Gaun Merah Jambu

1313 Kata
“Kamu tidak ingin memberitahu Mama sesuatu Sarah?” Setelah masuk ke kamar kembali, Blair sadar kalau Sarah tidak tidur dan mendengarkan obrolannya dengan pria bernama Morgan. Hanya saja putri cantiknya cukup takut untuk bertanya dan mengatakan sesuatu. Padahal Blair adalah wanita cantik yang awet muda, tidak terlihat kejam seperti nenek sihir. Blair tidak memaksa waktu itu. Bahkan ia tidak membahas apapun begitu pagi datang. Ia hanya menikmati salad yang dihidangkan dan menatap Sarah penuh arti. Sarah hanya menusuk-nusuk saladnya sedari tadi. Ia mengangkat kepala dengan enggan, menilai, dan kemudian mengeleng pada Blair. Bagaimana kalau Blair marah? Sarah bertanya-tanya dalam hati. “Semalam kamu tahu, kan, kalau temanmu menelepon. Siapa ya namanya? Mor-gan.” Sarah tersedak. Ia belum siap untuk diinterogasi Blair. Apa yang akan dijelaskan Sarah? Bahwa ia memiliki pacar padahal papanya telah menjodohkan? Bahwa ia suka sekali pada Morgan melebihi apapun di seluruh dunia? Tidak mungkin ia akan membicarakan hal itu kan? Blair berhenti mengunyah. Ia mengapai gelas berisi air putih dan meneguknya. Setelah meletakan gelas, ia menjulurkan tangan untuk mengapai tangan Sarah di atas meja. Putrinya sedikit kaget ketika ia mengenggam jemari Sarah. “Apa kamu pikir Mama akan marah padamu? Apa kamu berpikir Mama akan mengekang kebebasanmu?” Blair bertanya dengan sungguh-sungguh. Sarah mendongak kembali, menilai raut wajah orang tua yang jarang dilihatnya dan kemudian mengeleng. “Morgan memang bilang apa, Ma?” tanyanya akhirnya. Blair tersenyum. Ia kemudian menceritakan obrolan singkatnya dengan Morgan. “Tebakan Mama, Morgan itu pacarmu?” Tidak butuh jawaban bagi Blair untuk tahu jawaban Sarah. Wajah putrinya itu bersemu merah karena malu. Ingin sekali ia mencubit hidung sarah yang mancung sebagai hukuman karena tidak bercerita padanya lebih cepat. “Apa dia tampan?” Perlahan Sarah mengangguk. Siapapun yang melihat, Morgan pasti dikatakan sempurna. Selain tinggi dan bekulit putih, Morga memang tampan dan menjadi incaran banyak gadis. “Kalau begitu kamu harus siap-siap juga!” seru Blair bersemangat. Ia sudah lama tidak menghabiskan waktu dengan Sarah. Sebenarnya ia cukup kebingungan harus melakukan apa dengan Sarah selama dua hari tiga malam ini. Akhirnya ia mendapatkan ide yang bagus. Mempersiapkan putrinya secantik mungkin pasti alasan yang benar. “Eh?” Sarah sedikit kaget dengan antusiasme mamanya. “Tidak perlu seperti itu, Ma,” cegahnya. “Tidak bisa begitu! Morgan bilang akan mengajakmu bertemu dengan orangtuanya, kan? Kamu harus memperlihatkan pesonamu!” Sarah semakin mengebu. Ia tidak akan membuat putrinya tampil biasa-biasa saja. Sarah meletakan garpunya dan mengambil gelas. Ia sudah tidak bisa mengunyah apapun saking grogi dan paniknya. Blair mengantar Sarah sampai gerbang sekolah. Ia jarang diantar. Walau berasal dari keluarga berada yang membuatnya bisa diantar jemput dengan sopir setiap hari, Sarah sudah menolak fasilitas itu sejak SMP. Ia tidak mau dianggap berbeda dari teman-temannya. “Nanti Mama jemput, ya?” Blair tidak mau kehilangan kesempatan untuk memanjakan putri semata wayangnya. Mau tak mau Sarah mengangguk. Ia melihat Gema berjalan dari halte dan berhenti di belakang mobil Blair selama beberapa saat. Sarah merutuk sedikit sebelum menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dan menyerukan nama Gema. Ia bisa melihat kekagetan di wajah Gema sebelum menghilang dengan cepat. “Tidurmu nyenyak?” tanya Gema berbasa-basi pada Sarah. Ia juga tersenyum dan menyapa Blair dengan ramah. Blair melambai pada Sarah dan Gema sebelum melajukan mobilnya. Ekspresi ramah Gema seketika berubah. Ia memandang Sarah lama. “Aku minta maaf untuk yang kemarin,” kata Gema pelan. Perasaan Sarah benar-benar terasa membaik mendengarnya. Ia tidak ingin kehilangan sahabat sedari kecil hanya karena masalah sepele. “Tidak ….” “Kamu tidak perlu bersikap ramah padaku. Aku sudah tahu di mana posisiku sekarang.” Gema meninggalkan Sarah begitu saja. Sarah merasa buruk kembali. Ia bahkan tidak marah pada Gema karena tahu temannya hanya merasa kehilangan saja. “Kamu bahkan tidak membiarkan aku bicara,” bisik Sarah pelan sambil melangkah masuk gerbang sekolah. *** Blair datang sekitar jam dua siang. Sebelumnya Morgan sudah singah untuk memastikan mengobrol dengan Sarah. Morgan mengatakan kekagetannya karena mendengar suara Blair semalam. “Aku harap kamu tidak dimarahi karenaku,” kata Morgan tadi sambil mengenggam tangan Sarah. Begitu Morgan pergi, Maya yang datang. Adik Morgan tersebut menghentikan motornya di tepi jalan dan memeluk Sarah erat-erat dari belakang. Bahkan Gema menatapnya keheranan saat lewat sebab Sarah jarang terlihat begitu akrab dengan adik kelas. Maya bahkan melayangkan kecupan ke pipi Sarah sambil berbisik kalau tindakan itu pesan ibunya. “Coba lihat majalah-majalah ini. Adakah dari desain baju itu yang kamu suka?” Sarah menerima setumpuk majalah fashion dan Blair. Awalnya Sarah membalik-balik halaman dengan antusias. Namun, akhirnya ia bingung sendiri membedakan satu pakaian dan yang lainnya. Di mata Sarah semua terlihat sama. Akhirnya ia menutup majalah kedua dan hanya meletakan begitu saja di pangkuannya. “Jadi ada yang kamu sukai?” tanya Blair. Ia memutar kemudi dan mobil memasuki parkir bawah tanah mall. Mobil berhenti di blok D dan segera Sarah dan Blair keluar. “Kita ke atas, ya.” Blair mendahului Sarah keluar dari mobil. Dengan patuh Sarah mengikuti dari belakang. Langkah Blair baru melambat saat mereka sudah sampai di lantai tiga mall dan menatap hamparan butik dan pakaian jadi. “Kita nggak bisa pesan pakaian, jadi cari yang paling cocok dengan model yang kamu sukai saja, ya,” pinta Blair. Mendengar rencana Blair untuk memesan pakaian, Sarah jadi berkeringat dingin. Selama ini selera berpakaiannya nyaris simple dan nyaman. Ia tidak terlalu paham akan model. Bahkan ia lebih cenderung membeli secara online. Papa tidak membiarkannya keluar tanpa ditemani seseorang yang amat dikenal. Mana mungkin ia berkeliaran di mall seperti ini. Blair masuk ke salah satu butik dengan diikuti Sarah. Begitu pintu di belakang mereka tertutup, Blair menoleh pada Sarah. “Jadi model seperti apa yang kamu mau?” tanyanya lekas. Sarah memperhatikan dengan lambat pakaian yang terpajang. Ia seketika menjadi pusing melihat beragam jenis warna dan bentuk gaun. Ia menelan ludah susah payah sebelum bicara. “Sarah mau yang simple saja, Ma. Tidak terlalu banyak hiasan. Kan ini bukan acara yang resmi,” kata Sarah dengan suara pelan. Blair menatap putrinya sesaat. Ia terlalu bersemangat sampai lupa kalau putrinya masih 18 tahun. Pertemuan ini hanya hubungan kecil yang bisa sewaktu-waktu terpisah. Sarah masih memiliki waktu panjang sebelum akhirnya berkeluarga. Ia mendesah dan berjalan ke arah sekumpulan gaun yang tergantung di sebelah kanan. Ia akan mencari sesuai permintaan anak gadisnya, gaun simple dan hiasan yang sederhana. “Morgan akan menjemputmu dengan apa?” tanya Blair. “Motor.” Tangan Blair berhenti. Kalau begitu bukan gaun pilihan yang tepat untuk pakaian Sarah di hari minggu itu. Ia berbalik arah dan sampai di bagian kasual, mencari-cari kompisisi yang pas. Pilihan Blair jatuh pada kemeja oversized berwarna baby blue dan celana palazzo. Blair tersenyum, putrinya akan terlihat sempurna dengan ini. Blair berbalik untuk menunjukan outfit yang menjadi ilihannya. Dilhatnya Sarah terpaku didepan manekin yang mengenakan gaun berwarna merah jambu lebut. Gaun tersebut bergaya klasik. Tidak ada hiasan yang mencolok pada gaun selain renda pada bagian tangan. “Kamu suka?” tanya Blair. Sarah terkesiap dan mundul pelan-pelan dengan wajah memerah. Ia melirik sekali lagi gaun tersebut dan hanya mengangguk pelan. Blair balas tersenyum dan mengatakan dalam hati kalau pakaian yang baru saja dipilih akan disukai Sarah. Ia mendekat dan kemudian memutari manekin. “Jika kamu suka, kita beli yang ini juga,” katanya pada Sarah. Blair bisa melihat keriangan di mata anaknya. Namun, gadis itu menunduk dan mengeleng. “Aku tidak akan pergi ke mana pun, Ma, jadi tidah usah gaunnya.” Blair mendesah. Ia bertanya-tanya seperti apa mantan suaminya mengasuh Sarah. Putrinya menekan perasaannya sendiri dengan baik. Akan tetapi, ia tidak berharap hal tersebut ditunjukan padanya. Sebagai Ibu, Blair ingin Sarah mengatakan semua hal yang diinginkan. Blair mencari seorang pramuniaga dan menemukannya dengan segera. Ia melambai untuk memanggil. “Yang ini dan gaun yang dipajang,” katanya memberi perintah. Dilihatnya Sarah mengangkat kepala dan akan menolak. “Tidak. Kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu inginkan saat bersamaku, Sarah. Tidak ada penolakan,” putusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN