|| 3 || Dalih

1310 Kata
Sebenarnya Kesya merasa kaget. Tubuhnya pun bergetar karena jarang sekali terjadi, ketika sang suami membentaknya dengan suara yang keras memenuhi ruangan. Tanpa berpikir panjang Kesya mendaratkan ciuman di bibir suaminya, dengan kuat dan dalam. Mencari alasan yang tepat agar Rafa tidak marah. Rafa mencoba melepaskan ciuman bibir istrinya. Mendorong pelan tubuh Kesya menjauh. Kesya terdorong satu langkah ke belakang. “Mas Rafa Aku baru saja ke salon, lalu aku ke tempat fitnes, ini aku baru selesai aerobik,” celetuk Kesya. Itu adalah alasan yang tepat karena tubuhnya masih berkeringat. Wajahnya pun tanpa riasan make-up. Sebelum Rafa sempat protes kembali. Kesya mendaratkan ciuman yang kuat dan dahsyat. Lalu perlahan Ia menuntun tubuh suaminya kembali merebah di atas ranjang. Ia tubuh sang suami dengan selimut tebal. “Ayo Mas kita tidur sekarang,” lirihnya di telinga Rafa. Kemudian, Ia melingkarkan tangannya di atas tubuh suaminya. Rafa sebenarnya belum merasa puas mendengar alasan sang istri. Namun, pria itu memilih diam dan menurut. Ia pun memejamkan dan berpura-pura percaya dengan apa yang dikatakan istrinya. Rafa yang diam dan tidak bertanya lagi membuat Kesya merasa lega. Wanita itu semakin mempererat pelukannya pada sang suami, hingga akhirnya rasa lelah dan kantuk menghampirinya. Ia pun tertidur dalam pelukan sang suami dan merasa lega karena pria itu tidak merasa curiga atas apa yang dilakukannya. Pagi harinya Kesya sengaja bangun terlebih dahulu. Ia segera beranjak dari tempat tidur. Lalu melangkahkan kakinya menuju dapur. Masakan buatannya adalah jurus yang paling jitu untuk meredakan kemarahan sang suami. Kesya berniat untuk memasak lobster seafood kesukaan Rafa. Dia menyuruh untuk Bi Marni melakukan tugas lain. Ia sendiri segera berkutat di dapur untuk menghidangkan lobster bumbu rica yang paling disukai Rafa. Pukul tujuh, Kesya sudah selesai memasak. Ada tumis sayur, buah, dan juga hidangan utama lobster yang tersaji di atas meja makan. Tak lupa nasi, sumber karbohidrat utama. Rafa yang sudah berpakaian rapi berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Ia sudah melupakan kejadian semalam. Menganggap itu hanya kesalahan kecil yang dilakukan istrinya. Rafa duduk di kursi utama dan Kesya duduk di sampingnya. Waspada takut Rafa akan kembali menanyakan tentang kejadian semalam. Kesya mengambilkan nasi dan lauk. Kemudian meletakkan piring itu di hadapan sang suami. “Dimakan dulu mas,” pintanya. Menyunggingkan senyum terindah. “Siapa yang masak?” tanya Rafa. Mencium bau masakan yang menggelitik hidungnya. “Aku dong,” jawab Kesya bangga. Kemudian, wanita itu ikut fokus dengan hidangan di meja. Mengisi piringnya dengan buah. “Mas Rafa, kemarin bilang akan pergi selama tiga hari, kenapa semalam sudah tiba di rumah?” tanya Kesya dia benar-benar ingin tahu alasan suaminya pulang cepat. “Hari ini aku akan bertemu dengan seorang model yang akan mempromosikan produk terbaru perusahaan kita, jadi aku terpaksa pulang untuk menemuinya,” sahut Rafa. Ia fokus dengan makanan di piringnya. Kesya memang jago masak, hanya saja jarang sekali melakukan rutinitas itu. “Apa aku boleh ikut, dan kita menemuinya bersama?” usul Kesya yang selama ini hanya di rumah. Tidak tahu menahu tentang pekerjaan sang suami. Tidak tahu siapa yang ditemui Rafa setiap harinya. “Baik! Bersiaplah dan aku akan menunggumu,” jawab Rafa. Mengambil selembar tisu untuk mengusap bibirnya yang basah karena saus rica. Puas sekali dengan sarapan paginya kali ini. “Baik Mas,” jawab Kesya bersemangat. Ia segera menghabiskan buah di piringnya. Lalu berlari ke lantai dua menuju kamarnya untuk mandi. Keisha membasahi tubuhnya dengan air dingin. Mandi pagi selalu mengembalikan dan menambah gelora semangatnya. Apa lagi, Rafa akan mengajaknya ke perusahaan bertemu dengan staf dan karyawan. Di sana dia akan menjadi pusat perhatian. Wanita itu pun tersenyum, dan yakin tidak akan membuat semua mata tertuju kepadanya karena aura dan kecantikan, aset berharga yang dimiliki Kesya. Seusai mandi Kesya berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya di sana. Celana jeans yang ia kenakan memperjelas kaki jenjangnya. Dipadu dengan t-shirt berlengan pendek, berkerah tinggi yang menutupi sebagian lehernya. Indah di pandang mata. Rambut yang panjangnya sebahu Ia biarkan tergerai begitu saja. Tak lupa mengusapkan bedak tipis dan lipstik warna merah yang membuatnya lebih percaya diri. Kesya tersenyum ke arah cermin. “Cantik!” gumamnya pelan untuk mengakhiri ritual dandannya. Wanita itu mengambil ponsel, Ia mengirim pesan pada Rio kalau hari ini tidak bisa bertemu, karena suaminya sedang berada di rumah. Kemudian, Ia memakai sepatu hak tinggi dan berjalan menuruni tangga. Menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di ruang tamu. “Sayang aku sudah siap!” ucap wanita itu. Berdiri anggun di hadapan sang suami. Rafa mendongak, lalu berdiri dari duduknya. Ia pun menggandeng tangan Kesya menuju garasi mobil yang ada di samping rumah. Rafa duduk di belakang kemudi. Kesya duduk di sampingnya. Pria itu menyalakan mesin mobil. Ia segera melajukan kendaraan beroda empat itu menuju ke AX furnitur, perusahaan miliknya yang tidak jauh dari kediaman rumah. Ponsel Rafa berdering ada panggilan dari Fadli, dia adalah asisten sekaligus sekretarisnya. Panggilan telefon terhubung. “Halo,” sapa Rafa “Halo Pak Rafa, orang yang ingin Anda temui sudah tiba di kafe biasa. Dia sudah menunggu Anda sejak tadi,” tutur Fadli di seberang telefon. Ia tahu persis di mana Rafa selalu berjumpa dengan klien atau rekannya. “Oh oke, baiklah aku sudah di jalan dan mungkin sebentar lagi akan tiba di sana,” jawab Rafa. “Baik Pak akan saya sampaikan,” balasnya. Panggilan telepon berakhir. Rafa mempercepat laju mobilnya. Menuju sebuah kafe kopi tempat langganannya untuk menemui klien atau rekan kerja. Sesampainya di kafe Rafa segera menghentikan mobilnya di area parkir. Ia turun dari mobil dan tak lupa membukakan pintu untuk istrinya. Hal kecil yang selalu Ia lakukan. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke dalam kafe. Rafa menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada seorang wanita yang fotonya sering ia lihat akhir-akhir ini. “Itu dia,” ucap Rafa menggandeng tangan sang istri agar berjalan mengekor di belakangnya. Rafa duduk di samping gadis itu. Kemudian Ia memperkenalkan diri. “Nama saya Rafa, saya dari AX furnitur,” tutur pria itu. “Senang bertemu dengan Anda, dan ini istri saya Kesya,” ucapnya dengan sopan membuka percakapan. “Oh iya, Pak Rafa perkenalkan nama saya Nadine Elvina, saya datang kemari bersama Manajer saya, tapi dia pulang lebih dahulu,” jawab gadis cantik itu sambil mengembangkan senyum di bibirnya. Rafa dan Nadine pun mulai berbicara mengenai pemotretan yang akan dilakukan besok. Rafa bukanlah orang yang bermain-main dalam usahanya apalagi saat promosi. Ia akan bertemu langsung dengan modelnya, untuk berbicara mengenai produk terbarunya itu. Secara detail dan serius. Keisha hanya diam dia benar-benar tidak tahu menahu. Ia memutuskan untuk memainkan ponselnya dan berkirim pesan dengan Rio. Pria itu sekarang sedang bekerja menjadi instruktur di sebuah tempat fitnes. Tampaknya Rio sedang sibuk karena tak ada satu pesan pun yang Kesya terima. Wanita itu mendesah kesal dan terpaksa menyimak percakapan dua orang di hadapannya. Sudah sekitar satu jam mereka berdiskusi. Rafa pun sudah merasa puas akan persiapan pemotretan besok. Ia melirik ke arah pergelangan tangan. Jamnya sudah menunjukkan pukul sepuluh, ada rapat penting yang harus ia datangi. “Baiklah Nadine, saya dan istri saya akan segera pamit,” kata pria itu sembari berdiri dari duduknya. “Ya Pak terima kasih atas hari ini,” jawab Nadine mengangguk. Seutas senyum menghiasi bibirnya. “Kamu sendirian di sini tak apa?” tanya Rafa perhatian. Ia menoleh ke sana kemari dan tidak menemukan manajer gadis itu. “Tidak Pak, seseorang akan menjemputku. Dia sedang berjalan kemari,” jawab Nadine melihat lurus ke depan. Matanya berbinar beradu pandang dengan pria tampan yang sedang melangkah menghampirinya. Pandangan Rafa dan Kesya mengikuti arah indra penglihatan Nadine. Sesosok pria berbadan tegap dan tampan. Melangkah maju mendekat ke arah mereka. Rafa berpendapat jika pria itu adalah kekasih dari Nadine, sedangkan Kesya dia terpaku karena pria itu adalah Rio pria yang kemarin menjadi teman bergulatnya di atas ranjang. Rio berdiri di samping Nadine. “Pak Rafa dan Bu Kesya perkenalkan ini Rio, pacar saya,” kata Nadine memperkenalkan pria bertubuh atletik itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN