Entah bagaimana Sarah tahu bahwa ia tidak bisa membantu Morgan saat ini. Saat dilihatnya Morgan terpana dan menatap kosong ke jalanan, ia tahu akan segera ditinggalkan. Malah, Sarah sama sekali tidak merasa marah saat Morgan berlari ke motor dan melaju dengan cepat tanpa menoleh sedikit pun pada dirinya. Ia hanya berkatapada dirinya sendiri kalau ada sesuatu dan tidak bisa ikut campur saat ini.
Maka setelah satu setengah jam berdiri di depan ruko yang sedang tutup dan mencoba menghubungi Morgan beberapa kali dan tidak tersambung, Sarah memesan taksi online dan pulang.
“Loh, sudah pulang? Morgan mana?” Blair yang sedang tiduran di depan TV kaget begitu Sarah masuk dengan menjinjing sepatu hak setinggi tiga centimeter di dekatnya.
Pertanyaan itu tak lantas bisa dijawab Sarah. Mamanya tentu akan marah jika ia mengatakan Morgan meninggalkannya begitu saja. Ia tidak mau Morgan dimarahi dengan alasan yang belum tentu benar. Ia tahu ada sesuatu yang salah, hanya belum tahu apa itu.
“Morgan terburu-buru, Ma. Di luar juga hujan dan dia mengantarku menggunakan taksi.” Sarah benar-benar tidak bohong soal taksi.
Blair terlihat kecewa. Akan tetapi, ia duduk dan menepuk bagian kosong di sofa sebagai pertanda perintah untuk Sarah duduk di sana.
“Tidak ada masalah, kan?” tanya Blair khawatir.
Sarah bertanya-tanya dan menyalahkan diri sendiri karena tidak berhasil membuat wajahnya tampak baik-baik saja. Lalu tidak ada masalah antara Morgan dan dirinya, bahkan dengan keluarga pemuda itu. Faktanya mereka belum sempat bertemu.
“Aku belum sempat bertemu dengan keluarganya, Ma. Dia minta izin untuk pergi karena ada masalah. Wajahnya pucat saat berlari pergi setelah mengantar.” Sarah berusaha menerangkan dan ada dua kebohongan di dalam ceritanya. Pertama, Morgan tidak mengantarnya dan kedua ia tidak tahu apakah Wajah Morgan benar-benar pucat tadi.
“Semoga tidak ada masalah,” harap Blair sambil meremas jemari Sarah yang lentik. “Tapi … karena kamu pulang cepat, Mama bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganmu sampai Mahesa menjemput.” Blair cepat-cepat menutup mulutnya dan memperbaiki panggilannya pada mantan suami. Ada kesepakatan tidak tertulis di mana di depan Sarah, Blair akan memanggil lelaki itu dengan sebutan Papa.
Sarah tersenyum. Walau di dalam kepalanya ada beberapa pertanyaan tentang Morgan, ia mendorong semua itu ke ruangan di otaknya. Kini ia sibuk dengan rencana menghabiskan minggu dengan sang mama.
Karena hujan di luar sana dan waktu Sarah sudah tinggal sedikit di sana, Blair memutuskan menonton bersama Sarah. Film pilihan mereka sedikit bertabrakan awalnya. Sarah mengatakan tidak suka horor, sementara Blair gemar sekali dengan genre itu. Sarah yang akhirnya mengalah, memejamkan mata selama film berlangsung di dalam pelukan Blair.
Sarah melihat jam dinding dan mengetahui fakta bahwa papanya telat datang. Tentu saja ia gembira dengan fakta tersebut. Ia masih bisa bermanja-manja dengan Blair dan tidak harus khawatir melakukan kesalahan.
“Barusan papamu mengirim pesan. Malam ini kamu tidur di sini ya? Besok pagi-pagi sekali, papamu akan jemput.”
Sarah mengangguk. Masih ada satu malam bersama Blair. Ia yakin besok pagi hatinya yang tidak tenang akan baik-baik saja.
***
Morgan berharap ini cuma mimpi. Akan tetapi, tiga jasad yang terbaring itu benar-benar orang yang dikenal walau keadaannya sudah tidak utuh lagi. Pipi kanan adiknya mengalami luka gores yang parah. Bagian dahi ayahnya lebam. Hanya kondisi wajah ibunya yang baik-baik saja. Yang menyamakan keadaan mereka semua adalah tidak lagi bernyawa.
Ia mencubit dirinya sendiri keras-keras dan indranya langsung diterjang rasa sakit. Makanya seluruh tulang Morgan berubah bentuk menjadi gel hingga tidak bisa lagi berdiri tegap. Ia terduduk di lantai kamar mayat dan mendengar gaung suara orang-orang di sekitarnya memanggil.
Akhirnya karena tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, Morgan dipapah keluar oleh dua orang petugas kamar mayat. Ia masih belum bisa merespon saat seorang petugas polisi duduk di dekatnya dan mengajak bicara. Ia masih belum bisa menerima kenyataan mengenaskan yang terjadi pada keluarganya.
“Saya benar-benar turut berduka atas meninggalnya keluarga Anda.” Orang di sebelah Morgan kembali bicara. “Saya Bram. Saya yang mendapat tanggung jawab mengusut kasus tabrak lari ini.”
Nyawa Morgan yang tercecer dengan cepat masuk kembali ke raganya. Kata “Tabrak lari” menyadarkan Morgan ia harus kuat sekarang. “Apa Anda sudah menangkap pelakunya?”
Jika tertangkap Morgan akan mencekik orang itu sampai mati. Jika tertangkap ia akan menabrak orang tersebut berkali-kali sampai tubuhnya terpisah-pisah. Ia akan menuntut hukuman yang layak untuk pembunuh seperti orang tersebut. Namun, hatinya mencelos saat melihat kepala Bram mengeleng.
“Maaf, Dik.”
Morgan berkata di dalam hati, kata maaf polisi di depannya sama sekali tidak berarti. Ia ingin pelaku tersebut ada di depan matanya. Ia ingin menghukum orang tersebut segera. Saat didengarnya Bram meminta maaf sekali lagi, Morgan tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia merasa seluruh tubuhnya lunglai kembali.
Bram tidak tahu sudah berapa lama ia menangis. Namun, tubuhnya serasa habis dipukuli dan ia terseok-seok mengikuti brankar rumah sakit yang membawa jasad keluarganya.
Begitu turun dari salah satu mobil ambulans, rumahnya telah ramai. Ia bahkan tidak kenal dengan siapa saja yang memeluknya dan membisikan kalimat duka cita. Semua orang yang berseliweran di depannya bagaikan sedang melakukan drama hitam putih tanpa suara. Sekali lagi Morgan berharap semua ini hanya mimpi. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia tahu kalau yang dialami bukan mimpi sama sekali.
Pemakaman berlangsung sangat cepat. Entah karena sudah lelah menangis atau tidak memiliki lagi kelenjar air mata, Morgan tak menitikan air mata sedikitpun. Ia bukan tak merasa sedih. Yang dirasakannya adalah hampa. Ia merasa semua hal tidak benar-benar terjadi dan membingungkan. Bukankah tadi pagi Maya masih ada di rumah dan ribut. Tadi pagi ayahnya masih memanaskan mobil. Begitu juga dengan ibunya yang bertanya soal gaun yang baiknya dipakai saat bertemu dengan Sarah. Kenapa tiba-tiba rumahnya terasa begitu sunyi.
“Lihat saja, kalau aku sudah tidak ada Kakak pasti rindu.”
Morgan serasa mendengar suara Maya. Ia menoleh dan tidak ada adiknya itu. Hanya ada orang lain yang berbisik-bisik di dekatnya dengan tatapan iba.
Morgan berlari ke lantai atas. “Maya!” Ia berteriak memanggil adiknya. Ia menyangkal kalau baru saja pulang dari pemakaman. Adiknya masih ada di rumah dan sedang bersembunyi sekarang.
“Maya!” Morgan berteriak lagi sambil membuka kamar. Aroma parfum adiknya tercium pekat sekali. Ia bisa melihat bayangan Maya tersenyum sambil mencebik, tetapi kamar yang dimasuki kosong.
Ia berlari turun lagi. Orang-orang yang tadi berbisik-bisik terdiam dan memandangnya dengan tatapan iba yang sama. Ia menyangkal kembali kalau Maya sudah dikuburkan. Maya pasti ada di dapur, sedang bermanja-manja dengan ibunya.
“Ibu, Maya!” Morgan berteriak kembali. Hanya ada adik ibunya di dapur yang langsung menyambu dengan tangisan.
Morgan tahu ia akan menangis sebentar lagi. Namun, ia bertahan. Keluarganya tidak apa-apa, mungkin mereka sedang menyantap teh di kebun belakang. Kakinya terasa sangat berat saat akan melangkah ke sana. Ia kembali menyangkal sekeras mungkin kalau melihat jasad keluarganya di rumah sakit. Kalau ia baru saja pulang dari pemakaman. Ia mengatakan kalau itu mimpi buruk dan dirinya baru saja bangun.
“Maya, Ayah, Ibu!” Ia membuka pintu belakang.
Di luar gelap, seseorang lupa menghidupkan lampu taman. Keluarganya pasti keasyikan bermain sampai lupa. Mereka juga lupa mengajaknya. Tiba-tiba lampu taman menyala.
“Morgan … sabar, Nak. Iklaskan!”
Jantung Morgan serasa tercabut dari dadanya. Sakit sekali sampai ia kesulitan bernapas. Ia berteriak kembali memanggil adik, ayah, dan ibunya. Namun, tak sekalipun salah satu dari ketiganya yang menyahut. Orang-orang yang ada di dalam rumah hanya menatapnya dengan iba.