Kenapa Kau Bersedia Menikah

1414 Kata
"Ngapain dia pake acara hamil segala. Kan aku yang kena batunya." Rachel terus menggerutu dan terus melompat. Kadang-kadang kembali mengeluarkan jurus Ultraman juga. Hingga tiba-tiba suara dingin mengalun dan menggema, membuat tubuh Rachel membeku dengan wajah pucat pias. "Jadi kau belum mengenalku?" *** Kaivan tidak langsung ke rumah dengan Rachel. Dia menyuruh supir untuk membawa perempuan yang baru ia nikahi tersebut langsung ke rumahnya sendiri. Sedangkan Kaivan, dia menemui neneknya. Namun karena neneknya tidak ada di kediaman Kendall, Kaivan memutuskan untuk pulang. Cik, terpenting dia sudah menikah dan Kaivan bebas dari perjodohan menyebalkan itu. "Kita langsung ke rumah, Tuan?" tanya William, kepercayaan sekaligus asisten dari Kaivan. Kaivan hanya menganggukkan kepala. Dia duduk diam sembari memikirkan perempuan yang ia nikahi tadi. Tak menyangka jika dia menikahi wanita yang menurutnya masih dibawah umur. Usia perempuan itu memang dua puluh dua tahun, dan itu sudah masuk dalam usia dewasa. Tetapi bagi Kaivan yang sudah berusia tiga puluh empat tahun, Rachel terlalu sangat muda. Sebenarnya Kaivan adalah pria yang tak ingin mengenal yang namanya wanita dan pernikahan. Dia punya masa lalu yang bisa dikatakan kelam dengan seorang perempuan–kekasih dan cinta pertamanya. Wanita itu lemah lembut dan begitu baik, dia berjanji selalu bersama Kaivan dan akan mencintai Kaivan dalam bentuk fisik apapun. Hingga sesuatu kecelakaan terjadi pada Kaivan, ketika dia pulang pekerjaan. Dari kecelakaan itu, wajah Kaivan terbakar sebelah pipi kiri. Akan tetapi itu tak masalah bagi Kaivan, toh kekasihnya mencintainya dengan segenap jiwa dan hati. Namun ketika kekasihnya itu menemuinya, perempuan itu langsung mengakhiri hubungan mereka. 'Aku tidak mungkin bisa hidup dengan pria berwajah buruk rupa sepertimu. Aku bisa muntah setiap hari, Kaivan. Jadi kita putus!' Itu kata-kata yang tak akan pernah Kaivan lupakan seumur hidupnya. Dia memilih memakai topeng untuk menutupi sebagian wajahnya–walaupun kini wajahnya sudah bersih dan tidak ada bekas luka sama sekali, Kaivan tetap memilih menutupinya. Dia benci wanita. Makhluk pemandang fisik! Tetapi dia terpaksa menikah. Pertama, karena tak mau dijodohkan dengan wanita pilihan neneknya. Dan yang kedua demi sebuah wasiat. "Jika Tuan kurang suka dengan Nona Rachel. Saya akan mengurus surat perceraian kalian dan akan mencari wanita lain." William tiba-tiba bersuara. "Tidak perlu." Kaivan menjawab datar. "Dia lebih baik daripada sepupunya. Dia tidak mempermasalahkan kenapa aku memakai topeng. Dan lagipula ini batas waktu." "Tuan benar. Waktu Tuan hanya sampai di hari pertama usia Tuan tiga puluh empat tahun." "Humm." Kaivan hanya berdehem. Setelah sampai di rumahnya, dia langsung keluar dari mobil. Dia masuk dalam rumah dan buru-buru ke kamar. Dia ingin memeriksa apakah wanita itu sudah di sini atau belum sampai. Ceklek' Ketika dia masuk, hal yang pertama dia lihat adalah penampakan seorang perempuan yang sedang melompat-lompat di atas ranjangnya. Sedang mengumpatinya. 'Menarik!' Kaivan menutup pintu, menyender di dinding sembari memperhatikan Rachel yang terus mengumpat. "Lagian siapa sih si Kaivan Kaivan itu?! Beraninya dia mengancam keluargaku! Sialan banget orang itu. Sok pake topeng segala. Dikira keren apa dia begitu?! Prett, kalau wajahnya jelek yah jelek. Tidak usah ditutup-tutupi. Takut nggak laku?! Beast saja yang bukan wujud manusia bisa laku, apalagi dia yang masih dalam wujud manusia …." Kaivan yang mendengar celutukan bernada geraman itu menaikkan sebelah alis. Unik! Ini pertama kalinya dia mendapat wanita dengan pemikiran aneh seperti ini. 'Pemikiran yang absurd.' "Jadi kau belum mengenalku?" ucap Kaivan kemudian ketika perempuan itu berhenti mencerocos. Rachel tiba-tiba terdiam dan menoleh padanya. Satu sudut bibir Kaivan terangkat, membentuk smirk yang memukau sekaligus mengerikan secara bersamaan. Kaivan berjalan ke arah ranjang, otomatis membuat Rachel yang masih berdiri di atas ranjang mundur terus. Pada akhirnya …- Brak' Dia terjatuh dari ranjang. "Argkk …." Rachel meringis sakit. Dia mengumpat dalam hati sembari mengelus bokongnya yang terasa berkedut-kedut. "Cih." Mendengar decisan remeh, Rachel mendongak–menatap seorang pria bertopeng setengah dengan wajah ditekuk bercampur takut. 'Ke--kenapa dia di sini? Jangan bilang aku dan dia satu kamar?' Pria itu tiba-tiba membungkuk kemudian meraih lengan Rachel. Dengan sekali tarikan dan sentakan, Rachel sudah berdiri dan berakhir di d**a bidang pria itu. Wajahnya menempel di d**a bidang pria ini. Rachel buru-buru menjauh dan memilih menunduk malu bercampur takut. Entah kenapa jika di depan pria ini dia gugup luar biasa dan takut. Padahal kalau dibelakang pria ini, Rachel selalu mengatainya. "Kenapa kau bersedih menikah denganku?" "Loh?" Rachel reflek menoleh kaget pada pria bertopeng di depannya. Dia mengerjabkan mata beberapa kali sembari melogo keheranan. "Itu harusnya aku yang tanya, Tuan. Kenapa Tuan ini menikahiku? Padahal aku ini kan masih kuliah dan terlalu muda untuk anda. Lagian tampang aku pas-pasan dan …-" Rachel menoleh ke arah dadanya, "rata," lanjutnya dengan mencicit pelan. Kaivan menoleh ke arah d**a perempuan itu, kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya ketika Rachel kembali mendongak. Tidak rata. Menonjol dan mungkin pas digenggaman Kaivan. 'Holyshit! Apa yang aku pikirkan?!' Kaivan mengerjab beberapa kali, lalu kembali menatap perempuan yang telah sah menjadi istrinya ini. "Aku menikahimu karena ayahmu punya hutang padaku." Kaivan menjawab tanpa beban. Dia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, bersedekap di d**a dengan menatap datar pada Rachel yang masih berdiri. "Jadi aku penebus hutang, Tuan?" tanya Rachel dengan air muka syok dan tak terima. Padahal ayahnya juga sudah menjelaskan ini, namun rasanya tetap tak terima saja jika Kaivan mengatakan hal tadi. "Humm." Kaivan berdehem pelan. "Kenapa bukan Melisa saja? Kan seharusnya dia?" "Aku tidak suka bekas." Kaivan membuka arloji lalu meletakkannya di atas nakas. Suaranya memang santai dan mengalun stabil, akan tetapi kata-katanya tajam dan menusuk. "Dan jangan protes lagi. Harusnya ayahmu sudah menjelaskan semuanya." "Yasudah. Kalau begitu jangan tanya juga kenapa aku mau menikah dengan Tuan. Pasti Tuan juga sudah tahu. Aku terpaksa! Tuan mengancam Ayahku dengan menghancurkan bisnis keluarga. Mamaku kan sedang di rumah sakit, butuh biaya banyak untuk berobat. Kalau Tuan menghancurkan bisnis kami, uang berobat Mama apa? Jadi aku terpaksa. Terpaksa sekali!" cerocos Rachel. Meski takut pada sosok di depannya ini, tetapi untuk urusan mencerocos Rachel tetap berani. Yeah, dia memang banyak bicara. "Anak yang berbakti, heh?!" ejek Kaivan. Dia tiba-tiba berdiri, kembali berhadapan dengan Rachel–dengan jarak yang sangat dekat. Rachel sendiri tak bisa kemana-mana, di belakangnya ada nakas dan lagipula tubuhnya terasa kaku dan gugup jika berada di jarak yang sedekat ini dengan Kaivan. Rachel membelalak kaget ketika Kaivan secara tiba-tiba melingkarkan tangan di pinggang Rachel. Dia syok! "Meskipun kau terpaksa menikah denganku, aku tidak peduli, Nona Rachel Queenza. Kau tetap istriku dan kau harus patuh padaku. Jika tidak, bukan hanya bisnis keluargamu yang hancur, ibumu juga bisa dalam bahaya," bisik Kaivan dengan penuh ancaman, tepat di daun telinga Rachel. Tanpa peduli respon perempuan itu, Kaivan langsung meninggalkan Rachel. Dia masuk dalam kamar mandi untuk menyegarkan diri. Rachel sendiri, dia mematung di tempat dengan jantung yang berdebar kuat. "Aku pikir wajahnya saja yang buruk, ternyata hatinya juga cacat. Monster!" gumam Rachel, mengerjab beberapa kali untuk menyembunyikan air matanya. Kenapa harus mamanya dibawa-bawa dalam masalah ini? Kaivan kejam sekali! "Wanita jorok!" gumam Kaivan ketika melihat Rachel sudah tertidur di ranjang–masih mengenakan gaun nikah dan belum membersihkan riasan diwajahnya juga. "Kopernya bahkan belum ia bereskan. Cik." Kaivan menarik koper perempuan itu kemudian membawanya dalam wardrobe room. Brak' Dia menendangnya dengan kasar, kesal bercampur marah. Wanita apa yang ia nikahi ini?! "Jika bukan karena mendesak, aku tidak akan menikahi wanita sinting itu," gerutu Kaivan dengan menghampiri koper yang ia tendang tadi. Dia memilih membereskan pakaian dalam koper tersebut–memasukkannya dalam lemari dengan rapi. Yeah, setidaknya perempuan itu tak mengatainya buruk rupa seperti wanita lainnya. Dia mengambil baju ganti serta dalaman perempuan itu kemudian keluar dari sana. "Hah." Kaivan menghela nafas, menatap wajah polos Rachel yang terlelap. Dia memang menikah untuk suatu tujuan–bukan untuk punya istri yang mengurus dirinya atau mendapat keturunan juga. Namun …- "Aku seperti mengasuh bayi." Kaivan bergumam pelan, membuka topeng–memperlihatkan wajah tampan dan sangat mempesona, terpahat begitu rapi dan tanpa cela. Luka bakar atau bekas luka sama sekali tak ada, seolah omongan orang tentang wajahnya hanyalah mitos belakang. Yah, wajahnya memang sudah membaik–lima tahun yang lalu setelah tiga bulan dari kecelakaan. Tentu saja, hanya luka terbakar biasa. Dengan treatment dari dokter, wajahnya sudah kembali membaik. Namun tidak dengan percintaannya. Ucapan perempuan itu bahkan membekas hingga sampai sekarang–membuat Kaivan trauma dengan mencintai dan wanita. "Aku menikah dengan anak kecil yang bahkan tak bisa mengurus dirinya." Kaivan mengambil pembersih wajah. Kemudian dia membersihkan make up Rachel. Setelah itu dia melucuti gaun yang melekat di tubuh perempuan itu. Untuk hal itu dia mematikan lampu. Bagaimanapun dia tidak meminta izin untuk melihatnya, dia menghargai dan tak ingin mencuri-curi pandang juga. "Agkhh …." Tiba-tiba Rachel merintih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN