Pertanda Buruk

1132 Kata
Sejak kemarin perasaannya tak enak. Tiba-tiba jantungnya berdetak tak normal. Sarah sampai berpikir ada masalah dengan kesehatan jantungnya. “Baik-baik saja, Kak?” tanya Maya. Sejak bertengkar dengan Gema, Maya memang mengantikan tempat sahabatnya saat jam makan siang, dan berjalan sampai ke gerbang. Gadis itu merelakan mengantar Sarah sampai di boncengan kakaknya dengan selamat. Walau masih saja Sarah rindu dengan keberadaan Gema yang tak banyak bicara di sisinya. “Ya, hanya tidak enak hati saja.” Sarah menunduk, tidak menginginkan pertanyaan lain. “Kakak deg-degan karena mau bertemu Ibu ya?” Maya mengoda sambil mengarahkan ujung sedotan pada Sarah. Sarah tercenung sesaat. Ia sama sekali tidak khawatir soal itu. Ibu Maya dan mamanya sama saja, pasti ingin bertemu dan memastikan seperti apa orang yang sedang akrab dengan anak mereka. Mama juga cukup antusias menunggu kedatangan Morgan besok ke apartemen. Sarah mendapat firasat akan kecangungan yang mencengkeram erat obrolan yang dianggap santai oleh Mama. “Tidak.” Sarah menjawab akhirnya. Wajah Maya menyiratkan akan melakukan sesuatu yang dramatis jika ia terlambat memberikan jawaban. Wajah tersebut berubah cerah lagi kini. “Tidak usah malu-malu, Kak. Sebenarnya Kak Morgan juga salah tingkah.” Maya mencebik sedikit sebelum bicara kembali. “Masa tadi pagi dia pakai sepatu kanan semua,” kata Maya sambil tertawa. “Benar?” tanya Sarah tak percaya. Morgan orang paling percaya diri yang pernah Sarah kenal. Tingkah yang seperti diceritakan Maya sama sekali tidak terbayangkan. “Masa sih, aku bohong. Serius, Kak. Aku berencana menjadikan itu bahan tertawaan seumur hidup. Jarang-jarang Kak Morgan cangung seperti itu.” Tawa Maya terdengar lagi. Sarah mungkin akan menanyakannya nanti pada Morgan. Ia bersyukur Maya ada di sini. Suasana hatinya menjadi lebih baik sekarang. “Aku jadi ingin punya adik sepertimu,” kata Sarah dengan sungguh-sungguh. “Aku juga senang karena pacar Kak Morgan itu Kakak. Soalnya Kakak pasti akan jaga Kak Morgan, kan?” Sekali lagi Sarah merasa tak tenang. Ia kembali bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan terjadi selanjutnya. *** Ke mana dahulu sebaiknya Morgan membawa Sarah sebelum bertemu dan makan di luar bersama keluarganya. Ia tidak bisa membawa Sarah keluar kota seperti dalam bayangannya. Makan jagung bakar di daerah pantai terasa sangat menyenangkan. “Apa sebaiknya aku tanya Sarah juga ya, mau ke mana?” Morgan bergumam sendiri. Sebuah pukulan di tengkuknya menyadarkan Morgan kalau ia masih berada di kelas, menanti dosen datang. Berada di kelas artinya ia di antara keramaian. Ia tidak sedang sendirian saja. “Ah … sepertinya kamu masih waras.” Morgan mendorong d**a temannya keras-keras. Dryad yang mendapat perlakuan seperti itu protes dengan keras. Tanpa aba-aba balik memukul Morgan. “Aku cuma khawatir saja. Kupikir kamu kesurupan,” protes Dryad setelah berhasil membalas dan tidak mendapatkan pukulan lainnya dari Morgan. “Ada apa?” tanyanya penasaran. Saat bersama teman-teman Morgan bukan anak kalem yang duduk tenang seperti saat ini saat tidak ada dosen. Malahan Dryad bisa sama-sama gila-gilaan dengan temannya ini. “Perasaanku tidak enak,” kata Morgan jujur. Ia tidak berpikir menyembunyikan sesuatu yang tidak akan menyakitinya. Ia hanya tidak suka saja dikagetkan seperti tadi saat sedang berpikir. Jika bertanya pada Dryan, mungkin Morgan mendapat penjelasan tentang yang sedang dirasakan. “Jangan tanya aku. Aku sama sekali tidak punya bakat menafsir perasaan orang lain. Jika punya, aku pasti sudah tahu alasannya kenapa Elise sangat benci padaku. Kamu tahu, kan?” Dryad langsung mengelak bahkan sebelum Morgan memberi tahu apa yang diinginkannya. Morgan hanya bisa menghela napas saja. Ia kembali bertumpang dagu dan tengelam dan pikirannya sendiri. Perasaan tidak nyaman yang dirasakan saat ini jarang terjadi. Bahkan hampir tidak pernah dialaminya. Makanya, Morgan merasa tidak nyaman sekarang. “Dosennya tidak jadi masukkan?” tanya Morgan Akhirnya. Punggungnya sudah pegal duduk saja sedari tadi. Dryad yang sedang main lempar tangkap dengan tas salah satu teman wanita mereka menolah. “Tidak!” Lalu melanjutkan kegiatannya ditingkahi teriakan pemilik tas yang menginginkan barangnya kembali. Morgan meraih tas yang dijatuhkan ke lantai di sampingnya saat duduk. Lebih baik ia menunggu Sarah di depan gerbang. Sebentar lagi jam dua siang, waktunya Sarah pulang sekolah. Mungkin bertemu dengan kekasihnya itu akan membuat perasaannya kembali nyaman. Sekarang ini kalaupun ikut kelas, Morgan sama sekali tidak akan bisa berkonsentrasi. “Woi … ke mana?” Dryad berteriak pada Morgan saat ia sampai di pintu kelas. Ia hanya melambai menginsyaratkan akan pergi keluar dan berencana bolos. Morgan sampai di parkiran segera dan melajukan motornya menuju kawasan SMA. Jarak dari tempatnya kuliah dan sekolah Sarah hanya beberapa kilo meter. Dalam setengah jam ia sudah duduk di bawah pohon di samping gerbang, menunggu kedatangan Sarah. “Kenapa Kakak datang cepat sekali?” Suara Maya menyambut Morgan begitu bel pulang berdering nyaring. Ia menoleh dan mendapati adiknya itu menyongsongnya. Sarah berjalan sambil tersenyum di belakang. “Kenapa kamu jadi bayangan Sarah, sih? Tidak cocok,” ejek Morgan lekas. Adiknya berdecih keras, mendekap dirinya sendiri dan memalingkan wajah. “Lihat saja nanti, kalau aku tidak ada Kakak pasti rindu.” Morgan yang sejak tadi duduk nyaman di jok motor lekas berdiri. Ia mengitari adiknya dan menilai. “Sepertinya tidak. Aku malah bersyukur karena kamu tidak ada.” Maya memukul d**a Morgan segera. “Kamu tahu Sarah, di aini cerewet sekali,” kata Morgan sambil menunjuk Maya. Sarah terkekeh. “Aku suka melihat kalian loh, sangat akrab.” Tangan Morgan menempel di kening Sarah, merasakan suhu tubuh gadis itu. “Kamu tidak demam, kok, bisa bicara aneh?” katanya. Maya mengibaskan tas yang disandang untuk memukul Morgan. Kakaknya berkelit sambil tertawa dan bersembunyi di belakang Sarah. “Kak Sarah harus cepat sadar! Pokoknya dari sekarang jangan makan dan minum apapun yang diberikan Kak Morgan!” tegas Maya yang kemudian kabur karena Morgan berusaha menangkapnya. “Dia bilang aku sudah menjampi-jampi kamu,” bisik Morgan di telinga Sarah. Jantung Sarah melompat seketika karena kaget. Seluruh tubuhnya panas dan ia tidak berani menatap Morgan secara langsung. “Padahal, kan, kamu jatuh cinta padaku karena aku tampan, kan?” Sarah benar-benar menyesal sekarang menjawab seperti itu saat Morgan bertanya terakhir kali. Ia hanya menjawab sekenanya saja supaya bisa cepat-cepat melarikan diri. “Eit … kamu sudah tidak bisa kabur, loh.” Morgan mengedipkan mata. Sarah jadi ingin memutar waktu kembali. Mungkin ia bisa merubah kata-kata yang sudah dilontarkan pada Morgan hari itu. Atau menampar dirinya sendiri supaya lekas sadar. “Jadi … ke mana aku harus membawa Tuan Putri hari ini?” Morgan bertanya sambil memasangkan helm di kepala Sarah. Tadi Sarah masih bisa mendengar pekikan teman-temannya. Degungan suara obrolan yang tidak jelas antara murid-murid yang keluar dari gerbang. Lalu suara klakson mobil dan motor yang saling bersahut-sahutan di jalan di depannya. Tiba-tiba semuanya menjadi sunyi. Yang bisa didengar sekarang hanya suara detak jantungnya sendiri. “A-aku hanya ingin pulang,” katanya lemah. Jantungnya berdebar dengan kencang lagi. Ia benar-benar harus menanyakan hal ini pada ahlinya nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN