Semalam entah apa yang dikatakan Gema padanya. Teman yang sudah dikenal sejak kecil tersebut menutup telepon sebelum ia bisa bertanya. Hari ini bahkan Sarah tidak perlu mengajukan pertanyaan karena perkataan Gema cukup keras. Ia menuduh Sarah menjadi anak nakal.
“Kamu barusan bilang apa?” tanya Sarah karena terkejut.
“Kamu pasti dengar cukup jelas!” Gema memalingkan wajah tak mau melihat ke arah Sarah.
“Maksudmu pasti tidak seperti yang aku pikirkan, kan?” tanya Sarah dengan suara bergetar. Ia biasa menangis saat disidir Papa. Akan tetapi, Gema sama sekali tak pernah membuatnya sakit hati. Gema adalah sahabat yang paling baik yang dimiliki Sarah.
“Aku tidak menyangka kamu akan berbohong padaku. Kamu tidak seperti ini dulu,” kata Gema. Ia melirik pemuda yang ada di samping Sarah dan merasa bertambah kesal.
“Aku tidak berbohong padamu.” Namun, Sarah diam saja sesudah mengatakan itu. Ia sepertinya menyadari kesalahannya. “Maaf, aku tidak bermaksud ….”
“Kamu benar-benar sudah berubah. Aku tidak mengenalimu lagi sekarang,” katanya.
Air mata Sarah mengalir. Teman Gema ini memang padanya cengeng. Hal kecil yang melukai hatinya pasti bisa membuatnya menangis dan Gema selalu berusaha hal tersebut tidak terjadi. Namun, kali ini ia sama sekali tidak tersentuh untuk menghentikan tangisan Sarah. Ia tetap diam di tempatnya memandang dengan tajam.
Sarah ditarik sedikit oleh Morgan, di tempatkan di punggung pemuda itu. “Kalau seperti ini caramu menghadapi seorang gadis kamu tidak akan bisa menarik perhatiannya,” sindir Morgan.
Bahkan sikap paling manis di dunia pun sama sekali tidak bisa membuat Sarah menyadari perasaannya. Kenapa Gema harus khawatir dengan konfrontasi seperti ini?
“Ini bukan urusanmu!” sembur Gema. Sadarkah Morgan kalau yang sedang terjadi ini karena keberadaan pemuda ini di dekat Sarah.
Jika saja Sarah tidak menyukai Morgan, Gema tidak akan menjadi orang seburuk ini. “Jika kamu benar-benar sahabatnya, sebaiknya kamu bersikap seperti seorang sahabat.”
“Apa kamu tidak melihat aku sedang melakukannya? Aku sedang memperingatkannya karena dia berubah. Kamu pikir apa yang sedang kulakukan?” Gema nyaris mendorong tubuh Morgan ke belakang, tidak peduli tentang Sarah yang mungkin akan terluka karena tindakannya.
“Kamu hanya terlihat seperti pengecut di mataku!”
Satu pukulan dari Gema mendarat di rahang Morgan. Membuat kekasih Sarah tersebut terhuyung sambil memegangi rahangnya yang terasa nyeri. Sarah yang ada di belakangnya terpekik dan berputar untuk menjadi tameng kekasihnya itu.
Melihat itu, Gema menjadi semakin marah. Ia merangsek maju kembali, menarik kerah Morgan. Akan tetapi, tangannya ditepis Sarah dengan kasar. Sebagai pembalasan gadis teman dari kecilnya tersebut melayangkan tamparan.
Gema terkejut menerima hadiah yang menyakitkan itu. Ia menatap Sarah tidak percaya. “Terima kasih,” katanya lirih.
Ia lekas meloncat ke atas bus yang lewat tidak peduli ke arah mana kendaraan tersebut membawanya. Gema masih sempat menoleh ke belakang sebelum benar-benar menghilang di antara kerumunan orang di pintu masuk bus. Ia sudah tidak peduli apa yang akan terjadi lagi selanjutnya. Ia akan bersikap seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi. Ia akan bersikap tidak pernah mengenal Sarah sejak hari ini. Mungkin itu hal terbaik yang bisa dilakukan.
***
Sarah menatap bisa yang membawa Gema di dalamnya dengan pandangan tidak percaya. Rasanya menyakitkan mendengar Gema menuduhnya sudah berbohong. Sarah mungkin memang sudah melakukan semua itu. Namun, ia memiliki alasan kenapa melakukan hal tersebut. Itu semua karena Gema. Ia tak mau melukai perasaan sahabat yang sangat disayangi.
“Sarah?”
Sarah lupa jika ada Morgan di belakangnya. Ia sekarang juga tidak mau Morgan melihat sisi buruknya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berjongkok. Ia berpikir mungkin akan muncul lubang di jalanan dan bisa menjadi jalan pelariannya. Namun, hal tidak logis tersebut tidak akan terjadi di dunia nyata.
Ia bisa merasakan tangan Morgan yang besar menariknya ke atas dan memeluknya dengan posesif, melindunginya dari apapun yang mendekat.
“A-ku tidak apa-apa,” katanya melepaskan diri dari Morgan. “Andai aku tidak harus pergi ke sekolah hari ini,” gumam Sarah. Ia masih belum siap bertemu dengan Gema.
“Baiklah ….” Morgan menyahut.
Ia mengambil helm yang tergantung di motor dan memberikannya pada Sarah. Apapun yang diinginkan Sarah pasti akan dikabulkan. Morgan lalu mengirim pesan pada Maya untuk membuat surat izin palsu untuk Sarah. Hanya sehari, kekasihnya tidak akan mendapat masalah jika libur sehari saja.
“Jadi ada tempat yang ingin kamu datangi?” tanya Morgan segera setelah pesan untuk adiknya Maya terkirim.
“Eh?” Sarah menelengkan kepala. Ia tak paham dengan yang dikatakan Morgan. Jika ada tempat yang ingin didatangi, hanya tempat di mana bisa menyendiri. “Tidak mungkin ada tempat yang sunyi, kan?” katanya asal.
Morgan tersenyum. “Kamu tidak akan tahu kalau tidak pergi ke sana, kan?”
Lalu Morgan meminta Sarah untuk naik ke atas motornya. Sarah pasti adalah seorang siswa teladan. Sebab saat Morgan sampai di pantai dan waktu di jam tangan sudah menunjukan pukul 9:00 WIB, gadis itu panik bukan main. Morgan perlu usaha keras untuk membuat Sarah tenang.
“Tapi … nanti ketahuan,” katanya pada Morgan dengan wajah pucat.
Morgan membelai pipi Sarah sedikit dan kembali meyakinkan kalau tidak akan ada masalah dengan menghilangnya Sarah sehari saja. Ia menambahkan di dalam hati kalau masalah itu akan datang jika si penjaga yang baru saja mengundurkan diri melapor. Akan tetapi, melihat tindak tanduk Gema tadi sepertinya ia juga bersyukur Sarah tidak muncul di sekolah.
“Kamu juga akan mendapat masalah,” kata Sarah.
“Kamu tahu, masalah selalu mendatangi bahkan tanpa diundang,” jelasnya dengan sangat menyakinkan.
Morgan tidak ingat nama pantai yang didatangi. Kawasan itu ia temukan ketika kelas tiga SMA, saat hari kelulusan di mana mereka melakukan konvoi di jalan. Ia dan teman-temannya singah di pantai ini karena sepi.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan di sini?” tanya Morgan mengedipkan matanya mengoda Sarah.
Raut wajah Sarah yang awalnya pucat langsung berwarna kontras. Ia lalu memalingkan wajah dari Morgan. Sekuat tenaga Morgan berusaha untuk tidak tertawa. Ia tidak berencana melakukan hal apapun yang tidak senonoh pada kekasihnya yang lucu. Ia pun memiliki adik perempuan yang perlu dijaga. Hal apapun yang akan dilakukan pada Sarah, selalu dibayangkan dilakukan adiknya dengan cecungguk kecil tanpa nama. Morgan akan membunuh siapapun yang melakukan hal b***t pada Maya.
“Ayo buka sepatumu. Air sedang surut, kita bisa jalan-jalan sampai batas pantai,” ajaknya sambil melepaskan sepatu sendiri dan mengulung celana jinnya sampai betis.
Sarah terlihat menikmati berjalan di pasir. Sesekali jemarinya merengkuh beberapa serpihan karang yang hancur karena diterpa gelombang di bawah lautan dan hanyut sampai ke tepian dan melemparkan kembali ke gulungan ombak. Dengan Sabar Morgan mengikuti gadis tersebut dari belakang dan tidak bertanya kapan kekasihnya akan jenuh dan berhenti melakukan itu.
“Jadi … kenapa kamu begitu sabar?” tanya Sarah ingin tahu. Mereka berteduh dan duduk di bawah pohon kelapa yang menjorok ke pantai. Hanya Sarah yang duduk, Morgan memilih berdiri dengan punggung bersadar ke pohon.
“Aku memiliki satu sepertimu di rumah. Dia akan melihatku seperi anak anjing yang terluka sampai aku melakukan sesuatu.”
Morgan memandang Sarah sekarang dan ia yakin sudah melakukan kesalahan.