongin,” tambahnya. Dahi Sarah berkerut sekarang. Morgan jarang bicara dengan nada serius seperti ini. Bahkan saat ia menyatakan rasa suka, kalimat-kalimatnya diikuti ekspresi kocak hingga Sarah tak perlu merasa tegang. “O-oke.” Sarah menyetujui dengan perasaan was-was dalam hati. *** Bulu-bulu halus di sekujur tubuh Sarah berdiri seketika mendengar berita yang disampaikan Morgan. Wajahnya mendadak pucat dan lututnya juga sedikit gemetar. Ia meminta Morgan untuk mengatakan sekali lagi kalimatnya tadi, berharap pesan tersebut berubah. Namun, tetap saja sama. “Ibu mau ketemu sama kamu. Kalau ibuku sudah bilang begitu, mungkin juga Ayah akan ikut.” Sarah menuntup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya baru kemarin ia menjadi pacar Morgan. Sekarang orang tua pemuda tersebut malah ingin bertemu dengannya. Bagaimana jika Sarah tidak disukai? “A-apa harus, ya?” tanya Sarah tergagap. “Kalau kamu tidak bisa, aku akan bilang ibuku. Dia pasti paham. Dia cuma ingin kenal, kok.” Morgan sedikit panik menenangkan Sarah. “Ini gara-gara Maya. Dia bilang kamu terlalu sempurna untuk pemuda sepertiku.” Morgan melirik Sarah sedikit. Menurutnya memang Sarah sangat sempurna. “Kalau semisalnya aku belum mau bertemu, bagaimana?” tanya Sarah hati-hati. “Tidak apa-apa. Ibu pasti paham, paling … sedikit sedih. Aku jamin, ibuku bukan orang yang menyeramkan.” Sarah menelan ludah. Namun, ia tetap harus berpikir. Tidak mudah mendapat izin keluar dari Papa pada hai minggu. Biasanya dia selalu saja di rumah atau keluar sebentar dengan Gema. Papa kenal Gema dan suka pada temannya. Namun, Papa tidak menyukai Morgan karena dianggap menganggu rencananya. “Aku akan coba minta izin sama Papa. Tapi … kalau tidak dikasih, jangan marah, ya?” Wajah Morgan mendadak cerah. Ia mengangguk segera dan meminum minumannya yang sejak tadi belum disentuh. Setelah habis, ia mengantar Sarah sampai rumah seperti biasa. Minggu masih tiga hari lagi. Jadi sampai saat itu datang, Morgan harus berpikiran positif.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN