Ketahuan.
“Sayang aku pergi sekarang, kamu baik-baik di rumah,” pesan Rafael pada Kesya. Dia mencium kening sang istri.
“Sayang, hati-hati kapan kamu akan pulang?” tanya wanita itu sambil merapikan dasi motif garis yang dikenakan suaminya.
“Mungkin akhir pekan, aku baru akan tiba di rumah,” jawab Rafael. Pria itu tahu, jika Kesya tidak bisa akur pada mertuanya. Untung saja tadi pagi, Bu Risa pamit pulang.
“Ok, Mas, aku menunggumu!” seru Kesya. Ia melambaikan tangan mengiringi sang suami yang masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil suaminya, keluar gerbang. Kesya segera berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Ia mengambil ponsel yang sejak kemarin dinonaktifkannya.
Banyak sekali pesan yang masuk terutama dari Rio, mantan cinta pertama yang kembali dekat dengannya. Berawal dari dua bulan yang lalu, mereka berjumpa di sebuah pusat perbelanjaan. Membuat Rio dan Kesya kembali menjalin, menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya.
Kesya pun memutuskan untuk menelefon Rio. Selama satu minggu Ia tidak berjumpa bahkan tak sekalipun, membalas pesan dari pria itu.
“Halo,” sapa Rio di sebarang telefon.
“Halo, bisakah kita bertemu sekarang?” tanya Kesya ragu. Pria itu pasti kesal karena pesan singkat yang tidak pernah Ia balas.
“Temui aku jam empat sore, setelah aku pulang kerja, di tempat biasa,” sahut Rio lalu mengakhiri panggilan telefon.
Sepanjang hari Kesya hanya di rumah menunggu pertemuannya dengan Rio jam 4 sore.
Kurang 30 menit dari waktu yang dijanjikan. Kesya sudah selesai dan bersiap. Ia mematut di depan cermin, sangat puas melihat penampilannya saat ini. Riasan tipis saja, sudah membuatnya tampak cantik. Wanita itu mengenakan dress warna biru muda, dengan kardigan warna hitam.
Selesai bersiap, wanita itu keluar dari kamarnya. Kemudian, Kesya berjalan ke garasi.
Ia membuka pintu mobil lalu duduk di belakang kemudi. Menyalakan mesin mobil lalu melajukan Ferrari merahnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah kafe yang sudah dipesan oleh Rio terlebih dahulu.
Sampailah Kesya di kafe, tempat Rio menunggunya. Ia turun dari mobil. Segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe.
Di sebuah kafe dengan dinding kaca transparan. Meja dan kursi berwarna putih. Dekorasi ruang dengan beberapa lukisan pada dinding bagian dalam. Memberi kesan klasik nan elegan.
Kesya menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, pandangannya tertuju pada Rio yang sudah duduk menunggunya.
Wanita itu memesan cupcake dan kopi espresso. Di hadapan Rio sudah ada secangkir coffe latte favoritnya.
Wanita itu berpindah tempat duduk ke sebelah Rio. Bau parfum pria itu menggelitik hidung Kesya. Saat bertemu mereka berdua memang lebih sering diam, dengan saling menatap seolah mata yang bicara melepas kerinduan.
“Kenapa tadi kamu langsung mematikan telefon, tanpa menungguku selesai bicara!” protes Kesya, menatap tajam ke arah pria cinta pertamanya itu.
“Aku yang seharusnya bertanya! Berapa hari kamu tak menjawab telefon dan tak membalas pesanku!” balas Rio tidak mau kalah. Kedua manik matanya membalas tatapan mata Kesya.
“Mas Rafa di rumah, aku tidak bisa terus-terusan memegang ponsel, sudahlah jangan marah,” ucap Kesya.
Seorang pelayan membawa pesanan Kesya.
“Bagaimana kalau kita ke hotel?” ajak Rio. Meski ragu Ia tetap mencoba. Dua orang dewasa saling suka, untuk apa lagi kalau bukan menghabiskan waktu di sebuah ruangan hotel.
“Baiklah,” jawab Kesya mengiyakan. Ini adalah kali pertamanya mereka memesan hotel.
Kesya dan Rio melajukan mobil masing-masing. Menuju sebuah hotel yang jauh dari pusat kota. Mobil Kesya terus mengikuti dari belakang.
Tibalah mereka di area parkir hotel, Rio masuk ke dalam hotel dan check in terlebih dahulu. Sepuluh menit kemudian, Kesya mengikutinya, masuk ke sebuah kamar yang sudah di pesan oleh teman kencannya itu.
Sebuah ruangan kamar berukuran 4x6m, dengan satu tempat tidur berukuran king size. Satu meja rias di lengkapi cermin dan tempat duduk. Satu lemari, dan satu sofa panjang.
Rio sudah merebahkan tubuhnya. Kemeja yang Ia kenakan sudah terlepas. Pria itu bertelanjang d**a memperlihatkan enam roti sobek di bagian perutnya.
Awalnya Kesya ragu. Lama-lama Ia tidak bisa menolak ketika tangan kekar Rio mulai melepas kancing dress nya dengan gesit. Kini tubuh mungil Kesya sudah dalam kuasa Rio.
Kesya perlahan menanti. Tubuhnya kini meminta lebih dan lebih.
Nafas saling beradu, peluh bercampur, desahan menggelora mereka berdua saling memeluk hingga sampai di titik pencapaian.
“Aku mencintaimu,” lirih Rio di telinga Kesya sembari menindih tubuh wanita itu.
“Aku juga mencintaimu,” balas Kesya di sela nafasnya yang terengah-engah.
Kesya tidak bisa berlama-lama menemani Rio. Berbagi kehangatan dan kesenangan di atas ranjang. Wanita itu, beranjak kemudian berjalan ke kamar mandi yang berada di sebelah tempat tidur.
Setelah selesai mandi, Kesya mematut di depan cermin. Menanggalkan handuk dan menggantinya dengan baju dress yang tadi dipakainya. Kemudian, Ia menyisir rambutnya yang masih basah.
Kesya, menyambar tas lalu Ia keluar dari kamar hotel membiarkan Rio yang masih tertidur. Ia harus segera pulang agar jam sembilan tepat saat sang suami menelefon Ia sudah sampai di rumah.
Wanita itu sampai di tempat parkir. Memasuki mobil, duduk di belakang kemudi dan segera melajukan kendaraannya.
Kesya mengarahkan pandangannya ke arah arlojinya. Sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ia menambah kecepatan, agar segera tiba di rumah.
Pintu gerbang terbuka, Kesya menjalankan mobilnya ke garasi. Di situ, sudah terparkir mobil milik suaminya. Ia kaget dan gelisah.
Sebelum masuk ke dalam rumah. Kesya merapikan rambut yang masih basah. Membenahi bajunya yang sedikit berantakan.
Peluh pun menetes karena merasa takut.
Kemudian, Kesya melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Perlahan Ia masuk ke dalam rumah.
Bi Marni menyambutnya dengan wajah yang menegangkan. Lampu ruang tamu yang sudah padam semakin menambah rasa horor. Harus menerima kemarahan dari Mas Rafa.
“Mas Rafa, di mana Bi?” tanya Kesya dengan suara pelan. Jari telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan untuk diam.
“Bapak sudah tidur Bu,” jawabnya dengan suara lebih pelan.
“Jam berapa bapak pulang?” tanya wanita itu lagi, berdiri di ujung tangga.
“Jam enam Bu, tadi Pak Rafa mencari Ibu?” jelasnya.
Mengalahkan rasa takut Kesya menaiki tangga satu persatu. Ia melepas alas kaki dan melangkah perlahan dengan kaki berjinjit untuk mengurangi suara berisik.
Kesya, berhenti di depan pintu kamar. Bersandar di dinding. Untuk mengatur nafas dan detak jantungku yang mulai tak beraturan. Wanita itu benar-benar takut jika suaminya akan marah.
Kesya berpikir sejenak. Kemudian, Ia memberanikan diri untuk masuk kamar. Dengan pelan Ia menarik daun pintu.
Hening. Sejenak merasa lega karena ternyata lampu kamar sudah padam. Mungkin Mas Rafa sudah tidur.
Kemudian, Kesya berjalan maju ingin menaruh tas di atas nakas.
Betapa kagetnya wanita itu. Ruangan kamar yang awalnya gelap menjadi terang. Lampu yang awalnya padam kini menyala.
Mas Rafa sudah berdiri di depan wanita itu. Kesya hanya diam mematung menatap suami.
Rafa membalas tatapan istrinya dengan tajam. Kedua manik matanya membulat, semakin marah, penuh tanya apa yang di lakukan istrinya hingga pulang larut malam.
“Dari mana saja kamu, jam sembilan malam baru pulang!” bentak Mas Rafa dengan suara keras. Ekspresi marah terlihat di wajahnya. Kedua alisnya menyatu dengan kening yang berkerut.
Kesya merasa lemas. Kedua kakinya seolah tak sanggup menopang berat tubuh. Lidahnya kelu, tidak tahu harus menjawab apa?
Bersambung...