"Agkhh …." Tiba-tiba Rachel merintih.
Kaivan menatap tambahnya dan langsung menariknya. Sial, tentu saja perempuan ini merintih. Tangannya salah pegang.
"f**k!" umpat Kaivan dengan meneguk saliva. 'Kenyal sekali.' batin Kaivan yang sudah panas dingin sendiri. Dia buru-buru memakaikan piyama Rachel. Lalu setelah itu dia tiba-tiba ke kamar mandi.
Brak'
Rachel seketika membuka mata, membelalak horor dalam cahaya remang sembari reflek memegang buah dadanya yang sempat dipegang oleh Kaivan.
"Di--dia niatnya apa?" Rachel tak bisa berpikir baik. Awalnya dia terbangun ketika Kaivan membersihkan wajahnya. Di cukup kaget namun menolak bangun. Ketika lampu di matikan dan pria itu melucuti gaunnya--Rachel ditelanjangi! Itu membuat Rachel semakin panas dingin, takut dan ingin pingsan.
Tetapi pria itu memasang kembali pakaiannya. Artinya Kaivan hanya ingin mengganti bajunya, bakan enak-enak seperti yang Rachel takutkan. Tiba-tiba tangan pria itu meraba-raba saat ingin mengancing piyama. Oke, mungkin karena gelap.
"Tapi dia meremasnya. Kalau sengaja ngapain diremas?" Rachel benar-benar syok sekarang. Mungkin jika Rachel tak bersuara, Kaivan pasti masih melakukan itu pada dadanya.
Ceklek'
Mendengar suara pintu, Rachel buru-buru menutup mata. Sedangkan Kaivan, dia berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana. Dia menoleh sejenak pada perempuan yang berbaring di sebelahnya.
"Cik." Kaivan berdecak dan memilih menarik Rachel dalam pelukannya. "Setidaknya dia berfungsi menjadi guling priabadiku," gumam Kaivan dengan pelan sembari menutup mata.
Bersaman dengan Rachel yang membuka mata dan mendongak ke arah arah Kaivan. 'Guling pribadi? Enak saja!' batin Rachel.
Namun hanya dalam batin karena kenyataannya dia juga tak berani protes.
Deg'
Jantung Rachel tiba-tiba berdebar kencang. Dia bagi sadar jika Kaivan tak memaki topeng.
'Aku tidak bisa lihat dengan jelas. Luka bakarnya ada di mana yah?' batin Rachel. 'Tapi dari siluet wajahnya, dia tampan. Astaga, bukan tampan melainkan sangat tampan. Aku sudah curiga dari awal sih karena sebelah wajahnya saja tampan. Apalagi seluruh. Trus luka bakar, memangnya siapa yang peduli. Cuma bekas saja juga. Harusnya dia tak menutupinya dan membiarkan siapapun melihatnya. Apa dia insecure yah?'
***
Kaivan bangun lebih pagi, tentunya untuk menghindari Rachel melihat wajahnya. Setelah rapi dengan tuxedo mahalnya, dia keluar dari wardrobe room.
Dia cukup kaget karena tak menemukan Rachel di ranjang. "Pagi juga dia bangun," gumam Kaivan dengan berjalan ke arah meja rias. Dia duduk di sana sembari mengenakan arloji. Namun pandangannya teralihkan ketika melihat sebuah tas dan sebuah flashdisk.
Kaivan mengambil benda kecil tersebut kemudian membawanya dari sana. Setelah melakukan sesuatu pada benda kecil itu, Kaivan kembali dalam kamar dan menemukan Rachel yang sudah rapi. Kaivan dengan santai meletakkan flashdisk tadi di tempat semula.
"Ichi."
Rachel yang sedang mengenakan kaos kaki unyu-unyu favoritnya, menoleh seketika pada Kaivan. Kemudian dia celingak-celinguk, setelah itu kembali menatap Kaivan dengan wajah bingung dan gugup.
Oke, masalah tadi malam dia--sebenarnya dia tak bisa melupakannya. Tetapi dia berusaha untuk bersikap santai dan biasa saja. Entah Kaivan sengaja atau tidak, yang jelas Rachel berusaha untuk tak menyinggungnya. Dia malu bercampur takut juga!
"Tuan memanggilku?" tanya Rachel dengan suara gugup. 'Astaga, kenapa kejadian tadi malam nggak bisa hilang dari pikiran aku?! Aku gugup lah! Mana nih pria bertopeng nggak merasa bersalah dan biasa saja lagi.'
"Humm, kemari."
Rachel dengan patuh menghampiri suaminya. Entahlah, dia juga heran kenapa dia mau-mau saja. Mungkin karena efek takut pada Kaivan.
"Tuan, Ichi siapa?" tanya Rachel memberanikan diri. Sudah dua katakan, meskipun dia takut tapi untuk urusan mencerocos dia tak akan bisa berhenti. Kecuali dia sudah benar-benar di puncak rasa takut.
"Kau."
"Namaku Rachel, Tuan. Bukan Ichi." Rachel mencicit pelan, menunduk tetapi terus mencuri pandang pada wajah suaminya yang setengah ditutupi oleh topeng.
"Terserahku." Kaivan bersedekap angkuh, menaikkan sebelah alis sembari menatap datar pada perempuan cantik di depannya. "Ingat! Aku suamimu dan kau harus patuh padaku," tambahnya dengan suara dingin yang begitu menusuk hingga ke tulang-tulang Rachel--membuat Rachel menunduk dalam dan meneguk saliva karena takut.
Aura Kaivan sangat menyeramkan dan mendominasi diri Rachel. Itu membuat Rachel menggigil dan juga takut.
"I--iya, Tuan." Rachel mengangguk pelan dengan meremas jemarinya sendiri. Pria bertopeng ini sangat menakutkan bagi Rachel!
"Pertama, berhenti memanggilku Tuan. Kau istriku, bukan pelayanku."
Rachel mengangguk patuh.
"Kedua, kau boleh melakukan apapun di rumah ini. Tetapi tidak dengan penasaran dengan luka di wajahku. Jangan pernah menyinggungnya atau kau akan tahu akibatnya."
Suara Kaivan yang dingin terasa begitu mengancam bagi Rachel.
"Ketiga, kau sudah resmi menjadi seorang istri. Jadi berperilaku lah layaknya seorang perempuan yang bersuami. Jangan sampai kau dekat dengan pria diluaran sana! Aku tidak suka wanita jalang, paham?!"
Rachel menganggukkan kepala dengan cepat dan kuat. 'Astaga, jalang juga tidak mau menerimaku sebagai bagian dari komplotan mereka.'
"Ini." Kaivan meraih tangan Rachel kemudian meletakkan sejumlah uang dan debit card di sana. "Jika kurang, minta padaku lagi."
"Wahhh …." Rachel menatap berbinar pada uang pemberian Kaivan. "Kalau begini, Ayah tidak perlu lagi membayar UKT semester depan. Ini cukup."
"Kau bilang apa?" Kaivan tiba-tiba menatap tajam dan tak suka pada Rachel. "Menurutmu apa wanita yang sudah menikah, biaya hidupnya tetap ditanggung oleh ayahnya?"
"Kau bilang apa?" Kaivan tiba-tiba menatap tajam dan tak suka pada Rachel. "Menurutmu apa wanita yang sudah menikah, biaya hidupnya tetap ditanggung oleh ayahnya?"
Rachel mengerjab beberapa kali. "Tidak," jawabnya ragu sembari mendongak dan menatap takut-takut pada Kaivan.
"Jika begitu, kenapa kau masih mengharap nafkah dari ayahmu? Apa nafkah dariku meragukan?"
Rachel kembali menggelengkan kepala. Dia mengerjab beberapa kali. Tatapan Kaivan padanya seperti menuntut penjelasan–seolah gelengan kepala Rachel tak menjawab apapun bagi Kaivan.
"Aku tidak tahu kalau penebus hutang dikasih dan dapat uang."
Kaivan menaikkan sebelah alis, menatap Rachel dengan tatapan datar. Dia kemudian memilih berdiri dari tempat ia duduk. Dia tiba-tiba terkekeh pelan–nadanya cukup meremehkan dan juga menyinggung.
"You stupid." Kaivan berkomentar pelan, tetapi kekehannya semakin renyah. Harusnya Rachel tersinggung dan marah karena dikatai bodoh, tetapi yang ada dia malah cengang dan terpesona oleh kekehan Kaivan.
'Kenapa dia tertawa manis sekali? Seperti suaranya ini nyanyian merdu saja. Padahal cuma ketawa doang.' batin Rachel, menganga sedikit sembari memperhatikan Kaivan yang sedang tertawa.
"Menarik." Kaivan tiba-tiba tersenyum. Topeng ini setengah dan memperlihatkan bibir pria ini, jadi Rachel bisa melihat senyuman pria ini dengan jelas. Itu lebih manis dari gula. "Aku semakin tertarik padamu, Ichi."
Kaivan mengacak surai Rachel dan setelah beranjak dari dalam kamar, meninggalkan Rachel yang sudah menganga lebar sembari meletakkan tangan di atas kepala. Dia mengulangi apa yang Kaivan lakukan di atas kepalanya--mengelus pucuk kepalanya sendiri.
"Kok aku deg degan yah? Padahal kan Ayah juga sering elus kepala aku."
***
Walau semalam dia menikah, tetapi Rachel tak peduli. Dia tetap ke kampus demi menemui dosennya dan mengakhiri kutukan gelar mahasiswa abadi yang membebani hidupnya.
Saat ini Rachel sedang di Poto copy, tentu saja untuk mem-print Skripsinya.
"Neng, nama file-nya apa?"
Rachel sekilas menoleh ke arah Kang Poto copy, lalu dia kembali fokus merogok tas–berusaha meraih handphonenya yang berdering. Takutnya itu panggilan dari dosennya. Bisa-bisa dia semakin dipersulit karena hanya tak mengangkat telpon.
"Itu yang cover, proposal bab 1 dan hasil."
"Ini beneran yang mau diprint?" Kang Poto copy tersebut terlihat tak yakin. "Salah file sepertinya. Atau gimana? Coba lihat dan periksa deh, Neng."
Rachel berdecak setengah kesal. Langganan Poto copy-nya ini kenapa juga banyak cincong begini?! "Iya, emang itu. Print sana lah, Bang. Ini dosennya udah mendesak."
"Tapi, Neng …-"
Rachel mengangkat tangan satu-- isyarat agar di kang Poto copy tersebut diam. Dosennya menelpon. "Halo Pak."
"…."
"Iya, Pak. Aku sudah di daerah kampus."
"…"
"Iya, Pak. Saya bentar lagi sampe, Pak."
Setelah sambungan telpon mati, Rachel langsung mendesak tukang Poto copy. "Cepat, Bang. Dosennya udah ngedesak."
***
Rachel benar-benar merasa sial dan malu luar biasa. Bisa-bisanya judul berubah menjadi 'Pengaruh seorang istri memberi jatah malam Jum'at dengan menggunakan lingerie merah pada suami dalam rumah tangga.'
Gara-gara judul aneh itu, Rachel gagal bimbingan. Jika dia tidak baca judul skripsi-nya sebelum akan masuk ke ruang dosen tadi, bayangkan bagaimana malunya Rachel! Dan mungkin Rachel akan pindah langganan Poto copy deh setelah ini. Dia malu jika harus bertemu kang Poto copy tadi.
"Pantas saja tadi aku disuruh meriksa. Sialan, siapa yang ubah-ubah judul aku sih?!" Rachel menggerutu sepanjang koridor kampus. Niatnya sekarang adalah pulang. Dia benar-benar malu dan rasanya saat ini Rachel ingin bertapa saja.