Pengantin Pengganti
"Atas nama Melisa, keponakan saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Tuan Kaivan."
Pria berwajah ditutup topeng tersebut menatap dingin ke arah pria paruh baya yang barusan berbicara padanya. Dia duduk dengan menyender di sebuah single sofa sembari mengetuk-ngetukkan jemari telunjuknya ke tangan sofa. Hal itu membuat semua orang dalam ruangan tersebut was-was dan cukup takut.
Kaivan Rafindra Kendall, seorang CEO dari perusahaan elektronik ternama di negaranya. Wajahnya ditutupi oleh topeng--dengan hanya menutupi sebagian wajah saja. Ada alasan kenapa dia menutupi wajahnya tersebut dengan topeng, dan karena menggunakan topeng juga orang-orang sering menjulukinya Ugly King.
"Saya sebagai orang tua Melisa, juga sangat meminta maaf pada Tuan. Ini diluar kehendak kami, dan kami …-" ucapan pria paru Bayah lainnya seketika berhenti.
Kaivan mengangkat satu tangan, isyarat jika dia gak ingin mendengarkan apapun ucapan dari keluarga Melisa.
Harusnya Kaivan menikah di hari ini, dia sudah ready dan tinggal akat. Namun tiba-tiba pihak pengantin perempuan menemuinya dan meminta maaf. Pernikahan ini tak bisa dilanjutkan, Melisa, calon istri Kaivan mengaku hamil dengan seorang pria tak dikenal.
Kaivan sebenarnya tak menginginkan pernikahan ini. Jika bukan karena ingin membatalkan rencana Neneknya--berniat menjodohkan Kaivan dengan wanita yang sangat dia benci, mungkin Kaivan enggan menikah; seumur hidup!
"Aku tidak mau tahu, hari ini juga aku harus menikah. Pernikahan ini tidak bisa dibatalkan. Atau …." Kaivan menghentikan ketukan jari telunjuknya di tangan sofa; entah kenapa itu seperti peringatan bahaya bagi keluarga Abimanyu. "Aku bisa menghancurkan bisnis keluarga kalian dan menarik modal juga. Kupastikan keluargamu akan hancur, Pak Dean Abimanyu."
"Tuan, tolong jangan lakukan itu." Dean seketika memucat dan panik. Dia adalah penerus sekaligus yang mengurus bisnis keluarga mereka. Jika bisnis keluarganya hancur tentu dia yang akan disalahkan. "Saya akan memikirkan cara agar lain agar pernikahan ini tetap …-"
"Jangan banyak bicara. Pikirkan secepatnya." Kaivan memotong cepat. Nadanya dingin serta begitu menusuk hingga ke tulang-tulang.
Dean dan para saudara serta sepupunya berunding dalam ruangan itu. Mereka beberapa kali cekcok dan berdebat karena pusing harus menghadapi masalah ini bagaimana. Melisa masih di sini dan memang sudah dirias-- hanya tinggal akad saja. Mereka tentunya bisa memaksa Melisa tegap menikah dengan Kaivan. Akan tetapi … Kaivan mana mau menerima bekas orang lain?
Ditengah-tengah percekcokan mereka tersebut, tiba-tiba seorang perempuan muda datang-- langsung mengalihkan atensi siapapun dalam ruangan tersebut. Kedatangan perempuan muda ini seolah menjawab kesulitan yang mereka alami dan sebagai solusi juga.
"Ayah, aku izin pulang duluan, sekalinya minta duit jajan juga. Dosen pembimbingku memintaku datang ke kampus hari ini juga dan …-" Perempuan itu, Rachel Queenza Abimanyu, langsung berhenti berbicara saat sadar jika dia telah menjadi pusat perhatian diruangan itu.
"Hehehe … sepertinya aku salah tempat dan salah situasi." Rachel meneguk saliva dengan kasar kemudian berniat beranjak dari sana.
Akan tetapi, ayahnya (Dean Abimanyu) lebih dulu memegang lengannya dan menarik Rachel dari sana. Rachel pikir dia akan dimarahi oleh ayahnya ini, akan terapi ayahnya malah … ini lebih parah dan mengejutkan dibandingkan dimarahi dadakan oleh ayahnya.
Bagaimana tidak?! Dia diminta …-
"Jadilah pengantin untuk Tuan Kaivan, Nak," pinta Dean pada Rachel, menggenggam tangan Sati sembari menatap senduh dan penuh harap pada putrinya tersebut.
"What?!" Rachel memekik kaget serta tak terima. "Big no, Yah. Ih, aku masih terlalu muda untuk merasakan pahitnya kehidupan, Yah. Aku nggak mau! Lagian kan Kak Melisa yang mau menikah dengan pria topeng itu, kenapa jadi aku. Enak saja!"
"Nak, Melisa sedang hamil dan Tuan Kaivan sudah tahu. Tuan Kaivan tidak ingin menikah dengan Kakak kamu, tetapi dia meminta agar pernikahan itu tetap berlangsung. Jika tidak, bisnis kita akan dia hancurkan, Nak. Pikirkan keluarga kita."
"Lah, kenapa jadi Rachel yang mikir? Kalian dong yang Tua-tua. Lagian, Yah, aku masih kuliah. Mengurus diri aku saja aku masih nol besar masa udah disuruh nikah." Rachel memprotes.
"Baiklah, jika itu mau kamu. Berarti jika kita tinggal dikolong jembatan dan kualiahmu berhenti ditengah jalan, jangan salahkan Ayah. Okey?!"
Rachel mendadak pucat, dia langsung celingak-celinguk dengan tatapan mata gelisah serta panik. Tinggal di kolong jembatan dan pendidikannya berhenti? Disebut mahasiswa abadi saja itu sudah sangat menjengkelkan bagi Rachel, dan bisa-bisa gelarnya bukan sarjana yang ia dapat tetapi mahasiswa abadi gembel yang bangkrut. Menyakitkan sekali!
"Berkorbanlah, Nak. Mama kamu sedang di rumah sakit. Jika bisnis kita hancur, biaya Mama kamu berobat apa, Nak? Tuan Kaivan itu sangat kejam jika sudah marah. Dia tak akan membiarkan kita bahagiah dan hidup enak jika pernikahan ini batal. Tolong, Nak, demi Mama."
Hati Rachel berdenyut-denyut. Ayahnya sampai memohon-mohon begini padanya. Hati putri mana yang akan tega melihat ini? Rachel tidak sanggup!
Ayahnya benar, Mamanya saat ini sedang di rumah sakit--mengalami kecelakaan beberapa Minggu yang lalu dan masih belum siuman sampai detik ini. Rachel akan sangat egois jika menolak permintaan ayahnya.
'Ini juga permintaan pertama Ayah padaku. Selama ini aku yang selalu meminta pada Ayah, sekarang Ayah untuk pertama kalinya meminta sesuatu padaku. Aku …-' dewi batin Rachel yang mulai bimbang.
"Baik, Ayah, aku bersedia."
Seketika itu juga Dean tersenyum lebar dan manis. "Terimakasih, Nak. Ayah sangat menyayangimu."
"Tapi … aku masih lanjut kuliah kan jika menikah dengan Tuan Kaivan?"
Dean menganggukkan kepala. "Jangan khawatir, Ayah akan tetap menyekolahkanmu, Nak."
Cup'
Dean mencium kening putrinya. "Sekali lagi, Ayah berterimakasih pada putri Ayah yang cantik ini."
"Umm." Rachel hanya menganggukkan kepala dengan lesu. Dia bak pahlawan di keluarganya–demi perobatan Mamanya juga. Tapi bagaimana nasibnya setelah menikah dengan pria itu?
Rachel masih tak mengira jika dia telah resmi menjadi istri dari pria bertopeng itu. Bahkan sekarang dia telah berada di dalam bangunan mewah milik pria itu-- rumah besar dan megah Kaivan Rafindra Kendall.
"Nona, mari saya antar anda ke kamar anda."
Rachel menganggukkan kelapa, tersenyum kaku dengan air muka pias dan kaku. Matanya masih sembab, habis menangis karena berpisah dari keluarganya. Sebenarnya, sebelum ke sini dia memang diizinkan ke rumah sakit untuk menjenguk Mamanya.
Rachel sangat sedih. Dia menikah tanpa disaksikan oleh Mamanya.
'Ini pernikahan yang penuh dengan keterpaksaan. Dan entah sampai kapan aku harus menjadi istri si Pria bertopeng ini?!' batin Rachel yang sudah berada di depan sebuah pintu hitam klasik.
"Nona, ini adalah kamar anda. Silahkan masuk."
Lagi-lagi Rachel hanya tersenyum kaku. Dia membuka pintu lalu menyeret kopernya masuk ke dalam kamar.
"Luas sekali kamar ini." Rachel bergumam pelan, dia berkacak pinggang sembari menatap sekeliling kamar.
Apa dia dan si pria bertopeng itu satu kamar? Ah, iya. Pria itu tidak satu mobil dengannya tadi. Sekarang Rachel tak tahu pria itu ada di mana.
Rachel menarik koper--berjalan mendekati ranjang. Dia mencoba duduk di atas ranjang. "Empuk banget," gumamnya yang sudah merebahkan tubuh.
"Aaaaaaa …." Rachel berguling-guling ke setiap sudut ranjang dengan berteriak tak jelas.
"Kenapa malah aku yang menikah?! b*****t!" Rachel menggerutu, sudah berdiri di atas ranjang sembari melompat-lompat; dengan dia yang masih mengenakan gaun pernikahan. "Aku harusnya ke kampus tadi, bimbingan dengan si dosen laknat itu. Andai aku nggak masuk keruangan itu, mungkin aku sekarang masih di rumah. Huaaaa …."
Dari yang melompat-lompat di ranjang, kini Rachel mengeluarkan gerakan-gerakan karate yang tak jelas. Mix dengan gerakan ultraman juga.
"Mana suaminya bukan orang lagi," geram Rachel yang masih terus melancarkan aksi-aksi karate-nya. Tanpa sadar jika pria yang telah sah menikahinya sudah ada di kamar ini-- tengah menyender di dinding sebelah pintu sembari menatap datar ke arah Rachel yang tengah mengacak-acak ranjangnya.
"Bagus!" gumamnya pelan dengan terus memperhatikan Rachel.
Sedangkan Rachel, dia masih terus mengoceh--meluapkan ketidak terimaannya pada nasibnya saat ini dan juga rasa ketidak berdayaannya. "Dua bulan lagi aku sudah dua puluh tiga tahun. Skripsi nggak kelar-kelar malah sekarang nekad nikah. Beban seperti ku bisa apa?! Cik, coba saja aku seperti di novel-novel, usia dua puluh tahun udah jadi CEO. Biaya berobat Mama tidak akan terancam begini. Lagian siapa sih si Kaivan Kaivan itu?! Beraninya dia mengancam keluargaku! Sialan banget orang itu. Sok pake topeng segala. Dikira keren apa dia begitu?! Prett … kalau wajahnya jelek yah jelek. Tidak usah ditutup-tutupi. Takut nggak laku?! Beast saja yang bukan wujud manusia bisa laku, apalagi dia yang masih dalam wujud manusia. Ngapain maksa-maksa anak orang nikah! Itu lagi si Melisa. Ngapain dia pake acara hamil segala. Kan aku yang kena batunya."