Morgan hampir tak berkedip saat melihat nama biodata pelamar. Ia pikir pasti bukan gadis yang dikenal, tapi rasa penasaran berhasil membuatnya tersenyum senang. Aku tidak senang karena bisa bertemu dengannya setiap hari. Tapi melalui dia, aku bisa menyiksa Mahesa. Ia membenarkan pengertian dari senyum yang terbit di bibirnya saat ini. Ia tidak mau menyalah artikan perasaan bahagia yang merayap di hatinya. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya berbasa-basi pada bagian HRD. Memang tidak biasanya ia ingin tahu dengan pelamar yang melayangkan surat ke perusahaannya. Untuk apa ia tahu kalau hubungan yang terjalin hanya bisnis belaka. Namun, sekarang lain. Ada maksud tersembunyi jika seandainya ia bisa memasukan Sarah ke dalam jajaran karyawan perusahaan. Ia bisa membayangkan hari-hari memberi k

