Kelabu

1260 Kata
Sarah tidak pernah melihat Morgan semarah itu. Tidak. Ia tidak pernah melihat Morgan marah. Anehnya, ia melihat hal itu sekarang dan seluruh tubuhnya jadi mengigil karena ketakutan. Sarah jadi bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan sampai Morgan menjadi seperti ini. Ia hanya datang dengan gaun merah jambu yang dibelinya bersama Blair dan Morgan memakinya. Ia tidak tahu apa kesalahannya memakai gaun tersebut. Saat Sarah ingin membela diri, suaranya tertahan di kerongkongan dan rasanya sangat menyakitkan. Semakin ia berusaha untuk bicara, semakin gelisah dan sesak napas dirinya. Tubuh Sarah lalu berguncang. Ruangan tempat ia berada bersama Morgan sebelumnya menjadi gelap. Ia bisa mendengar suara Blair memanggil-manggil namanya. Lalu didengarnya suaranya sendiri berteriak dan saat memperoleh kembali penglihatannya, Sarah ada di kamar Blair. “Sarah? Kamu kenapa, Sayang?” Belaian tangan Blair menyentak Sarah yang kebingungan untuk fokus. Ia menatap Blair yang balas menatap dengan bingung. “Tadi … Sarah sedang bersama Morgan,” katanya. Sarah mengedarkan pandangan dan bisa melihat jika ia ada di kamar. Secara cepat ia tahu kalau tadi hanyalah mimpi. Akan tetapi, ia merasa semua yang dimimpikan sangat nyata. Namun, ia tidak berharap apa yang terjadi nyata. Ia tidak mau melihat Morgan seperti itu. “Itu cuma mimpi buruk, Sayang,” bisik Blair. Ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. Dibelainya punggung putri tunggalnya itu dengan ritme tetap yang menenangkan. Bisa dirasakannya bahu Sarah berguncang dan sayup-sayup terdengar isakan. Apapun mimpi yang baru membuat putrinya berteriak pasti sangat menyeramkan. “Ssttt … kalau kamu menangis sekarang, saat Morgan datang matamu pasti bengkak. Kamu tidak mau kan kalau dia curiga sama Mama,” godanya. Blair bersyukur karena pembicaraan soal Morgan bisa menghentikan tangisan Sarah. Ia tidak tahu jika suasana hati putrinya buruk. Ia memang seorang ibu, tetapi waktu bersama Sarah benar-benar tidak banyak. Ia tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai anaknya. Sarah menghapus air matanya dengan telapak tangan dan mencoba tersenyum kepada Blair. Ia mengingatkan dirinya kalau yang baru saja dilihat adalah mimpi dan tidak akan terjadi apa-apa di dunia nyata sekarang. “Ayo, Mama akan bantu kamu untuk bersiap.” Blair membimbing Sarah perlahan. Dengan enggan Sarah beringsut turun dari atas tempat tidurnya. Ia sempat menoleh ke kaca di samping tempat tidur, seperti kata Blair mata Sarah sembab. Ia berhenti dan menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu. “Morgan pasti bisa melihatnya,” keluh Sarah. “Tidak apa-apa, ada mamamu di sini. Mama akan memastikan tidak ada orang yang bisa menduga kalau kamu sudah bermimpi buruk semalam.” Blair berkata dengan sangat yakin. Perasaan Sarah mendadak menjadi senang. Ia memalingkan wajah segera dan sambil bersenandung masuk ke kamar mandi. Tak lama ia sudah selesai membersihkan diri dan sekarang duduk di depan cermin. Sarah tidak mengenali satu pun jenis alat rias yang sedang diaplikasikan Blair ke wajahnya. Ia pasrah dengan apapun yang sedang dikerjakan sang Mama. “Akhirnya,” kata Blair penuh syukur. Sarah membuka mata perlahan untuk melihat seperti apa ia dirias. Ia tercengang melihat penampilannya sekarang. “Kenapa?” Blair bertanya. Matanya mengedip mengoda. Ia tahu Sarah cantik. Namun, Sarah masih terlalu muda untuk dirias dengan begitu tebal. Yang ia pakaikan pada Sarah hanya make up natural. Hasilnya sangat memuaskan. “Ini Sarah?” tanya putrinya polos. Blair tertawa kecil dan memeluk putri semata wayangnya dari belakang. Memang seharusnya Sarah tinggal bersamanya bukan dengan Mahesa. “Tentu saja, putri mama paling cantik,” bisiknya sambil melayangkan kecupan. Sarah ingin menangis, tapi ia mengatakan pada dirinya sendiri jika tidak boleh. *** Morgan menyangka salah masuk apartemen sebab seorang bidadari berdiri di lobi. Namun, saat diperhatikan lagi, ia kenal dengan bidadari yang tersenyum malu-malu dengan pakaian berwarna tosca itu. “Sepertinya pacarmu sudah sampai dan tidak mengenalimu.” Walau berbisik suara Blair terdengar sangat jelas. Tak ayal wajah Sarah dan Morgan memerah. Mereka berusaha mengalihkan perhatian pada hal lain sampai Blair tertawa dan memecang kecanggungan tersebut. “Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu naik dan bertanya banyak hal sebelum pergi,” kata Blair. Ia melirik putrinya yang masih tersipu di sampingnya. “Tapi … aku masih bisa melakukan hal itu dilain kesempatan.” Blair mendekati Sarah dan melayangkan kecupan. Ia menatap tajam Morgan selama sesaat dan kemudian tersenyum sambil menepuk pundak pemuda itu. “Semoga hari kalian menyenangkan. Aku harap kamu mengantarkan anakku pulang dengan selamat.” Blair meninggalkan mereka berdua dan kembali ke lantai atas. Morgan menutup wajahnya dan berjongkok sebentar. Seluruh tubuhnya lemas walau ia bisa bertahan bersikap biasa-biasa saja di depan Blair tadi. Walau ia memiliki keberanian sebesar gunung, tetap saja rasa gugup membuat kakinya gemetar. Untung saja ia bisa menormalkan cara bicara dan sikapnya tadi. “Ka-mu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” Melihat Morgan yang seperti itu tentu membuat Sarah panik. Ia ikut berjongkok bersama Morgan. “Kamu cantik,” puji Morgan saat mengangkat wajah dan menatapp Sarah di antara jari-jarinya. Wajah Sarah jadi terasa panas lagi. Ia ingin segera lari kalau perlu, tapi Morgan pasti akan menganggapnya aneh karena melakukan hal itu. “Ha-ri ini Morgan juga tampan,” katanya tergagap. Ia bertanya-tanya apakah seperti ini dialog yang dilakukan orang-orang yang berpacaran. “Tentu saja, kalau tidak aku akan dikira menculik bidadari. Tidak terbayangkan bagaimana Maya akan memperolokku karena tidak tampil maksimal.” Ingatan Morgan beralih pada Maya yang hampir menguyurnya dengan seember air. “Kamu tidak tahu bagaimana antusias semuanya karena hari ini bertemu denganmu,” bisik Morgan pelan. “Apa?” tanya Sarah. Ia merasa mendengar sesuatu. “Tidak. Ayo berangkat … semuanya sudah menunggumu.” Morgan berdiri dan menarik Sarah untuk ikut berdiri bersamanya. Tangan Sarah terasa cukup dingin di dalam genggamannya. “Apa kamu gugup?” tanyanya karena merasakan itu. Jelas saja Sarah gugup. Ia baru pertama kali memiliki hubungan dengan pemuda yang bukan sekedar sahabat. Ia memang lama bersama Gema, tetapi itu karena mereka teman sejak masih kecil. Segala sesuatu dengan Morgan terasa sangat baru untuknya. Mulai dari pegangan tangan, kecupan ringan di pipi, berpelukan, lalu hari ini bertemu dengan keluarga. Semua itu membuatnya gugup dan nyaris kabur. “Ti-dak.” Sarah menghela napas panjang. “Aku tidak bisa bilang kalau biasa-biasa saja. Aku bermimpi buruk semalam.” Ia akhirnya mengaku. Kenangan tentang tatapan tajam Morgan di dalam mimpinya masih terasa. Ia takut dan tidak sanggup untuk merasakan tatapan seperti itu. Akan seperti apa perasaannya nanti, ia sendiri tidak mengetahuinya. Morgan memastikan tidak ada siapa-siapa di lobi sebelum merangkul Sarah, mendekat gadis itu sebentar saja. Ia merasa ini yang diperlukan dirinya dan juga Sarah. “Sebentar saja,” bisiknya pelan saat merasakan Sarah mendorong tubuhnya untuk menjauh. Sarah memejamkan mata. Ia merasa malu. Namun, perasaan tersebut langsung hilang dan berganti dengan rasa nyaman dan menenangkan. Ia merasa semua yang dikhawatirkan tidak ada apa-apanya dari yang didapatkan sekarang. “Semua akan baik-baik saja, kan?” tanya Sarah pelan. Morgan mengeratkan pelukannya sedikit lagi dan menghirup aroma parfum Sarah yang manis. “Ya, semua akan baik-baik saja.” Sarah tersenyum. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Morgan walau pelukan mereka sudah berakhir. Ia percaya dengan semua hal yang dikatakan Morgan, bahkan jika neraka dikatakan sebagai surga. “Aku sebenarnya ingin menghabiskan sepanjang hari denganmu, tapi mereka akan membunuhku kalau ingkar janji,” keluh Morgan sambil berpegangan tangan keluar lobi apartemen. Ponsel Morgan berdering saat baru akan menaiki motor. Ia melihat sekilas sebelum mematikan nada dan menyerahkan helm pada Sarah. “Lihat, mereka sangat antusias dan tidak membiarkanku mengagumi kecantikan pacarku sendiri sebentar.” Sekali lagi Morgan mengeluh. Sarah terkekeh sedikit. Ia memandang langit. Awan mendung bergulung-gulung dari arah timur. Ia lupa melihat laporan cuaca hari ini karena antusias akan pergi bersama Morgan. “Semoga hujan tidak jadi turun.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN