Selalu, saat berdua saja dengan Mahesa seperti ada benda berat di pundaknya. Udara yang dihirup Sarah bahkan tak terasa nyaman, bagai dipenuhi asap yang membuat sesak. Ia bersyukur karena siang tadi diajak makan terlebih dahulu oleh Morgan. Jadi kalau pun saat bersama Papa ia hanya makan sedikit, rasanya masih bisa bertahan.
“Mamamu menelepon Papa tadi siang?”
Sarah lantas menegakkan kepalanya. Ia sungguh senang mendapat kabar kalau sang mama menanyakannya. Sudah lama sekali ia tidak memeluk dan mengobrol lama. Papa tidak memberikan keleluasaan untuk mereka bertemu. Harus ada izin dari Papa baru bisa bertemu.
“Kamu bisa bertemu mamamu minggu?”
Sarah menelan makanannya susah payah. Ia ingat obrolannya dengan Morgan tadi siang. Kekasihnya mengajak bertemu dengan orang tua. Memang Sarah belum mengiyakan, tetapi rasanya sungkan juga menolak hal tersebut. Mungkin saja hubungan mereka langeng nanti.
“Jika kamu tidak bisa aku akan hubungi mamamu lagi. Aku akan bilang kalau Sarah tidak mau bertemu.”
“Tidak, Pa. Sarah cuma senang sekali sampai sudah membayangkan Mama ada di sini, makan bersama.” Yang dikatakan Sarah bohong. Kebohongan yang jelas diketahui papanya.
Lelaki yang duduk di kursi tunggal di kepala meja menyeka mulutnya dengan serbet. “Akan kuberitahu mamamu. Sopir akan mengantarmu sabtu malam.” Setelah itu ditinggalkan begitu saja oleh Mahesa putrinya di meja makan.
Sarah menunduk pasrah. Ia mulai berpikir untuk menolak ajakan Morgan menemui keluarganya. Akan sulit untuk meminta izin pada mamanya nanti. Bukan karena mamanya sama persis dengan Papa. Mama Sarah adalah orang paling ramah di dunia. Ia hampir tidak mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil yang Sarah buat. Bahkan mama Sarah yang memiliki nama Blair lebih bebas dari siapapun di dunia. Karena itu pulalah Blair dan Mahesa bercerai.
“Sebaiknya aku memang tidak menolak Morgan saja,” bisiknya pelan sambil menyelesaikan makan. Dengan langkah gontai Sarah kembali ke kamarnya.
Lampu kamar Gema masih menyala. Sarah pikir mungkin Gema akan mendengarkannya bercerita seperti biasa. Lagi pula ini buka cerita tentang Morgan. Ia mengambil ponsel dan menempelkannya di telinga setelah menekan dial. Tangannya membuka pintu teras kamarnya sendiri dan menarik kursi cukup dekat dengan pembatas. Pada pembatas ditumpukannya dagu.
“Halo?” Suara Gema terdengar di pengeras suara.
“Gema … aku bakal ketemu Mama minggu.” Sarah langsung ke pokok permasalahannya.
“Sudah lama, ya?” Gema menyahut.
Dari teras Sarah ia bisa melihat pintu teras Gema terbuka, kemudian siluet kelam yang pastinya teman masa kecil Sarah itu terlihat. Ia ikut duduk juga di teras dan pasti menghadap ke arah Sarah.
“Ya, aku tidak ingat kapan terakhir bertemu, mungkin sebelum ujian kenaikan kelas.” Sarah menerawang menatap angkasa.
Polusi cahaya membuat bintang sama sekali tidak terlihat di tempat mereka duduk. Pernah suatu ketika lampu padam di saat seperti ini. Dibanding duduk di dalam rumah yang panas tanpa AC, duduk di luar dan menatap langit terasa sangat menakjubkan.
“Lalu apa yang membuatmu khawatir?”
“Aku tidak khawatir,” elak Sarah. Sampai detika akhir ia tidak akan mengaku pada Gema.
“Aku kenal kamu, Sarah. Jika tidak khawatir, kamu tidak akan menghubungiku.” Lalu Gema tertawa. “Hubungan kita sedekat itu sampai aku bisa menilai apa yang kamu rasakan tanpa mendengar cerita sebenarnya.”
Sarah tahu. Karena itulah ia selalu merasa aman saat bersama Gema. Yang ia tak senang hanya sikap Gema terhadap Morgan saja. Bukannya sebagai sahabat yang baik, Gema harus ikut senang melihat ia bahagia. Bahkan sekarang ia masih belum tahu kenapa Gema terang-terangan menunjukan rasa tak sukanya.
“Papa tidak suka aku bertemu dengan Mama.”
Gema mendengus. Sarah mencoba membayangkan bagaimana tampang Gema sekarang.
“Aku tahu alasannya.”
Sarah tidak akan bertanya. Seperti alasan Gema tidak suka pada Morgan, alasan Papa tidak suka pertemuannya dengan Mama sama misterius.
“Padahal dulu mereka saljng mencintai. Pasti begitu, kan?” tanya Sarah.
Ia pernah melihat foto pernikahan Papa dan Mama. Keduanya terlihat sangat bahagia di dalam foto.
“Tentu saja.” Jawaban singkat Gema menenangkan perasaan Sarah seketika.
***
“Barusan apa yang kamu katakan?” tanya Sarah cepat.
Gema ingin membenturkan mulutnya ke pagar pembatas. Mulutnya ini memang kurang diberi pelajaran. Otaknya kadang-kadang tidak sinkron dengan anggota tubuh. Apa katanya tadi? Kenapa ia mengatakan kalau Sarah bodoh tidak bisa menyadari perasaannya.
Bukan Sarah yang bodoh, dirinya yang i***t karena tidak juga mengatakan perasaannya sampai akhir dibanyak kesempatan.
Sarah dibesarkan secara konvensional di mana tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya. Kalau pun ia menyadari perasaan Gema, tak akan mungkin gadis itu secara terang-terangan memberitahu kalau dirinya sadar.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku!” Sarah rupanya menanti jawaban.
Namun, Gema tidak akan memberikan jawabannya sekarang. Tidak saat Sarah masih memiliki Morgan sebagai kekasih. “Aku harus menyelesaikan PR,” alasannya.
“PR yang mana? Tidak ada PR untuk besok,” sahut Sarah segera.
Mereka sekelas, tentu saja Sarah tahu. “PR dari tempat les.”
“Tapi, kan ….”
Gema tidak menunggu sampai Sarah menyelesailan kalimatnya. Karena ia tahu betul apa yang akan Sarah katakan. Gema tidak ikut les apapun, Sarah juga tahu itu.
Apa yang harus aku katakan kalau bertemu besok? Gema berlari ke dalan kamar dan mematikan nada ponselnya.
Walau tidak dilihat Sarah sekarang, Gema merasa sangat lalu. Ia berharap pagi lambat datang supaya bisa mempersiapkan diri. Pengharapannya sama sekali tidak menjadi kenyataan. Sebab waktu berjalan di alurnya dan sama sekali tidak akan melambat atau menjadi lebih cepat.
“Kenapa wajahmu terlihat buruk begitu?” Ibu Gema menegur saat ia menuruni tangga.
Gema biasanya bercerita. Akan tetapi, karena kejadian terakhir kali ia malah menjadi bahan olok-olokan karena tidak berhasil mengungkapkan perasaan, bercerita adalah hal yang buruk.
“Tidak ada apa-apa, aku berangkat, Bu,” pamitnya sebelum ada pertanyaan yang lebih spesifik.
Sarah rupanya sudah ada di halte. Dari gerbang rumahnya ia bisa melihat Morgan juga sudah ada di sana. Gema malas sekali harus berpapasan dengan Morgan. Maka ia berlama-lama melangkah. Akan tetapi, tetap saja ia harus berbagi halte dengan pasangan yang sedang kasmaran itu.
“Jadi kamu mungkin tidak bisa pergi bersamaku hari minggu?” tanya Morgan terdengar sangag kecewa.
Sarah menatap Morgan memohon maaf. Ini sudah lama sekali saat ia bisa bertemu ibunya. “Aku benar-benar tidak bisa.”
Gema yang mendengar obrolan tersebut mendecih kesal. Sarah sudah berbohong padanya. Bukan suasana hati papa Sarah yang menbuat gadis itu cemas, tetapi karena janji yang terpaksa diingkari dengan Morgan.
“Rupanya dia memang membuatmu menjadi gadis nakal,” kata Gema cukup keras untuk bisa di dengar Sarah.