Jantungnya berdebar-debar cepat penuh kekhawatiran. Sarah pulang seperti biasa ke rumah di jam pulang sekolah. Seperti biasa pula Morgan menurunkannya di halte bus. Sarah pasti tak akan salah melihat pemuda yang berdiri di depan rumahnya. Posisi tubuhnya terlihat tegang dan sesekali ia melihat ke arah halte. Begitu melihat Sarah berjalan mendekat, pemuda yang tadi berdiri, berbalik masuk ke dalam pekarangannya. Sama sekali tidak punya keinginan untuk menunggu Sarah dan berbicara padanya.
“Sudahlah … jangan berharap!” kata Sarah pada dirinya sendiri.
Namun, ia sedikit terhibur dengan keberadaan orang yang baru saja marah-marah padanya pagi tadi. Melihat Gema berdiri di sana menunggu, artinya temannya sejak kecil itu masih memiliki kepedulian terhadapnya.
“Papa menunggu Sarah?” tanyanya kaget begitu memasuki gerbang.
Mahesa berdiri bagai tonggak kokoh yang sendirian di sebuah bangunan. Ia melirih Sarah sedikit sebelum bicara. “Aku harus keluar kota hari ini. Jadi besok kamu berangkat dari rumah mamamu saja.”
Rupanya Mahesa sama sekali tidak percaya sejak Sarah kedapatan pulang dengan Morgan. Ia mungkin membayangkan anaknya melakukan hal yang tidak-tidak.
“Ya, Sarah akan segera berkemas,” katanya sambil bergegas naik ke undakan masuk rumah.
Tak lama Sarah sudah kembali dengan koper kecil berisi beberapa pakaian ganti dan sekolahnya. Hari ini jumat, jadi ia akan berada di tempat mamanya selama tiga hari. Rasanya pasti sangat menyenangkan menghabiskan banyak waktu dengan wanita yang sudah melahirkannya.
Apartemen yang ditinggali Mama dibeli dari penghasilannya sendiri. Begitu Papa memberitahu Sarah saat usianya 14 tahun saat pesta di sana. Sudah hampir delapan tahun memang Papa dan Mama bercerai dan sampai saat ini Sarah tidak mencoba mencari tahu dasar keretakan hubungan kedua orang tuanya. Kalau pun ia tahu, tidak akan membantu. Orang tuanya tidak akan kembali lagi menjadi satu keluarga. Di antara mereka sudah terbangun tembok ego yang sangat tinggi dan sulit dilewati.
Mama menanti Sarah di lobi apartemen. Hujan turun saat ia mengeret kopernya ke dekat Blair. Wanita yang melahirkan Sarah itu langsung mengecup kedua pipi kiri dan kanannya sebelum membantu menarik koper masuk. Lift apartemen membawa mereka langsung ke lantai yang diinginkan. Karena sudah lama tidak bertemu ada kecangungan yang terasa oleh Sarah. Blair juga pasti merasakan hal itu.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Blair.
“Baik, Ma.” Pertanyaan dan jawaban yang diberikan terdengar seperti basa-basi. Namun, apa boleh buat.
Blair membantu Sarah membereskan barang bawaannya. Ia menyusun satu-satu pakaian putrinya di dalam lemari.
“Malam ini tidur dengan Mama, ya?” tanya Blair ragu.
Sudah lama sekali memang mereka tidak bertemu. Kalaupun bertemu hanya sampai sore. Mantan suami Blair sangat protektif. Ia takut Blair mempengaruhi anak semata wayang mereka. Padahal Blair tak akan mengajarkan sesuatu yang buruk. Ia menyadari sangat menyayangi putrinya setelah bercerai. Akan tetapi, ia tak sangup terus-terusan hidup dalam ego Mahesa.
Sarah bisa merasakan pelukan di tubuhnya. Aroma Blair yang wangi langsung terhidu oleh lubang hidungnya. Matanya menjadi perih karena itu. Ia teramat rindu pada pelukan seperti ini. Papanya sama sekali tidak memperlakukannya dengan hangat. Walau Sarah yakin Mahesa juga menyayanginya. Sesekali ia menginginkan ungkapan kasih sayang seperti ini.
“Ya.” Sarah membalas pelukan Blair dan juga menjawab pertanyaannya tadi.
***
Aku sudah mengatakan hal yang kejam.
Sekarang Gema menyadarinya. Ia ingin menelepon Sarah, tetapi rasanya tidak etis meminta maaf dengan cara seperti itu. Maka ia bertekad jika Sarah sampai di sekolah nanti, Gema akan langsung meminta maaf. Namun, sampai bel masuk berbunyi batang hidung Sarah tak tampak. Gema mulai cemas.
Begitu pengambilan absen, ia melihat Maya adiknya Morgan datang dan menyerahkan surat izin atas nama Sarah. Padahal ia melihat Sarah di halte bus tadi pagi. Apa karena konfrotasi yang dilakukan Gema Sarah memutuskan kembali ke rumah?
Akan tetapi, Gema sangat kenal Papa Sarah. Mahesa orang yang sangat keras. Ia tidak akan membiarkan Sarah membolos tanpa alasan jelas.
Pasti ini ulah Morgan!
Akhirnya Gema memutuskan itulah alasan yang membuat Sarah seperti ini. Ia mengepalkan tangan sampai jari-jarinya memutih. Ia akan membuat perhitungan dengan Morgan jika terjadi sesuatu yang buruk pada Sarah nanti.
Pelajaran hari terasa sangat lambat. Waktu lama sekali bergulir hingga rasanya Gema ingin berteriak karena kesal. Ia bahkan tidak bisa menghabiskan makan siangnya saat istirahat. Hiruk pikuk sekolah terasa sangat menyiksa kini.
Begitu bel pulang berdering keras di pengeras suara, Gema menjejalkan semua buku dan alat tulisnya asal ke dalam tas. Sebelum guru pelajaran terakhir keluar, ia sudah mendahului. Ia hanya harus cepat pulang dan memastikan bahwa Sarah baik-baik saja. Bahwa kata-katanya tidak menyakiti Sarah cukup banyak hingga gadis itu akhirnya membenci Gema.
Namun, ia mengurungkan niatnya begitu akan berbelok ke pintu pagar Sarah. Ia tidak boleh memberitahu siapapun kalau Sarah bolos dan bukannya ke sekolah. Ini adalah cara paling ampuh yang bisa dilakukan Gema untuk membuktikan dirinya menyesal.
Ia bersandar di dinding pagar rumahnya sendiri dan sesekali mendongak ke arah halte bus. Saat Sarah turun dari boncengan Morgan, Gema merasakan kelegaan yang teramat sangat. Hatinya segera menyuruh Gema untuk menemui Sarah, tetapi kewarasan mencegah. Maka tanpa menemui Sarah terlebih dahulu, ia berbelok masuk ke dalam rumah.
“Kamu melakukan hal yang salah dan tidak berani minta maaf, ya?”
Ia terkejut dengan sapaan ibunya dan memalingkan wajah dengan cepat. Ibu Gema nyaris seperti peramal. Ia tahu segala hal tanpa perlu benar-benar mendengar dan melihat. Di rumahnya Ibu adalah makhluk paling serba bisa. Ia mengerjakan hampir semua hal sendiri.
“Tidak.” Gema mengelak. Ia tidak akan mau mengaku salah. Ia memang tidak salah. Morgan sudah merubah Sarah menjadi gadis yang tidak baik, seorang pembohong.
“Satu hal yang tidak kusukai darimu dan ayahmu. Kalian sama sekali tidak pernah mengaku kalah.”
Langkah Gema terhenti lagi. Ia merasa Ria sedang menghakiminya. Namun, hal itu pasti tidak benar. Tidak ada seorang ibu yang melakukan hal buruk terhadap anaknya.
“Tapi aku memang tidak melakukan hal buruk!” teriak Gema. Ia bisa mendengar hatinya sendiri mencemooh tindakannya tadi pagi. Ia menepis semua cemoohan itu segera dengan mengatakan pada dirinya sendiri kalau yang dilakukannya itu benar.
Mamanya memaling wajah dan bernyanyi sekarang. Sepertinya tahu benar kalau saat ini Gema salah tingkah. Langkah Gema semakin berat masuk ke dalam rumah. Ia mulai menimbang-nimbang untuk meminta maaf pada Sarah. Ia yakin Sarah akan memaafkannya. Temannya sama sekali bukan orang yang pendendam.
Saat setelah selesai mencuci muka dan menatap bayangannya sendiri di cermin, Gema memutuskan untuk meminta maaf pada Sarah. Ia harus melakukannya untuk mempertahankan persahabatan mereka. Hanya persahabatan ini yang membuatnya dekat dengan Sarah. Keadaan bisa saja berubah suatu saat. Morgan belum tentu jadi orang yang mengisi hari-hari Sarah.
“Wah … sudah sadar rupanya!” seru Ria saat Gema tergesa-gesa keluar dari rumah.
Gema rasanya malu sekali. Ibunya kenapa punya kebiasaan favorit mengodanya dalam beberapa waktu ini. Rasanya melihat Gema kelimpungan kebingungan membuat wanita yang melahirkan Gema bahagia. Ia tidak peduli dengan kata-kata ibunya sekarang. Ia berlari ke rumah Sarah.
“Eh … Mas Gema. Non Sarah sudah pergi sama Tuan. Katanya menginap di tempat mamanya.” Satpam yang menjaga di depan pagar memberitahu.
Seharusnya Gema keluar lebih cepat dari biasanya. Ia harus menunggu lebih lama untuk meminta maaf dengan benar sekarang.