18. Perang dingin. Rafa, Kesya, Bu Risa dan Pak Hadi. Masuk ke dalam mobil. Rafa duduk di belakang kemudi, sedangkan Kesya duduk di sampingnya. Sementara, Bu Risa dan Pak Hadi duduk di belakang. Rafa menyalakan mesin mobil, lalu mulai menjalankannya dengan kecepatan sedang. “Rafa,” panggil Bu Risa. “Iya, Ma,” sahutnya tanpa menoleh masih fokus dengan jalanan kota yang penuh kendaraan. “Apa kita perlu mengadakan syukuran, atas kehamilan Kesya? Lihatlah, doa kita semua selama ini baru saja di kabulkan,” tutur Bu Risa. “Iya, Ma kuta tunggu sampai kandungan Kesya berusia tiga bulan Ma,” sahut Rafa. “Bagaimana denganmu Kesya, apa kita perlu mengadakan syukuran sekarang?” tawar Bu Risa ingin mendengar pendapat menantunya. “Kalau Kesya, terserah Mas Rafa saja Ma,” ucapnya sembari menunduk

