"Pantas saja tadi aku disuruh meriksa. Sialan, siapa yang ubah-ubah judul aku sih?!" Rachel menggerutu sepanjang koridor kampus. Niatnya sekarang adalah pulang. Dia benar-benar malu dan rasanya saat ini Rachel ingin bertapa saja.
"Aku yakin ini pasti ulah si Denny. b*****t emang! Punya sahabat akhlaknya minus banget!" cerocos Rachel--malah menuduh orang yang tak bersalah.
***
Karena insiden judul tadi, Rachel benar-benar pulang ke rumah Kaivan. Cik, Rachel sangat tak mood! Bahkan ketika sahabatnya, Alsya, mengajaknya untuk nongkrong, Rachel memilih menolak. Padahal biasanya Rachel lah yang paling rajin nongkrong.
"Aku harus meditasi." Rachel berjalan cepat-cepat ke dalam rumah. Ketika di tangga, dia berhenti karena melihat Kaivan ada di sana.
'Aduuhhh … ada dia di sini lagi. Tapi … jangan-jangan ini makhluk yang nukar judul ku menjadi ane. Ah, masa iya? Mukanya saja lempeng begitu. Udah lempeng malah dilapisi topeng aneh. Orang dingin kek dia mana mungkin iseng dan jahil.' batin Rachel--berhenti di anak tangga pertama.
Kaivan menaikkan sebelah alis, ikut berhenti melangkah-- turun dari tangga, ketika dia tepat di depan Rachel. Alisnya terangkat sebelah dengan tatapan datar yang menghunus ke arah istrinya. "Kau pulang lebih awal. Kenapa?"
"Itu … dosennya nggak datang. Jadi aku batal bimbingan." Rachel terpaksa berbohong. Ya kali dia mengatakan yang sejujurnya. Yang ada pria ini akan meledeknya dan mengatainya bodoh lagi.
"Humm." Kaivan berdehem dan kembali melanjutkan langkahnya.
Rachel juga buru-buru naik ke lantai atas sembari mengelus d**a dengan wajah pias dan tegang. "Aku sepertinya mulai gila. Dia tidak melakukan apa-apa padaku, tetapi bisa-bisanya aku selalu takut berhadapan dengannya."
'Mungkin karena membayangkan wajah buruk rupanya dibalik topeng. Jadi aku refleks takut. Aku jadi penasaran dengan luka bakar di wajahnya. Kalau se buruk itu, apa aku bisa menerimanya dan tetap mau jadi istrinya?! Ah, kayak aku punya pilihan untuk tak jadi istrinya saja.' Rachel terus hanyut dalam pikirannya sendiri, tanpa sadar jika Kaivan ada dibelakangnya--bukan mengikuti Rachel, handphone Kaivan tertinggal dalam kamar.
Ceklek'
Rachel masuk dalam kamar. Dia melepas mini ranselnya lalu meletakkan skripsi b******n dengan judul sialan itu di atas meja rias. Setelah itu. Dia membuka baju kaosnya--membuat tubuh bagian atasnya ini hanya berbalut crop top bra. Kemudian setelah itu, dia malah sibuk mencari remot AC untuk menurunkan suhu. Gara-gara judul sialan itu, Rachel gerah dan kepanasan begini.
"Ekhmm."
Tiba-tiba suara deheman rendah terdengar. Rachel otomatis menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Ketika melihat Kaivan ada di kamar dan terlihat berjalan juga ke arahnya, Rachel dengan santai malah tersenyum sembari mengangguk ramah--layaknya seorang yang mengatakan 'mari, Pak.
Kaivan menjauhkan pandangannya dari Rachel. Entah tujuan perempuan ini apa? Menggodanya, heh?!
Kaivan meraih handphone di atas meja rias, kebetulan bersebelahan dengan skripsi Rachel. Kaivan melirik sejenak pada skripsi tersebut, evil smirk-nya seketika menyungging di bibir. Dia tebak istrinya ini batal bimbingan bukan karena dosennya tidak datang. Tetapi karena sebuah judul unik pada skripsi istrinya.
"Anak kecil sepertimu ternyata punya naluri penggoda. Mengesankan!" Suara datar dan lempeng Kaivan mengalun dalam kamar, membuat Rachel yang tak paham dan belum konek mengerjab serta menggaruk kepala.
"Aku … penggoda? Siapa yang mau aku goda, Pak?"
Kaivan memutar tubuh dan menatap Rachel. Tatapannya tetap datar. "Tubuhmu bagus juga. Mau dibayar berapa?"
Rachel yang konek seketika menyilangkan tangan di d**a lalu langsung mengambil baju kaosnya tadi dan kembali mengenakannya. "Maaf, Pak, Maaf. Aku lupa kalau nggak pake baju. Maaf yah …," ucapnya dengan begitu panik.
Padahal Kaivan adalah suaminya. Lalu kenapa dia malah meminta maaf?! Tentu, pria ini saja risih dengannya yang hanya mengenakan crop top bra.
Kaivan tak mengatakan apa-apa dan pergi begitu saja dari kamar.
"Astaga. Apes dua kali!" Rachel mengelus d**a. Tadi dia apes di kampus dan sekarang dia apes di rumah pria bertopeng ini. "Tapi … apakah aku nggak menggoda yah? Kayaknya dia risih sekali melihatku. Apa anu'ku kekecilan?" monolog-nya yang malah memperhatikan ukuran dadanya.
***
"Tuan jatuh cinta pandang pertama pada Nona?"
Kaivan menatap Hansel, tangan kanan sekaligus sekretarisnya juga. Pria ini adalah orang yang mengusulkan Kaivan untuk menikah dengan salah satu putri Abimanyu.
Kebetulan saat itu keluarga Abimanyu punya hutang yang cukup besar pada Kaivan. Jadi karena sudah sangat mendesak dan tidak punya wanita yang bisa ia nikahi, jadilah Hansel menyarankan agar Kaivan menggertak serta mengancam keluarga Abimanyu agar mereka memberikan putri mereka untuk Kaivan nikahi.
Putri paling tua yang masih single disuruh menikah dengannya. Namun, karena tahu Kaivan punya wajah buruk rupa, jadilah wanita itu berupaya menolak. Cara yang wanita itu lakukan adalah dengan berpura-pura hamil. Kaivan tahu itu, tetapi dia tak mempermasalahkannya. Toh, dia mendapatkan ganti yang jauh lebih baik dari Melisa.
"Aku tidak jatuh cinta pada perempuan itu. Aku membenci wanita. Mereka makhluk pemandang fisik dan gila-gila harta." Kaivan berucap acuh, sibuk dengan pekerjaannya.
William, yang juga ada di dalam ruang kerja Kaivan, terkekeh pelan ketika mendengar penuturan Kaivan. "Sangat jelas terlihat, Tuan."
"Apa maksudmu?!" Kaivan menatap dingin pada Wiliam.
"Ketika Nona muncul di ruangan itu, Tuan memperhatikannya. Lebih dari tiga detik."
Hansel menganggukkan kepala. "Tuan bilang akan menceraikan istri Tuan setelah dua minggu menikah. Karena Tuan hanya butuh untuk memenuhi syarat agar Tuan bisa mendapatkan kekayaan mendiang ayah Tuan. Dua minggu cukup untuk mengurus segalanya. Dan setelah itu Tuan akan menceraikan wanita yang menjadi istri Tuan. Akan tetapi, kalian bahkan satu kamar. Aneh."
Kaivan menyender ke kursi kekuasaannya. Benar juga! Rencana awal memang begitu. Dia hanya butuh status menikah dan dua minggu itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan kekayaan ayahnya. Namun, dia bahkan tidak percaya jika dia tidur satu ranjang dengan perempuan itu. Ajaibnya, sepanjang malam Kaivan memeluk tubuh Rachel, benar-benar menjadikannya guling pribadi.
"Jangan lupa dengan niatan Nenekku." Kaivan berucap datar. "Dia berniat menjodohkan ku dengan perempuan yang tak aku suka."
"Jadi Tuan menyukai Nona Rachel?" Wiliam menggoda.
Bukannya mengelak seperti sebelumnya, Kaivan malah menganggukkan kepala. "Dia cukup menghibur dan unik. Kalian tahu, dia tak mempermasalahkan wajahku."
"Akhirnya Tuan bisa menemukan Belle Tuan." Hansel ikut menggoda dan terkekeh.
"Yah. Mungkin." Kaivan menganggukkan kepala, "karena itu dia tak akan ku lepaskan."
"Hah?" Wiliam dan Hansel seketika saling bersitatap. Mereka mulai panik dan khawatir.
"Kalian tahu? Dia seperti kelinci, dan kelinci memang harus dirantai bukan?" Kaivan menyeringai tipis, "jika tidak, dia akan kabur!" tambahnya dengan begitu misterius.
Hansel dan Wiliam meneguk saliva masing-masing. Mereka sama-sama pucat dan pias. Mereka salah persepsi sepertinya mengenai ketertarikan Tuan mereka ini pada sang Nona.
Bukan cinta pandang pertama tetapi sebuah ketertarikan yang mengarah pada ingin memiliki dan mendominasi. Obsesi!
"Aku akan melatihnya untuk menjadi pendampingku. Kelinciku tak boleh lemah," tambah Kaivan yang membuat Hansel dan Wiliam semakin yakin jika Kaivan terobsesi pada Rachel.
Namun, apakah ada obsesi pandang pertama? Mungkin karena Kaivan merasa Rachel perempuan yang berbeda dengan perempuan lainnya, jadi Kaivan merasa harus menjadikan Rachel sebagai miliknya dan selamanya.
***
"Malam, Pak," sapa Rachel ketika berpapasan dengan Kaivan di lorong rumah raksasa pria ini. Seperti biasa, Rachel berpura-pura santai dan berusaha bersikap ramah.
Walaupun wajah pria ini ditutupi topeng dan kata orang sangat jelek, tapi dia suami Rachel. Jadi …-
'Mama bilang, seorang istri itu harus menghargai suaminya dan menerima apapun kekurangan suami kita. Meskipun bertopeng dan setengah wajahnya jelek yah aku harus terima, mau tak mau.'
Kaivan berhenti melangkah, menoleh ke arah istrinya yang sudah rapi dan juga wangi. Dari pakaiannya, sepertinya Rachel ingin keluar rumah. "Kau mau kemana?"
"Oh." Rachel ber oh ria, mengerjab beberapa kali sembari memikirkan cara dia izin keluar pada suaminya ini. Namun ketika mengingat sesuatu, Rachel merogok tas dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih.
"Ini surat izin keluar saya, Pak. Hehehehe …," ucapnya cengengesan sembari menyerahkan amplop tersebut pada Kaivan.
Hansel dan Wiliam yang memang mengikur dibelakang Kaivan, reflek saling bersitatap.
'Pantas saja Tuan langsung suka. Nona memang-- ah, sudahlah!'
'Ini bukan unik lagi. Tapi lain dari pada yang lain. Ini terlalu absurd.'
Kaivan meraih amplop tersebut, kemudian membuka dan membaca surat di dalamnya.
'Kepada yang terhormat, Pak Kaivan Rafindra Kendall (suamiku)
Dengan ini saya yang bernama Rachel Queenza meminta izin untuk keluar malam untuk keperluan skripsi saya yang salah judul. Salah satu teman saya dengan iseng telah menukar judul skripsi saya, dan itu membuat saya malu serta terpaksa harus berpindah langganan Poto copy ke tempat yang lebih mahal. Jadi saya berkeperluan untuk menyidang teman saya tersebut. Sekiranya bapak berkenan memberikan saya izin.
Tertanda tangan (Rachel Queenza Abimanyu)'
Setelah membaca surat tersebut, Kaivan mengembalikannya pada Rache–membuat perempuan itu bingung dan juga cengang.
'Kenapa suratku dikembalikan? Apa aku nggak dapat izin yah?' Rachel menerima kembali surat tersebut dengan wajah pongo bercampur konyol.
"Revisi lagi surat izinmu. Baru kau boleh pergi." Kaivan berucap datar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Wiliam dan Hansel diam-diam tersenyum gelik.
Fix, Rachel memang cocok dengan Kaivan! Setelah sekian lama, ini pertama kalinya seorang Kaivan mau meladeni hal absurd seperti ini. Biasanya, Kaivan akan menghindar dari hal konyol seperti ini. Namun sekarang, dia bahkan ikut bermain.
'Artinya, Tuan benar-benar tertarik pada Nona. Lebih dari yang sebelumnya.'
Rachel menatap punggung Kaivan yang menjauh. Pria bertopeng itu …--
"Tidak jelas sekali. Revisi? Salahnya dimana coba? Ck."