Izin dari Blair

1211 Kata
Sudah berapa kali Morgan menelepon Sarah. Ia sudah mematikan nada suara ponselnya. Namun, ketika lampu kamar mati ponsel yang diletakan di atas nakas itu tetap berkelap-kelip. Ia berharap Mama tidak terganggu dengan permainan cahaya tersebut. Akan tetapi, harapan Sarah tidak terkabul. Blair bangun dan mengambil ponsel Sarah. Sarah sekuat tenaga memejamkan matanya. Ia berharap mamanya percaya kalau dirinya sedang tidur. “Tidak kusangka putriku sudah menjadi seorang gadis,” kata Blair pelan. Sekali lagi ponsel tersebut menyala dan masih nama yang sama tertera di sana. Blair melirik ke arah ranjang dan putrinya masih tidak bergerak. Tidak ada dua titik cahaya yang bersinar dari matanya yang menandakan gadis itu terbangun. “Sebaiknya kuangkat,” bisiknya pelan sekali. Jantung Sarah berdebar lebih keras lagi mendengar apa yang akan dilakukan Blair. Ia berdoa dalam hati Morgan akan memutus panggilan jika tidak mendengar suaranya. Harusnya tadi selagi sempat ia mengirim pesan pada Morgan, mengatakan kalau malam ini tidak bisa menerima telepon. Blair bertanya-tanya apa reaksi kekasih anaknya jika mendengar suaranya. Apakah akan menutup telepon ataukah berbasa-basi dan mengatakan kalau mereka teman biasa. Namun, foto yang ikut terpampang di layar menjelaskan hubungan yang lebih dari pada teman. “Halo?” sapanya setelah berdehem beberapa kali untuk membuat suaranya sejernih mungkin. Hening sesaat. Blair bisa mendengar seseorang bernapas di seberang sana. Jadi ia pastikan kalau si penelepon terkejut karena orang yang menjawab panggilannya berbeda dari biasanya. Kalau memang membutuhkan waktu, ia akan memberikan sebanyak yang diinginkan pemuda yang sudah menarik perhatian putrinya. “Ha-lo?” Suara berat yang menjawab di seberang sana terdengar cangung. Blair bisa paham kenapa bisa terjadi demikian. Pada masanya jika yang menjawab panggilan orang lain, pasangan masing-masing lebih memilih memutus panggilan. Anak muda yang sedang bicara dengan Blair dinilai sangat berani. “Ini dengan siapa? Saya Blair, mamanya Sarah. Sarah sedang tidur.” Ada suara tercekat di dalam telepon. Sekarang perasaan canggung di penelepon bertambah dengan kekagetan. Blair pikir sebentar lagi pasti pemuda yang sedang bicara dengannya akan berkata kalau sedang salah sambung. Namun, dugaannya salah. “Begitu ya Tante.” Jawaban yang didengar Blair sangat tenang dan tertata. “Ya, ada pesan?” tanya Blair. Ia jadi ingin mengoda sedikit. Dalam hati ia memohon maaf pada Sarah yang tidur di sebelahnya. Karena tidak ingin membangunkan Sarah, Blair berdiri dari tempat tidur. Ia membuka pintu kamar dan duduk di ruang tengah apartemen. Dinaikannya kaki ke atas sofa dan ia mendengarkan pemuda yang ada di dalam telepon berbicara. “Mmm … saya boleh minta izin membawa Sarah hari minggu, Tante?” tanya pemuda itu ragu-ragu. Seolah-olah apa yang akan disampikan sangat tabu, tak layak didengar Blair. Blair berpikir sebentar. Ia memang ingin sekali mengobrol dengan Sarah, tapi dirinya juga ingin putrinya sedikit bebas. Hidup di bawah seorang lelaki yang dibesarkan secara keras, kebebasan nyaris terengut dari hak hidup Sarah. “Memangnya ada acara apa?” Hening lagi di seberang sana. Jika ini tidak penting, Blair juga tidak ingin memberi izin. Walau kebebasan memang ingin diberikan pada putrinya, tapi keamanan lebih penting. “Saya berencana memperkenalkan Sarah pada keluarga. Mmm … mereka penasaran seperti apa Sarah. Adik saya yang satu sekolah berkoar-koar sepanjang hari.” Blair tahu zaman sudah berubah. Makanya ia sama sekali tidak terkejut dengan alasan yang disampaikan pemuda di telepon. “Ini dengan siapa?” tanya Blair saat menyadari bahwa peneleponnya belum menyebutkan nama. “Sa-saya Morgan, Tante. Maaf ….” Ada kegugupan di dalam suara Morgan. Pastinya ia merasa bersalah setelah melupakan pertanyaan Blair di awal tadi. Karena itu Blair tak heran saat panggilan terputus. Ia tertawa-tawa kecil menyadari betapa gugupnya pemuda bernama Morgan tersebut harus bicara padanya. “Ma ….” Sarah sudah duduk di atas ranjang mereka. Lamput di kiri kanan tempat tidur telah menyala. Karena sinar itu Blair bisa melihat wajah putrinya memerah. “Dia manis, ya, kan?” Blair tidak bisa menahan diri untuk tak mengoda Sarah. Putrinya benar-benar sudah dewasa sekarang. *** Jantung Morgan berdentum-dentum, suaranya memekakan telinga. Ia sama sekali tidak menyangka jika Sarah sedang bersama dengan mamanya. Sebenarnya Morga tidak kenal betul dengan kedua orang tua Sarah. Ia memang pernah bertemu dengan papa Sarah dan reaksi saat bertemu dengannya tidak baik. Maka ia pikir mama Sarah mungkin akan bereaksi yang sama. Begitu mendengar suara mama Sarah di ponsel, seluruh indranya mengalami serangan seketika. Otak Morgan bisa dibilang gagal berfungsi. Ia tak tahu harus berbuat apa, tapi akan tak sopan menutup telepon secara tiba-tiba. Bahkan rupanya Morgan mendapat izin untuk membawa Sarah. Ia merasa amat sangat bersyukur. Namun, ia melupakan sesuatu. Jelas-jelas mama Sarah memperkenalkan diri terlebih dahulu, Morgan lupa tata krama. Ia merasa sangat malu karena hal tersebut. “Ah … aku benar-benar ingin mendengar suara Sarah,” keluhnya pelan. Ia berguling di atas ranjang sambil mendekap ponsel. Padahal dulu ia juga pernah merasakan yang namanya cinta monyet. Akan tetapi, ini pertama kali ia merasa sangat galau seperti ini. Ia ingin bertemu dengan Sarah, melihat ekspresi gadis itu, dan melakukan banyak hal untuk membuat Sarah tertawa. Rasanya jika tidak mendengar suara Sarah sehari saja dunianya jadi abu-abu. “Cih!” Morgan langsung mendongak. Ia melihat adiknya di depan pintu sambil bersedekap. Ia mengambil bantal dan meleparnya. Bantal hanya membentur dinding dan jatuh ke lantai. “Ibu suruh tanya, minggu bisa bertemu Kak Sarah?” Dengan langkah jumawa Maya masuk ke dalam kamar. Ia duduk dengan melipat kaki di kursi meja belajar. Morgan yakin adiknya itu menahan ejekan, tetapi wajah manis Maya dikondisikan datar. “Jadi.” Maya langsung melonjak dari kursi dan menghambur ke arah Morgan. Tanpa aba-aba ia menindih kakaknya di atas kasur. Tangannya memukul-mukul punggung Morgan sambil tertawa. “Begitu dong, Kakak harus kasih kabar gembira!” tambahnya. Selanjutnya adik Morgan tersebut lari keluar dan berteriak. “Dia benar-benar adikku, kan?” tanya Morgan pelan sambil melongo. Maya benar-benar tidak ada feminimnya saat berada di dekat Morgan. Ia bisa ingat masa kecil mereka. Maya lebih jago saat berkelahi bahkan berinteraksi dengan para anak lelaki di sekitar rumah. Morgan hanya akan mengawasi dari kejauhan, memastikan tidak ada yang akan menganggu adik semata wayangnya. Ia berdiri dan menyusul Maya yang sudah berlari ke lantai bawah. Suara Maya yang khas mengema di sekeliling rumah ditingkahi tawa kedua orang tuanya. Morgan sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang begitu tenang. “Suaramu keras sekali, kamu harus berusaha feminism sedikit seperti Ibu. Kapan kamu akan dapat pacar kalau gayamu sehari-hari seperti gorilla!” seru Morgan mengejek. Maya langsung berdiri dari duduknya. Ia sedang diapit oleh Ayah dan Ibu. Matanya melotot seolah-olah sedang berusaha menakuti Morgan. “Apa?” tantang Morgan. Maya malah mencebik dan berlari ke arah kedua orang tua mereka. “Lihat saja, aku akan meritahu Kak Sarah kalau Kakak itu jahat. Biar dia Tidak suka lagi!” teriaknya di tengah perlindungan. Morgan jelas tertawa. Mau bagaimana pun cara Maya menghasut Sarah, gadisnya pasti tak akan berubah sikap. Satu satu yang dikagumi Morgan dari Sarah adalah keteguhan. Butuh keteguhan hati untuk mengucapkan perasaan pada orang seperti Morgan. “Sarah bukan ABG labil,” bela Morgan. “Kalau nanti aku sudah tidak bisa Kakak lihat lagi karena menikah, Kakak pasti menyesal!” tuding Maya sambil meminta bantuan pada ayah mereka. Morgan semakin tertawa. “Tidak akan. Aku malah senang karena tidak harus mengurusimu sepanjang waktu.” Morgan hanya tidak tahu saat ini karena suatu saat ia akan sangat menyesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN