Maya mencebik. Jika nanti ada kesempatan sedikit saja, ia akan memberi pukulan keras di tengkuk Morgan sebagai balasan. Ini adalah sikap yang baik yang bisa diberikan kakaknya itu. Bukannya mengangkat telepon Maya, malah dibiarkan begitu saja.
“Awas saja,” katanya penuh dendam.
Ibu dan ayahnya tertawa di bangku depan. Mereka sudah berangkat lima menit lalu dan sekarang akan menuju restoran yang sudah diputuskan. Awalnya mereka ingin bertemu dengan Sarah di rumah. Akan tetapi, usul tersebut langsung ditepis Morgan. Kakak Maya tersebut beranggapan suasana akan terlalu cangung dan formal. Ia takut Sarah malah lari lebih dulu sebelum bertemu. Begitulah kronoogis kejadian perpindahan tempat pertemuan.
“Di depan restoran nanti ada toko hadiah, kan, May?” tanya ibu Maya bertanya.
Maya mencoba mengingat-ingat restoran di pinggiran kota yang lumayan cukup terkenal itu. “Bukan di depannya, Bu, tapi di dekat sana memang ada toko hadiah. Nanti Maya tunjukkan,” katanya. “Tadi Maya pikir akan ditinggal,” gerutunya pelan.
Ibu Maya memutar tubuhnya sedikit ke belakang dan membelai wajahnya penuh sayang. “Mana mungkin Ibu bisa ninggalin putri cantik sendirian.”
“Selalu dibawa, ya, Bu?” Ayah Maya ikut bicara.
Ibu Maya mengangguk dan kembali menghadap ke depan. Lalu mereka diam saja selama beberapa saat. Tiba-tiba Maya berseru untuk berhenti.
“Di situ?” tunjuk Maya ke seberang jalan.
Ibu dan ayahnya mengangguk dan berbelok sebelum akhirnya menghentikan mobil tak jauh dari persimpangan. Di luar hujan sudah sedari tadi turun deras. Jalanan yang biasanya ramai menjadi sepi karena orang-orang memilih berteduh terlebih dahulu atau tidak keluar sama sekali.
Maya keluar dari mobil dengan payung yang tersedia di belakang, menyusul Papa dan kemudian Mama yang memakai payung yang sama. Maya tidak sabar untuk sampai ke toko dan memilih hadiah. Ia berlari terlebih dahulu menyeberang jalan. Di belakangnya tiba-tiba ibunya berteriak dan menyusul dengan tangan Ayah yang mengapai Maya ke dalam pelukan.
***
Sebuah ambulans baru saja lewat di depan mereka. Karena hujan, Morgan memilih berteduh di sebuah toko yang sedang tutup. Teleponnya tidak lagi bergetar seperti tadi saat hujan belum juga turun. Sarah berada di belakang Morgan. Ia menjadi tameng untuk kekasihnya yang cantik.
“Ada apa, ya?” Suara Sarah terdengar pelan.
Hujan turun deras sekali dan itu sedikit membuat Morgan kesal. Ia kesal karena tidak bisa memamerkan Sarah lebih cepat. Harusnya ia sampai lebih cepat dari ibu dan ayahnya. Ia ingin belajar dari Sarah bagaimana sikap feminism yang sebenarnya pada Maya.
“Entahlah … mungkin ada kecelakaan,” kata Morgan. Ia menoleh ke arah ambulans yang barusan lewat itu.
Dadanya berdebar aneh. Ia menoleh dan memastikan Sarah tidak kebasahan dan kedinginan. Perasaannya tidak menjadi lebih baik setelah melihat Sarah.
Dua buah ambulans lagi melintas dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya. Mata Sarah dan Morgan kembali mengikuti sampai keduanya menghilang di ujung jalan.
“Pasti bukan kecelakaan yang baik,” gumam Sarah di belakangnya.
Morgan melihat ke langit, awan mendung masih bergulung-gulung seperti beberapa saat lalu. Sepertinya hujan tidak akan berhenti dengan cepat. Ia yang kini harus menghubungi Maya. Namun, ponselnya sama sekali tidak terhubung.
“Kenapa?” tanya Sarah lagi.
“Maya tidak bisa dihubungi,” kata Morgan lekas. Ia mencoba menghubungi beberapa kali sebelum kemudian memutuskan mengirim pesan saja. Seperti kata Sarah, mungkin saja ponsel Maya lowbat dan sedang dicharger di dalam mobil sekarang.
“Maaf, ya, seharusnya aku lebih cepat datang menjemputmu,” kata Morgan menyesal.
Sarah mengeleng. Morgan menjemput lebih cepat dari perjanjian. Bukan kesalahan kekasihnya jika kemudian mereka harus berteduh di sini. “Ini bukan salah siapa-siapa kok, tenang saja,” katanya tenang dan dewasa.
Morgan menyarangkan belaian di pipi Sarah. Ia ingin memeluk Sarah dan mengatakan betapa cinta dirinya pada kekasihnya ini. Ia berdoa bahwa hubungan mereka tidak akan putus begitu saja seperti ini. Bahkan jika ada sesuatu yang menjadi penghalang dan Morgan harus beralih pada orang lain, Pelabuhan terakhirnya ia harap adalah Sarah.
“Semoga hujannya cepat berhenti.” Morgan melepaskan jaketnya dan memasangkan di bahu Sarah.
“Aku tidak kedinginan, sungguh.” Sarah menolak, berusaha melepaskan lagi jaket yang dipakaikan padanya.
Morgan memprotes dengan tatapannya, membuat Sarah berhenti dari aksinya dan berdiri tegap seperti tadi. Puas melihat sikap Sarah Morgan kembali menatap langit yang masih mendung dan menangis. Ia bertanya-tanya ada kejadian apa hingga langit begitu kelabu hari ini.
***
Ambulans berjejer di tepi jalan. Ruas jalan di depan toko mainan tertutup oleh garis polisi dan juga orang-orang yang berkerumun untuk sementara. Tiga tubuh yang langsung tewas di tempat masih hanya ditutupi koran di tepi jalan.
Beberapa petugas polisi berlalu lalang memeriksa tempat kejadian perkara. Dua di antaranya memegang kamera mengabadikan setiap inci yang diduga adalah barang bukti.
Kerumunan reporter televisi bagian berita terbaru sudah muncul dan berdiri tak jauh dari garis polisi, melaporkan apa yang baru saja terjadi. Mereka dengan cepat menarik beberapa orang yang sedang berdiri dan menanyai apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, tidak ada saksi dalam tabrak lari kali ini. Hujan lebat telah menyingkirkan banyak orang di tepi jalan. Begitu pun dengan warung kaki lima yang memiliki akses pandang dan seharusnya bisa menjadi saksi mata. Penjaga warung berkata ia tengah meringkuk di dalam dan hanya mendengar suara pekikan dan benturan keras.
“Saya benar-benar tidak lihat apa-apa,” tegas si pemilik warung mulai risih.
Ia sudah memanggil istrinya untuk mengantikan menjaga warung sementara ia akan bersaksi pada polisi tentang apa yang didengar. Walau ia sudah mengatakan di sini, polisi masih memintanya untuk ikus dan menyampaikan laporan secara formal.
Bram sudah berdiri di depan tiga jasad yang sudah diidentifikasi. Ia jarang menemukan kasus tabrak lari semacam ini. Kebanyakan adalah tabrakan beruntun yang menyebabkan luka-luka berat. Tidak ada kamera CCTV di persimpangan dan saksi mata akan menyulitkan penyelidikan.
“Apa mobil yang di sana milik korban?” tanyanya pada petugas yang menyisir tempat kejadian. Beberapa barang bukti mungkin telah tersapu air hujan.
Para penyidik lain juga mengatakan hanya ada sidik jari milik korban di mobil, jadi pelaku tabrak lari sama sekali tidak turun dan menyentuh apapun di TKP.
“Apa toko yang di balik jalan punya CCTV di depan pintu?”
Sekali lagi penyidik yang ditanyai mengeleng. “Penjaga toko juga terkantuk-kantuk berjaga dan terbangun karena suara tabrakan.”
Bram mendesah. Ini akan semakin rumit saja. “Bawa korban untuk dioptosi.” Suruhan Bam hanya sebagai formalitas saja. Bahkan masyarakat umum akan dengan cepat tahu kenapa para korban tewas dalam sekali lihat. “Lalu tolong hubungi keluarga dan bersihkan tempat ini,” tambahnya.
Bram berjalan menuju mobilnya sendiri. Ia baru melepaskan jas hujannya setelah sampai di dalam mobil. Ia suka menangkap penjahat, tapi tak suka dengan kejahatan seperti ini. Kasihan, batinnya saat jasad seorang gadis muda melintas di samping mobilnya sebelum dibawa masuk ke dalam ambulans.