Plak! Pipi Sarah terasa panas dan perih. Tak lama di tempat pipinya yang ditampar mengalir pula air mata. Ia menoleh perlahan menatap papanya yang seharusnya mendukung Sarah. “Papa tahu apa yang mau dilakukannya padaku?” tanya Sarah kesal. Bukankah seorang ayah akan mendengarkan apa yang terjadi pada putrinya? Otak Sarah berteriak untuk mengatakan semuanya. Namun, hatinya mengatakan percuma. Lelaki di depannya itu sama sekali tidak akan mendengarkan apa yang ia katakana. Bagi papanya Sarah tak lebih dari anak yang tidak berbakti. “Kenapa kamu diam saja? Ah? Katakan apa yang dilakukannya? Katakan! Apa bisa yang dilakukannya membayar hutangmu itu!” Dibandingkan dengan pipinya, hati Sarah lebih perih lagi. Ia bertanya-tanya apakah seperti ini jalan hidupnya? Apakah ia tidak boleh bahagia

